alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Licin saat Hujan, Jembatan Bambu Tetap Jadi Alternatif

Jembatan penghubung Desa Pakamban Daya dan Pakamban Laok sudah tidak bisa digunakan sejak Maret 2018. Tapi sampai sekarang, jembatan yang ambles itu tak kunjung diperbaiki. Jembatan bambu yang dibangun di sebelah barat jembatan yang ambles pun menjadi akses alternatif warga.

IMAM S. ARIZAL, Sumenep

HUJAN turun di berbagai titik di wilayah Sumenep siang kemarin (20/1). Termasuk di Kecamatan Pragaan juga diguyur hujan deras. Beberapa akses jalan basah dan licin. Terutama jalan-jalan yang belum beraspal.

Dari sekian jalan di wilayah Pragaan, jembatan bambu penghubung antara Desa Pakamban Laok dan Pakamban Daya termasuk yang paling merasakan dampak turunnya hujan. Selain basah, jembatan tersebut juga licin. Belum lagi tanah berlumpur di ujung selatan jembatan membuat akses jalan semakin licin.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ini mengunjungi jembatan tersebut di sela-sela gerimis. Beberapa warga melintas dengan penuh hati-hati. Jembatan itu cukup sempit. Hanya bisa digunakan oleh satu sepeda motor.

Jika ada dua kendaraan dari arah berlawanan, mereka akan melewati jembatan secara bergantian. Tanpa komando, pengendara yang datang lebih akhir akan menepi menunggu pengendara lainnya melintas.

Baca Juga :  Cemilan Bergizi Jaga Pikiran Positif dan Daya Tahan Tubuh

”Kalau tidak gantian, pengendaranya bisa jatuh ke dalam sungai. Sebab jembatan ini kan sempit,” kata Kurdi, seorang yang melintas di jembatan tersebut kepada JPRM.

Tokoh pemuda Pragaan Sulaiman, 32, menambahkan, belum diperbaikinya jembatan yang ambles membuat akses warga terhambat. Sebab, jembatan tersebut merupakan satu-satunya penghubung Desa Pakamban Daya dengan Pakamban Laok menuju jalan raya Sumenep–Pamekasan.

”Kalau mobil tidak bisa menggunakan jembatan bambu itu. Harus muter ke barat,” jelas Sulaiman. ”Bahkan kalau mengangkut barang, mobil harus muter ke timur menuju pertigaan Prenduan,” tambahnya.

Untuk akses sepeda motor saja, lanjut Sulaiman, sudah tidak maksimal. Kondisi jembatan alternatif saat ini cukup memprihatinkan. Selain hampir lapuk, sejumlah titik di jembatan tersebut rusak.

”Itu kalau sampai ada empat kendaraan yang lewat bersamaan, bisa ambles,” tuturnya. ”Bukan hanya bikin waswas, tapi juga mengancam keselamatan pengendara,” tegasnya.

Karena itulah dia berharap agar pemerintah daerah segera membangun jembatan yang ambles tersebut. Tujuannya, agar transportasi warga kembali normal. Jika transportasi normal, roda ekonomi juga akan semakin berkembang.

”Jembatan ini juga bukan hanya penghubung dua desa, Pakamban Laok dan Pakamban Daya. Tapi sekaligus penghubung menuju Kecamatan Guluk-Guluk,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sosok Kapten Fadly Satrianto, Kopilot Nam Air di Mata sang Kakak

Plt Kepala Dinas PU Bina Marga Mohammad Jakfar belum bisa dimintai keterangan kemarin. Sebelumnya dia mengatakan, jembatan tersebut akan dibangun pada tahun anggaran 2019 ini. ”Itu akan dibangun melalui anggaran 2019,” katanya beberapa waktu lalu.

Sementara anggota Komisi III DPRD Sumenep Moh. Ramzi mengatakan, sebenarnya jembatan tersebut sudah dianggarkan melalui APBD Perubahan 2018. Saat itu dana yang disiapkan sekitar Rp 350 juta. ”Karena waktu tidak mencukupi, maka ditunda,” kata Ramzi.

Selain karena waktu mepet, anggaran Rp 350 juga juga dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Nah, tahun ini dana yang disiapkan oleh pemkab cukup besar. Yakni, Rp 1 miliar. Dana tersebut bersumber dari dana bagi hasil (DBH) Migas 2019.

Jika dana tersebut turun dari pusat, jembatan penghubung Pakamban Daya dan Pakamban Laok bisa segera dibangun. Jika gagal, butuh waktu lama lagi untuk membangun jembatan tersebut. ”Kalau DBH Migas tidak turun, harus nunggu perubahan APBD 2019 dulu baru bisa dibangun,” jelasnya.

Jembatan penghubung Desa Pakamban Daya dan Pakamban Laok sudah tidak bisa digunakan sejak Maret 2018. Tapi sampai sekarang, jembatan yang ambles itu tak kunjung diperbaiki. Jembatan bambu yang dibangun di sebelah barat jembatan yang ambles pun menjadi akses alternatif warga.

IMAM S. ARIZAL, Sumenep

HUJAN turun di berbagai titik di wilayah Sumenep siang kemarin (20/1). Termasuk di Kecamatan Pragaan juga diguyur hujan deras. Beberapa akses jalan basah dan licin. Terutama jalan-jalan yang belum beraspal.


Dari sekian jalan di wilayah Pragaan, jembatan bambu penghubung antara Desa Pakamban Laok dan Pakamban Daya termasuk yang paling merasakan dampak turunnya hujan. Selain basah, jembatan tersebut juga licin. Belum lagi tanah berlumpur di ujung selatan jembatan membuat akses jalan semakin licin.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ini mengunjungi jembatan tersebut di sela-sela gerimis. Beberapa warga melintas dengan penuh hati-hati. Jembatan itu cukup sempit. Hanya bisa digunakan oleh satu sepeda motor.

Jika ada dua kendaraan dari arah berlawanan, mereka akan melewati jembatan secara bergantian. Tanpa komando, pengendara yang datang lebih akhir akan menepi menunggu pengendara lainnya melintas.

Baca Juga :  Dari Makanan Tradisional hingga Tim Teroris Antisampah

”Kalau tidak gantian, pengendaranya bisa jatuh ke dalam sungai. Sebab jembatan ini kan sempit,” kata Kurdi, seorang yang melintas di jembatan tersebut kepada JPRM.

Tokoh pemuda Pragaan Sulaiman, 32, menambahkan, belum diperbaikinya jembatan yang ambles membuat akses warga terhambat. Sebab, jembatan tersebut merupakan satu-satunya penghubung Desa Pakamban Daya dengan Pakamban Laok menuju jalan raya Sumenep–Pamekasan.

”Kalau mobil tidak bisa menggunakan jembatan bambu itu. Harus muter ke barat,” jelas Sulaiman. ”Bahkan kalau mengangkut barang, mobil harus muter ke timur menuju pertigaan Prenduan,” tambahnya.

Untuk akses sepeda motor saja, lanjut Sulaiman, sudah tidak maksimal. Kondisi jembatan alternatif saat ini cukup memprihatinkan. Selain hampir lapuk, sejumlah titik di jembatan tersebut rusak.

”Itu kalau sampai ada empat kendaraan yang lewat bersamaan, bisa ambles,” tuturnya. ”Bukan hanya bikin waswas, tapi juga mengancam keselamatan pengendara,” tegasnya.

Karena itulah dia berharap agar pemerintah daerah segera membangun jembatan yang ambles tersebut. Tujuannya, agar transportasi warga kembali normal. Jika transportasi normal, roda ekonomi juga akan semakin berkembang.

”Jembatan ini juga bukan hanya penghubung dua desa, Pakamban Laok dan Pakamban Daya. Tapi sekaligus penghubung menuju Kecamatan Guluk-Guluk,” imbuhnya.

Baca Juga :  Peluang dan Tantangan Belajar di Mesir

Plt Kepala Dinas PU Bina Marga Mohammad Jakfar belum bisa dimintai keterangan kemarin. Sebelumnya dia mengatakan, jembatan tersebut akan dibangun pada tahun anggaran 2019 ini. ”Itu akan dibangun melalui anggaran 2019,” katanya beberapa waktu lalu.

Sementara anggota Komisi III DPRD Sumenep Moh. Ramzi mengatakan, sebenarnya jembatan tersebut sudah dianggarkan melalui APBD Perubahan 2018. Saat itu dana yang disiapkan sekitar Rp 350 juta. ”Karena waktu tidak mencukupi, maka ditunda,” kata Ramzi.

Selain karena waktu mepet, anggaran Rp 350 juga juga dinilai tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Nah, tahun ini dana yang disiapkan oleh pemkab cukup besar. Yakni, Rp 1 miliar. Dana tersebut bersumber dari dana bagi hasil (DBH) Migas 2019.

Jika dana tersebut turun dari pusat, jembatan penghubung Pakamban Daya dan Pakamban Laok bisa segera dibangun. Jika gagal, butuh waktu lama lagi untuk membangun jembatan tersebut. ”Kalau DBH Migas tidak turun, harus nunggu perubahan APBD 2019 dulu baru bisa dibangun,” jelasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/