alexametrics
24.9 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Kiprah Ikatan Alumni Santri Pondok Pesantren At Taufiqiyah

Sikap dan perilaku santri jadi cermin pondok pesantren. Masyarakat akan melihat akhlak santri dan alumni dalam kehidupan sehari-hari.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

AENGBAJA Raja merupakan salah satu desa di Kecamatan Bluto, Sumenep. Mayoritas masyarakat desa ini berprofesi sebagai pedagang, petani, dan sebagian menjadi pengusaha. Di desa ini banyak berdiri lembaga pendidikan atau pondok pesantren (ponpes). Salah satunya, Ponpes At Taufiqiyah.

Pondok ini berdiri pada 1936. Alumni pondok yang diasuh KH Imam Hasyim ini tersebar hingga luar kota. Lembaga ini membentuk Ikatan Alumni Santri At Taufiqiyah (IASA). Ikatan ini dibentuk 2010 dengan jumlah anggota lebih dari tiga ribu alumni.

IASA berkantor pusat di area pesantren. RadarMadura.id menemui Ustad Kuzairi selaku ketua IASA pusat Selasa (14/5). Pada pertemuan di sekretariat IASA itu, kami berbincang-bincang latar belakang dan program yang dijalankan.

IASA berdiri pada 2010 untuk menyatukan alumni dalam satu wadah dengan naungan yayasan. IASA terbagi menjadi dua biro. Pertama, biro kepesantrenan atau pondok yang dipimpin langsung oleh pengasuh. Sementara biro organisasi dikoordinatori ketua IASA pusat.

”Biro organisasi bersekretariat di area pesantren. Karena dari awal IASA diberdirikan dengan tetap bernaung di bawah yayasan,” katanya.

Struktur kepengurusan terdiri atas koodinator pusat yang ada di pondok, koordinator kecamatan (korcam), dan koordinator desa (kordes). Anggota IASA berjumlah ribuan. Sebab, ketika sudah keluar dari pondok, otomatis masuk dalam keanggotaan.

Selama ini, program yang dijalankan IASA masih fokus terhadap pembangunan pondok dan pengembangan lembaga pendidikan. Pondok ini mengelola sejumlah lembaga mulai PAUD, SDI, MI, MD, MTs, MA, hingga SMA/SMK. Pihaknya ingin setiap tahun jumlah santri di At Taufiqiyah meningkat.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru

Alumni memiliki tugas pokok menjaring santri baru yang akan masuk dan mondok di At Taufiqiyah selama masa penerimaan santri baru. Setiap korcam dan kordes mempunyai tanggung jawab mencari santri baru.

Alumni bertugas menggali informasi terkait dengan problem atau permasalahan dalam penjaringan santri baru di tiap kecamatan. Kemudian, dilaporkan kepada ketua yayasan. Masukan dari alumni menjadi bahan pertimbangan yayasan dalam menentukan program dan kebijakan.

IASA mempunyai kegiatan istighotsah bersama pengasuh setiap 15 Hijriah. Sementara kegiatan tahunan atau rapat koordinasi (rakor) digelar setiap 24 Syawal berbarengan dengan acara haul akbar pondok.

”Secara struktural, kami tidak mempunyai program formal. Hanya menjalankan kegiatan rutin dan membantu penerimaan santri baru,” tutur pria yang menjabat ketua IASA 2014–2019 itu.

Persaingan lembaga pendidikan pesantren di Bluto cukup tinggi. Di kecamatan ini ada sekitar 30 pesantren. Jarak seratus meter dari At Taufiqiyah berdiri pesantren yang juga mengelola lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA.

”Kalau promisi dengan menyebar brosur dan memasang banner itu sudah biasa. Yang paling berpengaruh ialah bagaimana keberadaan (sikap dan perilaku) alumni di tengah-tengah masyarakat,” ujar Kuzairi.

Selain fokus pada penerimaan santri baru, IASA selalu berupaya mengembangkan pembangunan pondok. Mulai dari asrama, kelas, kamar mandi, dan semacamnya. Pihaknya berkomitmen, semua hal yang berkaitan dengan pembangunan ditanggung alumni.

”Pada 2013 membangun asrama atau perumahan khusus alumni yang masih aktif di pondok. Dana pembangunan ditanggung alumni dengan cara urunan,” tuturnya.

Baca Juga :  Jati Diri Kaum Muslimin

Pada 2018, dibangun masjid. Awalnya, dana untuk pembangunan masjid hanya Rp 17 juta. Karena dana minim, kiai meminta masjid tidak dibangun. Cukup direnovasi di bagian atap. Namun, alumni tetap sepakat dan berkomitmen untuk membangun masjid secara total.

”Kami ingin bangunan masjid kuat dan tahan lama. Kalau hanya direnovasi di bagian atap, khawatir tiangnya tidak kuat. Jadi, dengan kekompakan dan semangat alumni, masjid dibongkar dan dibangun lagi,” ujarnya.

Alumni bergerak mencari sumbangan dari sesama alumni dan donatur. Jika dikalkulasi dengan sumbangan berupa bahan material, nilainya mencapai sekitar Rp 700 juta. Sumbangan dari alumni dan donatur sekitar Rp 40 juta.

”Ada alumni yang mengumpulkan dana pembangunan masjid hampir Rp 100 juta. Alhamdulillah saat ini progres pembangunan sudah mencapai 80 persen,” tuturnya.

Rasa cinta dan antusiasme alumni untuk mamajukan pesantren tidak berubah. Mereka ingin pondok ini maju dan berkembang. Baik dari segi pembangunan maupun sistem pendidikan.

Kuzairi berpesan santri dan alumni tetap menjaga akhlak. Akhlak merupakan representasi dan cerminan utama pesantren. Meski tidak pintar membaca kitab, masyarakat akan menilai, pendidikan di At Taufiqiyah bagus jika santri dan alumni berakhlakul karimah.

IASA berencana memberdayakan alumni sebagai ustad atau tenaga pengajar di pondok. Selama menjadi ustad, semua kebutuhan hidup akan ditanggung IASA. Juga berencana membangun usaha pertokoan di luar kota.

Kuzairi berharap, alumni tetap menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan pengasuh. Selain itu, berkontribusi terhadap kemajuan pondok dan memanfaatkan ilmu untuk menegakkan siar Islam.

Sikap dan perilaku santri jadi cermin pondok pesantren. Masyarakat akan melihat akhlak santri dan alumni dalam kehidupan sehari-hari.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

AENGBAJA Raja merupakan salah satu desa di Kecamatan Bluto, Sumenep. Mayoritas masyarakat desa ini berprofesi sebagai pedagang, petani, dan sebagian menjadi pengusaha. Di desa ini banyak berdiri lembaga pendidikan atau pondok pesantren (ponpes). Salah satunya, Ponpes At Taufiqiyah.


Pondok ini berdiri pada 1936. Alumni pondok yang diasuh KH Imam Hasyim ini tersebar hingga luar kota. Lembaga ini membentuk Ikatan Alumni Santri At Taufiqiyah (IASA). Ikatan ini dibentuk 2010 dengan jumlah anggota lebih dari tiga ribu alumni.

IASA berkantor pusat di area pesantren. RadarMadura.id menemui Ustad Kuzairi selaku ketua IASA pusat Selasa (14/5). Pada pertemuan di sekretariat IASA itu, kami berbincang-bincang latar belakang dan program yang dijalankan.

IASA berdiri pada 2010 untuk menyatukan alumni dalam satu wadah dengan naungan yayasan. IASA terbagi menjadi dua biro. Pertama, biro kepesantrenan atau pondok yang dipimpin langsung oleh pengasuh. Sementara biro organisasi dikoordinatori ketua IASA pusat.

”Biro organisasi bersekretariat di area pesantren. Karena dari awal IASA diberdirikan dengan tetap bernaung di bawah yayasan,” katanya.

Struktur kepengurusan terdiri atas koodinator pusat yang ada di pondok, koordinator kecamatan (korcam), dan koordinator desa (kordes). Anggota IASA berjumlah ribuan. Sebab, ketika sudah keluar dari pondok, otomatis masuk dalam keanggotaan.

Selama ini, program yang dijalankan IASA masih fokus terhadap pembangunan pondok dan pengembangan lembaga pendidikan. Pondok ini mengelola sejumlah lembaga mulai PAUD, SDI, MI, MD, MTs, MA, hingga SMA/SMK. Pihaknya ingin setiap tahun jumlah santri di At Taufiqiyah meningkat.

Baca Juga :  Politik Kebangsaan Kaum Muda

Alumni memiliki tugas pokok menjaring santri baru yang akan masuk dan mondok di At Taufiqiyah selama masa penerimaan santri baru. Setiap korcam dan kordes mempunyai tanggung jawab mencari santri baru.

Alumni bertugas menggali informasi terkait dengan problem atau permasalahan dalam penjaringan santri baru di tiap kecamatan. Kemudian, dilaporkan kepada ketua yayasan. Masukan dari alumni menjadi bahan pertimbangan yayasan dalam menentukan program dan kebijakan.

IASA mempunyai kegiatan istighotsah bersama pengasuh setiap 15 Hijriah. Sementara kegiatan tahunan atau rapat koordinasi (rakor) digelar setiap 24 Syawal berbarengan dengan acara haul akbar pondok.

”Secara struktural, kami tidak mempunyai program formal. Hanya menjalankan kegiatan rutin dan membantu penerimaan santri baru,” tutur pria yang menjabat ketua IASA 2014–2019 itu.

Persaingan lembaga pendidikan pesantren di Bluto cukup tinggi. Di kecamatan ini ada sekitar 30 pesantren. Jarak seratus meter dari At Taufiqiyah berdiri pesantren yang juga mengelola lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA.

”Kalau promisi dengan menyebar brosur dan memasang banner itu sudah biasa. Yang paling berpengaruh ialah bagaimana keberadaan (sikap dan perilaku) alumni di tengah-tengah masyarakat,” ujar Kuzairi.

Selain fokus pada penerimaan santri baru, IASA selalu berupaya mengembangkan pembangunan pondok. Mulai dari asrama, kelas, kamar mandi, dan semacamnya. Pihaknya berkomitmen, semua hal yang berkaitan dengan pembangunan ditanggung alumni.

”Pada 2013 membangun asrama atau perumahan khusus alumni yang masih aktif di pondok. Dana pembangunan ditanggung alumni dengan cara urunan,” tuturnya.

Baca Juga :  Jam Mandi

Pada 2018, dibangun masjid. Awalnya, dana untuk pembangunan masjid hanya Rp 17 juta. Karena dana minim, kiai meminta masjid tidak dibangun. Cukup direnovasi di bagian atap. Namun, alumni tetap sepakat dan berkomitmen untuk membangun masjid secara total.

”Kami ingin bangunan masjid kuat dan tahan lama. Kalau hanya direnovasi di bagian atap, khawatir tiangnya tidak kuat. Jadi, dengan kekompakan dan semangat alumni, masjid dibongkar dan dibangun lagi,” ujarnya.

Alumni bergerak mencari sumbangan dari sesama alumni dan donatur. Jika dikalkulasi dengan sumbangan berupa bahan material, nilainya mencapai sekitar Rp 700 juta. Sumbangan dari alumni dan donatur sekitar Rp 40 juta.

”Ada alumni yang mengumpulkan dana pembangunan masjid hampir Rp 100 juta. Alhamdulillah saat ini progres pembangunan sudah mencapai 80 persen,” tuturnya.

Rasa cinta dan antusiasme alumni untuk mamajukan pesantren tidak berubah. Mereka ingin pondok ini maju dan berkembang. Baik dari segi pembangunan maupun sistem pendidikan.

Kuzairi berpesan santri dan alumni tetap menjaga akhlak. Akhlak merupakan representasi dan cerminan utama pesantren. Meski tidak pintar membaca kitab, masyarakat akan menilai, pendidikan di At Taufiqiyah bagus jika santri dan alumni berakhlakul karimah.

IASA berencana memberdayakan alumni sebagai ustad atau tenaga pengajar di pondok. Selama menjadi ustad, semua kebutuhan hidup akan ditanggung IASA. Juga berencana membangun usaha pertokoan di luar kota.

Kuzairi berharap, alumni tetap menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan pengasuh. Selain itu, berkontribusi terhadap kemajuan pondok dan memanfaatkan ilmu untuk menegakkan siar Islam.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/