alexametrics
29.3 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Fianolita P, Perempuan Desa Berdayakan Warga dengan Usaha Kreatif

Berjuang di masa muda agar bisa menikmati manisnya hidup di masa tua. Begitulah kata mutiara yang pantas diucapkan untuk Fianolita Purnaningtias. Usianya masih muda. Sambil kuliah, dia mulai menjalankan usaha di desa.

MOH. BUSRI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BANYAK warna di rumah Fianolita Purnaningtias. Ada merah, kuning, hijau, biru, ungu, merah muda, cokelat, dan putih.

Beragam juga bentuknya. Ada yang berbentuk unyil. Ada pun yang berbentuk kelopak bunga.

Itulah buket-buket hasil kerajinan tangan Fianolita Purnaningtias bersama karyawannya. Pada saat-saat tertentu, barang-barang itu memenuhi ruang tamu. Itu karena banyaknya pesanan.

Fianolita Purnaningtias masih tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep. Sekalipun sibuk menjalani aktivitas kuliah, perempuan asal Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Sumenep, ini telah mampu membangun usaha pribadi.

Perempuan yang akrab disapa Via ini membangun usaha buket sejak awal 2019. Semakin lama, kepercayaan pelanggan semakin tumbuh. Kualitas produk semakin dipercaya. Buket buatan perempuan kelahiran 3 Maret 2000 ini diberi nama Fiibuketgalery.

Melalui usaha tersebut, Via berhasil memperoleh penghasilan Rp 3 juta per bulan. Sedangkan dalam satu musim biasanya bisa tembus Rp 25 juta. ”Saya biasa menjual produk ini mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 250 ribu,” ungkapnya Rabu (17/11).

Motivasi besar yang mendorong Via untuk membangun usaha pribadi yaitu membengkaknya angka pengangguran di Sumenep. Dia berpikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan daripada menjadi karyawan dari perusahaan orang lain. Berkat usaha pribadinya yang semakin besar, Via berinisiatif untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran.

Baca Juga :  Sepatu Menawan ini Dibanderol Nyaris Rp 35 Juta

”Ini bertujuan agar masyarakat di lingkungan saya bisa mendapatkan pekerjaan,” paparnya.

Saat ini Via punya empat pegawai tetap. Mereka bertugas bagian gunting, membuat pola, dan dua orang lainnya bagian membentuk. Selebihnya hanya promotor.

Kepercayaan publik yang menyebabkan permintaan pasar meningkat juga menjadi dorongan utama dalam menekuni usahanya itu. Sebelumnya, Via telah menganalisis terlebih dahulu potensi usaha yang akan dibangun. Menurutnya, kreativitas berupa buket di daerahnya belum ada sama sekali di awal 2019.

”Jadi saya berpikir ini akan menjadi terobosan baru dan saya bisa menjadi pencetus di lingkungan saya,” tuturnya.

Awal-awal buka usaha ini tidak langsung berbuah manis. Hanya dengan modal Rp 50 ribu, Via memberanikan diri untuk mencoba. Upaya itu ternyata sempat ditertawakan oleh warga sekitar rumahnya yang terletak di pedesaan.

”Mereka tidak mengerti soal buket, jadi dikira tidak akan laku,” kenang gadis 21 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Madura. Seiring waktu, imbuhnya, masyarakat mulai ditarik sebagai karyawan. ”Iya intinya masyarakat mulai tertarik pada usaha ini,” imbuhnya.

Inisiatif untuk merekrut karyawan karena kesibukan kuliah yang semakin padat. Dengan adanya karyawan, maka permintaan pasar serta kuliahnya sama-sama bisa terpenuhi dengan baik.

”Ini bisa saya jadikan sebagai realisasi dari materi kuliah. Artinya, materi yang saya dapat di bangku kuliah bisa diterapkan atau dipraktikkan di ruang usaha,” ujarnya.

Roda kehidupan ini pasti terus berputar. Tidak selamanya kehidupan akan terasa manis. Begitu pula sebaliknya. Hal tersebut juga dirasakan Via. Pada awal masa diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) usahanya sempat seret. Semua itu disebabkan permintaan pasar sepi seketika.

Baca Juga :  Dulu Sebulan Lima, Sekarang 9 Tabung Ludes dalam 10 Hari

”Saya pernah menghabiskan uang tabungan saya yang sebenarnya akan digunakan untuk biaya kuliah,” ucapnya.

Kondisi demikian sempat membuatnya putus asa. Namun, dukungan kedua orang tuanya membuat Via bangkit dan optimistis dalam menghadapi rintangan. Bermodal kesabaran dan ketabahan, situasi kembali semakin membaik. Begitu juga dengan rotasi kehidupan yang dilalui sulung dua bersaudara dari pasangan Aris Purwanto dan Jumiati ini.

”Alhamdulillah, setelah PPKM mulai dilonggarkan, pesanan kembali membeludak. Bahkan, itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tambahnya.

Pembeli yang datang memesan produk Via bervariasi. Mulai dari pelajar, mahasiswa, orang dewasa, bahkan juga untuk acara kantor. Paling laris buket dengan harga Rp 50 ribu. Pemasarannya full online. Bahan juga order ke Surabaya melalui daring.

”Jadi yang kami buat sesuai dengan pesanan. Biasanya dalam sehari bisa mencapai 50 buah,” jelasnya.

Rencana jangka panjang, Via akan membuka toko Fiibuketgalery agar bisa dipasarkan langsung. Jadi tidak hanya secara online. Dia berharap permintaan konsumen meningkat. Ini juga sebagai sarana untuk memberikan ruang lapangan kerja kepada orang-orang sekitar.

Bagi Via, setiap pemuda memiliki peluang besar untuk menentukan jalan hidup. Tidak perlu takut untuk mencoba, sebab hanya proses yang dapat menentukan manisnya hasil.

”Intinya kita fokus dan jangan pernah melihat pada pencapaian orang lain. Proses dan hasil setiap orang pasti berbeda,” tandasnya penuh keyakinan.

Berjuang di masa muda agar bisa menikmati manisnya hidup di masa tua. Begitulah kata mutiara yang pantas diucapkan untuk Fianolita Purnaningtias. Usianya masih muda. Sambil kuliah, dia mulai menjalankan usaha di desa.

MOH. BUSRI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BANYAK warna di rumah Fianolita Purnaningtias. Ada merah, kuning, hijau, biru, ungu, merah muda, cokelat, dan putih.


Beragam juga bentuknya. Ada yang berbentuk unyil. Ada pun yang berbentuk kelopak bunga.

Itulah buket-buket hasil kerajinan tangan Fianolita Purnaningtias bersama karyawannya. Pada saat-saat tertentu, barang-barang itu memenuhi ruang tamu. Itu karena banyaknya pesanan.

Fianolita Purnaningtias masih tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep. Sekalipun sibuk menjalani aktivitas kuliah, perempuan asal Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Sumenep, ini telah mampu membangun usaha pribadi.

Perempuan yang akrab disapa Via ini membangun usaha buket sejak awal 2019. Semakin lama, kepercayaan pelanggan semakin tumbuh. Kualitas produk semakin dipercaya. Buket buatan perempuan kelahiran 3 Maret 2000 ini diberi nama Fiibuketgalery.

Melalui usaha tersebut, Via berhasil memperoleh penghasilan Rp 3 juta per bulan. Sedangkan dalam satu musim biasanya bisa tembus Rp 25 juta. ”Saya biasa menjual produk ini mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 250 ribu,” ungkapnya Rabu (17/11).

Motivasi besar yang mendorong Via untuk membangun usaha pribadi yaitu membengkaknya angka pengangguran di Sumenep. Dia berpikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan daripada menjadi karyawan dari perusahaan orang lain. Berkat usaha pribadinya yang semakin besar, Via berinisiatif untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengangguran.

Baca Juga :  Libatkan Tim Multimedia, Sasar Jamaah hingga 4 Negara

”Ini bertujuan agar masyarakat di lingkungan saya bisa mendapatkan pekerjaan,” paparnya.

Saat ini Via punya empat pegawai tetap. Mereka bertugas bagian gunting, membuat pola, dan dua orang lainnya bagian membentuk. Selebihnya hanya promotor.

Kepercayaan publik yang menyebabkan permintaan pasar meningkat juga menjadi dorongan utama dalam menekuni usahanya itu. Sebelumnya, Via telah menganalisis terlebih dahulu potensi usaha yang akan dibangun. Menurutnya, kreativitas berupa buket di daerahnya belum ada sama sekali di awal 2019.

”Jadi saya berpikir ini akan menjadi terobosan baru dan saya bisa menjadi pencetus di lingkungan saya,” tuturnya.

Awal-awal buka usaha ini tidak langsung berbuah manis. Hanya dengan modal Rp 50 ribu, Via memberanikan diri untuk mencoba. Upaya itu ternyata sempat ditertawakan oleh warga sekitar rumahnya yang terletak di pedesaan.

”Mereka tidak mengerti soal buket, jadi dikira tidak akan laku,” kenang gadis 21 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Madura. Seiring waktu, imbuhnya, masyarakat mulai ditarik sebagai karyawan. ”Iya intinya masyarakat mulai tertarik pada usaha ini,” imbuhnya.

Inisiatif untuk merekrut karyawan karena kesibukan kuliah yang semakin padat. Dengan adanya karyawan, maka permintaan pasar serta kuliahnya sama-sama bisa terpenuhi dengan baik.

”Ini bisa saya jadikan sebagai realisasi dari materi kuliah. Artinya, materi yang saya dapat di bangku kuliah bisa diterapkan atau dipraktikkan di ruang usaha,” ujarnya.

Roda kehidupan ini pasti terus berputar. Tidak selamanya kehidupan akan terasa manis. Begitu pula sebaliknya. Hal tersebut juga dirasakan Via. Pada awal masa diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) usahanya sempat seret. Semua itu disebabkan permintaan pasar sepi seketika.

Baca Juga :  Jaga Komunikasi Keluarga, Tetap Berlatih meski Puasa

”Saya pernah menghabiskan uang tabungan saya yang sebenarnya akan digunakan untuk biaya kuliah,” ucapnya.

Kondisi demikian sempat membuatnya putus asa. Namun, dukungan kedua orang tuanya membuat Via bangkit dan optimistis dalam menghadapi rintangan. Bermodal kesabaran dan ketabahan, situasi kembali semakin membaik. Begitu juga dengan rotasi kehidupan yang dilalui sulung dua bersaudara dari pasangan Aris Purwanto dan Jumiati ini.

”Alhamdulillah, setelah PPKM mulai dilonggarkan, pesanan kembali membeludak. Bahkan, itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tambahnya.

Pembeli yang datang memesan produk Via bervariasi. Mulai dari pelajar, mahasiswa, orang dewasa, bahkan juga untuk acara kantor. Paling laris buket dengan harga Rp 50 ribu. Pemasarannya full online. Bahan juga order ke Surabaya melalui daring.

”Jadi yang kami buat sesuai dengan pesanan. Biasanya dalam sehari bisa mencapai 50 buah,” jelasnya.

Rencana jangka panjang, Via akan membuka toko Fiibuketgalery agar bisa dipasarkan langsung. Jadi tidak hanya secara online. Dia berharap permintaan konsumen meningkat. Ini juga sebagai sarana untuk memberikan ruang lapangan kerja kepada orang-orang sekitar.

Bagi Via, setiap pemuda memiliki peluang besar untuk menentukan jalan hidup. Tidak perlu takut untuk mencoba, sebab hanya proses yang dapat menentukan manisnya hasil.

”Intinya kita fokus dan jangan pernah melihat pada pencapaian orang lain. Proses dan hasil setiap orang pasti berbeda,” tandasnya penuh keyakinan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Kangen Menu Berbuka Masakan Bunda

Dua Petugas BNN Turut Diangkut

Pendaftar Pengawas TPS Tak Penuhi Kuota

Artikel Terbaru

/