alexametrics
20.4 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Melihat Kegiatan Belajar Mengajar di SDN Srabi Timur 2

Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Srabi Timur 2, Kecamatan Modung, jauh dari kata ideal. Sekolah ini keterbatasan ruangan. Satu ruang terpaksa disekat menjadi dua kelas.

BUTUH waktu sekitar 45 menit dari Kota Bangkalan menuju SDN Srabi Timur 2, Kecamatan Modung, menggunakan sepeda motor. Sekolah yang dipimpin Abd. Rahman ini berada di area persawahan.

RadarMadura.id tiba di SDN Srabi Timur 2 pukul 07.35. Di Selasa pagi (19/11) itu, siswa sedang berbaris di halaman sekolah. Ada tiga guru perempuan yang mengawasi ratusan murid tersebut.

Kondisi SDN Srabi Timur 2 memprihatinkan. Tepat di belakang siswa yang berbaris itu, tiga bangunan sudah ambruk. Yakni, kelas I, II, dan III. Kerusakan paling parah bangunan kelas III.

Salah seorang guru perempuan tadi mempersilakan koran ini menemui pelaksana tugas (Plt) Kepala SDN Srabi Timur 2 Abd. Rahman. Saat itu dia tengah asyik dengan handphone-nya di ruang guru yang menghadap ke timur tersebut.

Rahman menyambut hangat kedatangan RadarMadura.id. Lalu dia menceritakan kronologis bangunan sekolah yang ambruk pada awal 2018. Tiga ruang kelas itu sudah pernah mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) untuk perbaikan. Hanya, tidak terealisasi karena status lahan bermasalah.

Baca Juga :  Terpukul Mendapat Kabar Menantu dan Tiga Cucunya Jadi Korban Bencana

”Sudah mau MoU pada Mei 2019. Karena status lahannya milik perorangan dan sudah bersertifikat, akhirnya tidak jadi,” katanya.

 Pria yang juga menjabat kepala SDN Neroh 2 itu berharap, pemerintah bisa segera mengatasi persoalan tersebut. Dengan demikian, bangunan bisa direnovasi dan kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung nyaman. ”Kami berharap pemerintah bisa mengatasi persoalan ini,” harapnya.

Ada 130 siswa di SDN Srabi Timur 2. Kondisi bangunan sekolah yang ambruk sangat mengganggu proses KBM.  Sebagian ruangan harus disekat tripleks untuk dijadikan dua kelas.

Aril, guru honorer yang mengajar di kelas IV menuturkan, ruang kelas memang disekat. Akibatnya, KBM tidak berjalan maksimal.

”Meskipun sudah diakali diberi tugas, namanya anak-anak, tetap ramai dan tidak konsentrasi,” ujar pria yang sudah mengajar sejak 2014 lalu.

Untungnya, kata dia, masing-masing kelas ada gurunya. ”Yang disekat sudah berlangsung lebih kurang dua tahun, setelah bangunan ambruk,” kata guru pelajaran umum itu.

Baca Juga :  ACT Biayai Para Murid Alor Bersekolah di Pulau Jawa

Hal senada diungkapkan Nur Komariyah, guru kelas III SDN Srabi Timur 2. Menurut dia, KBM memang terganggu dan tidak berjalan maksimal. Kelasnya juga sempit.

Biasanya, KBM berlangsung dalam satu kelas. Setelah bangunan roboh, satu ruangan dibikin jadi dua kelas.

”Ini yang membuat kami mengajar tidak konsentrasi. Termasuk murid, ketika diberikan penjelasan satunya diam, tapi satunya ramai,” tuturnya. ”Nah, itu yang mengganggu,” timpalnya.

Perempuan berusia 39 tahun itu menjelaskan, biasanya dalam satu kelas maksimal isi 20 siswa. ”Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan supaya KBM berjalan lancar dan fasilitasnya juga nyaman,” pinta perempuan yang diangkat menjadi PNS pada 2005 itu.

Sufiyah, siswi kelas IV mengaku sering tidak bisa fokus karena satu ruangan ditempati dua kelas. Ketika guru sama-sama menjelaskan, siswa tidak bisa konsentrasi.

”Memang tidak enak.  Saking ramainya kadang membuat saya pusing. Kalau sebelumnya enak. Semoga bupati segera membangun ruang kelas baru,” harap bocah 11 tahun itu. 

Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Srabi Timur 2, Kecamatan Modung, jauh dari kata ideal. Sekolah ini keterbatasan ruangan. Satu ruang terpaksa disekat menjadi dua kelas.

BUTUH waktu sekitar 45 menit dari Kota Bangkalan menuju SDN Srabi Timur 2, Kecamatan Modung, menggunakan sepeda motor. Sekolah yang dipimpin Abd. Rahman ini berada di area persawahan.

RadarMadura.id tiba di SDN Srabi Timur 2 pukul 07.35. Di Selasa pagi (19/11) itu, siswa sedang berbaris di halaman sekolah. Ada tiga guru perempuan yang mengawasi ratusan murid tersebut.


Kondisi SDN Srabi Timur 2 memprihatinkan. Tepat di belakang siswa yang berbaris itu, tiga bangunan sudah ambruk. Yakni, kelas I, II, dan III. Kerusakan paling parah bangunan kelas III.

Salah seorang guru perempuan tadi mempersilakan koran ini menemui pelaksana tugas (Plt) Kepala SDN Srabi Timur 2 Abd. Rahman. Saat itu dia tengah asyik dengan handphone-nya di ruang guru yang menghadap ke timur tersebut.

Rahman menyambut hangat kedatangan RadarMadura.id. Lalu dia menceritakan kronologis bangunan sekolah yang ambruk pada awal 2018. Tiga ruang kelas itu sudah pernah mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) untuk perbaikan. Hanya, tidak terealisasi karena status lahan bermasalah.

Baca Juga :  Ratusan Sekolah Butuh Sentuhan Disdik

”Sudah mau MoU pada Mei 2019. Karena status lahannya milik perorangan dan sudah bersertifikat, akhirnya tidak jadi,” katanya.

 Pria yang juga menjabat kepala SDN Neroh 2 itu berharap, pemerintah bisa segera mengatasi persoalan tersebut. Dengan demikian, bangunan bisa direnovasi dan kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung nyaman. ”Kami berharap pemerintah bisa mengatasi persoalan ini,” harapnya.

Ada 130 siswa di SDN Srabi Timur 2. Kondisi bangunan sekolah yang ambruk sangat mengganggu proses KBM.  Sebagian ruangan harus disekat tripleks untuk dijadikan dua kelas.

Aril, guru honorer yang mengajar di kelas IV menuturkan, ruang kelas memang disekat. Akibatnya, KBM tidak berjalan maksimal.

”Meskipun sudah diakali diberi tugas, namanya anak-anak, tetap ramai dan tidak konsentrasi,” ujar pria yang sudah mengajar sejak 2014 lalu.

Untungnya, kata dia, masing-masing kelas ada gurunya. ”Yang disekat sudah berlangsung lebih kurang dua tahun, setelah bangunan ambruk,” kata guru pelajaran umum itu.

Baca Juga :  Wajibkan Terapkan Budaya Baca

Hal senada diungkapkan Nur Komariyah, guru kelas III SDN Srabi Timur 2. Menurut dia, KBM memang terganggu dan tidak berjalan maksimal. Kelasnya juga sempit.

Biasanya, KBM berlangsung dalam satu kelas. Setelah bangunan roboh, satu ruangan dibikin jadi dua kelas.

”Ini yang membuat kami mengajar tidak konsentrasi. Termasuk murid, ketika diberikan penjelasan satunya diam, tapi satunya ramai,” tuturnya. ”Nah, itu yang mengganggu,” timpalnya.

Perempuan berusia 39 tahun itu menjelaskan, biasanya dalam satu kelas maksimal isi 20 siswa. ”Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan supaya KBM berjalan lancar dan fasilitasnya juga nyaman,” pinta perempuan yang diangkat menjadi PNS pada 2005 itu.

Sufiyah, siswi kelas IV mengaku sering tidak bisa fokus karena satu ruangan ditempati dua kelas. Ketika guru sama-sama menjelaskan, siswa tidak bisa konsentrasi.

”Memang tidak enak.  Saking ramainya kadang membuat saya pusing. Kalau sebelumnya enak. Semoga bupati segera membangun ruang kelas baru,” harap bocah 11 tahun itu. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/