alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

H Muhammad Nur Yasin, Juru Kunci Asta Jokotole

Ikhlas adalah salah satu modal yang harus dimiliki seseorang yang ingin melakukan pengabdian. Itu yang disampaikan oleh H Muhammad Nur Yasin, juru kunci Asta Jokotole.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BAGI sebagian orang, pekerjaan sebagai juru kunci mungkin tidak begitu berarti. Tapi tidak demikian dengan H Muhammad Nur Yasin, warga Dusun Sa’asa, Desa Lanjuk, yang menjadi juru kunci Asta Jokotole.

Saat dijumpai Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di teras Asta Jokotole, pria yang akrab disapa Ki Yasin itu menceritakan alasan mengapa memilih menjadi juru kunci pesarean tersebut. Termasuk, menyampaikan sejarah singkat Jokotole.

Salah satu alasan menjadi juru kunci Asta Jokotole, karena mendapat perintah dari kedua orang tuanya. ”Saya menjadi juru kunci Asta Jokotole sejak 1979. Bagi saya, menjaga Asta Jokotole sama halnya menjaga Sumenep,” katanya.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Lintasan Kereta Api di Kecamatan Saronggi

Jika merujuk pada Babad Madura, sambung Ki Yasin, Jokotole merupakan salah satu pahlawan bagi masyarakat Sumenep. ”Sebelum meninggal, ayah berwasiat. Beliau meminta saya menjaga dan merawat dengan ikhlas Asta Pangeran Secodiningrat III,” tuturnya.

Dijelaskan, ketika tubuhnya masih bugar dan penglihatannya belum kabur, dia bertani. Sejak pagi hingga siang menghabiskan waktu di sawah. Sore hingga larut malam, rutin pergi ke asta. ”Untuk memandu peziarah. Saya juga mengisahkan masa hidup dan perjuangan Pangeran Secodiningrat III atau Arya Kuda Panole,” imbuhnya.

Hingga kini, kurang lebih 42 tahun Ki Yasin menjadi kuru kunci Asta Jokotole. Meski usianya sudah uzur, tapi daya ingat dan pengetahuannya tentang sejarah tidak kalah dengan generasi muda. Karena itu, Ki Yasin berpesan kepada generasi agar tidak melupakan asal-asulnya.

”Anak muda itu tidak boleh melupakan sejarah. Bukan hanya tidak baik, tapi bisa merusak mental kebangsaan,” tegas Ki Yasin.

Baca Juga :  Rumah sekaligus Dapur dan Kandang Ayam

Ki Yasin mengibaratkan sejarah sebagai pedang bermata dua. Siapa pun yang berhasil memegang sejarah, diibaratkan ksatria di medan perang. ”Orang-orang Belanda menduduki Indonesia karena berhasil mempelajari sejarah kita. Dalam artian, sejarah selalu menentukan ke mana arah masa depan suatu bangsa,” jelasnya.

Ki Yasin prihatin dengan kondisi saat ini. Dikatakan, animo generasi sekarang untuk mempelajari sejarah dan dinamika bangsanya sangat rendah. ”Kalau dulu, waktu masih kecil, saya senang menyimak kisah kajunelan (keahlian, Mdr) Jokotole, Arya Banyak Wide, Bindara Saod, dan raja-raja Sumenep lainnya,” paparnya.

Ditambahkan, kisah-kisah perjuangan para raja selalu dituturkan orang tuanya menjelang tidur. ”Tapi itu dulu. Sekarang sudah berubah. Cerita-cerita seperti itu sudah tergantikan televisi,” pungkas Ki Yasin.

- Advertisement -

Ikhlas adalah salah satu modal yang harus dimiliki seseorang yang ingin melakukan pengabdian. Itu yang disampaikan oleh H Muhammad Nur Yasin, juru kunci Asta Jokotole.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BAGI sebagian orang, pekerjaan sebagai juru kunci mungkin tidak begitu berarti. Tapi tidak demikian dengan H Muhammad Nur Yasin, warga Dusun Sa’asa, Desa Lanjuk, yang menjadi juru kunci Asta Jokotole.


Saat dijumpai Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di teras Asta Jokotole, pria yang akrab disapa Ki Yasin itu menceritakan alasan mengapa memilih menjadi juru kunci pesarean tersebut. Termasuk, menyampaikan sejarah singkat Jokotole.

Salah satu alasan menjadi juru kunci Asta Jokotole, karena mendapat perintah dari kedua orang tuanya. ”Saya menjadi juru kunci Asta Jokotole sejak 1979. Bagi saya, menjaga Asta Jokotole sama halnya menjaga Sumenep,” katanya.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Lintasan Kereta Api di Kecamatan Saronggi

Jika merujuk pada Babad Madura, sambung Ki Yasin, Jokotole merupakan salah satu pahlawan bagi masyarakat Sumenep. ”Sebelum meninggal, ayah berwasiat. Beliau meminta saya menjaga dan merawat dengan ikhlas Asta Pangeran Secodiningrat III,” tuturnya.

Dijelaskan, ketika tubuhnya masih bugar dan penglihatannya belum kabur, dia bertani. Sejak pagi hingga siang menghabiskan waktu di sawah. Sore hingga larut malam, rutin pergi ke asta. ”Untuk memandu peziarah. Saya juga mengisahkan masa hidup dan perjuangan Pangeran Secodiningrat III atau Arya Kuda Panole,” imbuhnya.

Hingga kini, kurang lebih 42 tahun Ki Yasin menjadi kuru kunci Asta Jokotole. Meski usianya sudah uzur, tapi daya ingat dan pengetahuannya tentang sejarah tidak kalah dengan generasi muda. Karena itu, Ki Yasin berpesan kepada generasi agar tidak melupakan asal-asulnya.

”Anak muda itu tidak boleh melupakan sejarah. Bukan hanya tidak baik, tapi bisa merusak mental kebangsaan,” tegas Ki Yasin.

Baca Juga :  Ketika Empat Bupati dan Bassra Gelar Pertemuan di Sampang

Ki Yasin mengibaratkan sejarah sebagai pedang bermata dua. Siapa pun yang berhasil memegang sejarah, diibaratkan ksatria di medan perang. ”Orang-orang Belanda menduduki Indonesia karena berhasil mempelajari sejarah kita. Dalam artian, sejarah selalu menentukan ke mana arah masa depan suatu bangsa,” jelasnya.

Ki Yasin prihatin dengan kondisi saat ini. Dikatakan, animo generasi sekarang untuk mempelajari sejarah dan dinamika bangsanya sangat rendah. ”Kalau dulu, waktu masih kecil, saya senang menyimak kisah kajunelan (keahlian, Mdr) Jokotole, Arya Banyak Wide, Bindara Saod, dan raja-raja Sumenep lainnya,” paparnya.

Ditambahkan, kisah-kisah perjuangan para raja selalu dituturkan orang tuanya menjelang tidur. ”Tapi itu dulu. Sekarang sudah berubah. Cerita-cerita seperti itu sudah tergantikan televisi,” pungkas Ki Yasin.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/