alexametrics
21 C
Madura
Friday, May 27, 2022

SMAN 4 Sampang Tiap Tahun Kekurangan Peserta Didik

SAMPANG – Sekolah negeri di kota belum tentu banyak diminati siswa. Seperti yang terjadi di SMAN 4 Sampang. Sudah tiga tahun terakhir ini sekolah tersebut kekurangan siswa. Mengapa?

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 SMA di Sampang menyisakan persoalan yang dihadapi sekolah. Terutama dalam pemenuhan pagu peserta didik baru. Baik sekolah di kota maupun di pelosok. Seperti yang terjadi di SMAN 4 Sampang.

Selasa (17/7) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke sekolah itu untuk mengetahui jumlah siswa baru yang diterima. Selain itu, untuk melihat kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Seluruh siswa baru mengikuti kegiatan MPLS dengan semangat. Meskipun jumlah peserta didik baru yang ikut kegiatan tersebut sedikit, tidak sampai 20 orang.

Selama PPDB dibuka hingga tahun pelajaran baru 2018–2019 dimulai, peserta didik baru di SMAN 4 Sampang hanya berjumlah 14 orang. Padahal, pagu peserta didik baru yang disediakan dua rombongan belajar (rombel). Masing-masing rombel harus diisi 36 siswa.

Dengan demikian, sekolah di Jalan Keramat II, Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, itu kekurangan siswa baru. Namun, pihak sekolah mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kekurangan siswa.

Dalam PPDB yang menerapkan sistem zonasi, SMAN 4 Sampang masuk zona 1 dengan cakupan siswa baru dari Kecamatan Sampang, Camplong, dan Pangarengan. Pendaftaran di zona tersebut bisa dilakukan di SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 Sampang.

SMAN 4 tidak mampu bersaing dengan sekolah lain di zona 1 dalam menerima siswa baru. Sejak tiga tahun terakhir, sekolah tersebut selalu mengalami kekurangan siswa baru. Ironisnya, siswa lama banyak berhenti, tidak sampai lulus.

Infrastruktur dan sarana prasaran (sarpras) SMAN 4 cukup memadai. Ada ruang kelas, ruang guru atau kantor, kantin sekolah, UKS, laboratorium komputer, lapangan olahraga, dan tempat parkir yang luas.

Sekolah tersebut memiliki 11 ruang kalas. Masing-masing kelas dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis. Akan tetapi, selama ini yang digunakan hanya tiga ruang kelas. Delapan ruang kelas lainnya dibiarkan kosong. Kelas-kelas kosong itu kotor, bangku dan kursi menumpuk tidak tertata.

Baca Juga :  SMKN 1 Tanjungbumi Semangat dan Percaya Diri

Guru di SMAN 4 berjumlah 24 orang termasuk kepala seklolah. Guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) lebih banyak daripada guru honorer.

Kepala SMAN 4 Sampang Bachtiar Suprianto menyampaikan, secara keseluruhan peserta didik di sekolahnya berjumlah 45 siswa. Siswa baru atau kelas X 14 orang, kelas XI 17, dan kelas XII ada 11 siswa. Dari jumlah tersebut, tujuh siswa di antaranya sudah berhenti sekolah. Yakni, enam siswa kelas XI dan satu siswa kelas XII.

Dia membenarkan selama tiga tahun terakhir SMAN 4 kekurangan siswa baru. Jumlah peserta didik yang akan belajar di kelas X tidak pernah memenuhi pagu dan berada di bawah angka 20.

”Jumlah siswa baru tahun ini sedikit lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang hanya 11 orang,” ucap Bachtiar saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Dia mengaku sudah berupaya maksimal untuk memenuhi jumlah siswa sesuai pagu. Yaitu dengan aktif bersosialisasi kepada masyarakat agar bisa menyekolahkan anaknya di SMAN 4 Sampang. Terutama, siswa lulusan SMP yang rumahnya tidak jauh dari sekolah dan berada dalam wilayah atau zonasi.

Brosur sekolah dan banner berisi informasi pendaftaran sudah disebar. Seluruh guru juga bergerilya mencari siswa baru. ”Kami juga sudah menggandeng lurah dan tokoh masyarakat untuk mendorong minat warga supaya menyekolahkan anaknya di sini,” ucapnya.

”Tapi, semua upaya keras yang kami lakukan belum bisa membuahkan hasil. Jumlah siswa yang mendafatar tetap sedikit dan jauh dari harapan,” sambungnya.

Menurut dia, penerapan sistem zonasi dilaksanakan untuk pemerataan pendidikan di seluruh SMA negeri. Sistem itu tidak berpengaruh terhadap minat siswa dalam memilih sekolah. Sekalipun lokasi sekolah cukup jauh dari rumah, banyak calon siswa yang mendaftar di SMA swasta dan melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Baca Juga :  Tidur di Kongsi, Nyawa Jadi Taruhan

”Dalam satu zonasi kami bersaing dengan tiga sekolah lain yang secara letak lokasinya lebih strategis dan mendukung. Sehingga siswa lebih banyak mendaftar di sekolah itu. Artinya, bukan pengaruh zonasi, melaikan pengaruh lokasi dan minat,” terang Bachtiar.

Wildayu Pramudi Ningtias, 17, salah seorang siswa baru di SMAN 4 Sampang, menuturkan, alasan dia mendaftar di sekolah tersebut karena tidak mau memilih-milih sekolah dan mengabaikan potensi lembaga pendidikan di desanya.

Siswi asal Kampung Kasenih itu mengaku kurang setuju dengan adanya sekolah favorit. Menurut dia, seluruh sekolah memiliki tujuan sama. ”Saya akan belajar dengan semangat untuk memajukan sekolah ini dengan banyak prestasi,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Provinsi Jatim di Sampang mengatakan, PPDB SMA/SMK 2018 sudah selesai. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah segera dimulai. Pihaknya tidak menampik setiap tahun SMAN 4 Sampang kekurangan siswa baru.

”Meskipun PPDB sudah ditutup, khusus sekolah itu kami beri dispensasi, bisa tetap memberikan pelayanan atau menerima calon siswa baru yang ingin mendaftar. Maksimal sampai MPLS selasai dan KBM belum berjalan lama,” ujarnya.

Pihaknya mengaku tengah melakukan evaluasi dan kajian terhadap SMAN 4 Sampang terkait kendala yang dihadapi selama ini dalam pemenuhan jumlah siswa. Padahal, infrastruktur dan sarana prasarana sekolah lengkap serta ditopang SDM yang bagus.

Sangat disayangkan potensi itu kurang diminati siswa. ”Kami berencana mengubah status sekolah dari SMA menjadi SMK dengan jurusan atau kompetensi keahlian (komli) yang lengkap dan banyak diminati siswa. Saat ini masih dalam tahap pengkajian. Kalau sudah rampung akan diajukan ke Disdik Jatim,” pungkasnya.

SAMPANG – Sekolah negeri di kota belum tentu banyak diminati siswa. Seperti yang terjadi di SMAN 4 Sampang. Sudah tiga tahun terakhir ini sekolah tersebut kekurangan siswa. Mengapa?

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 SMA di Sampang menyisakan persoalan yang dihadapi sekolah. Terutama dalam pemenuhan pagu peserta didik baru. Baik sekolah di kota maupun di pelosok. Seperti yang terjadi di SMAN 4 Sampang.

Selasa (17/7) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke sekolah itu untuk mengetahui jumlah siswa baru yang diterima. Selain itu, untuk melihat kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).


Seluruh siswa baru mengikuti kegiatan MPLS dengan semangat. Meskipun jumlah peserta didik baru yang ikut kegiatan tersebut sedikit, tidak sampai 20 orang.

Selama PPDB dibuka hingga tahun pelajaran baru 2018–2019 dimulai, peserta didik baru di SMAN 4 Sampang hanya berjumlah 14 orang. Padahal, pagu peserta didik baru yang disediakan dua rombongan belajar (rombel). Masing-masing rombel harus diisi 36 siswa.

Dengan demikian, sekolah di Jalan Keramat II, Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, itu kekurangan siswa baru. Namun, pihak sekolah mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kekurangan siswa.

Dalam PPDB yang menerapkan sistem zonasi, SMAN 4 Sampang masuk zona 1 dengan cakupan siswa baru dari Kecamatan Sampang, Camplong, dan Pangarengan. Pendaftaran di zona tersebut bisa dilakukan di SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 Sampang.

SMAN 4 tidak mampu bersaing dengan sekolah lain di zona 1 dalam menerima siswa baru. Sejak tiga tahun terakhir, sekolah tersebut selalu mengalami kekurangan siswa baru. Ironisnya, siswa lama banyak berhenti, tidak sampai lulus.

Infrastruktur dan sarana prasaran (sarpras) SMAN 4 cukup memadai. Ada ruang kelas, ruang guru atau kantor, kantin sekolah, UKS, laboratorium komputer, lapangan olahraga, dan tempat parkir yang luas.

Sekolah tersebut memiliki 11 ruang kalas. Masing-masing kelas dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis. Akan tetapi, selama ini yang digunakan hanya tiga ruang kelas. Delapan ruang kelas lainnya dibiarkan kosong. Kelas-kelas kosong itu kotor, bangku dan kursi menumpuk tidak tertata.

Baca Juga :  Gelar MPLS secara Daring, Sekolah Siapkan Video Kondisi Sekolah

Guru di SMAN 4 berjumlah 24 orang termasuk kepala seklolah. Guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) lebih banyak daripada guru honorer.

Kepala SMAN 4 Sampang Bachtiar Suprianto menyampaikan, secara keseluruhan peserta didik di sekolahnya berjumlah 45 siswa. Siswa baru atau kelas X 14 orang, kelas XI 17, dan kelas XII ada 11 siswa. Dari jumlah tersebut, tujuh siswa di antaranya sudah berhenti sekolah. Yakni, enam siswa kelas XI dan satu siswa kelas XII.

Dia membenarkan selama tiga tahun terakhir SMAN 4 kekurangan siswa baru. Jumlah peserta didik yang akan belajar di kelas X tidak pernah memenuhi pagu dan berada di bawah angka 20.

”Jumlah siswa baru tahun ini sedikit lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang hanya 11 orang,” ucap Bachtiar saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Dia mengaku sudah berupaya maksimal untuk memenuhi jumlah siswa sesuai pagu. Yaitu dengan aktif bersosialisasi kepada masyarakat agar bisa menyekolahkan anaknya di SMAN 4 Sampang. Terutama, siswa lulusan SMP yang rumahnya tidak jauh dari sekolah dan berada dalam wilayah atau zonasi.

Brosur sekolah dan banner berisi informasi pendaftaran sudah disebar. Seluruh guru juga bergerilya mencari siswa baru. ”Kami juga sudah menggandeng lurah dan tokoh masyarakat untuk mendorong minat warga supaya menyekolahkan anaknya di sini,” ucapnya.

”Tapi, semua upaya keras yang kami lakukan belum bisa membuahkan hasil. Jumlah siswa yang mendafatar tetap sedikit dan jauh dari harapan,” sambungnya.

Menurut dia, penerapan sistem zonasi dilaksanakan untuk pemerataan pendidikan di seluruh SMA negeri. Sistem itu tidak berpengaruh terhadap minat siswa dalam memilih sekolah. Sekalipun lokasi sekolah cukup jauh dari rumah, banyak calon siswa yang mendaftar di SMA swasta dan melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Baca Juga :  PPDB SD/SMP Dibuka. Ini Ketentuannya

”Dalam satu zonasi kami bersaing dengan tiga sekolah lain yang secara letak lokasinya lebih strategis dan mendukung. Sehingga siswa lebih banyak mendaftar di sekolah itu. Artinya, bukan pengaruh zonasi, melaikan pengaruh lokasi dan minat,” terang Bachtiar.

Wildayu Pramudi Ningtias, 17, salah seorang siswa baru di SMAN 4 Sampang, menuturkan, alasan dia mendaftar di sekolah tersebut karena tidak mau memilih-milih sekolah dan mengabaikan potensi lembaga pendidikan di desanya.

Siswi asal Kampung Kasenih itu mengaku kurang setuju dengan adanya sekolah favorit. Menurut dia, seluruh sekolah memiliki tujuan sama. ”Saya akan belajar dengan semangat untuk memajukan sekolah ini dengan banyak prestasi,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Provinsi Jatim di Sampang mengatakan, PPDB SMA/SMK 2018 sudah selesai. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah segera dimulai. Pihaknya tidak menampik setiap tahun SMAN 4 Sampang kekurangan siswa baru.

”Meskipun PPDB sudah ditutup, khusus sekolah itu kami beri dispensasi, bisa tetap memberikan pelayanan atau menerima calon siswa baru yang ingin mendaftar. Maksimal sampai MPLS selasai dan KBM belum berjalan lama,” ujarnya.

Pihaknya mengaku tengah melakukan evaluasi dan kajian terhadap SMAN 4 Sampang terkait kendala yang dihadapi selama ini dalam pemenuhan jumlah siswa. Padahal, infrastruktur dan sarana prasarana sekolah lengkap serta ditopang SDM yang bagus.

Sangat disayangkan potensi itu kurang diminati siswa. ”Kami berencana mengubah status sekolah dari SMA menjadi SMK dengan jurusan atau kompetensi keahlian (komli) yang lengkap dan banyak diminati siswa. Saat ini masih dalam tahap pengkajian. Kalau sudah rampung akan diajukan ke Disdik Jatim,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/