24.7 C
Madura
Sunday, June 4, 2023

Beri Bantuan Warga Miskin tanpa Libatkan Pemerintah

SUMENEP – Aktivitas Komunitas Sumenep Berbagi (KSB) patut ditiru. Mereka rutin mendatangi dan memberikan bantuan kepada warga miskin. Dalam menjalankan kegiatan sosial itu, mereka tidak melibatkan pemerintah.

Kali pertama, rombongan Komunitas Berbagi Sumenep bersama Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjungi Desa Kebundadap Timur, Kecamatan Saronggi. Mereka akan menemui sejumlah warga miskin di sana. Dari jantung Kota Sumenap perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit.

Pertama, yang dikunjungi adalah rumah Warninda, 77, warga Dusun Ares Tengah. Perempuan berusia lanjut itu sudah lama ditinggal suaminya. Dia juga tidak memiliki anak sehingga hidupnya hanya sebatang kara. Selama ini dia hidup bersama anak angkatnya, Wulandari.

Kehidupan mereka sangat memprihainkan. Rumah yang menjadi pelindung dari hujan dan matahari terbuat dari bambu berukuran sekitar 4 x 4 meter. Tempat tidur, dapur, dan ruang tamu menyatu. Meski tercatat sebagai warga miskin, dia tidak pernah mendapatkan bantuan. Rumahnya pernah difoto. Namun, bantuan yang diharapkan tidak kunjung tiba.

Baca Juga :  Tahun Pertama Masa-Masa Sulit

”Kami terbiasa hidup penuh kekurangan,” kata Wulandari, anak angkat Warninda. Untuk meringankan bebannya, Komunitas Berbagi Sumenep memberikan bantuan berupa pakaian dan pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) senilai Rp 3,5 juta. Dana itu dari donatur.

Selanjutnya, rombongan bergeser ke rumah Kumriyah, warga Dusun Ro’sorok. Kehidupan yang dijalani perempuan 67 tahun itu tidak jauh berbeda. Perempuan tersebut hidup bersama cucunya. Setiap hari mereka mengandalkan pemberian tetangga. Bahkan untuk mandi saja, keduanya harus menumpang ke tetangga.

Kehidupan semacam itu dijalani selama bertahun-tahun. ”Kalau makan alhamdulillah banyak yang peduli,” tuturnya sambil tersenyum.

Kemudian, rombongan menuju rumah Rahwiya yang masih satu dusun dengan Kumriyah. Kehidupannya tidak jauh berbeda. Perempuan itu juga hidup sebatang kara. Selama ini, dia hidup di gubuk berukuran 3 x 3 meter. Di dua lokasi tersebut, tim memberikan pakaian dan tali asih. Mereka juga mendata kebutuhan warga miskin.

Rombongan menuju rumah terakhir di Dusun Ares Tengah. Di dusun tersebut rombongan mengunjungi rumah Jumrati. Perempuan 77 tahun itu tinggal sebatang kara. Selama ini, dia hidup penuh kekurangan dan membutuhkan uluran tangan tetangga. Selanjutnya, rombongan memberikan bantuan uang dan pakaian.

Baca Juga :  Institut Teknologi Telkom Surabaya┬áResmi Dibuka

Mereka juga menyurvei kondisi rumah dan isinya. Jumrati mengaku tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan. ”Dulu ada, tapi sudah lama tidak ada bantuan. Sekitar sepuluh tahun lalu ada,” kata Jumrati.

Ketua Komunitas Berbagi Sumenep Fery mengatakan, bantuan itu bertujuan meringankan beban mereka. Pihaknya juga membangun MCK. Sebab, rata-rata warga yang dikunjungi tidak memiliki MCK. ”Kami beri mereka bantuan untuk meringankan beban,” katanya.

Menurut dia, selama ini pihaknya aktif mendata keluarga miskin di seluruh kecamatan. Sejak bulan lalu, pihaknya sudah mengunjungi sekitar tiga puluh rumah. Selain sumbangan, dana bantuan itu diperoleh dari donatur. ”Selama ini kami mendapatkan support, bukan dari pelat merah,” jelas Fery.

SUMENEP – Aktivitas Komunitas Sumenep Berbagi (KSB) patut ditiru. Mereka rutin mendatangi dan memberikan bantuan kepada warga miskin. Dalam menjalankan kegiatan sosial itu, mereka tidak melibatkan pemerintah.

Kali pertama, rombongan Komunitas Berbagi Sumenep bersama Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjungi Desa Kebundadap Timur, Kecamatan Saronggi. Mereka akan menemui sejumlah warga miskin di sana. Dari jantung Kota Sumenap perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit.

Pertama, yang dikunjungi adalah rumah Warninda, 77, warga Dusun Ares Tengah. Perempuan berusia lanjut itu sudah lama ditinggal suaminya. Dia juga tidak memiliki anak sehingga hidupnya hanya sebatang kara. Selama ini dia hidup bersama anak angkatnya, Wulandari.


Kehidupan mereka sangat memprihainkan. Rumah yang menjadi pelindung dari hujan dan matahari terbuat dari bambu berukuran sekitar 4 x 4 meter. Tempat tidur, dapur, dan ruang tamu menyatu. Meski tercatat sebagai warga miskin, dia tidak pernah mendapatkan bantuan. Rumahnya pernah difoto. Namun, bantuan yang diharapkan tidak kunjung tiba.

Baca Juga :  Nurul Alfiah K, Mahasiswa University of Edinburgh Asal Sumenep

”Kami terbiasa hidup penuh kekurangan,” kata Wulandari, anak angkat Warninda. Untuk meringankan bebannya, Komunitas Berbagi Sumenep memberikan bantuan berupa pakaian dan pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) senilai Rp 3,5 juta. Dana itu dari donatur.

Selanjutnya, rombongan bergeser ke rumah Kumriyah, warga Dusun Ro’sorok. Kehidupan yang dijalani perempuan 67 tahun itu tidak jauh berbeda. Perempuan tersebut hidup bersama cucunya. Setiap hari mereka mengandalkan pemberian tetangga. Bahkan untuk mandi saja, keduanya harus menumpang ke tetangga.

Kehidupan semacam itu dijalani selama bertahun-tahun. ”Kalau makan alhamdulillah banyak yang peduli,” tuturnya sambil tersenyum.

- Advertisement -

Kemudian, rombongan menuju rumah Rahwiya yang masih satu dusun dengan Kumriyah. Kehidupannya tidak jauh berbeda. Perempuan itu juga hidup sebatang kara. Selama ini, dia hidup di gubuk berukuran 3 x 3 meter. Di dua lokasi tersebut, tim memberikan pakaian dan tali asih. Mereka juga mendata kebutuhan warga miskin.

Rombongan menuju rumah terakhir di Dusun Ares Tengah. Di dusun tersebut rombongan mengunjungi rumah Jumrati. Perempuan 77 tahun itu tinggal sebatang kara. Selama ini, dia hidup penuh kekurangan dan membutuhkan uluran tangan tetangga. Selanjutnya, rombongan memberikan bantuan uang dan pakaian.

Baca Juga :  Peradaban Kembangkan Usaha melalui KSN

Mereka juga menyurvei kondisi rumah dan isinya. Jumrati mengaku tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan. ”Dulu ada, tapi sudah lama tidak ada bantuan. Sekitar sepuluh tahun lalu ada,” kata Jumrati.

Ketua Komunitas Berbagi Sumenep Fery mengatakan, bantuan itu bertujuan meringankan beban mereka. Pihaknya juga membangun MCK. Sebab, rata-rata warga yang dikunjungi tidak memiliki MCK. ”Kami beri mereka bantuan untuk meringankan beban,” katanya.

Menurut dia, selama ini pihaknya aktif mendata keluarga miskin di seluruh kecamatan. Sejak bulan lalu, pihaknya sudah mengunjungi sekitar tiga puluh rumah. Selain sumbangan, dana bantuan itu diperoleh dari donatur. ”Selama ini kami mendapatkan support, bukan dari pelat merah,” jelas Fery.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/