alexametrics
21.2 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Tiap Tiga Hari Kirim 5.000 Gelang Tali ke Jogja dan Bali

SUMENEP – Ditinggal suami berlayar hingga berbulan-bulan sudah biasa bagi perempuan di Pulau Putri. Tuntutan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadikan mereka sebagai pribadi yang berdikari. Seperti apa suasana di pulau yang mayoritas dihuni perempuan ini? 

Secara administratif Pulau Putri bernama Pulau Tonduk. Pulau ini terdiri atas satu desa, yakni Desa Tonduk, Kecamatan Raas, Sumenep. Namun, karena mayoritas kalangan pria bekerja ke luar pulau, Pulau Tonduk lebih banyak dihuni perempuan. Kondisi itulah yang membuat Pulau Tonduk lebih dikenal dengan sebutan Pulau Putri.

Tidak mudah untuk sampai di Pulau Putri. Butuh waktu sekitar enam jam. Itu jika dihitung dari Pelabuhan Kalianget yang ada di Sumenep daratan.

Perjalanan tersebut dibagi dua rute. Rute pertama dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Raas menggunakan kapal feri. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan kapal motor kecil menuju Pulau Putri.

Jumat (13/10) Jawa Pos Radar Madura berkesempatan mengunjungi pulau tersebut. Perjalanan dari Pelabuhan Kalianget dimulai pukul 08.00. Saat itu cuaca cukup bersahabat. Perjalanan pun tak seberat yang dibayangkan.

Sekitar pukul 13.30, kapal yang membawa kami tiba di Pelabuhan Raas. Keluar dari kapal, koran ini menatap ke arah timur. Dari kejauhan sudah terlihat tiga pulau berjejer. Dari paling utara ada Pulau Talango Aeng, Talango Tengah, dan Pulau Tonduk yang dikenal dengan Pulau Putri.

Pulau yang terakhir itulah yang menjadi tujuan setiba di Pelabuhan Raas. Tak lama berdiri di pelabuhan, koran ini langsung turun menuju perahu motor yang siap membawa ke Pulau Putri.

Baca Juga :  Berpengalaman, Bahrun Siap Kawal Program Prioritas Bupati

Ombak menemani perjalanan yang tak lebih dari 30 menit. Semakin jauh berlayar, pulau-pulau kecil itu semakin terlihat besar dan jelas. Bahkan, bukan hanya tiga pulau. Ternyata di antara Pulau Talango Tengah dan Pulau Putri terdapat satu pulau lagi. Namanya pulau Talango Timur.

Pulau Talango Timur memang tak terlihat dari Pelabuhan Raas. Selain karena ukurannya lebih kecil, posisi pulau ini lebih menjorok ke timur. Dengan begitu, jaraknya lebih jauh. ”Pulau Talango Timur tidak ada penghuninya,” tutur nakhoda kapal yang mengantar koran ini ke Pulau Putri.

Kapal pun tiba di Pulau Putri. Dermaga kayu yang cukup panjang menjadi pemandangan pertama yang bisa dilihat di pulau itu. ”Selamat datang di Pulau Putri”. Kalimat tersebut dicetak pada selembar banner yang dipasang di atas dermaga.

Seperti namanya, di pulau ini memang banyak perempuan. Uniknya, hampir setiap perempuan sibuk dengan pekerjaannya, membuat gelang. Ada yang terbuat dari tali. Ada pula yang dikombinasikan dengan bahan kulit.

”Di sini ada seribu perempuan perajin. Setiap tiga hari kami mengirim 5.000 gelang ke Jogja dan Bali,” terang Dewi Daeng Caya, 40, salah seorang pengusaha barang seni di Pulau Putri.

Selain gelang tangan, warga biasa membuat gelang kaki, kalung, sabuk, serta barang seni lainnya. ”Asalkan ada contohnya, perajin di sini pasti bisa,” ucap Dewi Daeng Caya yang mengaku bahwa barang seni dari Pulau Tonduk juga dikirim ke Tiongkok.

Baca Juga :  Cara Manifesto Idiot Kenalkan Seni Lukis ke Generasi Muda

Salah seorang perajin Suharian, 39, mengaku dalam sehari bisa membuat 200 gelang. Ibu empat anak itu mengerjakan pesanan gelang mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. ”Sejak ada listrik, sekarang bisa lebih dari 200 gelang. Karena masih bisa kerja saat malam,” ungkapnya.

Suharian mengaku dibayar Rp 100 untuk satu gelang. Upah tersebut diterima setelah dia menyetor gelang. Biasanya gelang disetor setiap tiga hari ketika sang juragan hendak mengirim gelang ke Jogja maupun ke Bali.

Hal senada disampaikan Linda, 22, perajin lainnya. Menurut Linda, sejak dua tahun terakhir, dirinya bisa bekerja sampai malam karena terbantu oleh penerangan lampu. ”Dulu sehari paling banyak 200 buah. Bahkan sering kurang dari jumlah itu karena masih harus mengurus anak. Sekarang malam hari setelah anak tidur masih bisa bekerja,” ucap ibu yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Kepala Desa Tonduk Sri Hajati mengatakan, aktivitas membuat kerajinan seni sudah berlangsung puluhan tahun. Kegiatan tersebut menjadi mata pencaharian mayoritas perempuan di desanya. ”Warga di desa kami 4.500 jiwa. Namun, hampir semua laki-laki pergi merantau ke Bali dan Jakarta. Mereka yang tinggal di sini biasanya menjadi nelayan. Tapi, sekali berlayar pulangnya bisa berbulan-bulan,” terang Sri.

Sri menyampaikan, kondisi yang jauh dari suami itulah yang membuat para istri dan anak-anak gadis di Pulau Putri menjadi mandiri. ”Untuk kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan hasil kerja membuat gelang. Setelah ada listrik, produktivitas mereka semakin meningkat,” tuturnya.

SUMENEP – Ditinggal suami berlayar hingga berbulan-bulan sudah biasa bagi perempuan di Pulau Putri. Tuntutan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadikan mereka sebagai pribadi yang berdikari. Seperti apa suasana di pulau yang mayoritas dihuni perempuan ini? 

Secara administratif Pulau Putri bernama Pulau Tonduk. Pulau ini terdiri atas satu desa, yakni Desa Tonduk, Kecamatan Raas, Sumenep. Namun, karena mayoritas kalangan pria bekerja ke luar pulau, Pulau Tonduk lebih banyak dihuni perempuan. Kondisi itulah yang membuat Pulau Tonduk lebih dikenal dengan sebutan Pulau Putri.

Tidak mudah untuk sampai di Pulau Putri. Butuh waktu sekitar enam jam. Itu jika dihitung dari Pelabuhan Kalianget yang ada di Sumenep daratan.


Perjalanan tersebut dibagi dua rute. Rute pertama dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Raas menggunakan kapal feri. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan kapal motor kecil menuju Pulau Putri.

Jumat (13/10) Jawa Pos Radar Madura berkesempatan mengunjungi pulau tersebut. Perjalanan dari Pelabuhan Kalianget dimulai pukul 08.00. Saat itu cuaca cukup bersahabat. Perjalanan pun tak seberat yang dibayangkan.

Sekitar pukul 13.30, kapal yang membawa kami tiba di Pelabuhan Raas. Keluar dari kapal, koran ini menatap ke arah timur. Dari kejauhan sudah terlihat tiga pulau berjejer. Dari paling utara ada Pulau Talango Aeng, Talango Tengah, dan Pulau Tonduk yang dikenal dengan Pulau Putri.

Pulau yang terakhir itulah yang menjadi tujuan setiba di Pelabuhan Raas. Tak lama berdiri di pelabuhan, koran ini langsung turun menuju perahu motor yang siap membawa ke Pulau Putri.

Baca Juga :  Peran Alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Tarate

Ombak menemani perjalanan yang tak lebih dari 30 menit. Semakin jauh berlayar, pulau-pulau kecil itu semakin terlihat besar dan jelas. Bahkan, bukan hanya tiga pulau. Ternyata di antara Pulau Talango Tengah dan Pulau Putri terdapat satu pulau lagi. Namanya pulau Talango Timur.

Pulau Talango Timur memang tak terlihat dari Pelabuhan Raas. Selain karena ukurannya lebih kecil, posisi pulau ini lebih menjorok ke timur. Dengan begitu, jaraknya lebih jauh. ”Pulau Talango Timur tidak ada penghuninya,” tutur nakhoda kapal yang mengantar koran ini ke Pulau Putri.

Kapal pun tiba di Pulau Putri. Dermaga kayu yang cukup panjang menjadi pemandangan pertama yang bisa dilihat di pulau itu. ”Selamat datang di Pulau Putri”. Kalimat tersebut dicetak pada selembar banner yang dipasang di atas dermaga.

Seperti namanya, di pulau ini memang banyak perempuan. Uniknya, hampir setiap perempuan sibuk dengan pekerjaannya, membuat gelang. Ada yang terbuat dari tali. Ada pula yang dikombinasikan dengan bahan kulit.

”Di sini ada seribu perempuan perajin. Setiap tiga hari kami mengirim 5.000 gelang ke Jogja dan Bali,” terang Dewi Daeng Caya, 40, salah seorang pengusaha barang seni di Pulau Putri.

Selain gelang tangan, warga biasa membuat gelang kaki, kalung, sabuk, serta barang seni lainnya. ”Asalkan ada contohnya, perajin di sini pasti bisa,” ucap Dewi Daeng Caya yang mengaku bahwa barang seni dari Pulau Tonduk juga dikirim ke Tiongkok.

Baca Juga :  Lebih Dekat dengan Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra

Salah seorang perajin Suharian, 39, mengaku dalam sehari bisa membuat 200 gelang. Ibu empat anak itu mengerjakan pesanan gelang mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. ”Sejak ada listrik, sekarang bisa lebih dari 200 gelang. Karena masih bisa kerja saat malam,” ungkapnya.

Suharian mengaku dibayar Rp 100 untuk satu gelang. Upah tersebut diterima setelah dia menyetor gelang. Biasanya gelang disetor setiap tiga hari ketika sang juragan hendak mengirim gelang ke Jogja maupun ke Bali.

Hal senada disampaikan Linda, 22, perajin lainnya. Menurut Linda, sejak dua tahun terakhir, dirinya bisa bekerja sampai malam karena terbantu oleh penerangan lampu. ”Dulu sehari paling banyak 200 buah. Bahkan sering kurang dari jumlah itu karena masih harus mengurus anak. Sekarang malam hari setelah anak tidur masih bisa bekerja,” ucap ibu yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Kepala Desa Tonduk Sri Hajati mengatakan, aktivitas membuat kerajinan seni sudah berlangsung puluhan tahun. Kegiatan tersebut menjadi mata pencaharian mayoritas perempuan di desanya. ”Warga di desa kami 4.500 jiwa. Namun, hampir semua laki-laki pergi merantau ke Bali dan Jakarta. Mereka yang tinggal di sini biasanya menjadi nelayan. Tapi, sekali berlayar pulangnya bisa berbulan-bulan,” terang Sri.

Sri menyampaikan, kondisi yang jauh dari suami itulah yang membuat para istri dan anak-anak gadis di Pulau Putri menjadi mandiri. ”Untuk kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan hasil kerja membuat gelang. Setelah ada listrik, produktivitas mereka semakin meningkat,” tuturnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/