alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Cerita Bupati Baddrut Tamam tentang Sulitnya Tangani Covid-19

Perang melawan Covid-19 bukan hanya kewajiban pemerintah. Masyarakat juga harus ambil peran. Minimal, mengikuti imbauan pemerintah. Dengan begitu, ada sinergi dan bergerak bersama-sama.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, RadarMadura.id

PANDEMI Covid-19 belum juga mereda. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok, itu terus mengintai. Meski begitu, respons masyarakat berbeda-beda. Ada yang waspada, santai, bahkan masih ditemukan yang ngeyel.

Di Bumi Gerbang Salam misalnya. Ada beragam respons di tengah masyarakat meski wilayanya sudah masuk zona merah. Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, masyarakat terbagi dalam tiga klaster besar di tengah pandemi Covid-19.

Pertama, masyarakat yang patuh dan paham pada bahaya korona. Kedua, masyarakat yang acuh tak acuh. Ketiga, masyarakat yang antipati.

Masyarakat tipe pertama selalu mengindahkan imbauan pemerintah. Kemudian, senantiasa menjaga jarak dan mengatur ritme keluar rumah menjadi lebih jarang. Sementara masyarakat tipe kedua menganggap bahwa Covid-19 berada antara berefek dan tidak berefek.

Berbeda dengan tipe ketiga yang sama sekali tidak mengikuti anjuran pemerintah. Tidak memikirkan persebaran Covid-19 yang berpotensi merebak melalui aktivitas-aktivitas yang tidak terkontrol.

Baca Juga :  Pasien dalam Pengawasan Wafat, Sebelumnya Pernah Singgah ke Kota Ini

Menurut Baddrut, tipologi masyarakat di klaster dua dan tiga jumlahnya masif. Bila tidak diminimalkan, kecenderungan persebaran sangat besar.

Kondisi tipe masyarakat kedua dan ketiga itu merupakan yang berat bagi pemerintah untuk mencegah persebaran Covid-19. Sebab, bila kemudian dalam setiap kecamatan saja muncul beberapa kasus, maka rumah sakit tidak akan cukup menampung.

”Kalau terjadi overload di rumah sakit, akan muncul perilaku baru dari masyarakat,” ujarnya. Salah satu perilaku yang akan timbul misalnya akan mengatakan bahwa rumah sakit tidak cepat melayani.

Baddrut juga menyampaikan, ada sebagian masyarakat yang ketika diedukasi tentang bahaya Covid-19 dan hidup sehat cenderung tidak peduli. ”Tapi ketika nyampek di hilir (rumah sakit), selalu menganggap rumah sakit kurang baik dan kurang excellent,” kata mantan anggota DPRD Jatim itu.

Sama halnya saat Pemkab Pamekasan berpikir untuk menjadikan UPT Puskesmas Larangan Badung sebagai rujukan isolasi Covid-19. Namun, tiba-tiba didemo. ”Kita berpikir saja sudah ada demo,” tuturnya.

Baca Juga :  Tim Polres Sigap Tangani Covid-19

Baddrut Tamam sampai menitikkan air mata memikirkan hal terburuk yang bisa saja menimpa Pamekasan. ”Bayangkan, bagaimana kalau yang sakit kita, anak kita, terus mau diobati ditolak,” ungkapnya.

Karena itu, pemkab dan satgas memang memerlukan kesabaran ekstra dalam menangani wabah Covid-19. Karena korona tidak hanya menguji kesehatan tubuh, tapi juga solidaritas dan sisi kemanusiaan masyarakat di Pamekasan.

”Kami berdoa masyarakat yang melakukan itu dipanjangkan umurnya dan mendapatkan rezeki yang banyak dari Allah. Pamekasan dengan beberapa rencana yang disiapkan bisa terlaksana dengan baik,” harapnya.

Baddrut menegaskan pemkab dan satgas sudah berupaya semaksimal tenaga. Anggaran Rp 62,2 miliar akan direlokasikan untuk menangani Covid-19. ”Ini peristiwa luar biasa. Tidak ada satu pun negara di dunia yang siap,” tegasnya.

Baddrut meminta dukungan seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan tenaga medis agar tetap tegar, tidak putus asa, dan semangat merawat pasien Covid-19. ”Doakan polisi, tentara, pemerintahan, untuk terus memberikan yang terbaik,” pintanya. (ky)

- Advertisement -

Perang melawan Covid-19 bukan hanya kewajiban pemerintah. Masyarakat juga harus ambil peran. Minimal, mengikuti imbauan pemerintah. Dengan begitu, ada sinergi dan bergerak bersama-sama.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, RadarMadura.id

PANDEMI Covid-19 belum juga mereda. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok, itu terus mengintai. Meski begitu, respons masyarakat berbeda-beda. Ada yang waspada, santai, bahkan masih ditemukan yang ngeyel.


Di Bumi Gerbang Salam misalnya. Ada beragam respons di tengah masyarakat meski wilayanya sudah masuk zona merah. Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, masyarakat terbagi dalam tiga klaster besar di tengah pandemi Covid-19.

Pertama, masyarakat yang patuh dan paham pada bahaya korona. Kedua, masyarakat yang acuh tak acuh. Ketiga, masyarakat yang antipati.

Masyarakat tipe pertama selalu mengindahkan imbauan pemerintah. Kemudian, senantiasa menjaga jarak dan mengatur ritme keluar rumah menjadi lebih jarang. Sementara masyarakat tipe kedua menganggap bahwa Covid-19 berada antara berefek dan tidak berefek.

Berbeda dengan tipe ketiga yang sama sekali tidak mengikuti anjuran pemerintah. Tidak memikirkan persebaran Covid-19 yang berpotensi merebak melalui aktivitas-aktivitas yang tidak terkontrol.

Baca Juga :  Bahas Bahaya Narkoba, Bupati se-Madura Gandeng Bassra

Menurut Baddrut, tipologi masyarakat di klaster dua dan tiga jumlahnya masif. Bila tidak diminimalkan, kecenderungan persebaran sangat besar.

Kondisi tipe masyarakat kedua dan ketiga itu merupakan yang berat bagi pemerintah untuk mencegah persebaran Covid-19. Sebab, bila kemudian dalam setiap kecamatan saja muncul beberapa kasus, maka rumah sakit tidak akan cukup menampung.

”Kalau terjadi overload di rumah sakit, akan muncul perilaku baru dari masyarakat,” ujarnya. Salah satu perilaku yang akan timbul misalnya akan mengatakan bahwa rumah sakit tidak cepat melayani.

Baddrut juga menyampaikan, ada sebagian masyarakat yang ketika diedukasi tentang bahaya Covid-19 dan hidup sehat cenderung tidak peduli. ”Tapi ketika nyampek di hilir (rumah sakit), selalu menganggap rumah sakit kurang baik dan kurang excellent,” kata mantan anggota DPRD Jatim itu.

Sama halnya saat Pemkab Pamekasan berpikir untuk menjadikan UPT Puskesmas Larangan Badung sebagai rujukan isolasi Covid-19. Namun, tiba-tiba didemo. ”Kita berpikir saja sudah ada demo,” tuturnya.

Baca Juga :  Pasca Tragedi Wamena, ACT Buka Media & Crisis Center di Daerah

Baddrut Tamam sampai menitikkan air mata memikirkan hal terburuk yang bisa saja menimpa Pamekasan. ”Bayangkan, bagaimana kalau yang sakit kita, anak kita, terus mau diobati ditolak,” ungkapnya.

Karena itu, pemkab dan satgas memang memerlukan kesabaran ekstra dalam menangani wabah Covid-19. Karena korona tidak hanya menguji kesehatan tubuh, tapi juga solidaritas dan sisi kemanusiaan masyarakat di Pamekasan.

”Kami berdoa masyarakat yang melakukan itu dipanjangkan umurnya dan mendapatkan rezeki yang banyak dari Allah. Pamekasan dengan beberapa rencana yang disiapkan bisa terlaksana dengan baik,” harapnya.

Baddrut menegaskan pemkab dan satgas sudah berupaya semaksimal tenaga. Anggaran Rp 62,2 miliar akan direlokasikan untuk menangani Covid-19. ”Ini peristiwa luar biasa. Tidak ada satu pun negara di dunia yang siap,” tegasnya.

Baddrut meminta dukungan seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan tenaga medis agar tetap tegar, tidak putus asa, dan semangat merawat pasien Covid-19. ”Doakan polisi, tentara, pemerintahan, untuk terus memberikan yang terbaik,” pintanya. (ky)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/