alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Kuliah ke Tiongkok Tak Otomatis Jadi Komunis

MUNGKIN sudah tertanam di benak orang-orang Indonesia, bahwa jika santri sudah keluar dari pesantren dan ingin melanjutkan studi keluar negeri setidaknya pergi ke salah satu negara Islam di Timur Tengah. Akan menjadi sebuah kisah menarik jika santri yang melanjutkan studi ke negara-negara non-Islam. Salah satunya negeri Tiongkok yang dikenal sebagai negara komunis. Banyak dari orang Islam di Indonesia yang berpikir tinggal lama di Tiongkok sedikit banyak akan terpengaruh dengan keadaan di sana.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing kisah dan pandangan santri terhadap negeri panda ini. Awalnya saya tidak menyangka akan melangkahkan kaki di negeri China, karena dari kecil saya lahir dan tinggal di Madura, tepatnya di Kecamatan Kwanyar, Bangkalan. Meskipun tidak belajar di pondok, tapi setiap sore pergi ke madrasah belajar ilmu agama, bahasa Arab, dan tata bahasanya. Jadi, memang tidak ada basic bahasa Mandarin.

Saya kali pertama belajar bahasa Mandarin di Pondok Pesantren Nurul Jadid di Probolinggo. Saya mulai mondok ketika masuk ke jenjang SLTA. Di jenjang ini pula saya mulai belajar bahasa Mandarin. Karena para santri tinggal bersama di lingkungan pesantren, sehingga mudah untuk membuat sebuah lingkungan bahasa asing. Di pondok pesantren ini, saya selama tiga tahun mencoba menguasai bahasa yang cukup sulit ini, karena belajar satu kosa kata harus menghafal satu atau dua huruf Han. Ketika akan lulus SLTA, saya iseng mengikuti tes beasiswa ke China, dan alhasil saya termasuk beberapa peserta yang diterima untuk melanjutkan kuliah ke Tiongkok.

Pada tahun 2012 saya memulai petualangan di Tiongkok untuk menempuh studi S1 di Universitas Huaqiao, Xiamen, Tiongkok. Pada awalnya orang tua tidak mengizinkan saya untuk melanjutkan studi di Tiongkok. Alasannya takut menjadi komunis juga. Namun hal itu terbantahkan dengan sebuah hadis ”tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”, walaupun hadis ini masih diragukan tingkat kesahihannya. Namun setidaknya bisa membuat orang tua bisa berubah pikiran dan mengizinkan saya untuk melanjutkan kuliah di negeri tirai bambu.

Bermodalkan bahasa Mandarin seadanya, saya mulai menginjakkan kaki di salah satu kota yang menjadi daerah khusus ekonomi di China, yakni Kota Xiamen. Sekitar bulan September 2012, ketika itu musim gugur, sehingga udaranya tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Berdasarkan kalender pendidikan Tiongkok, bulan September ini semua lembaga pendidikan serentak memulai tahun ajaran baru. Jadi kami sampai di sana sudah langsung mulai pembelajaran di dalam kelas.

Secara georafis, Xiamen terletak di China bagian selatan. Tepatnya di provinsi Fujian. Berbatasan dengan Kota Zhangzhou dan Kota Quanzhou. Berada tepat menghadap ke Pulau Jinmen, Taiwan. Sebenarnya jika dari Xiamen ingin pergi ke Taiwan cukup dekat. Namun cukup ribet, karena masuk ke Taiwan harus membuat visa baru lagi.

Baca Juga :  Kiprah Ikatan Santri Alumni Nurul Islam Karang Cempaka

Kota Xiamen sendiri terbagi menjadi dua daerah. Yakni Pulau Luar atau disebut daowai dan Pulau Dalam atau disebut daonei. Pulau Dalam lebih ramai dan pesat daripada Pulai Luar. Kantor pemerintahan dan pelayanan umum rata-rata ada di Pulau Dalam. Dari Pulau Luar pergi ke Pulau Dalam akan melewati jembatan sepanjang 8,43 kilometer.  

Sesampai di Xiamen ternyata China tidak seperti apa yang saya pikirkan dan tidak seperti apa yang dibicarakan oleh orang-orang di tanah air. Tidak jarang kami bertemu orang China muslim, restoran halal cukup mudah ditemui, bahkan masjid masih bisa dijangkau, melakukan ibadahpun tidak semengerikan pemberitaan di Indonesia.

Salat lima waktu tetap bisa dijalankan. Bahkan setiap jumat bisa pergi ke masjid untuk melakukan salat jumat bersama jamaah lain, meskipun jarak dari kampus yang terletak di distrik Jimei (salah satu distrik di daerah pulau luar atau daowai) menuju ke masjid yang terletak di jalan Xinhua (ada di daerah pulau dalam atau daonei) cukup jauh.

Dari asrama menuju ke stasiun bus di depan gerbang kampus perlu berjalan sekitar 15 menit. Untung saja menunggu busnya tidak selama di Indonesia, karena setiap lima menit sekali akan ada bus yang lewat. Kami pergi ke masjid biasanya naik Bus Rapid Transport (BRT) dengan perjalanan kurang lebih 35-45 menit. Karena BRT ini tidak langsung turun pas di depan masjid, melainkan turun di stasiun Xidoulu, sehingga perlu berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer lebih. Jadi siapkan kaki Anda jika ingin melancong ke China.

Karena masjid yang kami tuju ada di dalam sebuah gedung, sehingga perlu menaiki tangga atau lift terlebih dahulu untuk sampai ke tempat wudu dan tempat salat. Jamaah yang datang cukup banyak, sehingga jika kami datang agak terlambat, maka kemungkinan besar akan salat di lantai bawah dengan melihat imam dari layar kaca televisi.

Hari Jumat memang cukup istimewa. Selepas salat jumat sudah banyak pedagang muslim yang berjualan makanan yang pastinya halalan thoyyiba seperti aneka roti, mie, buah-buahan khas China bagian barat laut (xibei) dan sebaginya.

Salat tarawih pun terkadang kami pergi ke masjid. Biasanya kami memulai dengan agenda berbuka puasa bersama di masjid, hidangannya serba daging, mie, kurma China (hongzao), dan sebagainya. Para jamaah duduk bersama di ruangan yang sudah disiapkan menunggu datangnya maghrib. Setelah azan berkumandang, kami memulai dengan minum semangkok teh tawar (khas teh China disajikan tanpa gula) dan makan makanan pengganjal berupa roti, buah, kurma.

Baca Juga :  Dulu Tempati Bekas Kandang, Kini Punya Bangunan Mentereng

Susana buka puasa bersama di masjid ini dilaksanakan setiap tahun oleh pengurus Masjid Xiamen. Dipimpin langsung oleh imam atau ahong. Hidangan buka puasa ini diperoleh dari para donatur baik dalam bentuk uang atau barang. Ketika akan memasuki waktu maghrib, panitia meminta jamaah untuk menuju ke sebuah ruangan di lantai bawah. Di ruangan ini sudah disiapkan kursi dan meja lengkap dengan buah-buahan dan teh. Setelah masuk waktu maghrib biasanya para jamaah akan minum dan makan buah-buahan untuk membatalkan puasa. Dilanjutkan dengan salat berjamaah, kemudian kembali ke ruangan di lantai bawah untuk makan.

Setelah cukup mengganjal perut, kami melaksanakan salat maghrib bersama dan dilanjutkan dengan makan makanan berat berupa mie dan daging, namun tidak ada nasi. Meskipun tanpa makan nasi, kami sudah merasa cukup kenyang, karena porsi makannya lumayan besar, apalagi ditambah dengan mie yang juga mengandung karbohidrat.

Sembari menunggu waktu isyak, para jamaah ada yang membaca Al-Qur’an, berzikir, dan ada juga yang berdiskusi. Mendengar azan isya dikumandangkan, kami bersiap-siap untuk melaksanakan salat isya dan tarawih. Salat tarawih tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, melaksanakan 20 rakaat salat tarawih dan ditutup dengan salat witir.

Ibadah di Tiongkok tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Kebebasan beragama dan beribadah sudah diatur oleh pemerintah dalam Undang-Undang Dasar RRT Bab 2 Pasal 36, yang berisi tentang kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama, dan tidak mendiskriminasi warganya baik yang beragama maupun tidak. Hanya saja melaksanakan ibadah di Tiongkok perlu melihat situasi dan kondisi, ada tempat-tempat umum, seperti taman, pinggir jalan, dalam mall dan tempat umum lain yang memang tidak boleh sembarangan melakukan ibadah di sana. Setidaknya di dalam kamar, kampus dan masjid adalah tempat yang nyaman untuk melakukan ibadah salat. Namun, terkadang kami juga tetap salat di mall, dengan mencari tempat yang sepi, seperti di bawah tangga, tempat parkir, tinggal menggelar sajadah, sudah bisa salat. Ternyata ”musholla” ada dimana-mana.

Ungkapan China kuno ”baiwen buru yijian” mengajarkan kita bahwa melihat atau menyaksikan secara langsung walaupun sekali lebih baik dibandingkan beratus-ratus kali sekadar mendengar saja. Dan apa yang dilihat, itu yang menjadi ilmu pengetahuan bagi kita. (*)

NUR MUSYAFAK lahir di Bangkalan, Rabu, 29 Desember 1993. Sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Linguistics and Applied Linguistics di Central China Normal University Wuhan. Pernah mengenyam pendidikan dan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Wuhan (2018–2019) dan wakil ketua umum PPI Tiongkok Pusat (2019–sekarang).

- Advertisement -

MUNGKIN sudah tertanam di benak orang-orang Indonesia, bahwa jika santri sudah keluar dari pesantren dan ingin melanjutkan studi keluar negeri setidaknya pergi ke salah satu negara Islam di Timur Tengah. Akan menjadi sebuah kisah menarik jika santri yang melanjutkan studi ke negara-negara non-Islam. Salah satunya negeri Tiongkok yang dikenal sebagai negara komunis. Banyak dari orang Islam di Indonesia yang berpikir tinggal lama di Tiongkok sedikit banyak akan terpengaruh dengan keadaan di sana.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing kisah dan pandangan santri terhadap negeri panda ini. Awalnya saya tidak menyangka akan melangkahkan kaki di negeri China, karena dari kecil saya lahir dan tinggal di Madura, tepatnya di Kecamatan Kwanyar, Bangkalan. Meskipun tidak belajar di pondok, tapi setiap sore pergi ke madrasah belajar ilmu agama, bahasa Arab, dan tata bahasanya. Jadi, memang tidak ada basic bahasa Mandarin.

Saya kali pertama belajar bahasa Mandarin di Pondok Pesantren Nurul Jadid di Probolinggo. Saya mulai mondok ketika masuk ke jenjang SLTA. Di jenjang ini pula saya mulai belajar bahasa Mandarin. Karena para santri tinggal bersama di lingkungan pesantren, sehingga mudah untuk membuat sebuah lingkungan bahasa asing. Di pondok pesantren ini, saya selama tiga tahun mencoba menguasai bahasa yang cukup sulit ini, karena belajar satu kosa kata harus menghafal satu atau dua huruf Han. Ketika akan lulus SLTA, saya iseng mengikuti tes beasiswa ke China, dan alhasil saya termasuk beberapa peserta yang diterima untuk melanjutkan kuliah ke Tiongkok.


Pada tahun 2012 saya memulai petualangan di Tiongkok untuk menempuh studi S1 di Universitas Huaqiao, Xiamen, Tiongkok. Pada awalnya orang tua tidak mengizinkan saya untuk melanjutkan studi di Tiongkok. Alasannya takut menjadi komunis juga. Namun hal itu terbantahkan dengan sebuah hadis ”tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”, walaupun hadis ini masih diragukan tingkat kesahihannya. Namun setidaknya bisa membuat orang tua bisa berubah pikiran dan mengizinkan saya untuk melanjutkan kuliah di negeri tirai bambu.

Bermodalkan bahasa Mandarin seadanya, saya mulai menginjakkan kaki di salah satu kota yang menjadi daerah khusus ekonomi di China, yakni Kota Xiamen. Sekitar bulan September 2012, ketika itu musim gugur, sehingga udaranya tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Berdasarkan kalender pendidikan Tiongkok, bulan September ini semua lembaga pendidikan serentak memulai tahun ajaran baru. Jadi kami sampai di sana sudah langsung mulai pembelajaran di dalam kelas.

Secara georafis, Xiamen terletak di China bagian selatan. Tepatnya di provinsi Fujian. Berbatasan dengan Kota Zhangzhou dan Kota Quanzhou. Berada tepat menghadap ke Pulau Jinmen, Taiwan. Sebenarnya jika dari Xiamen ingin pergi ke Taiwan cukup dekat. Namun cukup ribet, karena masuk ke Taiwan harus membuat visa baru lagi.

Baca Juga :  Relawan Ra Mamak Masih Konsisten Sebut Peluang Poros Baru

Kota Xiamen sendiri terbagi menjadi dua daerah. Yakni Pulau Luar atau disebut daowai dan Pulau Dalam atau disebut daonei. Pulau Dalam lebih ramai dan pesat daripada Pulai Luar. Kantor pemerintahan dan pelayanan umum rata-rata ada di Pulau Dalam. Dari Pulau Luar pergi ke Pulau Dalam akan melewati jembatan sepanjang 8,43 kilometer.  

Sesampai di Xiamen ternyata China tidak seperti apa yang saya pikirkan dan tidak seperti apa yang dibicarakan oleh orang-orang di tanah air. Tidak jarang kami bertemu orang China muslim, restoran halal cukup mudah ditemui, bahkan masjid masih bisa dijangkau, melakukan ibadahpun tidak semengerikan pemberitaan di Indonesia.

Salat lima waktu tetap bisa dijalankan. Bahkan setiap jumat bisa pergi ke masjid untuk melakukan salat jumat bersama jamaah lain, meskipun jarak dari kampus yang terletak di distrik Jimei (salah satu distrik di daerah pulau luar atau daowai) menuju ke masjid yang terletak di jalan Xinhua (ada di daerah pulau dalam atau daonei) cukup jauh.

Dari asrama menuju ke stasiun bus di depan gerbang kampus perlu berjalan sekitar 15 menit. Untung saja menunggu busnya tidak selama di Indonesia, karena setiap lima menit sekali akan ada bus yang lewat. Kami pergi ke masjid biasanya naik Bus Rapid Transport (BRT) dengan perjalanan kurang lebih 35-45 menit. Karena BRT ini tidak langsung turun pas di depan masjid, melainkan turun di stasiun Xidoulu, sehingga perlu berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer lebih. Jadi siapkan kaki Anda jika ingin melancong ke China.

Karena masjid yang kami tuju ada di dalam sebuah gedung, sehingga perlu menaiki tangga atau lift terlebih dahulu untuk sampai ke tempat wudu dan tempat salat. Jamaah yang datang cukup banyak, sehingga jika kami datang agak terlambat, maka kemungkinan besar akan salat di lantai bawah dengan melihat imam dari layar kaca televisi.

Hari Jumat memang cukup istimewa. Selepas salat jumat sudah banyak pedagang muslim yang berjualan makanan yang pastinya halalan thoyyiba seperti aneka roti, mie, buah-buahan khas China bagian barat laut (xibei) dan sebaginya.

Salat tarawih pun terkadang kami pergi ke masjid. Biasanya kami memulai dengan agenda berbuka puasa bersama di masjid, hidangannya serba daging, mie, kurma China (hongzao), dan sebagainya. Para jamaah duduk bersama di ruangan yang sudah disiapkan menunggu datangnya maghrib. Setelah azan berkumandang, kami memulai dengan minum semangkok teh tawar (khas teh China disajikan tanpa gula) dan makan makanan pengganjal berupa roti, buah, kurma.

Baca Juga :  Barisan Santri Pamekasan Optimis Menangkan Jokowi-Ma'ruf Amin

Susana buka puasa bersama di masjid ini dilaksanakan setiap tahun oleh pengurus Masjid Xiamen. Dipimpin langsung oleh imam atau ahong. Hidangan buka puasa ini diperoleh dari para donatur baik dalam bentuk uang atau barang. Ketika akan memasuki waktu maghrib, panitia meminta jamaah untuk menuju ke sebuah ruangan di lantai bawah. Di ruangan ini sudah disiapkan kursi dan meja lengkap dengan buah-buahan dan teh. Setelah masuk waktu maghrib biasanya para jamaah akan minum dan makan buah-buahan untuk membatalkan puasa. Dilanjutkan dengan salat berjamaah, kemudian kembali ke ruangan di lantai bawah untuk makan.

Setelah cukup mengganjal perut, kami melaksanakan salat maghrib bersama dan dilanjutkan dengan makan makanan berat berupa mie dan daging, namun tidak ada nasi. Meskipun tanpa makan nasi, kami sudah merasa cukup kenyang, karena porsi makannya lumayan besar, apalagi ditambah dengan mie yang juga mengandung karbohidrat.

Sembari menunggu waktu isyak, para jamaah ada yang membaca Al-Qur’an, berzikir, dan ada juga yang berdiskusi. Mendengar azan isya dikumandangkan, kami bersiap-siap untuk melaksanakan salat isya dan tarawih. Salat tarawih tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, melaksanakan 20 rakaat salat tarawih dan ditutup dengan salat witir.

Ibadah di Tiongkok tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Kebebasan beragama dan beribadah sudah diatur oleh pemerintah dalam Undang-Undang Dasar RRT Bab 2 Pasal 36, yang berisi tentang kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama, dan tidak mendiskriminasi warganya baik yang beragama maupun tidak. Hanya saja melaksanakan ibadah di Tiongkok perlu melihat situasi dan kondisi, ada tempat-tempat umum, seperti taman, pinggir jalan, dalam mall dan tempat umum lain yang memang tidak boleh sembarangan melakukan ibadah di sana. Setidaknya di dalam kamar, kampus dan masjid adalah tempat yang nyaman untuk melakukan ibadah salat. Namun, terkadang kami juga tetap salat di mall, dengan mencari tempat yang sepi, seperti di bawah tangga, tempat parkir, tinggal menggelar sajadah, sudah bisa salat. Ternyata ”musholla” ada dimana-mana.

Ungkapan China kuno ”baiwen buru yijian” mengajarkan kita bahwa melihat atau menyaksikan secara langsung walaupun sekali lebih baik dibandingkan beratus-ratus kali sekadar mendengar saja. Dan apa yang dilihat, itu yang menjadi ilmu pengetahuan bagi kita. (*)

NUR MUSYAFAK lahir di Bangkalan, Rabu, 29 Desember 1993. Sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Linguistics and Applied Linguistics di Central China Normal University Wuhan. Pernah mengenyam pendidikan dan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Wuhan (2018–2019) dan wakil ketua umum PPI Tiongkok Pusat (2019–sekarang).

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/