alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Sebut Aksi Terakhir, Ancam Lapor OJK-Mabes Polri

Tak Ada Kejelasan, Korban Kasus Penggelapan Rp 7,4 M Kembali Turun Jalan

Korban dugaan penggelapan uang oleh oknum karyawan BRI Mohammad Lukman Anizar (MLA) kembali turun jalan. Tuntutan mereka tetap sama, yakni uang dikembalikan dan pelaku diproses secara hukum.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

HARI begitu terik saat koran ini tiba di depan BRI KC Pamekasan Jalan Jokotole Nomor 24 kemarin (17/6). Puluhan petugas kepolisian bersiaga. Mereka berjaga di depan   pintu masuk bank pelat merah tersebut. Mereka akan mengamankan aksi yang dilakukan warga.

Sekitar pukul 10.00, massa mulai berkumpul. Para pengunjuk rasa terdiri dari  korban dan kerabatnya. Mereka mempertanyakan kelanjutkan dugaan penggelapan uang miliaran yang melibatkan oknum mantan karyawan BRI Mohammad Lukman Anizar (MLA), 31.

Dua tahun sudah kasus tersebut bergulir. Perusahaan bank badan usaha milik negara (BUMN) itu kian disoroti masyarakat. Sebab, kasus yang merugikan para nasabah tersebut tak kunjung menemui titik terang.

Pada September 2020 lalu, para korban mulai menyadari penipuan yang dilakukan MLA. Tidak main-main, uang yang digelapkan mencapai Rp 7,4 miliar. Korban rata-rata berasal dari wilayah utara Pamekasan.

Baca Juga :  Ajak Warganet Bijak dan Cerdas Gunakan Medsos

MLA menawarkan para korban dengan modus investasi. Korban dijanjikan oleh tersangka mendapatkan hadiah yang lebih besar. Modus lainnya, lelang barang murah. Sekitar 17 korban termakan omongan manis MLA, sehingga berani mengeluarkan uang dengan jumlah besar.

MLA memang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Pamekasan sejak Oktober 2021. Namun, sampai detik ini tersangka tak kunjung dijebloskan ke penjara. Karena itu, para korban merasa kecewa dengan pihak bank maupun kepolisian yang mengawal kasus tersebut.

Kekecewaan tersebut salah satunya dialami oleh korban penipuan Samawi, 52. Warga Desa Lesong Laok, Kecamatan Batumarmar, itu menjadi salah satu korban penipuan bersama 17 nasabah lainnya. Saat itu, MLA menawarkan investasi kepada Samawi dan kedua anaknya.

Dia mengaku menghabiskan uang Rp 994 juta. Sementara, dua anaknya masing-masing Rp 1,1 miliar dan Rp 180 juta yang diberikan kepada tersangka. ”Yang lain ditipu dengan nominal berbeda. Saya memprediksi korban lebih dari 17 orang,” katanya.

Kepada awak media, Samawi dan korban lainnya hanya menuntut haknya dikembalikan. Dia tidak ingin masalah yang dialami ini terjadi berlarut-larut. Pihak kepolisan diminta untuk bekerja dengan serius dalam menangani permasalah yang merugikan nasabah hingga miliaran.

Baca Juga :  Dua Warga Dibacok Orang Tidak Dikenal

Sementara, Koordinator Aksi Febrianto menegaskan, aksi kesekian kalinya ini adalah tuntutan yang terakhir. Sebab, tuntutan aksi yang dilayangkan pada pihak BRI tak kunjung diperhatikan. Korban akan membawa kasus tersebut ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat.

Dia menuntut pihak BRI untuk mengembalikan kerugian yang dialami korban. Kemudian, meminta kasus penipuan tersebut diselesaikan sebagaimana hukum. ”Kalau tuntunan ini tidak diamini, kami juga akan membawa kasus ke Mabes Polri,” tuntutnya.

Sayangnya, Pimpinan Cabang BRI Pamekasan tak berhasil ditemui meski perwakilan korban sudah melakukan aksi. Febrianto menduga pihak bank tidak serius dalam mengawal kasus penipuan karyawannya tersebut. ”Masak sampai dua tahun tetap tidak jelas,” ungkapnya.

Meski sempat diizinkan untuk berdiskusi ke dalam kantor, belum ada komitmen yang ditunjukkan pihak BRI terhadap para korban. Karena itu, Febri dan beberapa korban lainnya akan membawa kasus tersebut ke OJK Pusat dan Mabes Polri dalam waktu dekat. (afg/han)

Korban dugaan penggelapan uang oleh oknum karyawan BRI Mohammad Lukman Anizar (MLA) kembali turun jalan. Tuntutan mereka tetap sama, yakni uang dikembalikan dan pelaku diproses secara hukum.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

HARI begitu terik saat koran ini tiba di depan BRI KC Pamekasan Jalan Jokotole Nomor 24 kemarin (17/6). Puluhan petugas kepolisian bersiaga. Mereka berjaga di depan   pintu masuk bank pelat merah tersebut. Mereka akan mengamankan aksi yang dilakukan warga.


Sekitar pukul 10.00, massa mulai berkumpul. Para pengunjuk rasa terdiri dari  korban dan kerabatnya. Mereka mempertanyakan kelanjutkan dugaan penggelapan uang miliaran yang melibatkan oknum mantan karyawan BRI Mohammad Lukman Anizar (MLA), 31.

Dua tahun sudah kasus tersebut bergulir. Perusahaan bank badan usaha milik negara (BUMN) itu kian disoroti masyarakat. Sebab, kasus yang merugikan para nasabah tersebut tak kunjung menemui titik terang.

Pada September 2020 lalu, para korban mulai menyadari penipuan yang dilakukan MLA. Tidak main-main, uang yang digelapkan mencapai Rp 7,4 miliar. Korban rata-rata berasal dari wilayah utara Pamekasan.

Baca Juga :  Cerita Sahwinto, Salah Seorang Korban Laka Lantas Selamat

MLA menawarkan para korban dengan modus investasi. Korban dijanjikan oleh tersangka mendapatkan hadiah yang lebih besar. Modus lainnya, lelang barang murah. Sekitar 17 korban termakan omongan manis MLA, sehingga berani mengeluarkan uang dengan jumlah besar.

MLA memang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Pamekasan sejak Oktober 2021. Namun, sampai detik ini tersangka tak kunjung dijebloskan ke penjara. Karena itu, para korban merasa kecewa dengan pihak bank maupun kepolisian yang mengawal kasus tersebut.

Kekecewaan tersebut salah satunya dialami oleh korban penipuan Samawi, 52. Warga Desa Lesong Laok, Kecamatan Batumarmar, itu menjadi salah satu korban penipuan bersama 17 nasabah lainnya. Saat itu, MLA menawarkan investasi kepada Samawi dan kedua anaknya.

Dia mengaku menghabiskan uang Rp 994 juta. Sementara, dua anaknya masing-masing Rp 1,1 miliar dan Rp 180 juta yang diberikan kepada tersangka. ”Yang lain ditipu dengan nominal berbeda. Saya memprediksi korban lebih dari 17 orang,” katanya.

Kepada awak media, Samawi dan korban lainnya hanya menuntut haknya dikembalikan. Dia tidak ingin masalah yang dialami ini terjadi berlarut-larut. Pihak kepolisan diminta untuk bekerja dengan serius dalam menangani permasalah yang merugikan nasabah hingga miliaran.

Baca Juga :  42 Cakades Satu Keluarga, Seorang Calon Lulusan S-3

Sementara, Koordinator Aksi Febrianto menegaskan, aksi kesekian kalinya ini adalah tuntutan yang terakhir. Sebab, tuntutan aksi yang dilayangkan pada pihak BRI tak kunjung diperhatikan. Korban akan membawa kasus tersebut ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat.

Dia menuntut pihak BRI untuk mengembalikan kerugian yang dialami korban. Kemudian, meminta kasus penipuan tersebut diselesaikan sebagaimana hukum. ”Kalau tuntunan ini tidak diamini, kami juga akan membawa kasus ke Mabes Polri,” tuntutnya.

Sayangnya, Pimpinan Cabang BRI Pamekasan tak berhasil ditemui meski perwakilan korban sudah melakukan aksi. Febrianto menduga pihak bank tidak serius dalam mengawal kasus penipuan karyawannya tersebut. ”Masak sampai dua tahun tetap tidak jelas,” ungkapnya.

Meski sempat diizinkan untuk berdiskusi ke dalam kantor, belum ada komitmen yang ditunjukkan pihak BRI terhadap para korban. Karena itu, Febri dan beberapa korban lainnya akan membawa kasus tersebut ke OJK Pusat dan Mabes Polri dalam waktu dekat. (afg/han)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/