alexametrics
21.6 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Cara Perihal Kopi Ringankan Beban Warga di Masa Pandemi

Pada masa pandemi Covid-19, pelaku usaha jelas dirugikan. Sebab, omzetnya anjlok dan terancam gulung tikar. Namun, salah satu kafe di Sumenep tetap meluangkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

”GARTIS! Ambil seperlunya #sehat terus semua” tulisan tangan itu terpampang setiap pagi di trotoar jalan Diponegoro, Sumenep. Di balik tulisan itu, ada makanan dan minuman (mamin) siap saji berjejer rapi di atas meja. Menandakan, makanan itu bisa diambil cuma-cuma oleh warga yang membutuhkan. Pemadangan unik itu tersaji di depan Perihal Kopi.

Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan masyarakat. Kebutuhan ekonomi kian sulit, terutama bagi masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap. Sementara kegiatan warga juga dibatasi karena diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. ”Mamin itu gratis untuk siapa saja yang membutuhkan. Setiap hari tersedia 30–40 boks,” ucap owner Perihal Kopi Riskiani Putri Akisa.

Baca Juga :  Rapid Test Kedua Seluruh Karyawan Bank Jatim Negatif

Perempuan asal Desa Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep, itu menyampaikan tidak ada maksud lain kecuali berbagi kepada orang lain. Khususnya, mereka yang secara ekonomi sangat kesulitan di masa pandemi. Meski ekonomi sedang sulit, upaya menolong sesama tidak boleh surut. ”Meskipun pendapatan kafe saya juga seret,” ucapnya.

Dia menjelaskan, akhir-akhir ini banyak warga mengeluh. Sebab, ruang untuk mencari nafkah semakin sempit karena dibatasi. ”Kegiatan berbagi ini dimulai sejak enam hari lalu. Membantu sesuai kemampuan. Tidak hanya dari manajemen kafe, siapa pun boleh menyumbang untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan,” imbuhnya.

Riskiani Putri Akisa bersyukur mamin yang tersedia langsung habis. Biasanya, yang mengambil mamin tersebut tukang becak, pejalan kaki, tukang parkir, dan lainnya. ”Biasanya tidak sampai satu jam sudah habis,” ceritanya.

Perempuan yang akrab disapa Rani itu menambahkan, sudah 17 hari suasana Kota Sumenep lebih lengang dari biasanya. Lalu-lalang kendaraan di jalan, pertokoan, hingga perkantoran terlihat lebih sepi. Saat malam hari, jalan protokol gelap gulita karena aliran listrik dimatikan. Aktivitas warga di luar rumah dibatasi hingga pukul 20.00. Sebab, pemerintah menerapkan PPKM darurat sejak 3 Juli.

Baca Juga :  Guru Boleh Mengajar jika Sudah Divaksin

”Setiap hari, Perihal Kopi beroperasi sampai pukul 18.00 dan hanya melayani pemesanan take away. Pengunjung jelas sepi dan pendapatan otomatis seret. Karena itu, beberapa karyawan terpaksa dirumahkan. Saya yakin banyak pelaku usaha yang terdampak dari penerapan PPKM,” jelasnya.

Manajer Perihal Kopi Mifta Razikin mengungkapkan, bagi-bagi mamin gratis akan terus dilakukan selama PPKM darurat. Dia bersyukur jika aksi sosial tersebut bisa dilakukan pelaku usaha lainnya. ”Apa yang kami lakukan atas nama kemanusiaan dan untuk keselamatan bersama. Kami ingin berbagi sedikit kebahagiaan,” pungkasnya. 

Pada masa pandemi Covid-19, pelaku usaha jelas dirugikan. Sebab, omzetnya anjlok dan terancam gulung tikar. Namun, salah satu kafe di Sumenep tetap meluangkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

”GARTIS! Ambil seperlunya #sehat terus semua” tulisan tangan itu terpampang setiap pagi di trotoar jalan Diponegoro, Sumenep. Di balik tulisan itu, ada makanan dan minuman (mamin) siap saji berjejer rapi di atas meja. Menandakan, makanan itu bisa diambil cuma-cuma oleh warga yang membutuhkan. Pemadangan unik itu tersaji di depan Perihal Kopi.


Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan masyarakat. Kebutuhan ekonomi kian sulit, terutama bagi masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap. Sementara kegiatan warga juga dibatasi karena diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. ”Mamin itu gratis untuk siapa saja yang membutuhkan. Setiap hari tersedia 30–40 boks,” ucap owner Perihal Kopi Riskiani Putri Akisa.

Baca Juga :  BOS Boleh untuk Beli Paket Data

Perempuan asal Desa Marengan Daya, Kecamatan Kota Sumenep, itu menyampaikan tidak ada maksud lain kecuali berbagi kepada orang lain. Khususnya, mereka yang secara ekonomi sangat kesulitan di masa pandemi. Meski ekonomi sedang sulit, upaya menolong sesama tidak boleh surut. ”Meskipun pendapatan kafe saya juga seret,” ucapnya.

Dia menjelaskan, akhir-akhir ini banyak warga mengeluh. Sebab, ruang untuk mencari nafkah semakin sempit karena dibatasi. ”Kegiatan berbagi ini dimulai sejak enam hari lalu. Membantu sesuai kemampuan. Tidak hanya dari manajemen kafe, siapa pun boleh menyumbang untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan,” imbuhnya.

Riskiani Putri Akisa bersyukur mamin yang tersedia langsung habis. Biasanya, yang mengambil mamin tersebut tukang becak, pejalan kaki, tukang parkir, dan lainnya. ”Biasanya tidak sampai satu jam sudah habis,” ceritanya.

Perempuan yang akrab disapa Rani itu menambahkan, sudah 17 hari suasana Kota Sumenep lebih lengang dari biasanya. Lalu-lalang kendaraan di jalan, pertokoan, hingga perkantoran terlihat lebih sepi. Saat malam hari, jalan protokol gelap gulita karena aliran listrik dimatikan. Aktivitas warga di luar rumah dibatasi hingga pukul 20.00. Sebab, pemerintah menerapkan PPKM darurat sejak 3 Juli.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Al Ibrohimy, Galis

”Setiap hari, Perihal Kopi beroperasi sampai pukul 18.00 dan hanya melayani pemesanan take away. Pengunjung jelas sepi dan pendapatan otomatis seret. Karena itu, beberapa karyawan terpaksa dirumahkan. Saya yakin banyak pelaku usaha yang terdampak dari penerapan PPKM,” jelasnya.

Manajer Perihal Kopi Mifta Razikin mengungkapkan, bagi-bagi mamin gratis akan terus dilakukan selama PPKM darurat. Dia bersyukur jika aksi sosial tersebut bisa dilakukan pelaku usaha lainnya. ”Apa yang kami lakukan atas nama kemanusiaan dan untuk keselamatan bersama. Kami ingin berbagi sedikit kebahagiaan,” pungkasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/