alexametrics
19 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Republik Akeloy Buat Video Iseng, setelah Diunggah Banyak Senang

BANGKALAN – Pernah menonton film besukan Republik Akeloy? Film ini bisa dijumpai di Facebook. Para pemain bukan bintang film yang sering muncul di layar kaca atau layar lebar. Mereka anak-anak desa kreatif.

Kamis malam (15/2) sekitar pukul 21.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bertemu mereka di sebuah kedai kopi di Jalan RE Martadinata, Bangkalan. Sejumlah pemuda asyik berbincang. Sesekali ada yang mengajak mereka berswafoto.

Akeloy merupakan singkatan dari Anak Keren Loyalitas. Nama yang tak asing bagi warganet. Khususnya penikmat karya video pendek mereka di media sosial (medsos).

Kelompok pembuat film ini terdiri dari enam orang. Mereka adalah Moh. Yusron Hamdani, 19. Lebih populer dikenal dengan nama Yus Muhammad. Kemudian Muhasir, 21, akrab dengan sapaan Muhas.

Selain itu, Moh. Arifin dan Akbar Bakti. Sama-sama 22 tahun. Lalu, Alfarisi dan Hasan Abdillah yang sama-sama 19 tahun. Mereka berasal dari Desa Banyubunih, Kecamaran Galis. Kecuali Muhas yang berasal dari Desa Lantek, Kecamatan Galis.

Cara mereka membuat film memang serabutan. Namun komentar positif berdatangan dari warganet. Dialog dalam film yang menggunakan bahasa Madura diakui dibuat tanpa skenario. Asal rekam. Langsung jadi. Berdasarkan pengalaman pribadi maupun tentang kehidupan sosial masyarakat.

Moh. Arifin, Hasan Abdillah, dan Muhasir lulusan SMA. Sedangkan Yus Muhammad, Akbar Bakti, dan Alfarisi lulusan SMP. ”Awalnya iseng. Ngumpul, kemudian punya keinginan buat video. Temen-temen kompak, ya langsung buat,” ujar Yus.

Dugem adalah judul film yang sedang digandrungi warganet. Bercerita tentang kehidupan anak muda hedonis. Mereka celaka setelah berani menentang orang tua. Hingga Kamis (15/2) pukul 22.00 film ini ditonton lebih dari 300 ribu kali.

Janji Suci yang Diingkariberdurasi sekitar 9 menit ditonton lebih dari 289 ribu kali.Film ini merupakan kisah pribadi masalah percintaan kru. Film yang tak kalah heboh dan mengocok perut berjudul Marwati. Film ini juga dibuat pada 2017.

Baca Juga :  Usia Tiga Tahun Tertarik Rima Surah Al-Ikhlas

Film berdurasi delapan menit itu hingga 15 Februari 2018 ditonton lebih 307 ribu kali. Dibagikan 5,1 ribu kali. Film yang dibuat awal 2017 itu mendapat 977 komentar dan 8,8 ribu orang menanggapi.

”Kami ada 10 video. Awalnya kami bagikan melalui akun Facebook Yus Muhammad. Ternyata banyak suka. Walaupun banyak juga yang mengkritik karena kami memang masih belajar,” tutur Muhas.

Setahun menghibur di dunia maya. Banyak orang ingin bertemu dengan para kru Republik Akeloy. ”Waktu kami ke tempat perbelanjaan, ada orang lihat. ’Ini yang ada di film Yus Muhammad ya?’ Terus orang-orang minta foto. Penjaga kasirnya juga minta foto,” kenang Arifin.

Bahkan di Makam Syaikhona Kholil saat berziarah juga ada beberapa anak muda minta berfoto. Akhir-akhir ini mereka mengaku banyak menerima pesanan pembuatan iklan maupun undangan.

Sempat ditawarkan untuk membuat iklan salah satu pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Bangkalan. Namun mereka tak mau ambil risiko. Mereka tak mau terlibat dalam kontestasi politik. Mereka hanya ingin fokus berkarya seperti biasa.

”Ada yang ngundang untuk ulang tahun dari Klampis. Yang ulang tahun itu mau dibelikan motor sama orang tuanya sebagai hadiah. Dia gak mau. Lebih milih ngundang kami untuk datang,” tutur Yus.

Saat temu fans, banyak yang minta tanda tangan. Tua-muda berjubel untuk bisa foto bersama. ”Kami memang sampaikan pesan moral dalam setiap film kami. Seperti tidak boleh durhaka pada orang tua, jangan khianati teman dan pasangan. Kalau Marwati lebih ke lucu-lucuan aja,” kata Yus.

Manajer Republik Akeloy Dita Ratna Yuliani mengaku baru sebulan kenal dengan kru di Facebook. Dia melihat kelompok ini bisa dibina agar bisa diarahkan pada hal positif. ”Saya lihat video mereka ini lucu. Saya undang mereka untuk membuat iklan kafe,” ucap perempuan asal Trenggalek itu.

Dita kemudian mengajak kru Republik Akeloy bisa di-manage pihaknya. Kesepakatan terjalin. Dita menjadwal beberapa event temu fans di sejumlah tempat. Dia ingin menjajal sejauh mana respons fans Republik Akeloy dengan cara menjual tiket nonton film seharga Rp 20 ribu.

Baca Juga :  Manusia yang Mengerti Tidak Takut Mati

Pada masa percobaan hanya menyiapkan tiket untuk 70 orang saja saat itu. Selain itu, kapasitas daya tampung tempat nonton bareng terbatas. Minggu (11/2) kegiatan digelar. Tiket ludes. Bahkan di Facebook banyak yang ingin membeli.

”Sekitar 387 orang lagi yang memesan tiket. Tapi kami batasi. Kami buat kaus buat kru. Eh, setelah di-upload di Facebook banyak yang pesan,” ujarnya.

Pemesan kaus tidak hanya dari dalam negeri. Sekitar 42 kaus sudah dikirim ke Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Pemesan dalam negeri dari Madura, Surabaya, Gresik, Samarinda, Kalimantan, Pontianak, dan Probolinggo. ”Yang belum dikirim ada ratusan,” ungkapnya.

Perempuan 29 tahun itu menuturkan, saat video mereka diputar di Trenggalek, banyak juga yang sudah mengenal. Sekitar 60 orang nonton bareng. Bukan berarti sedikit. Tapi karena keterbatasan tempat. Saat ini banyak fans yang mengundang Republik Akeloy ke Malang, Blitar, dan Bali.

Fans mengundang mereka untuk ngelawak dan jumpa fans. Namun belum berani melakukan perjalanan terlalu jauh. Sebab masih menata diri dan menyusun manajemen yang baik untuk langkah ke depan. Ada juga fans yang tinggal di Malaysia mengundang mereka. ”Jadi untuk ke luar kota atau luar negeri, belum berani. Ke depan insya Allah,” tuturnya.

Dita mengungkapkan, video Republik Akeloy sempat ditonton Sutradara Hanung Bramantyo. Video tersebut ditunjukkan oleh teman Dita. Republik Akeloy sudah menggarap lima video iklan. Rata-rata iklan kafe dan tempat perbelanjaan. ”Lainnya masih banyak yang pesan,” ujarnya.

Minggu mendatang (18/2) mereka akan kembali menggelar nonton bareng dan temu fans. ”Akan kami tiketkan lagi. Sekitar 70 tiket. Temen-temen fokus pada karya. Kami yang mengurus manajemen mereka. Mudah-mudahan semakin maju dan mampu menghibur.” 

BANGKALAN – Pernah menonton film besukan Republik Akeloy? Film ini bisa dijumpai di Facebook. Para pemain bukan bintang film yang sering muncul di layar kaca atau layar lebar. Mereka anak-anak desa kreatif.

Kamis malam (15/2) sekitar pukul 21.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bertemu mereka di sebuah kedai kopi di Jalan RE Martadinata, Bangkalan. Sejumlah pemuda asyik berbincang. Sesekali ada yang mengajak mereka berswafoto.

Akeloy merupakan singkatan dari Anak Keren Loyalitas. Nama yang tak asing bagi warganet. Khususnya penikmat karya video pendek mereka di media sosial (medsos).


Kelompok pembuat film ini terdiri dari enam orang. Mereka adalah Moh. Yusron Hamdani, 19. Lebih populer dikenal dengan nama Yus Muhammad. Kemudian Muhasir, 21, akrab dengan sapaan Muhas.

Selain itu, Moh. Arifin dan Akbar Bakti. Sama-sama 22 tahun. Lalu, Alfarisi dan Hasan Abdillah yang sama-sama 19 tahun. Mereka berasal dari Desa Banyubunih, Kecamaran Galis. Kecuali Muhas yang berasal dari Desa Lantek, Kecamatan Galis.

Cara mereka membuat film memang serabutan. Namun komentar positif berdatangan dari warganet. Dialog dalam film yang menggunakan bahasa Madura diakui dibuat tanpa skenario. Asal rekam. Langsung jadi. Berdasarkan pengalaman pribadi maupun tentang kehidupan sosial masyarakat.

Moh. Arifin, Hasan Abdillah, dan Muhasir lulusan SMA. Sedangkan Yus Muhammad, Akbar Bakti, dan Alfarisi lulusan SMP. ”Awalnya iseng. Ngumpul, kemudian punya keinginan buat video. Temen-temen kompak, ya langsung buat,” ujar Yus.

Dugem adalah judul film yang sedang digandrungi warganet. Bercerita tentang kehidupan anak muda hedonis. Mereka celaka setelah berani menentang orang tua. Hingga Kamis (15/2) pukul 22.00 film ini ditonton lebih dari 300 ribu kali.

Janji Suci yang Diingkariberdurasi sekitar 9 menit ditonton lebih dari 289 ribu kali.Film ini merupakan kisah pribadi masalah percintaan kru. Film yang tak kalah heboh dan mengocok perut berjudul Marwati. Film ini juga dibuat pada 2017.

Baca Juga :  Bincang Bersama Abdul Hamid, Generasi Ke-6 Sultan R Abdul Kadirun

Film berdurasi delapan menit itu hingga 15 Februari 2018 ditonton lebih 307 ribu kali. Dibagikan 5,1 ribu kali. Film yang dibuat awal 2017 itu mendapat 977 komentar dan 8,8 ribu orang menanggapi.

”Kami ada 10 video. Awalnya kami bagikan melalui akun Facebook Yus Muhammad. Ternyata banyak suka. Walaupun banyak juga yang mengkritik karena kami memang masih belajar,” tutur Muhas.

Setahun menghibur di dunia maya. Banyak orang ingin bertemu dengan para kru Republik Akeloy. ”Waktu kami ke tempat perbelanjaan, ada orang lihat. ’Ini yang ada di film Yus Muhammad ya?’ Terus orang-orang minta foto. Penjaga kasirnya juga minta foto,” kenang Arifin.

Bahkan di Makam Syaikhona Kholil saat berziarah juga ada beberapa anak muda minta berfoto. Akhir-akhir ini mereka mengaku banyak menerima pesanan pembuatan iklan maupun undangan.

Sempat ditawarkan untuk membuat iklan salah satu pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Bangkalan. Namun mereka tak mau ambil risiko. Mereka tak mau terlibat dalam kontestasi politik. Mereka hanya ingin fokus berkarya seperti biasa.

”Ada yang ngundang untuk ulang tahun dari Klampis. Yang ulang tahun itu mau dibelikan motor sama orang tuanya sebagai hadiah. Dia gak mau. Lebih milih ngundang kami untuk datang,” tutur Yus.

Saat temu fans, banyak yang minta tanda tangan. Tua-muda berjubel untuk bisa foto bersama. ”Kami memang sampaikan pesan moral dalam setiap film kami. Seperti tidak boleh durhaka pada orang tua, jangan khianati teman dan pasangan. Kalau Marwati lebih ke lucu-lucuan aja,” kata Yus.

Manajer Republik Akeloy Dita Ratna Yuliani mengaku baru sebulan kenal dengan kru di Facebook. Dia melihat kelompok ini bisa dibina agar bisa diarahkan pada hal positif. ”Saya lihat video mereka ini lucu. Saya undang mereka untuk membuat iklan kafe,” ucap perempuan asal Trenggalek itu.

Dita kemudian mengajak kru Republik Akeloy bisa di-manage pihaknya. Kesepakatan terjalin. Dita menjadwal beberapa event temu fans di sejumlah tempat. Dia ingin menjajal sejauh mana respons fans Republik Akeloy dengan cara menjual tiket nonton film seharga Rp 20 ribu.

Baca Juga :  Usia Tiga Tahun Tertarik Rima Surah Al-Ikhlas

Pada masa percobaan hanya menyiapkan tiket untuk 70 orang saja saat itu. Selain itu, kapasitas daya tampung tempat nonton bareng terbatas. Minggu (11/2) kegiatan digelar. Tiket ludes. Bahkan di Facebook banyak yang ingin membeli.

”Sekitar 387 orang lagi yang memesan tiket. Tapi kami batasi. Kami buat kaus buat kru. Eh, setelah di-upload di Facebook banyak yang pesan,” ujarnya.

Pemesan kaus tidak hanya dari dalam negeri. Sekitar 42 kaus sudah dikirim ke Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Pemesan dalam negeri dari Madura, Surabaya, Gresik, Samarinda, Kalimantan, Pontianak, dan Probolinggo. ”Yang belum dikirim ada ratusan,” ungkapnya.

Perempuan 29 tahun itu menuturkan, saat video mereka diputar di Trenggalek, banyak juga yang sudah mengenal. Sekitar 60 orang nonton bareng. Bukan berarti sedikit. Tapi karena keterbatasan tempat. Saat ini banyak fans yang mengundang Republik Akeloy ke Malang, Blitar, dan Bali.

Fans mengundang mereka untuk ngelawak dan jumpa fans. Namun belum berani melakukan perjalanan terlalu jauh. Sebab masih menata diri dan menyusun manajemen yang baik untuk langkah ke depan. Ada juga fans yang tinggal di Malaysia mengundang mereka. ”Jadi untuk ke luar kota atau luar negeri, belum berani. Ke depan insya Allah,” tuturnya.

Dita mengungkapkan, video Republik Akeloy sempat ditonton Sutradara Hanung Bramantyo. Video tersebut ditunjukkan oleh teman Dita. Republik Akeloy sudah menggarap lima video iklan. Rata-rata iklan kafe dan tempat perbelanjaan. ”Lainnya masih banyak yang pesan,” ujarnya.

Minggu mendatang (18/2) mereka akan kembali menggelar nonton bareng dan temu fans. ”Akan kami tiketkan lagi. Sekitar 70 tiket. Temen-temen fokus pada karya. Kami yang mengurus manajemen mereka. Mudah-mudahan semakin maju dan mampu menghibur.” 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/