alexametrics
25.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Penerima Certified Certificate Leadership Award

BANGKALAN – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus melahirkan lulusan andal. Salah satunya Dodik Pranata Wijaya. Mantan presiden mahasiswa (presma) UTM ini berhasil mengenyam pendidikan di Michigan State University College of Law. Dia sukses menerima Certified Certificate Leadership Award pada 16th Annual Leadership Award.

Dodik Pranata Wijaya merupakan anak pertama pasangan suami istri (pasutri) Benny Wijaya dan Siti Amina. Pekerjaan bapak Dodik adalah sopir dan ibunya penjual nasi. Dodik lahir dari keluarga ekonomi bawah.

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan mendorong se­mangat Dodik untuk terus berjuang. Berkat doa orang tua dan para guru, kini kakak Novi Indah Permata Sari dan Andhika Ramadhani itu berhasil menempuh pendidikan magister hukum di Michigan State University College of Law. Dia berkesempatan mengenyam pendidikan prestisius itu melalui beasiswa.

”Nak, ibu dan ayah tidak memiliki harta untuk diwariskan. Tapi, ibu dan ayah akan berusa­ha walau kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala untuk memperjuangkanmu menuntut ilmu. Kamu lahir dari ayah yang sekolah dasar pun tidak lulus. Ibumu bahkan tidak pernah mengenal bagaimana bentuk bangku sekolah. Perjuangan ibu dan ayah ini agar kamu dapat mengenyam pendidikan hingga paling ting­gi. Itu satu-satunya warisan yang bisa kami berikan padamu”.

Itulah kata-kata ibu saat Dodik mengenyam pendidikan di UTM. Sejak itu, pendidikan bagi dia bukan sekadar pemuas rasa ingin tahu. Namun, juga cara terbaik memberikan jawaban secara tidak langsung kepada ibu. ”Bu, perjuanganmu tidak sia-sia.” ucap Dodik saat memberikan sambutan mewakili wisudawan UTM. Air mata ibu Dodik jatuh di pipi untuk kali kesekian.

Motivasi Dodik pada pendidikan luar biasa besar. Meski keterbatasan biaya, dia berani mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendi­dikan (LPDP). Untuk mem­persiapkan beasiswa luar negeri itu, segalanya dilakukan.

Dodik menjual beberapa barang agar bisa memiliki modal untuk belajar bahasa Inggris. Dengan bermodalkan restu orang tua, dukungan sahabat, dosen, serta pimpinan UTM, dia memantapkan diri mendaftar.

Pada 2016 Dodik dinyatakan lo­los sebagai penerima beasiswa LPDP dengan negara tujuan Amerika Ser­ikat dan kuliah di Michigan State University College of Law. ”UTM salah satu tempat paling bersejarah bagi saya. Dari mahasiswa baru, diamanahi sebagai Presma UTM 2014, hingga memberikan sambutan di acara wisuda sangat berkesan bagi saya,” kenang aktivis PMII itu.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru

Sebulan sebelum menginjakkan kaki di negeri Paman Sam pada 4 November 2016, dia membulatkan tekad melangsungkan akad nikah dengan Shinta Nurissyima. Tanggal 9 Desember 2016 hari pertama dia menginjakkan kaki di Amerika. Tiga minggu kemudian, Shinta Nurissyima tiba di Amerika Serikat menemani Dodik berjuang.

Februari 2016, dia mendapatkan email yang menyatakan lolos seleksi sebagai student exchange untuk summer program di Kroasia. Pagi harinya, sebelum masuk waktu subuh, istri membangunkan tidurnya. Istri memberitahu sedang hamil. Esok harinya, Dodik bersama istri mendatangi dokter dan dinyatakan positif hamil.

”Congratulation, you are gonna be a father, and the due date of your baby should be on May 15”. Hal tersebut membuat Dodik harus memilih antara menjaga istri yang sedang hamil atau meninggalkannya untuk ke Eropa. Dia memutuskan untuk menunda mimpi melintasi batas benua Eropa.

Maret 2017, Dodik mengikuti event penghargaan tahunan the 16thAnnual Student Leadership Award Michigan State University. Dia mendaftar untuk penghargaan The Spartan Leadership Certified Certificate.

Yakni, sebuah penghargaan keterlibatan mahasiswa dalam pengalaman pengembangan kepemimpinan di Michigan State University serta keterlibatan dalam pengalaman pengembangan kepemimpinan di luar Michigan State University. ”Alhamdullilah, ketertarikan saya di bidang organisasi sejak SMP membuat saya masuk dalam kategori untuk penghargaan ini. Pada 18 April 2017, mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos sebagai nomine pada 16th Annual Student Life Leadership Awards Michigan State University,” ucapnya.

Penerima penghargaan akan diumumkan di salah satu hotel di East Lansing, Amerika Serikat pada 19 April 2017. Dodik meraih Platinum Certified Certificate pada 16th Annual Leadership Award Michigan State University 2017.

Capaiannya tersebut bukan tanpa perjuangan. Sedikitnya sekitar 24 organisasi telah Dodik tekuni dan 80 persen dia menjadi leader. Saat ini dia diberikan amanah sebagai Ketua Keluarga Muslim Indonesia Michigan yang biasa disebut Pengajian Michigan Amerika Serikat. Yakni, organisasi yang fokus tentang peningkatan silaturahmi antar umat Islam di Michigan. Organiasi tersebut diisi pengajian dan tausiyah Islam.

Baca Juga :  Ini Pesan Budi Waseso Saat Berkunjung ke Universitas Trunojoyo Madura

”Sungguh, sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Januari 2018, Allah kembali mengabulkan mimpi saya untuk bisa menapakkan kaki di Benua Eropa. Maret 2018, insya Allah saya akan mempresentasikan paper saya di salah satu konferensi internasional di Eropa. Maka lipatan mimpi ini tidak hanya Madura–Amerika, namun berkat LPDP, garis lintang Eropa pun bisa terlipat,” pungkasnya.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UTM Ach. Tantowi Tjauhari mengapresiasi perjuangan Dodik mengenyam pendidikan. Bahkan, bisa kuliah di Amerika Serikat dengan mendapatkan beasiswa. Dodik juga banyak meraih prestasi.

Menurut dia, keberhasilan Dodik tidak terlepas saat berporses di UTM sehingga banyak menyerap ilmu dan memperbanyak jaringan. Itu membuat Dodik semakin matang dan berprestasi. ”Capaian Dodik harus menjadi motivasi bagi mahasiswa UTM yang lain,” pesannya.

Rektor UTM Dr. Drs. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si. mengatakan, kendati Dodik berasal dari masyarakat desa dan pendapatan keluarganya kurang, namun usaha dan perjuangannya untuk mengenyam pendidikan patut dicontoh. Menurut dia, sewaktu kuliah di UTM, Dodik tidak hanya fokus di kelas atau bidang akademik.

Dia juga mengikuti oganiasi ekstra dan intrakampus sehingga menambah keilmuan dan pengalaman. ”Kerja keras yang dilakukan. Terlihat saat ini hasilnya,” ucap Syarif. Dia berpesan kepada generasi muda dan pelajar  Madura jangan pernah menyerah mengenyam pendidikan meskipun berasal dari pelosok desa dan kurang mampu secara ekonomi.

Teruslah belajar dan memberikan kontribusi nyata pada masyarakat sehingga pengetahuan yang dimiliki bermanfaat bagi kemajuan Indonesia. Pelajar Madura atau generasi muda yang memiliki semangat belajar dan berprestasi namun terkendala biaya, jangan patah semangat. Di UTM banyak beasiswa yang bisa diperoleh. Di antaranya, PPA, Migas, Djarum, dan Bidikmisi.

Penerima beasiswa Bidikmisi digratiskan semua biaya pendidikan. Setiap bulan mendapatkan living cost atau biaya hidup. ”30 persen dari total mahasiswa UTM memperoleh biasiswa Bidikmisi,” ungkap Syarif.

 

BANGKALAN – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus melahirkan lulusan andal. Salah satunya Dodik Pranata Wijaya. Mantan presiden mahasiswa (presma) UTM ini berhasil mengenyam pendidikan di Michigan State University College of Law. Dia sukses menerima Certified Certificate Leadership Award pada 16th Annual Leadership Award.

Dodik Pranata Wijaya merupakan anak pertama pasangan suami istri (pasutri) Benny Wijaya dan Siti Amina. Pekerjaan bapak Dodik adalah sopir dan ibunya penjual nasi. Dodik lahir dari keluarga ekonomi bawah.

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan mendorong se­mangat Dodik untuk terus berjuang. Berkat doa orang tua dan para guru, kini kakak Novi Indah Permata Sari dan Andhika Ramadhani itu berhasil menempuh pendidikan magister hukum di Michigan State University College of Law. Dia berkesempatan mengenyam pendidikan prestisius itu melalui beasiswa.

”Nak, ibu dan ayah tidak memiliki harta untuk diwariskan. Tapi, ibu dan ayah akan berusa­ha walau kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala untuk memperjuangkanmu menuntut ilmu. Kamu lahir dari ayah yang sekolah dasar pun tidak lulus. Ibumu bahkan tidak pernah mengenal bagaimana bentuk bangku sekolah. Perjuangan ibu dan ayah ini agar kamu dapat mengenyam pendidikan hingga paling ting­gi. Itu satu-satunya warisan yang bisa kami berikan padamu”.

Itulah kata-kata ibu saat Dodik mengenyam pendidikan di UTM. Sejak itu, pendidikan bagi dia bukan sekadar pemuas rasa ingin tahu. Namun, juga cara terbaik memberikan jawaban secara tidak langsung kepada ibu. ”Bu, perjuanganmu tidak sia-sia.” ucap Dodik saat memberikan sambutan mewakili wisudawan UTM. Air mata ibu Dodik jatuh di pipi untuk kali kesekian.

Motivasi Dodik pada pendidikan luar biasa besar. Meski keterbatasan biaya, dia berani mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendi­dikan (LPDP). Untuk mem­persiapkan beasiswa luar negeri itu, segalanya dilakukan.

Dodik menjual beberapa barang agar bisa memiliki modal untuk belajar bahasa Inggris. Dengan bermodalkan restu orang tua, dukungan sahabat, dosen, serta pimpinan UTM, dia memantapkan diri mendaftar.

Pada 2016 Dodik dinyatakan lo­los sebagai penerima beasiswa LPDP dengan negara tujuan Amerika Ser­ikat dan kuliah di Michigan State University College of Law. ”UTM salah satu tempat paling bersejarah bagi saya. Dari mahasiswa baru, diamanahi sebagai Presma UTM 2014, hingga memberikan sambutan di acara wisuda sangat berkesan bagi saya,” kenang aktivis PMII itu.

Baca Juga :  Cara Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Berdayakan Ekonomi Warga

Sebulan sebelum menginjakkan kaki di negeri Paman Sam pada 4 November 2016, dia membulatkan tekad melangsungkan akad nikah dengan Shinta Nurissyima. Tanggal 9 Desember 2016 hari pertama dia menginjakkan kaki di Amerika. Tiga minggu kemudian, Shinta Nurissyima tiba di Amerika Serikat menemani Dodik berjuang.

Februari 2016, dia mendapatkan email yang menyatakan lolos seleksi sebagai student exchange untuk summer program di Kroasia. Pagi harinya, sebelum masuk waktu subuh, istri membangunkan tidurnya. Istri memberitahu sedang hamil. Esok harinya, Dodik bersama istri mendatangi dokter dan dinyatakan positif hamil.

”Congratulation, you are gonna be a father, and the due date of your baby should be on May 15”. Hal tersebut membuat Dodik harus memilih antara menjaga istri yang sedang hamil atau meninggalkannya untuk ke Eropa. Dia memutuskan untuk menunda mimpi melintasi batas benua Eropa.

Maret 2017, Dodik mengikuti event penghargaan tahunan the 16thAnnual Student Leadership Award Michigan State University. Dia mendaftar untuk penghargaan The Spartan Leadership Certified Certificate.

Yakni, sebuah penghargaan keterlibatan mahasiswa dalam pengalaman pengembangan kepemimpinan di Michigan State University serta keterlibatan dalam pengalaman pengembangan kepemimpinan di luar Michigan State University. ”Alhamdullilah, ketertarikan saya di bidang organisasi sejak SMP membuat saya masuk dalam kategori untuk penghargaan ini. Pada 18 April 2017, mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos sebagai nomine pada 16th Annual Student Life Leadership Awards Michigan State University,” ucapnya.

Penerima penghargaan akan diumumkan di salah satu hotel di East Lansing, Amerika Serikat pada 19 April 2017. Dodik meraih Platinum Certified Certificate pada 16th Annual Leadership Award Michigan State University 2017.

Capaiannya tersebut bukan tanpa perjuangan. Sedikitnya sekitar 24 organisasi telah Dodik tekuni dan 80 persen dia menjadi leader. Saat ini dia diberikan amanah sebagai Ketua Keluarga Muslim Indonesia Michigan yang biasa disebut Pengajian Michigan Amerika Serikat. Yakni, organisasi yang fokus tentang peningkatan silaturahmi antar umat Islam di Michigan. Organiasi tersebut diisi pengajian dan tausiyah Islam.

Baca Juga :  Mengintip Pembuatan Film tentang Perempuan Madura

”Sungguh, sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Januari 2018, Allah kembali mengabulkan mimpi saya untuk bisa menapakkan kaki di Benua Eropa. Maret 2018, insya Allah saya akan mempresentasikan paper saya di salah satu konferensi internasional di Eropa. Maka lipatan mimpi ini tidak hanya Madura–Amerika, namun berkat LPDP, garis lintang Eropa pun bisa terlipat,” pungkasnya.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UTM Ach. Tantowi Tjauhari mengapresiasi perjuangan Dodik mengenyam pendidikan. Bahkan, bisa kuliah di Amerika Serikat dengan mendapatkan beasiswa. Dodik juga banyak meraih prestasi.

Menurut dia, keberhasilan Dodik tidak terlepas saat berporses di UTM sehingga banyak menyerap ilmu dan memperbanyak jaringan. Itu membuat Dodik semakin matang dan berprestasi. ”Capaian Dodik harus menjadi motivasi bagi mahasiswa UTM yang lain,” pesannya.

Rektor UTM Dr. Drs. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si. mengatakan, kendati Dodik berasal dari masyarakat desa dan pendapatan keluarganya kurang, namun usaha dan perjuangannya untuk mengenyam pendidikan patut dicontoh. Menurut dia, sewaktu kuliah di UTM, Dodik tidak hanya fokus di kelas atau bidang akademik.

Dia juga mengikuti oganiasi ekstra dan intrakampus sehingga menambah keilmuan dan pengalaman. ”Kerja keras yang dilakukan. Terlihat saat ini hasilnya,” ucap Syarif. Dia berpesan kepada generasi muda dan pelajar  Madura jangan pernah menyerah mengenyam pendidikan meskipun berasal dari pelosok desa dan kurang mampu secara ekonomi.

Teruslah belajar dan memberikan kontribusi nyata pada masyarakat sehingga pengetahuan yang dimiliki bermanfaat bagi kemajuan Indonesia. Pelajar Madura atau generasi muda yang memiliki semangat belajar dan berprestasi namun terkendala biaya, jangan patah semangat. Di UTM banyak beasiswa yang bisa diperoleh. Di antaranya, PPA, Migas, Djarum, dan Bidikmisi.

Penerima beasiswa Bidikmisi digratiskan semua biaya pendidikan. Setiap bulan mendapatkan living cost atau biaya hidup. ”30 persen dari total mahasiswa UTM memperoleh biasiswa Bidikmisi,” ungkap Syarif.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/