alexametrics
19.4 C
Madura
Thursday, August 18, 2022

MSR-ACT Dampingi Vina Transfusi Darah

BANYUMAS – Masih ingat dengan Vina? Gadis berusia 10 tahun yang mengidap Thalasemia. Warga Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan itu, menderita penyakit kelainan darah yang diakibatkan faktor genetik. Sebab, protein di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal.

Sosok Vina pertama kali ditemui tim Mobile Social Rescue (MSR) Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada awal Januari lalu. Setelah pertemuan pertama, tim MSR – ACT sepakat dengan keluarga akan mendampingi Vina selama masa pengobatan. Karena mengidap Thalasemia ini, Vina divonis harus rutin melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Jumat (18/1), Vina menjalani transfusi darah ke-45 di RSUD Banyumas didampingi ibunya yakni Suwarni bersama tim MSR-ACT. Vina diantar oleh ambulans dan pulang menggunakan kendaraan umum. Tim MSR-ACT ikut menemani sepanjang proses pengobatan.

Baca Juga :  Ratusan Ribu Warga Maluku Mengungsi Usai Gempa, ACT Kirim Bantuan

Giyanto, Kepala Program ACT Jawa Tengah mengatakan, Vina tiba di rumah sakit pukul 08.00. Gadis asal Kampung Depok itu langsung diinfus untuk selanjutnya ditransfusi darah pada pukul 12.00. “Dengan Hb 8,1, transfusi selama 3,5 jam menghabiskan dua kantung darah masing-masing berisi 190 cc,” ujarnya.

Dua hari sebelum melakukan transfusi, Vina kerap merasa lemas dan pusing. Kondisi Vina tentu menjadi beban pikiran bagi orang tuanya. Apalagi, Suwarni cuma bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan bayaran tak lebih dari Rp 30 ribu setiap harinya.

Sekar, salah seorang relawan MSR-ACT yang ikut mendampingi Vina mengatakan, kedua orang tua Vina tak tahu lagi dengan cara apa menebus biaya pengobatan buah hatinya. Apalagi, Vina harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya itu.

Baca Juga :  Luncurkan BERISI, ACT Bantu Pesantren di 22 Provinsi 55 Ton Beras

“Suami ibu Suwarni berprofesi sebagai pembuat batu bata merah dengan upah kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per pekan. Jangankan untuk berobat, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sulit,” tutur Sekar.

Tapi beberapa pekan terakhir, Suwarni sudah tergabung di Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Banyumas. Setiap pekan, perhimpunan ini mengadakan perkumpulan. Meringankan beban, berbagi cerita, dan saling menguatkan sesama keluarga pengidap Thalasemia. (*)

BANYUMAS – Masih ingat dengan Vina? Gadis berusia 10 tahun yang mengidap Thalasemia. Warga Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan itu, menderita penyakit kelainan darah yang diakibatkan faktor genetik. Sebab, protein di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal.

Sosok Vina pertama kali ditemui tim Mobile Social Rescue (MSR) Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada awal Januari lalu. Setelah pertemuan pertama, tim MSR – ACT sepakat dengan keluarga akan mendampingi Vina selama masa pengobatan. Karena mengidap Thalasemia ini, Vina divonis harus rutin melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Jumat (18/1), Vina menjalani transfusi darah ke-45 di RSUD Banyumas didampingi ibunya yakni Suwarni bersama tim MSR-ACT. Vina diantar oleh ambulans dan pulang menggunakan kendaraan umum. Tim MSR-ACT ikut menemani sepanjang proses pengobatan.

Baca Juga :  Hadapi Pandemi, Jalankan Pola Hidup Sehat


Giyanto, Kepala Program ACT Jawa Tengah mengatakan, Vina tiba di rumah sakit pukul 08.00. Gadis asal Kampung Depok itu langsung diinfus untuk selanjutnya ditransfusi darah pada pukul 12.00. “Dengan Hb 8,1, transfusi selama 3,5 jam menghabiskan dua kantung darah masing-masing berisi 190 cc,” ujarnya.

Dua hari sebelum melakukan transfusi, Vina kerap merasa lemas dan pusing. Kondisi Vina tentu menjadi beban pikiran bagi orang tuanya. Apalagi, Suwarni cuma bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan bayaran tak lebih dari Rp 30 ribu setiap harinya.

Sekar, salah seorang relawan MSR-ACT yang ikut mendampingi Vina mengatakan, kedua orang tua Vina tak tahu lagi dengan cara apa menebus biaya pengobatan buah hatinya. Apalagi, Vina harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya itu.

Baca Juga :  Upaya ACT Tangkal Meluasnya Penyakit DBD

“Suami ibu Suwarni berprofesi sebagai pembuat batu bata merah dengan upah kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per pekan. Jangankan untuk berobat, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sulit,” tutur Sekar.

- Advertisement -

Tapi beberapa pekan terakhir, Suwarni sudah tergabung di Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Banyumas. Setiap pekan, perhimpunan ini mengadakan perkumpulan. Meringankan beban, berbagi cerita, dan saling menguatkan sesama keluarga pengidap Thalasemia. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/