alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Kegelisahan Para Pelestari Manuskrip Naskah Kuno

Banyak kandungan ilmu pengetahuan dan wasiat leluhur yang tercantum dalam manuskrip. Namun, banyak generasi muda yang tidak mampu membacanya. Fakta ini menjadi kegelisahan para pelestari manuskrip.

**************

SEJUMLAH pelestari manuskrip berkumpul di aula Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) Pamekasan, Minggu malam (13/1). Mereka membaca kitab-kitab kuno berbahasa Jawa. Lembar demi lembar mereka cermati secara saksama.

Di antara mereka ada yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat, Madura. Antara lain, Pendiri Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Indramayu Ki Tarka Sutarahardja, Ketua Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Ray Mengku Sutentra, Divisi Seni Tradisi Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Rawin Rahardjo, Data Converter-Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA)/Litbang Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Abdullah Maulani.

Selain itu, mereka ditemani K Hamid keturunan Agung Raba dan Sahin, santri Pondok Pesantren Muba. Juga ada yang dari kalangan akademisi. Malam itu mereka melakukan kajian serius tentang peninggalan keilmuan tempo dulu. Baik berkenaan dengan pesan dan khas penulisan manuskrip.

Pendiri Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Indramayu Ki Tarka Sutarahardja mengungkapkan, warisan intelektual leluhur sangat banyak dituangkan dalam manuskrip. Karena itu, sangat perlu diketahui oleh generasi muda saat ini.

Sayang, kata dia, para generasi muda sudah banyak yang tidak mengenalnya lagi. Bahkan, enggan untuk mempelajari. Padahal dalam manuskrip itu ada ajaran tentang tasawuf, fikih, Alquran, nahwu, sejarah, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Mengenal Manuskrip Mushaf Pangeran Paku Ningrat

”Zaman dahulu mereka memahaminya lewat naskah. Naskah kuno merupakan jendela masa lalu,” terang Ki Tarka Sutarahardja.

Dia mengajak anak muda kembali mengenal warisan tulisan leluhur. Jangan sampai hilang dan musnah. Generasi masa kini harus belajar cara penulisan dan kosakatanya. ”Jangan sampai paham tradisi orang lain, sementara kita tidak mengenal warisan bangsa sendiri,” terangnya.

Ki Tarka Sutarahardja menjelaskan, dalam manuskrip itu banyak ditemukan menggunakan bahasa Jawa. Beberapa manuskrip yang ditemuinya, seperti di Balikpapan, Jambi, Lombok, dan Madura menggunakan bahasa Jawa. Hanya beda dalam pengucapan.

”Banyak kosakata yang digunakan masyarakat Madura juga digunakan oleh kami di Indramayu,” terangnya.

Karena itu, dia siap membimbing anak-anak muda belajar bahasa sanskerta. Pesan yang terkandung dalam manuskrip tersebut diharapkan tetap dimengerti dan dipahami sebagai warisan sejarah dan budaya. ”Saya bersama teman-teman berupaya memotivasi generasi muda supaya ikut melestarikan apa yang ada di dalam manuskrip,” ujarnya saat akan mengisi Pekan Ngaji 4.

Tim Digital Repository of Endangered Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) Abdullah Maulani menjelaskan, manuskrip salah satu benda literasi masa lalu yang sarat kandungan ilmu pengetahuan dan wasiat leluhur. Manuskrip itu harus dilestarikan dan dijaga agar tidak mudah rusak.

Baca Juga :  Belajar Filsafat kepada KH. Syarqawi Dhofir (1)

”Sayangnya, banyak masyarakat yang memiliki manuskrip tidak dirawat dan dibiarkan rusak,” terangnya.

Menurut dia, ada dua cara merawat manuskrip tersebut. Yakni, perawatan fisik dan teks. Untuk tahap pertama, bisa menggunakan cara alami. Misalnya dengan menaburkan cengkih di penyimpanan manuskrip. Atau dengan minyak serai wangi sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan naskah.

Dengan cara itu, naskah kuno bisa terhindar dari serangga, rayap, dan mikroba yang mengganggu kertas. ”Itu cara fisik” terangnya. Ada pun perawatan teks, dengan cara digitalisasi. Teknik digitalisasi naskah kuno, baik fisik maupun teksnya didokumentasikan melaui foto. Pemotretan  itu sendiri ada kaidah-kaidah tertentu yang bisa digunakan. ”Satu potretan harus satu halaman,” tegasnya.

Pemotretan itu, selain upaya menyelamatkan teks kandungan naskah kuno, juga bisa memberikan akses yang terbuka. Masyarakat bisa mengakses konten pada naskah itu melalui laman internet. ”Bisa dijadikan bahan diskusi dan referensi untuk penulisan karya ilmiah mengenai kajian terdahulu,” terangnya.

Pihaknya bersama pemerhati manuskrip di Madura akan melakukan digitalisasi naskah kuno di Pulau Garam. ”Masyarakat bisa ikut serta dengan srarat menyerahkan manuskripnya dan hasil digitalisasinya juga akan dikembalikan,” tukasnya.

Banyak kandungan ilmu pengetahuan dan wasiat leluhur yang tercantum dalam manuskrip. Namun, banyak generasi muda yang tidak mampu membacanya. Fakta ini menjadi kegelisahan para pelestari manuskrip.

**************

SEJUMLAH pelestari manuskrip berkumpul di aula Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) Pamekasan, Minggu malam (13/1). Mereka membaca kitab-kitab kuno berbahasa Jawa. Lembar demi lembar mereka cermati secara saksama.


Di antara mereka ada yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat, Madura. Antara lain, Pendiri Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Indramayu Ki Tarka Sutarahardja, Ketua Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Ray Mengku Sutentra, Divisi Seni Tradisi Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Rawin Rahardjo, Data Converter-Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA)/Litbang Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Abdullah Maulani.

Selain itu, mereka ditemani K Hamid keturunan Agung Raba dan Sahin, santri Pondok Pesantren Muba. Juga ada yang dari kalangan akademisi. Malam itu mereka melakukan kajian serius tentang peninggalan keilmuan tempo dulu. Baik berkenaan dengan pesan dan khas penulisan manuskrip.

Pendiri Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Indramayu Ki Tarka Sutarahardja mengungkapkan, warisan intelektual leluhur sangat banyak dituangkan dalam manuskrip. Karena itu, sangat perlu diketahui oleh generasi muda saat ini.

Sayang, kata dia, para generasi muda sudah banyak yang tidak mengenalnya lagi. Bahkan, enggan untuk mempelajari. Padahal dalam manuskrip itu ada ajaran tentang tasawuf, fikih, Alquran, nahwu, sejarah, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Ketika Petani, Prajurit TNI, dan Akademisi Peduli Lingkungan Pesisir

”Zaman dahulu mereka memahaminya lewat naskah. Naskah kuno merupakan jendela masa lalu,” terang Ki Tarka Sutarahardja.

Dia mengajak anak muda kembali mengenal warisan tulisan leluhur. Jangan sampai hilang dan musnah. Generasi masa kini harus belajar cara penulisan dan kosakatanya. ”Jangan sampai paham tradisi orang lain, sementara kita tidak mengenal warisan bangsa sendiri,” terangnya.

Ki Tarka Sutarahardja menjelaskan, dalam manuskrip itu banyak ditemukan menggunakan bahasa Jawa. Beberapa manuskrip yang ditemuinya, seperti di Balikpapan, Jambi, Lombok, dan Madura menggunakan bahasa Jawa. Hanya beda dalam pengucapan.

”Banyak kosakata yang digunakan masyarakat Madura juga digunakan oleh kami di Indramayu,” terangnya.

Karena itu, dia siap membimbing anak-anak muda belajar bahasa sanskerta. Pesan yang terkandung dalam manuskrip tersebut diharapkan tetap dimengerti dan dipahami sebagai warisan sejarah dan budaya. ”Saya bersama teman-teman berupaya memotivasi generasi muda supaya ikut melestarikan apa yang ada di dalam manuskrip,” ujarnya saat akan mengisi Pekan Ngaji 4.

Tim Digital Repository of Endangered Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) Abdullah Maulani menjelaskan, manuskrip salah satu benda literasi masa lalu yang sarat kandungan ilmu pengetahuan dan wasiat leluhur. Manuskrip itu harus dilestarikan dan dijaga agar tidak mudah rusak.

Baca Juga :  Jalan-Jalan┬áke Museum Mandhilaras setelah Tujuh Tahun Diresmikan

”Sayangnya, banyak masyarakat yang memiliki manuskrip tidak dirawat dan dibiarkan rusak,” terangnya.

Menurut dia, ada dua cara merawat manuskrip tersebut. Yakni, perawatan fisik dan teks. Untuk tahap pertama, bisa menggunakan cara alami. Misalnya dengan menaburkan cengkih di penyimpanan manuskrip. Atau dengan minyak serai wangi sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan naskah.

Dengan cara itu, naskah kuno bisa terhindar dari serangga, rayap, dan mikroba yang mengganggu kertas. ”Itu cara fisik” terangnya. Ada pun perawatan teks, dengan cara digitalisasi. Teknik digitalisasi naskah kuno, baik fisik maupun teksnya didokumentasikan melaui foto. Pemotretan  itu sendiri ada kaidah-kaidah tertentu yang bisa digunakan. ”Satu potretan harus satu halaman,” tegasnya.

Pemotretan itu, selain upaya menyelamatkan teks kandungan naskah kuno, juga bisa memberikan akses yang terbuka. Masyarakat bisa mengakses konten pada naskah itu melalui laman internet. ”Bisa dijadikan bahan diskusi dan referensi untuk penulisan karya ilmiah mengenai kajian terdahulu,” terangnya.

Pihaknya bersama pemerhati manuskrip di Madura akan melakukan digitalisasi naskah kuno di Pulau Garam. ”Masyarakat bisa ikut serta dengan srarat menyerahkan manuskripnya dan hasil digitalisasinya juga akan dikembalikan,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/