alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Mengunjungi Tambak Garam yang Menggunakan Sistem Tunnel

SUMENEP – Lazimnya, produksi garam hanya bisa dilakukan di musim kemarau. Sebab, kristal putih itu akan hancur bila kena air hujan. Namun, berkat teknologi tunnel, petani bisa memproduksi garam sepanjang tahun dengan hasil dua kali lipat lebih banyak.

Meski sudah memasuki musim hujan, petani garam di Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep, tidak risau. Sebab mereka kini memiliki lahan yang menggunakan model tunnel. Yakni lahan garam yang diatapi dengan plastik transparan agar meski tertutup tetap terkena sinar matahari.

Jawa Pos Radar Madura mengunjungi lahan yang menggunakan sistem tunnel itu Jumat (16/11). Lokasinya cukup jauh dari Kota Sumenep. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tambak garam. Apalagi Desa Sentol Daya memang hampir berbatasan dengan wilayah Pamekasan.

Ada sebelas kotak tambak yang menggunakan teknologi tunnel di desa tersebut. Sebagian garam sudah siap panen. Sebagian yang lain masih proses pembentukan kristal. Menurut Kepala Desa (Kades) Sentol Daya Moh. Ali Wafa, tambak garam tersebut dikelola anggota Koperasi Sumber Asri Sejahtera. ”Tambak ini sudah digunakan dalam satu tahun terakhir,” kata Ali Wafa saat diwawancarai di lokasi tambak.

Baca Juga :  Sepuluh Tahun Burasno Daur Ulang Ban Bekas Jadi Produk Kreatif

Produksi garam dengan menggunakan tunnel memiliki banyak manfaat. Pertama, petani bisa memproduksi garam sepanjang tahun. Tidak ada lagi alasan hujan untuk memproduksi garam. Hujan atau kemarau sama saja, tetap bisa memproduksi garam.

”Cuma kalau musim penghujan agak lama waktu panennya,” jelas dia. ”Jika di musim kemarau bisa panen setiap 12  hari sekali, di musim penghujan bisa mencapai 20 hari lebih,” tambahnya.

Di musim penghujan ketebalan garam juga menipis. Ini pun mengurangi jumlah produksi. Jika biasanya saat kemarau bisa menghasilkan 3 ton lebih per kotak, di musim penghujan hanya bisa mencapai 1,3 ton. ”Tapi kan masih tetap untung menggunakan tunnel. Karena bisa memproduksi garam di saat petani lain tidak bisa,” tegasnya.

Selain itu, garam hasil tambak berbasis tunnel lebih berkualitas. Garam lebih bersih dan hasilnya melimpah dua kali lipat. Dari sisi harga juga di atas rata-rata harga garam rakyat yang tidak menggunakan sistem tunnel.

Baca Juga :  Zuhairiyah, Mahasiswi UTM Raih Soetandyo Scholarship Unair 2017

”Harga tertinggi di sini sempat mencapai Rp 2.600 per kilogram. Sekarang harganya di atas Rp 1.300 per kilogram,” paparnya.

Kepala Dinas Perikanan Sumenep Arief Rusdi mengatakan, teknologi tunnel terbilang inovasi baru. Bahkan menurutnya, dalam program usaha pemberdayaan garam rakyat (pugar) di Jawa Timur, baru Sumenep yang menggunakan sistem tersebut. Daerah-daerah lain di Jatim belum menerapkan.

”Itu merupakan satu-satunya di dalam kegiatan pugar yang ada di Jawa Timur. Di Jawa Timur baru di Sumenep,” ujarnya.

Dia juga memastikan bahwa dengan sistem tunnel petani akan menerima banyak manfaat. Mulai dari meningkatkan produksi, meningkatkan kualitas, serta bisa panen sepanjang tahun. ”Kalau yang tradisional dalam satu hektare bisa menghasilkan 100 ton garam. Dengan sistem tunnel bisa mencapai 200 ton per hektare,” tukasnya.

SUMENEP – Lazimnya, produksi garam hanya bisa dilakukan di musim kemarau. Sebab, kristal putih itu akan hancur bila kena air hujan. Namun, berkat teknologi tunnel, petani bisa memproduksi garam sepanjang tahun dengan hasil dua kali lipat lebih banyak.

Meski sudah memasuki musim hujan, petani garam di Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep, tidak risau. Sebab mereka kini memiliki lahan yang menggunakan model tunnel. Yakni lahan garam yang diatapi dengan plastik transparan agar meski tertutup tetap terkena sinar matahari.

Jawa Pos Radar Madura mengunjungi lahan yang menggunakan sistem tunnel itu Jumat (16/11). Lokasinya cukup jauh dari Kota Sumenep. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tambak garam. Apalagi Desa Sentol Daya memang hampir berbatasan dengan wilayah Pamekasan.


Ada sebelas kotak tambak yang menggunakan teknologi tunnel di desa tersebut. Sebagian garam sudah siap panen. Sebagian yang lain masih proses pembentukan kristal. Menurut Kepala Desa (Kades) Sentol Daya Moh. Ali Wafa, tambak garam tersebut dikelola anggota Koperasi Sumber Asri Sejahtera. ”Tambak ini sudah digunakan dalam satu tahun terakhir,” kata Ali Wafa saat diwawancarai di lokasi tambak.

Baca Juga :  Zuhairiyah, Mahasiswi UTM Raih Soetandyo Scholarship Unair 2017

Produksi garam dengan menggunakan tunnel memiliki banyak manfaat. Pertama, petani bisa memproduksi garam sepanjang tahun. Tidak ada lagi alasan hujan untuk memproduksi garam. Hujan atau kemarau sama saja, tetap bisa memproduksi garam.

”Cuma kalau musim penghujan agak lama waktu panennya,” jelas dia. ”Jika di musim kemarau bisa panen setiap 12  hari sekali, di musim penghujan bisa mencapai 20 hari lebih,” tambahnya.

Di musim penghujan ketebalan garam juga menipis. Ini pun mengurangi jumlah produksi. Jika biasanya saat kemarau bisa menghasilkan 3 ton lebih per kotak, di musim penghujan hanya bisa mencapai 1,3 ton. ”Tapi kan masih tetap untung menggunakan tunnel. Karena bisa memproduksi garam di saat petani lain tidak bisa,” tegasnya.

Selain itu, garam hasil tambak berbasis tunnel lebih berkualitas. Garam lebih bersih dan hasilnya melimpah dua kali lipat. Dari sisi harga juga di atas rata-rata harga garam rakyat yang tidak menggunakan sistem tunnel.

Baca Juga :  Aktivis Lingkungan Racik Buah Mangrove Jadi Kopi Malam Jumat

”Harga tertinggi di sini sempat mencapai Rp 2.600 per kilogram. Sekarang harganya di atas Rp 1.300 per kilogram,” paparnya.

Kepala Dinas Perikanan Sumenep Arief Rusdi mengatakan, teknologi tunnel terbilang inovasi baru. Bahkan menurutnya, dalam program usaha pemberdayaan garam rakyat (pugar) di Jawa Timur, baru Sumenep yang menggunakan sistem tersebut. Daerah-daerah lain di Jatim belum menerapkan.

”Itu merupakan satu-satunya di dalam kegiatan pugar yang ada di Jawa Timur. Di Jawa Timur baru di Sumenep,” ujarnya.

Dia juga memastikan bahwa dengan sistem tunnel petani akan menerima banyak manfaat. Mulai dari meningkatkan produksi, meningkatkan kualitas, serta bisa panen sepanjang tahun. ”Kalau yang tradisional dalam satu hektare bisa menghasilkan 100 ton garam. Dengan sistem tunnel bisa mencapai 200 ton per hektare,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Nyaman Jadi Simpanan Om Genit

Tidak Mau Dipimpin, Tidak Mau Kompromi

Angka Pengangguran Masih Tinggi

Artikel Terbaru

/