alexametrics
18.8 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Mukti Jalan Kaki Jelajahi Nusantara Tunjukkan Nasionalisme

PAMEKASAN – Warga Indonesia memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkan rasa cintanya terhadap Tanah Air. Mukti memilih ”jalan sunyi” dengan berjalan kaki keliling nusantara untuk menunjukkan sikap persatuan.

Tekad Mukti sudah bulat saat memilih untuk mendedikasikan seluruh hidupnya demi menjaga persatuan bangsa. Dorongan itu muncul saat melihat kondisi masyarakat Indonesia yang terpecah belah.

Mukti yang berjalan kaki menjelajahi Indonesia itu ingin memberikan pesan moral kepada anak negeri. Dia juga berharap ke depan bangsa Indonesia memiliki pemimpin yang amanah. ”Meskipun kita berbeda, tetapi saya ingin semua masyarakat Indonesia dalam naungan Pancasila. Semoga pemimpin berkarakter seperti Bung Karno masih ada,” ucap dia mengawali pertemuan dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (17/3).

JPRM melihat pria 43 tahun itu di Jalan Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan. Pria asal Jambi itu melangkah dengan penuh semangat. ”Saya memulai perjalanan dari Sumatera, Jawa, dan Madura. Nanti akan melintasi Suramadu dan melanjutkan ke Kalimantan. Ini sudah 190 hari saya berjalan kaki,” katanya.

Dia memiliki target perjalanan keliling Indonesia itu bisa selesai selama dua tahun. Dia memulai perjalanan tanpa bekal dan uang sepeser pun. Yang dibawa Mukti hanya dua lembar pakaian, jaket, celana, dan sajadah. Itu dia letakkan di dalam tas.

Baca Juga :  Pemilu Damai sebagai Wujud Nasionalisme dan Cinta NKRI

Bendera Indonesia dan gambar Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno jadi simbol yang meneguhkan bahwa Mukti ingin menyatukan orang Indonesia. Dia mengaku sedih dengan perpecahan di republik ini. ”Saya hidup seorang diri. Semua anggota keluarga meninggal karena tsunami di Aceh. Ini cara saya untuk berbakti kepada Tanah Air,” kenangnya.

Mukti mengaku bersyukur karena banyak orang-orang yang menolong. Termasuk menanyakan tujuan Mukti berjalan kaki keliling Indonesia. Dengan begitu, Mukti tidak pernah kelaparan. ”Alhamdulillah setiap hari ada yang memberi. Entah itu makan ataupun uang,” ceritanya.

Dia hanya memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia percaya dirinya tidak akan mati kelaparan. Mukti percaya Tuhan memiliki rasa welas asih dan memberikan perlindungan kepada hambanya. ”Tuhan itu Mahakaya. Selama ada Tuhan, saya tidak pernah merasa cemas. Saya memilih cara seperti ini karena memiliki Allah,” ucapnya.

Baca Juga :  Siswa Menangis karena Belajar di Emperan Rumah

Menurut dia, masyarakat Indonesia saat ini sedang terpecah belah. Dia ingin menunjukkan dan memberi kekuatan bahwa Pancasila tetap berdiri tegak. Apa pun yang terjadi. Mukti tidak bosan untuk menggaungkan bahwa semua masyarakat adalah satu.

”Kita tetap Pancasila. Tidak bisa lepas dari koridor itu. Sebab, tidak akan ada NKRI tanpa Pancasila,” terangnya.

Mukti menegaskan, yang dia lakukan murni panggilan jiwa. Sebab, jarang orang yang mau membawa Pancasila dan bendera Indonesia ke mana-mana. ”Karena saya ingin ada gerakan-gerakan. Siapa tahu ini bisa menginspirasi anak-anak negeri lainnya,” tandasnya.

Terik matahari dan hujan tidak bisa menghentikan langkahnya untuk menggelorakan persatuan. Dia memulai perjalanan sejak 12 September 2017. Dalam perjalanan, Mukti menemui hambatan. Termasuk ancaman orang. Tetapi, dia menganggap itu biasa karena karakter manusia ada yang baik dan tidak.

”Ada yang bilang saya cari sensasi, kurang kerjaan. Ada yang bilang gila. Saya terima. Karena kalau nggak gila, kita nggak mungkin melakukan perjalanan seperti ini. Saya memang gila dengan negeri ini,” jelasnya.

PAMEKASAN – Warga Indonesia memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkan rasa cintanya terhadap Tanah Air. Mukti memilih ”jalan sunyi” dengan berjalan kaki keliling nusantara untuk menunjukkan sikap persatuan.

Tekad Mukti sudah bulat saat memilih untuk mendedikasikan seluruh hidupnya demi menjaga persatuan bangsa. Dorongan itu muncul saat melihat kondisi masyarakat Indonesia yang terpecah belah.

Mukti yang berjalan kaki menjelajahi Indonesia itu ingin memberikan pesan moral kepada anak negeri. Dia juga berharap ke depan bangsa Indonesia memiliki pemimpin yang amanah. ”Meskipun kita berbeda, tetapi saya ingin semua masyarakat Indonesia dalam naungan Pancasila. Semoga pemimpin berkarakter seperti Bung Karno masih ada,” ucap dia mengawali pertemuan dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (17/3).


JPRM melihat pria 43 tahun itu di Jalan Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan. Pria asal Jambi itu melangkah dengan penuh semangat. ”Saya memulai perjalanan dari Sumatera, Jawa, dan Madura. Nanti akan melintasi Suramadu dan melanjutkan ke Kalimantan. Ini sudah 190 hari saya berjalan kaki,” katanya.

Dia memiliki target perjalanan keliling Indonesia itu bisa selesai selama dua tahun. Dia memulai perjalanan tanpa bekal dan uang sepeser pun. Yang dibawa Mukti hanya dua lembar pakaian, jaket, celana, dan sajadah. Itu dia letakkan di dalam tas.

Baca Juga :  Mantan TKI Asal Sampang Coba Peruntungan Tanam Tembakau

Bendera Indonesia dan gambar Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno jadi simbol yang meneguhkan bahwa Mukti ingin menyatukan orang Indonesia. Dia mengaku sedih dengan perpecahan di republik ini. ”Saya hidup seorang diri. Semua anggota keluarga meninggal karena tsunami di Aceh. Ini cara saya untuk berbakti kepada Tanah Air,” kenangnya.

Mukti mengaku bersyukur karena banyak orang-orang yang menolong. Termasuk menanyakan tujuan Mukti berjalan kaki keliling Indonesia. Dengan begitu, Mukti tidak pernah kelaparan. ”Alhamdulillah setiap hari ada yang memberi. Entah itu makan ataupun uang,” ceritanya.

Dia hanya memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia percaya dirinya tidak akan mati kelaparan. Mukti percaya Tuhan memiliki rasa welas asih dan memberikan perlindungan kepada hambanya. ”Tuhan itu Mahakaya. Selama ada Tuhan, saya tidak pernah merasa cemas. Saya memilih cara seperti ini karena memiliki Allah,” ucapnya.

Baca Juga :  Dosen Pertama UMM Tersertifikasi ASEAN Engineer

Menurut dia, masyarakat Indonesia saat ini sedang terpecah belah. Dia ingin menunjukkan dan memberi kekuatan bahwa Pancasila tetap berdiri tegak. Apa pun yang terjadi. Mukti tidak bosan untuk menggaungkan bahwa semua masyarakat adalah satu.

”Kita tetap Pancasila. Tidak bisa lepas dari koridor itu. Sebab, tidak akan ada NKRI tanpa Pancasila,” terangnya.

Mukti menegaskan, yang dia lakukan murni panggilan jiwa. Sebab, jarang orang yang mau membawa Pancasila dan bendera Indonesia ke mana-mana. ”Karena saya ingin ada gerakan-gerakan. Siapa tahu ini bisa menginspirasi anak-anak negeri lainnya,” tandasnya.

Terik matahari dan hujan tidak bisa menghentikan langkahnya untuk menggelorakan persatuan. Dia memulai perjalanan sejak 12 September 2017. Dalam perjalanan, Mukti menemui hambatan. Termasuk ancaman orang. Tetapi, dia menganggap itu biasa karena karakter manusia ada yang baik dan tidak.

”Ada yang bilang saya cari sensasi, kurang kerjaan. Ada yang bilang gila. Saya terima. Karena kalau nggak gila, kita nggak mungkin melakukan perjalanan seperti ini. Saya memang gila dengan negeri ini,” jelasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/