alexametrics
20.7 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Budi Dayakan Rumput Laut, Sekali Panen Omzet Capai Rp 36 Juta

SUMENEP – Fitrah sebagai perempuan tak pernah dilupakan oleh kaum hawa di Pulau Putri. Aktivitas mereka dalam meraup rupiah cukup padat. Namun menjaga anak tetap diutamakan.

Matahari masih di ufuk timur.  Pagi di Pulau Putri masih tampak gelap. Namun aktivitas di pulau ini sudah ramai.

Sejumlah perempuan berdatangan ke bibir pantai di sisi barat pulau. Mereka menunggu rekannya datang membawa benih rumput laut. Sambil duduk menunggu, tangan mereka terus menggulung tali tambang berwarna biru.

Sepertinya ibu-ibu ini sudah paham jadwal kedatangan benih yang dibawa rekannya. Selang beberapa menit, perahu kecil bermuatan rumput laut tiba di hadapan mereka. Salah satu dari mereka kemudian berdiri dan menghampiri perahu tersebut.

Dengan cekatan, dia pindahkan rumput laut dari perahu ke dalam keranjang yang sudah disiapkan oleh rekannya. ”Tiap pagi seperti ini. Kami memilah rumput yang siap dijemur dengan rumpat yang akan ditanam di laut,” ungkap salah perempuan yang bertugas memindahkan rumput laut dari perahu ke keranjang, Sabtu (14/10).

Baca Juga :  Kades Pertama dari Kalangan Perempuan, Memimpin Sampai 17 Tahun

Sebagian rumput kemudian diikatkan pada tali tambang yang tadi digulung. Sebagian lagi dibiarkan menggunung di samping mereka duduk. Rumput yang menggunung itu nantinya akan dijemur dan dipanen setelah kering.

”Rumput yang diikatkan ke tali ini nanti dipasang di laut. Ini benihnya,” ucap Yati,  32, salah satu pemilik usaha budi daya rumput laut.

Meski statusnya pemilik, Yati berbaur dengan pekerja perempuan lainnnya. Dia memilah rumput laut. Mana yang akan dijadikan benih dan mana yang akan dijemur.

”Butuh waktu sampai dua bulan untuk benar-benar kering dan bisa dipanen,” ucap Yati pagi itu.

Panjangnya waktu pengeringan memang setimpal dengan harganya. Sebab, harga rumput laut kering bisa enam kalinya harga rumput laut yang masih basah. ”Kalau dijual basah harganya hanya Rp 2 ribu per kilogram. Tapi kalau dijual kering bisa mencapai Rp 12 ribu per kilogram,” ungkap Yati sambil mengikatkan benih rumput laut pada tali tambang.

Kepada Jawa Pos Radar Madura Yati mengaku hasil panennya dikirim ke Surabaya. Sekali kirim bisa mendapatkan uang hingga Rp 36 juta. ”Sekali ngirim ke surabaya bisa mencapai 3 ton,” paparnya.

Baca Juga :  Siapkan SDM Unggul, Sambut Kehidupan Makmur

Besarnya omzet sekali panen membuat Yati berani membayar rekan-rekannya dengan hitungan jam. ”Per jam yang bantu saya bayar Rp 5 ribu,” jelasnya.

Untuk diketahui, setiap pagi ibu-ibu di Pulau Putri bisa bekerja di budi daya rumput laut 3-4 jam.  Biasanya sebelum pukul 08.00 sudah selesai dan pulang. Setelah itu mereka membuat barang seni di rumah masing-masing untuk dikirim ke Jogja dan Bali.

Kepala Desa Tonduk Sri Hajati membenarkan jika budi daya rumput laut menjadi salah satu mata pencaharian warganya. ”Selain membuat barang seni, warga di sini juga banyak yang membudidayakan rumput laut,” terangnya saat menghadiri acara media gathering yang digelar Kangean Energy Indonesia di Balai Desa Tonduk, Kecamatan Raas.

Meski sibuk bekerja, perempuan Pulau Tonduk tidak lupa keluarga. Bahkan, menjaga anak tetap diutamakan. Komitmen itu membuat perempuan di pulau ini piawai membagi waktu. Di samping ibu rumah tangga, perajin barang seni, mereka masih sempat membudidayakan rumput laut.

SUMENEP – Fitrah sebagai perempuan tak pernah dilupakan oleh kaum hawa di Pulau Putri. Aktivitas mereka dalam meraup rupiah cukup padat. Namun menjaga anak tetap diutamakan.

Matahari masih di ufuk timur.  Pagi di Pulau Putri masih tampak gelap. Namun aktivitas di pulau ini sudah ramai.

Sejumlah perempuan berdatangan ke bibir pantai di sisi barat pulau. Mereka menunggu rekannya datang membawa benih rumput laut. Sambil duduk menunggu, tangan mereka terus menggulung tali tambang berwarna biru.


Sepertinya ibu-ibu ini sudah paham jadwal kedatangan benih yang dibawa rekannya. Selang beberapa menit, perahu kecil bermuatan rumput laut tiba di hadapan mereka. Salah satu dari mereka kemudian berdiri dan menghampiri perahu tersebut.

Dengan cekatan, dia pindahkan rumput laut dari perahu ke dalam keranjang yang sudah disiapkan oleh rekannya. ”Tiap pagi seperti ini. Kami memilah rumput yang siap dijemur dengan rumpat yang akan ditanam di laut,” ungkap salah perempuan yang bertugas memindahkan rumput laut dari perahu ke keranjang, Sabtu (14/10).

Baca Juga :  Siapkan SDM Unggul, Sambut Kehidupan Makmur

Sebagian rumput kemudian diikatkan pada tali tambang yang tadi digulung. Sebagian lagi dibiarkan menggunung di samping mereka duduk. Rumput yang menggunung itu nantinya akan dijemur dan dipanen setelah kering.

”Rumput yang diikatkan ke tali ini nanti dipasang di laut. Ini benihnya,” ucap Yati,  32, salah satu pemilik usaha budi daya rumput laut.

Meski statusnya pemilik, Yati berbaur dengan pekerja perempuan lainnnya. Dia memilah rumput laut. Mana yang akan dijadikan benih dan mana yang akan dijemur.

”Butuh waktu sampai dua bulan untuk benar-benar kering dan bisa dipanen,” ucap Yati pagi itu.

Panjangnya waktu pengeringan memang setimpal dengan harganya. Sebab, harga rumput laut kering bisa enam kalinya harga rumput laut yang masih basah. ”Kalau dijual basah harganya hanya Rp 2 ribu per kilogram. Tapi kalau dijual kering bisa mencapai Rp 12 ribu per kilogram,” ungkap Yati sambil mengikatkan benih rumput laut pada tali tambang.

Kepada Jawa Pos Radar Madura Yati mengaku hasil panennya dikirim ke Surabaya. Sekali kirim bisa mendapatkan uang hingga Rp 36 juta. ”Sekali ngirim ke surabaya bisa mencapai 3 ton,” paparnya.

Baca Juga :  Wakapolda Jawa Timur Brigjen Pol Toni Harmanto Kunjungi Madura

Besarnya omzet sekali panen membuat Yati berani membayar rekan-rekannya dengan hitungan jam. ”Per jam yang bantu saya bayar Rp 5 ribu,” jelasnya.

Untuk diketahui, setiap pagi ibu-ibu di Pulau Putri bisa bekerja di budi daya rumput laut 3-4 jam.  Biasanya sebelum pukul 08.00 sudah selesai dan pulang. Setelah itu mereka membuat barang seni di rumah masing-masing untuk dikirim ke Jogja dan Bali.

Kepala Desa Tonduk Sri Hajati membenarkan jika budi daya rumput laut menjadi salah satu mata pencaharian warganya. ”Selain membuat barang seni, warga di sini juga banyak yang membudidayakan rumput laut,” terangnya saat menghadiri acara media gathering yang digelar Kangean Energy Indonesia di Balai Desa Tonduk, Kecamatan Raas.

Meski sibuk bekerja, perempuan Pulau Tonduk tidak lupa keluarga. Bahkan, menjaga anak tetap diutamakan. Komitmen itu membuat perempuan di pulau ini piawai membagi waktu. Di samping ibu rumah tangga, perajin barang seni, mereka masih sempat membudidayakan rumput laut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/