21.4 C
Madura
Monday, March 27, 2023

Kubangan Bekas Galian C Renggut Empat Nyawa Anak-Anak

Kubangan bekas galian C memakan korban. Empat anak meninggal dunia karena tenggelam. Dua di antara mereka masih bersaudara.

JUPRI, Bangkalan

ENAM iring-iringan mobil masuk ke RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu), Rabu (20/3) pukul 21.00. Tiga kendaraan paling depan menyalakan lampu strobo. Yaitu, mobil dinas polisi dan dua ambulans di belakangnya.

Meski menandakan gawat darurat, mobil itu tidak berhenti di depan ruang ICU yang ada di bagian depan rumah sakit. Iring-iringan kendaraan itu itu langsung menuju bagian belakang RSUD. Enam mobil itu berhenti di depan ruang jenazah.

Saat pintu ambulans dibuka, terlihat masing masing membawa dua jenazah. Mereka adalah anak-anak yang ditemukan tewas di bekas galian C. Mereka tenggelam di Kampung Bara’ Lorong, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang. Yakni, Haidir Syalbani, 8; Muhammad Safi, 7 serta dua bersaudara Fadlituatus Sholihin, 6 dan Lukmanul Hakim, 5.

Umi Kulsum, ibu kandung Fadlituatus Sholihin dan Lukmanul Hakim menyampaikan, sekitar pukul 16.00 dua putranya datang sekolah madrasah. Namun bukannya mandi untuk siap berangkat mengaji, Fadli dan Lukman berangkat bermain.

Baca Juga :  Hidup ┬áSebatang Kara, Tempati Rumah Runtuh

Setelah keluar rumah, mereka tidak kunjung kembali. Hingga pukul 17.00. Suami Umi, Muhammad Fausi Al Farisi, bergegas mencari dua putranya itu. Berputar-putar di sebidang lading, tempat biasa mereka bermain. Namun, Fausi tidak menemukannya. Kemudian kembali berusaha mencari ke tempat lain.

”Ayahnya mencari karena sudah waktunya ngaji. Tapi, anak saya tidak pulang-pulang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Madura ketika berada di dekat dua jenazah putranya di rumah sakit.

Saat sampai di kubangan bekas galian C, Fausi menemukan Lukman dalam keadaan mengambang. Beberapa sandal dan baju terlihat di pinggir kubangan itu. Suaminya langsung berteriak minta tolong.

”Kalau kejadiannya tidak ada yang tahu” tutur perempuan berkerudung itu dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan duka mendalam.

Pencarian terus dilanjutkan saat warga berdatangan. Mereka mencari pemilik sandal ke dalam kubangan itu. Usaha mereka tidak sia-sia. Haidir, Safi, dan Fadlituatus ditemukan di dasar kubangan. Namun, kondisi mereka sudah tidak menyawa. ”Perkiraan dalamnya lubang itu sekitar 2 meter,” tambah Umi.

Baca Juga :  Aisya, Bocah Sepuluh Tahun Robek Empat Sentimeter

Darmawan, ayah Haidir sangat terpukul atas kejadian itu. Namun dia mengikhlaskan kepergian buah hatinya. ”Mau bagaimana lagi, namanya saja sudah ajal,” ucapnya.

Kapolsek Sukolilo AKP Sugimin mengaku dirinya sangat prihatin asat peristiwa yang dialami empat anak-anak itu. Dia berharap semua orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap buah hatinya. ”Kami minta agar diawasi supaya tidak terjadi seperti ini lagi,” tuturnya.

Sugimin menyampaikan, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Empat jenazah yang dibawa ke RSUD Syamrabu untuk diotopsi. Berdasarkan hasil penyelidika,n tidak ditemukan bukti-bukti kekerasan kepada empat korban.

”Lebih mengarah ke murni kecelakaan. Bekas penganiayaan tidak ada. Di TKP kami menemukan sandal dan pakaian korban. Mungkin karena tidak bisa berenang,” terang Sugimin.

Kubangan bekas galian C memakan korban. Empat anak meninggal dunia karena tenggelam. Dua di antara mereka masih bersaudara.

JUPRI, Bangkalan

ENAM iring-iringan mobil masuk ke RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu), Rabu (20/3) pukul 21.00. Tiga kendaraan paling depan menyalakan lampu strobo. Yaitu, mobil dinas polisi dan dua ambulans di belakangnya.


Meski menandakan gawat darurat, mobil itu tidak berhenti di depan ruang ICU yang ada di bagian depan rumah sakit. Iring-iringan kendaraan itu itu langsung menuju bagian belakang RSUD. Enam mobil itu berhenti di depan ruang jenazah.

Saat pintu ambulans dibuka, terlihat masing masing membawa dua jenazah. Mereka adalah anak-anak yang ditemukan tewas di bekas galian C. Mereka tenggelam di Kampung Bara’ Lorong, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang. Yakni, Haidir Syalbani, 8; Muhammad Safi, 7 serta dua bersaudara Fadlituatus Sholihin, 6 dan Lukmanul Hakim, 5.

Umi Kulsum, ibu kandung Fadlituatus Sholihin dan Lukmanul Hakim menyampaikan, sekitar pukul 16.00 dua putranya datang sekolah madrasah. Namun bukannya mandi untuk siap berangkat mengaji, Fadli dan Lukman berangkat bermain.

Baca Juga :  Suwarno Berpengalaman Pimpin Sekolah

Setelah keluar rumah, mereka tidak kunjung kembali. Hingga pukul 17.00. Suami Umi, Muhammad Fausi Al Farisi, bergegas mencari dua putranya itu. Berputar-putar di sebidang lading, tempat biasa mereka bermain. Namun, Fausi tidak menemukannya. Kemudian kembali berusaha mencari ke tempat lain.

- Advertisement -

”Ayahnya mencari karena sudah waktunya ngaji. Tapi, anak saya tidak pulang-pulang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Madura ketika berada di dekat dua jenazah putranya di rumah sakit.

Saat sampai di kubangan bekas galian C, Fausi menemukan Lukman dalam keadaan mengambang. Beberapa sandal dan baju terlihat di pinggir kubangan itu. Suaminya langsung berteriak minta tolong.

”Kalau kejadiannya tidak ada yang tahu” tutur perempuan berkerudung itu dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan duka mendalam.

Pencarian terus dilanjutkan saat warga berdatangan. Mereka mencari pemilik sandal ke dalam kubangan itu. Usaha mereka tidak sia-sia. Haidir, Safi, dan Fadlituatus ditemukan di dasar kubangan. Namun, kondisi mereka sudah tidak menyawa. ”Perkiraan dalamnya lubang itu sekitar 2 meter,” tambah Umi.

Baca Juga :  Aisya, Bocah Sepuluh Tahun Robek Empat Sentimeter

Darmawan, ayah Haidir sangat terpukul atas kejadian itu. Namun dia mengikhlaskan kepergian buah hatinya. ”Mau bagaimana lagi, namanya saja sudah ajal,” ucapnya.

Kapolsek Sukolilo AKP Sugimin mengaku dirinya sangat prihatin asat peristiwa yang dialami empat anak-anak itu. Dia berharap semua orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap buah hatinya. ”Kami minta agar diawasi supaya tidak terjadi seperti ini lagi,” tuturnya.

Sugimin menyampaikan, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Empat jenazah yang dibawa ke RSUD Syamrabu untuk diotopsi. Berdasarkan hasil penyelidika,n tidak ditemukan bukti-bukti kekerasan kepada empat korban.

”Lebih mengarah ke murni kecelakaan. Bekas penganiayaan tidak ada. Di TKP kami menemukan sandal dan pakaian korban. Mungkin karena tidak bisa berenang,” terang Sugimin.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/