alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Pernah ”Ditalak Tiga” karena Putar Lagu Dangdut

Perjalanan dalam membesarkan Radio Salsabila FM tidak selalu mulus. Penggemar pernah ”menalak tiga” hanya gara-gara memutar lagu dangdut.

FERI FERDIANSYAH, Sampang

DULU masyarakat di sekitar kita itu membenci dangdut. Harus musik berbau padang pasir. Padahal, lagu padang pasir sendiri itu penyanyinya orang Kristen di Syria. Jadi bagi mereka yang penting bahasa Arab. Kalau bahasa Arab ya diterima. Dianggap islami,” kenang Kiai Itqon sambil tersenyum kepada tim Acabis, Selasa (30/3).

Saking bencinya lagu dangdut, pendengar akan meninggalkan radio tersebut. Ancaman itu bukan gertak sambal. Saat penyiar memutar lagu dangdut, langsung berdampak pada penggemar. Mereka yang biasa menelepon berhenti karena ada lagu dangdut.

”Eh bener, Masuk dangdut, langsung ada yang talak tiga,” katanya. ”Tapi kami terus berjalan, kami tambah dengan lagu pop,” imbuh KH M. Itqon Bushiri.

Kiai Itqon melakukan itu demi menambah segmen pendengar. Pihaknya ingin merangkul semua segmen. Termasuk kaum bapak, kaum ibu, muda, laki-laki, perempuan, dan semua kalangan. Dengan bertambahnya segmentasi, sasaran dakwah Salsabila FM pun semakin banyak. Adapun salah satu dakwahnya, mengumandangkan azan lima waktu.

Baca Juga :  Terinspirasi Tukang Sapu di Pesantren, Ciptakan Metode Gerobak

”Azan lima waktu dilakukan agar orang istirahat. Ayo berhenti. Ayo, salat. Jangan terhibur terus,” ingat pengasuh Pondok Pesantren Assirojiyah itu.

Dia menyadari waktu azan sering menjadi perdebatan ketika bulan puasa. Baik itu soal imsakiyah maupun masuknya waktu berbuka yang ditandai dengan azan magrib. Dia tidak mempersoalkan perdebatan itu. ”Jangan mempersoalkan yang kecil-kecil, biar nanti masalah yang besar-besar itu menjadi kecil. Jangan sampai masalah kecil dibesar-besarkan,” terangnya.

 

Ikuti Zaman, Rambah Dunia Digital

Radio Salsabila FM sudah berumur 20 tahun. Kiai Itqon tidak mau radio ini ketinggalan zaman. Dia sadar perubahan zaman berjalan cepat. Biro iklan semakin meninggalkan model lama seperti radio. Mereka malah masuk ke media sosial. ”Akhirnya kita masuk ke media sosial. Selain itu kami juga membangun website salsabilafm.com,” ucap Kiai Itqon.

Sebelumnya, Salsabila FM hanya menjangkau Madura dan sejumlah wilayah di Jawa Timur. Dengan laman itu, media ber-tagline Radionya Orang Madura itu bisa didengar di seluruh dunia. ”Sekarang bisa didengar oleh alumni di Timur Tengah maupun di Amerika. Bahkan, suaranya jernih. Yang penting ada kuotanya,” ucapnya seraya tertawa.

Baca Juga :  Arab Larang Jamaah Indonesia, Begini Kabar Warga Sampang di Madinah

Kegiatan dakwah lain selain azan adalah kultum. Kegiatan ini biasa dilakukan menjelang buka puasa. Selain itu, membiasakan penelepon  mengucapkan salam saat menghubungi penyiar.

”Itu doa keselamatan bagi kami. Berapa kali mereka mendoakan kita? Interaksi langsung seperti itu mengajarkan akhlak. Untuk apa ada ilmu, tapi tidak ada akhlak?” tegasnya.

Sebagai direktur, dia berharap Radio Salsabila FM tetap eksis dan diterima masyarakat. Pihaknya akan melayani dengan terus berinovasi. Ke depan juga akan membangun sarana untuk santri tahfiz.

Pria yang juga ketua PC NU Sampang itu mengingatkan arti penting peran media dan jurnalis di tengah masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak boleh memandang sebelah mata. Sebab, jurnalis banyak memberikan informasi.

”Hanya, sekarang banyak yang terkontaminasi dengan hoaks. Maka, dianjurkan kepada masyarakat carilah media yang betul-betul profesional,” katanya. Dia berpesan agar tidak hanya mengandalkan satu laman dengan nama tidak jelas. Karena itu, hingga saat ini dia masih setia berlangganan koran Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Madura karena bisa dipercaya.

Perjalanan dalam membesarkan Radio Salsabila FM tidak selalu mulus. Penggemar pernah ”menalak tiga” hanya gara-gara memutar lagu dangdut.

FERI FERDIANSYAH, Sampang

DULU masyarakat di sekitar kita itu membenci dangdut. Harus musik berbau padang pasir. Padahal, lagu padang pasir sendiri itu penyanyinya orang Kristen di Syria. Jadi bagi mereka yang penting bahasa Arab. Kalau bahasa Arab ya diterima. Dianggap islami,” kenang Kiai Itqon sambil tersenyum kepada tim Acabis, Selasa (30/3).

Saking bencinya lagu dangdut, pendengar akan meninggalkan radio tersebut. Ancaman itu bukan gertak sambal. Saat penyiar memutar lagu dangdut, langsung berdampak pada penggemar. Mereka yang biasa menelepon berhenti karena ada lagu dangdut.

”Eh bener, Masuk dangdut, langsung ada yang talak tiga,” katanya. ”Tapi kami terus berjalan, kami tambah dengan lagu pop,” imbuh KH M. Itqon Bushiri.

Kiai Itqon melakukan itu demi menambah segmen pendengar. Pihaknya ingin merangkul semua segmen. Termasuk kaum bapak, kaum ibu, muda, laki-laki, perempuan, dan semua kalangan. Dengan bertambahnya segmentasi, sasaran dakwah Salsabila FM pun semakin banyak. Adapun salah satu dakwahnya, mengumandangkan azan lima waktu.

Baca Juga :  Sudah Tulis Delapan Buku, Honor Pertama Lima Belas Ribu

”Azan lima waktu dilakukan agar orang istirahat. Ayo berhenti. Ayo, salat. Jangan terhibur terus,” ingat pengasuh Pondok Pesantren Assirojiyah itu.

Dia menyadari waktu azan sering menjadi perdebatan ketika bulan puasa. Baik itu soal imsakiyah maupun masuknya waktu berbuka yang ditandai dengan azan magrib. Dia tidak mempersoalkan perdebatan itu. ”Jangan mempersoalkan yang kecil-kecil, biar nanti masalah yang besar-besar itu menjadi kecil. Jangan sampai masalah kecil dibesar-besarkan,” terangnya.

 

Ikuti Zaman, Rambah Dunia Digital

Radio Salsabila FM sudah berumur 20 tahun. Kiai Itqon tidak mau radio ini ketinggalan zaman. Dia sadar perubahan zaman berjalan cepat. Biro iklan semakin meninggalkan model lama seperti radio. Mereka malah masuk ke media sosial. ”Akhirnya kita masuk ke media sosial. Selain itu kami juga membangun website salsabilafm.com,” ucap Kiai Itqon.

Sebelumnya, Salsabila FM hanya menjangkau Madura dan sejumlah wilayah di Jawa Timur. Dengan laman itu, media ber-tagline Radionya Orang Madura itu bisa didengar di seluruh dunia. ”Sekarang bisa didengar oleh alumni di Timur Tengah maupun di Amerika. Bahkan, suaranya jernih. Yang penting ada kuotanya,” ucapnya seraya tertawa.

Baca Juga :  Ochi Bantu Warga Miskin Gunakan Media Sosial

Kegiatan dakwah lain selain azan adalah kultum. Kegiatan ini biasa dilakukan menjelang buka puasa. Selain itu, membiasakan penelepon  mengucapkan salam saat menghubungi penyiar.

”Itu doa keselamatan bagi kami. Berapa kali mereka mendoakan kita? Interaksi langsung seperti itu mengajarkan akhlak. Untuk apa ada ilmu, tapi tidak ada akhlak?” tegasnya.

Sebagai direktur, dia berharap Radio Salsabila FM tetap eksis dan diterima masyarakat. Pihaknya akan melayani dengan terus berinovasi. Ke depan juga akan membangun sarana untuk santri tahfiz.

Pria yang juga ketua PC NU Sampang itu mengingatkan arti penting peran media dan jurnalis di tengah masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak boleh memandang sebelah mata. Sebab, jurnalis banyak memberikan informasi.

”Hanya, sekarang banyak yang terkontaminasi dengan hoaks. Maka, dianjurkan kepada masyarakat carilah media yang betul-betul profesional,” katanya. Dia berpesan agar tidak hanya mengandalkan satu laman dengan nama tidak jelas. Karena itu, hingga saat ini dia masih setia berlangganan koran Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Madura karena bisa dipercaya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/