Minggu, 05 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Hesbul Hannan Lestarikan Kesenian Sintong

Gerakan Tari Berasal dari Silat, tapi Lebih Luwes

21 Oktober 2021, 16: 43: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Gerakan Tari Berasal dari Silat, tapi Lebih Luwes

PELESTARI BUDAYA: Dari kiri: Zaini, Hesbul Hannan, Nurahman, Abdul Halim menjelaskan tentang kesenian sintong Sabtu (16/10). (MOH. JUNAIDI/RadarMadura.id)

Share this      

Umurnya memang sudah tua. Tapi, spiritnya masih sangat muda. Itulah sosok Hesbul Hannan. Satu-satunya sesepuh kesenian sintong yang masih hidup. Hesbul Hannan aktif sebagai anggota sejak 1961.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

KESENIAN sintong sempat vakum beberapa tahun. Namun, kesenian ini masih bisa dihidupkan kembali. Seni bernapaskan Islam yang menjadikan gerak tubuh sebagai spektrum utama. Ya, sintong, bahkan lebih dikenal dengan seni tari tradisi masyarakat pesisir.

Baca juga: Izzah Muthmainnah, Putri Batik Intelegensi Asal Sampang

Belum diketahui secara pasti tepatnya kapan kesenian ini muncul. Tapi, menurut Ketua Perkumpulan Sintong Nurahman, kesenian ini sudah ada sejak 1922. Bahkan, dalam literatur disebutkan, konon, Belanda pernah melarang sintong dipentaskan.

”Bukti bahwa kesenian sintong ini sudah lama ada, yakni sesepuh kami, Hesbul Hannan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Madura Sabtu (16/10).

Sosok Hesbul Hannan memang menegaskan bahwa kesenian Islam yang sangat khas ini benar-benar sudah lama. Hesbul mengaku turut aktif sebagai anggota sintong sejak 60 tahun silam. ”Saya menjadi anggota sintong ini tahun 1961. Saya diajak guru langgar tempat saya mengaji dulu. Saya sangat senang sekali,” ucap lelaki sepuh itu.

Hesbul banyak bercerita apa makna dan bagaimana dinamika kesenian sintong yang sebenarnya. Kata dia, gerak dalam tarian sintong awalnya adalah gerakan silat. Tetapi, gerakan di dalam sintong lebih luwes.

”Iya, gerakan dalam sintong ini berawal dari silat. Dulu, kata guru saya, sintong ini semua anggotanya rata-rata adalah orang-orang yang aktif sebagai anggota silat,” lanjut lelaki yang tinggal di Dusun Batang, Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, Sumenep, itu.

Bahkan, satu-satunya kesenian yang masih murni hanya sintong. Murni yang dimaksud tanpa ada pembaruan sama sekali. Terutama dalam gerak tari, musik, salawat, dan alat tetabuhan.

”Memang tidak boleh mengubah apa pun di dalam sintong ini. Baik tarian, nada musik, dan bacaan-bacaannya sekalipun. Semuanya asli, masih seperti awal-awal sintong ada,” terang lelaki yang pekerjaannya sebagai petani itu.

Hesbul menjelaskan, kata sintong itu punya arti manyettong (menyatukan diri) pada Sang Pencipta. Namun, dia menegaskan, secara penulisan ”sintung”, bukan ”sintong”. Penulisan kata ”sintung” juga tercantum dalam buku Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura tulisan Rosida Irmawati.

Penulisan ”sintung” tidak sama dengan yang umum diketahui publik. Tidak sedikit yang menulis ”sintong” termasuk saat kelompok seni ini menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren Annuqayah pada 8 Oktober 2017. Saat tampil di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah pada 26 September 2021 juga tertulis ”sintong”. Hari itu dipentaskan pergelaran upacara adat sintong dalam pengantin pesisir.

Salah satu vokalis sintong Zaini juga membenarkan bahwa penulisan yang biasa dipakai kelompoknya adalah ”sintung”. Namun, dia juga tidak membantah bahwa banyak yang menulis ”sintong”. Terutama mahasiswa saat menggarap skripsi.

Dia juga memaklumi perbedaan penulisan itu karena dianggap bukan kesalahan besar. Dia menyebut berbeda dengan Al-Qur’an dan hadis. ”Ini kan hanya nama,” ujar putra Hesbul Hannan itu.

Keterangan berbeda pernah disampaikan Faiqul Khair Al-Kudus, salah seorang seniman sintong. Saat mempersiapkan penyambutan presiden di Annuqayah, dia pernah ditegur oleh seseorang yang dituakan karena menulis ”sintung”. Orang itu, kata Faiq, mengingatkan penulisan yang benar adalah ”sintong”. ”Jadi yang benar adalah ’sintong’,” katanya Selasa (19/10).

Agus Widodo, salah seorang pengarah tari di Sumenep juga menegaskan bahwa penulisan yang benar adalah ”sintong”. Penjelasan itu diperoleh dari seorang vokalis sintong yang merupakan generasi keempat. Agus menerangkan, Hesbul ini merupakan generasi ke-3 yang masih hidup. Di sintong dia juga sebagai vokalis.

”Penulisannya sintong. Pakai O. Kalau di syairnya mereka penulisannya begini, ’Sintong... wang-awang Settong’,” katanya kemarin (20/10).

Selain untuk memuji keagungan Rasulullah, seluruh komponen di dalam kesenian sintong, terutama namanya, diambil dari barzanji. Sebuah kitab khulasah sirah nabawiyah. ”Nah, lagu-lagu di dalam sintong ini diambil dari sana,” papar ayah empat anak itu.

Yang paling unik dari kesenian ini, ternyata sintong juga memadukan berbagai kesenian lain. Seperti hadrah, gambus, dan lainnya. Tetapi, jika kesenian lain sudah menyesuaikan dengan pasar dan perkembangan zaman, sintong tidak. Ia tetap bertahan seperti dulu. ”Mungkin, ya hanya pengeras suaranya saja,” kata sesepuh yang kerap diikutsertakan ke mana pun sintong ini pentas.

Selaku sesepuh, Hesbul Hannan sangat senang sintong masih eksis. Meskipun, beberapa tahun sebelumnya merasa kesulitan untuk melakukan regenerasi. ”Saya sangat senang, anggota sintong sudah banyak lagi. Awalnya sulit mencari pemuda yang mau diajak bergabung. Tapi, setelah sintong terkenal lagi, mereka antusias,” tuturnya.

Harapan besar Hesbul Hannan, sintong tetap lestari. Meskipun itu tidak mudah. Butuh perhatian khusus dan keikhlasan yang kuat, total dalam menjaga keberlangsungan satu-satunya tradisi khas masyarakat Ambunten ini.

Hesbul bukan satu-satunya orang di keluarganya yang melestarikan sintong. Dua dari empat buah hatinya juga menjadi vokalis. Salah seorang cucunya juga berkecimpung di kesenian ini.

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia