alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Kajian Manuskrip oleh Mahasiswa IAIN Jember di Padepokan Raden Umro

Masyarakat memandang manuskrip hanya sebagai benda peninggalan masa lalu. Tanpa berusaha mengetahui lebih dalam. Mahasiswa diharapkan dapat mengungkap nilai-nilai di dalamnya.

ANIS BILLAH, Pamekasan

TIGA bus pariwisata diparkir berjejer di jalan pintu masuk Pondok Pesantren Sumber Anyar, Larangan Tokol, Tlanakan, kemarin (21/4). Satu per satu generasi milenial keluar dari dalam bus dengan berpakaian ala mahasiswa. Ada yang mengenakan almamater, sebagian yang lain berpakaian rapi dan sopan.

Tak jauh dari tempat bus diparkir, beberapa pemuda berkostum kaus hitam bersablon huruf hijaiyah ”ain” sudah menunggu. Kemudian, rombongan bus diarahkan ke aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bakti Bangsa (STIEBA) Ponpes Sumber Anyar di lantai dua. Rombongan langsung menaiki tangga bangunan yang menghadap ke selatan itu.

Rombongan tersebut merupakan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Dari dua program studi (prodi). Yaitu, studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) serta Ilmu Alquran dan Tafsir (IQT). Kedatangan mereka ke Madura untuk mengkaji manuskrip yang dikoleksi Padepokan Raden Umro.

Ketua Padepokan Raden Umro Habibullah mengatakan, pihaknya berhasil menyelamatkan ratusan manuskrip yang masih terawat. Manuskrip tersebut merupakan peninggalan sejarah nenek moyangnya. Pihaknya melakukan perawatan dan pelestarian manuskrip sejak 2004.

Baca Juga :  Ochi Bantu Warga Miskin Gunakan Media Sosial

Menurut dia, pelestarian manuskrip sangat penting. Di dalamnya mengandung sejarah. Bahkan, manuskrip bisa dijadikan bukti sejarah peradaban masyarakat. ”Kami kan tidak tahu seperti apa kehidupan masyarakat ratusan tahun yang lalu. Misalnya, kalau ada pendidikan, seperti apa sistem pembelajarannya dan yang lainnya. Kami bisa mengetahui itu melalui manuskrip peninggalan nenek moyang kita,” ujarnya.

Namun, saat ini masyarakat kurang bergairah untuk mengetahui peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat memaknai manuskrip hanya sebagai peninggalan sejarah yang harus dirawat. Mengenai isinya, mereka seakan-akan enggan untuk mengkaji.

Karena itu, pihaknya berupaya menggerakkan mahasiswa untuk melakukan kajian-kajian terhadap naskah kuno peninggalan sejarah tersebut. Sebab, sebagian isi manuskrip yang terkumpul belum bisa diketahui, yakni yang berkaitan dengan usia serta isinya.

”Kami memiliki ratusan manuskrip yang sudah berusia ratusan tahun. Kami tidak bisa mengetahui isi dari manuskrip itu jika tidak ada yang mengkaji. Mahasiswa sebagai akademisi, menurut kami memiliki potensi untuk mengkaji kandungan sejarah di dalam manuskrip,” tuturnya.

Dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Jember Amin Fadlillah menyampaikan hal serupa. Mahasiswa harus bisa membaca peluang tersebut. Bahkan, banyak akademisi yang berhasil mendapat gelar profesor dari hasil kajian benda-benda peninggalan sejarah, tersmasuk manuskrip.

Baca Juga :  Tak Sesuai NSPK, Museum Cakraningrat Tidak Diakui Kemendikbud

Menurutnya, manuskrip dapat dijadikan landasan dalam mengetahui jejak literasi masa lalu. Apalagi, bumi Nusantara menjadi pusat peradaban Islam. ”Kami mencoba mengenalkan mahasiswa agar melek peradaban. Makanya, kami mencoba menggerakkan dan membangun literasi mahasiswa sejak awal. Di antaranya dengan melakukan kajian-kajian terhadap peninggalan sejarah,” ungkapnya.

Miftahul Ulum, mahasiswa IAIN Jember tertarik mengkaji manuskrip karena banyak mengandung sejarah peradaban Islam. Sejauh ini, mahasiswa Prodi SPI tersebut mengetahui sejarah dari buku-buku sejarah tanpa melihat bukti sejarah secara langsung.

”Kami bersyukur bisa mengetahui langsung bukti sejarah literasi. Dengan adanya manuskrip ini kami bisa lebih mudah meneliti sejarah Islam di Nusantara. Sebab, sudah ada bukti sejarah yang bisa dipelajari dari manuskrip,” katanya.

Ke depan, dia akan membuat studi penelitian mengenai sejarah Islam di Indonesia. Yakni, dengan mengkaji naskah kuno tersebut. ”Ini menjadi langkah awal bagi kami untuk mengkaji lebih dalam tentang sejarah Islam di Indonesia.” 

- Advertisement -

Masyarakat memandang manuskrip hanya sebagai benda peninggalan masa lalu. Tanpa berusaha mengetahui lebih dalam. Mahasiswa diharapkan dapat mengungkap nilai-nilai di dalamnya.

ANIS BILLAH, Pamekasan

TIGA bus pariwisata diparkir berjejer di jalan pintu masuk Pondok Pesantren Sumber Anyar, Larangan Tokol, Tlanakan, kemarin (21/4). Satu per satu generasi milenial keluar dari dalam bus dengan berpakaian ala mahasiswa. Ada yang mengenakan almamater, sebagian yang lain berpakaian rapi dan sopan.


Tak jauh dari tempat bus diparkir, beberapa pemuda berkostum kaus hitam bersablon huruf hijaiyah ”ain” sudah menunggu. Kemudian, rombongan bus diarahkan ke aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bakti Bangsa (STIEBA) Ponpes Sumber Anyar di lantai dua. Rombongan langsung menaiki tangga bangunan yang menghadap ke selatan itu.

Rombongan tersebut merupakan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Dari dua program studi (prodi). Yaitu, studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) serta Ilmu Alquran dan Tafsir (IQT). Kedatangan mereka ke Madura untuk mengkaji manuskrip yang dikoleksi Padepokan Raden Umro.

Ketua Padepokan Raden Umro Habibullah mengatakan, pihaknya berhasil menyelamatkan ratusan manuskrip yang masih terawat. Manuskrip tersebut merupakan peninggalan sejarah nenek moyangnya. Pihaknya melakukan perawatan dan pelestarian manuskrip sejak 2004.

Baca Juga :  Siswa SMK Mambaul Ulum Bata-Bata┬áCiptakan Bahan Bakar┬ádari Plastik

Menurut dia, pelestarian manuskrip sangat penting. Di dalamnya mengandung sejarah. Bahkan, manuskrip bisa dijadikan bukti sejarah peradaban masyarakat. ”Kami kan tidak tahu seperti apa kehidupan masyarakat ratusan tahun yang lalu. Misalnya, kalau ada pendidikan, seperti apa sistem pembelajarannya dan yang lainnya. Kami bisa mengetahui itu melalui manuskrip peninggalan nenek moyang kita,” ujarnya.

Namun, saat ini masyarakat kurang bergairah untuk mengetahui peninggalan sejarah tersebut. Masyarakat memaknai manuskrip hanya sebagai peninggalan sejarah yang harus dirawat. Mengenai isinya, mereka seakan-akan enggan untuk mengkaji.

Karena itu, pihaknya berupaya menggerakkan mahasiswa untuk melakukan kajian-kajian terhadap naskah kuno peninggalan sejarah tersebut. Sebab, sebagian isi manuskrip yang terkumpul belum bisa diketahui, yakni yang berkaitan dengan usia serta isinya.

”Kami memiliki ratusan manuskrip yang sudah berusia ratusan tahun. Kami tidak bisa mengetahui isi dari manuskrip itu jika tidak ada yang mengkaji. Mahasiswa sebagai akademisi, menurut kami memiliki potensi untuk mengkaji kandungan sejarah di dalam manuskrip,” tuturnya.

Dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Jember Amin Fadlillah menyampaikan hal serupa. Mahasiswa harus bisa membaca peluang tersebut. Bahkan, banyak akademisi yang berhasil mendapat gelar profesor dari hasil kajian benda-benda peninggalan sejarah, tersmasuk manuskrip.

Baca Juga :  Muslimah, Bocah Yatim Piatu yang Diduga Alami Oligofrenia

Menurutnya, manuskrip dapat dijadikan landasan dalam mengetahui jejak literasi masa lalu. Apalagi, bumi Nusantara menjadi pusat peradaban Islam. ”Kami mencoba mengenalkan mahasiswa agar melek peradaban. Makanya, kami mencoba menggerakkan dan membangun literasi mahasiswa sejak awal. Di antaranya dengan melakukan kajian-kajian terhadap peninggalan sejarah,” ungkapnya.

Miftahul Ulum, mahasiswa IAIN Jember tertarik mengkaji manuskrip karena banyak mengandung sejarah peradaban Islam. Sejauh ini, mahasiswa Prodi SPI tersebut mengetahui sejarah dari buku-buku sejarah tanpa melihat bukti sejarah secara langsung.

”Kami bersyukur bisa mengetahui langsung bukti sejarah literasi. Dengan adanya manuskrip ini kami bisa lebih mudah meneliti sejarah Islam di Nusantara. Sebab, sudah ada bukti sejarah yang bisa dipelajari dari manuskrip,” katanya.

Ke depan, dia akan membuat studi penelitian mengenai sejarah Islam di Indonesia. Yakni, dengan mengkaji naskah kuno tersebut. ”Ini menjadi langkah awal bagi kami untuk mengkaji lebih dalam tentang sejarah Islam di Indonesia.” 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/