alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Bahan Baku Dibeli dari Mantan Rekan Kerja, 2 Hari Bisa Tuntaskan Order

Orang sukses melihat kesempatan dalam kesempitan. Orang gagal melihat kesempitan dalam kesempatan. Kata-kata bijak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu layak disematkan kepada Toyyib.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KABUPATEN Bangkalan memiliki dua objek wisata religi yang paling dikenal masyarakat. Yaitu, Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Kota Bangkalan, dan Pesarean Aer Mata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya.

Pesarean Aer Mata merupakan makam istri Cakraningrat I bernama Syarifah Ambami atau yang lebih dikenal Rato Ebu. Syaikona Muhammad Kholil dan Roto Ebu merupakan dua tokoh mahsyur pada era yang berbeda. Saat ini makam keduanya tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di tanah air.

Makam Syaikona Muhammad Kholil lebih mudah dijangkau karena lokasinya berada di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan untuk berziarah ke Pesarean Rato Ebu, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari jantung Kota Salak.

Sekitar dua kilometer sebelum sampai Pesarean Rato Ebu, pengunjung akan disambut pemandangan unik. Banyak tenda sederhana berdiri di pinggir jalan. Namun, mereka bukanlah pedagang kaki lima (PKL), melainkan para perajin batu nisan.

Salah satu perajin batu nisan di akses menuju Pesarean Aer Mata adalah Toyyib. Bapak tiga anak itu sudah empat tahun menjadi pembuat batu nisan di Dusun/Desa Tambegan, Kecamatan Arosbaya.

Baca Juga :  AFPI: Vaksin COVID-19 Berikan Dampak Positif Terhadap Roda Ekonomi

Puluhan ukiran batu nisan tertata rapi di bawah tenda berukuran empat kali dua setengah meter. Tinggi, lebar, dan bentuk ukiran hasil kerajinan Toyyib berbeda-beda. Semuanya tertata sangat rapi. Di tempat berbeda, juga terlihat batu bata yang masih polos karena belum tergarap.

Pria berusia 54 tahun itu semula bekerja sebagai penambang batu bata di bukit Kapur Aer Mata di Desa Berbeluk selama 35 tahun. Sadar usianya tidak lagi muda, Toyyib beralih menjadi perajin batu nisan. Kebetulan bahan bakunya sama-sama terbuat dari batu kapur dan dibeli dari mantan rekan kerjanya.

Toyyib menuturkan, salah satu alasan menjadi perajin batu nisan karena mudah mendapat bahan baku. Sebab, tidak jauh dari kediamannya sekarang, banyak warga yang bekerja sebagai penambang batu. ”Saya ingin mengembangkan potensi alam yang ada di sini,” ucapnya.

Untuk mendapat batu kapur, Toyyib hanya perlu mengeluarkan duit Rp 75 ribu per batang. Dengan begitu, untuk satu pasang batu nisan harus mengeluarkan modal Rp 150 ribu. ”Untuk membuat satu pasang batu nisan memerlukan waktu 2–3 hari. Batu nisan saya buat dari alat pahat yang dibeli di pasar,” imbuhnya.

Baca Juga :  Buek Bual Sumber Kehidupan Masyarakat Pulau Sabuntan

Sepasang batu nisan karya Toyyib dijual Rp 500 ribu. Jika dilengkapi nama orang yang sudah wafat, tarifnya menjadi Rp 600 ribu. Toyyib bersyukur selama ini tidak pernah sepi pembeli. ”Setiap hari ada saja yang membeli batu nisan ke sini,” tuturnya.

Selama ini, jalan menuju Pasarean Aer Mata di Desa Tambegan dan Buduran memang dikenal sebagai sentra perajin batu nisan. Banyak warga dari Kecamatan Kota Bangkalan, Tanah Merah, Burneh, Galis, Klampis, Sepulu, dan Tanjungbumi yang membeli batu nisan di dua desa tersebut.

”Bahkan, beberapa kecamatan di wilayah utara Kabupaten Sampang juga banyak yang membeli batu nisan di sini. Misalnya, warga Kecamatan Banyuates, Ketapang, dan Sakobanah,” sambung Toyyib.

Suami Mulyati itu mengaku tidak pernah belajar mengukir batu nisan. Kemampuannya itu diperoleh secara otodidak. Namun, orang tua dan kakeknya adalah perajin batu nisan. ”Saya tidak mengarahkan anak-anak menjadi perajin batu nisan. Biar mereka memilih pekerjaan sesuai keinginannya,” pungkasnya. 

Orang sukses melihat kesempatan dalam kesempitan. Orang gagal melihat kesempitan dalam kesempatan. Kata-kata bijak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu layak disematkan kepada Toyyib.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KABUPATEN Bangkalan memiliki dua objek wisata religi yang paling dikenal masyarakat. Yaitu, Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Kota Bangkalan, dan Pesarean Aer Mata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya.


Pesarean Aer Mata merupakan makam istri Cakraningrat I bernama Syarifah Ambami atau yang lebih dikenal Rato Ebu. Syaikona Muhammad Kholil dan Roto Ebu merupakan dua tokoh mahsyur pada era yang berbeda. Saat ini makam keduanya tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di tanah air.

Makam Syaikona Muhammad Kholil lebih mudah dijangkau karena lokasinya berada di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan untuk berziarah ke Pesarean Rato Ebu, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari jantung Kota Salak.

Sekitar dua kilometer sebelum sampai Pesarean Rato Ebu, pengunjung akan disambut pemandangan unik. Banyak tenda sederhana berdiri di pinggir jalan. Namun, mereka bukanlah pedagang kaki lima (PKL), melainkan para perajin batu nisan.

Salah satu perajin batu nisan di akses menuju Pesarean Aer Mata adalah Toyyib. Bapak tiga anak itu sudah empat tahun menjadi pembuat batu nisan di Dusun/Desa Tambegan, Kecamatan Arosbaya.

Baca Juga :  Tim Review Aset Disdik Sumenep Meninggalkan Pulau Kangean

Puluhan ukiran batu nisan tertata rapi di bawah tenda berukuran empat kali dua setengah meter. Tinggi, lebar, dan bentuk ukiran hasil kerajinan Toyyib berbeda-beda. Semuanya tertata sangat rapi. Di tempat berbeda, juga terlihat batu bata yang masih polos karena belum tergarap.

Pria berusia 54 tahun itu semula bekerja sebagai penambang batu bata di bukit Kapur Aer Mata di Desa Berbeluk selama 35 tahun. Sadar usianya tidak lagi muda, Toyyib beralih menjadi perajin batu nisan. Kebetulan bahan bakunya sama-sama terbuat dari batu kapur dan dibeli dari mantan rekan kerjanya.

Toyyib menuturkan, salah satu alasan menjadi perajin batu nisan karena mudah mendapat bahan baku. Sebab, tidak jauh dari kediamannya sekarang, banyak warga yang bekerja sebagai penambang batu. ”Saya ingin mengembangkan potensi alam yang ada di sini,” ucapnya.

Untuk mendapat batu kapur, Toyyib hanya perlu mengeluarkan duit Rp 75 ribu per batang. Dengan begitu, untuk satu pasang batu nisan harus mengeluarkan modal Rp 150 ribu. ”Untuk membuat satu pasang batu nisan memerlukan waktu 2–3 hari. Batu nisan saya buat dari alat pahat yang dibeli di pasar,” imbuhnya.

Baca Juga :  Empat Bulan, Global Wakaf-ACT Bangun 1.400 Sumur Se-Indonesia

Sepasang batu nisan karya Toyyib dijual Rp 500 ribu. Jika dilengkapi nama orang yang sudah wafat, tarifnya menjadi Rp 600 ribu. Toyyib bersyukur selama ini tidak pernah sepi pembeli. ”Setiap hari ada saja yang membeli batu nisan ke sini,” tuturnya.

Selama ini, jalan menuju Pasarean Aer Mata di Desa Tambegan dan Buduran memang dikenal sebagai sentra perajin batu nisan. Banyak warga dari Kecamatan Kota Bangkalan, Tanah Merah, Burneh, Galis, Klampis, Sepulu, dan Tanjungbumi yang membeli batu nisan di dua desa tersebut.

”Bahkan, beberapa kecamatan di wilayah utara Kabupaten Sampang juga banyak yang membeli batu nisan di sini. Misalnya, warga Kecamatan Banyuates, Ketapang, dan Sakobanah,” sambung Toyyib.

Suami Mulyati itu mengaku tidak pernah belajar mengukir batu nisan. Kemampuannya itu diperoleh secara otodidak. Namun, orang tua dan kakeknya adalah perajin batu nisan. ”Saya tidak mengarahkan anak-anak menjadi perajin batu nisan. Biar mereka memilih pekerjaan sesuai keinginannya,” pungkasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/