alexametrics
24.3 C
Madura
Saturday, May 28, 2022

Budaya Karja Menurut Kacamata Budayawan Madura

Kekayaan tradisi dan budaya di Pulau Madura sangat beragam. Bukan hanya karapan sapi, melainkan budaya karja juga cukup kesohor di Pulau Garam. Karja merupakan budaya yang erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Madura dalam merayakan acara resepsi pernikahan. Salah satu budayawan Madura menilai ada pergeseran nilai pada budaya karja.

 

MOH. BUSRI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

 

FALSAFAH song-osong lombung (mengusung lumbung) mengandung nilai gotong royong khas masyarakat Madura. Termasuk dalam karja. Budaya tersebut, selain sebagai tasyakuran pernikahan, juga mengusung semangat untuk mempererat kekeluargaan.

Budaya karja punya nilai filosofis tersendiri bagi masyarakat Madura. Tuan rumah alias pemilik hajatan akan berkunjung dan silaturahmi ke setiap rumah kerabatnya untuk pamit dan meminta dukungan. Hal itu dilakukan jauh-jauh hari, yakni sekitar satu bulan sebelum acara.

Betapa kuatnya emosional masyarakat Madura dalam menjaga ikatan kekeluargaan. Biasanya, satu minggu menjelang perayaan, kerabat dekat akan berkumpul di rumah pemilik hajatan untuk mengaji dan doa bersama.

Seluruh persiapan dilakukan secara gotong royong, tanpa mengharap imbalan apa pun. Tetangga berikut dengan sanak saudara akan guyub memberikan bantuan. Mulai dari pendirian terop (tenda besar untuk tamu), dapur acara, sampai pengolahan rempah makanan yang akan dihidangkan.

Baca Juga :  Letkol Inf Nur Cholis Pegang Tongkat Komando Distrik Militer Sumenep

Akhir-akhir ini, budaya itu mulai mengalami pergeseran nilai. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu budayawan Madura, Moh. Fauzi, 43, asal Desa Kacongan, Kecamatan/Kota Sumenep. Menurut dia, gotong royong dalam perayaan karja sudah mulai terkikis akibat pesatnya teknologi.

Budaya memang bersifat dinamis. Perubahan pasti terjadi di dalamnya. Hanya, nilai positif yang terkandung tetap wajib dipertahankan. ”Artinya, kita tidak bisa bertahan dengan yang lama,” ungkapnya, Rabu (15/12).

Kata Fauzi, pakaian adat Madura selalu dikenakan dalam perayaan karja. Terlebih bagi pengantin yang memang sengaja berhias diri layaknya seorang raja dan ratu. Saat ini, semua itu sudah sangat jarang ditemukan. Namun, hal itu tidak terlalu fatal. Karena inovasi yang dilakukan bisa membawa pada arah yang lebih baik. ”Motifnya masih sama, hanya model yang mengalami pergeseran,” imbuhnya.

Pada perayaan karja, kerabat dan tetangga akan memberi berbagai bentuk sumbangan. Bisa berupa beras, gula, uang, bahkan juga kebutuhan nonmateriel. Hal inilah yang perlu dijaga sebagai penguat ikatan tali persaudaraan.

Perlahan, hal itu seakan berubah jadi bisnis. Masyarakat mulai berlomba-lomba untuk memberikan sumbangan dengan nominal yang besar. Menurut dia, ada salah satu pihak yang berpotensi akan dirugikan. ”Kalau hari ini menyumbang beras satu karung seharga Rp 100 ribu, maka 10 tahun kemudian harga tersebut bisa sebanding dengan 3 karung beras saat ini. Jadi itu akan memberatkan anak-anak kita nanti,” jelas Fauzi.

Baca Juga :  Geger Pencurian Barang Berharga Janda Tua di Pulau Poteran

Selain itu, akibat perkembangan teknologi, kebutuhan menjadi serbainstan. Sehingga, segala yang diinginkan sudah dapat diatasi dengan mudah. Seperti penyewaan tenda, dapur, hingga yang lain.  Asalkan, memiliki biaya yang cukup. Namun, semua itu akan mengikis nilai-nilai gotong royong. ”Boleh menyewa namun penerapan gotong royong tetap dipertahankan,” tuturnya.

Pergeseran budaya tersebut, menurut Fauzi perlu disikapi secara arif. Bukan lantas harus ditiadakan. Namun, aktualisasi nilai yang terkandung perlu dipilah sebaik mungkin agar tidak merugikan sebelah pihak.

”Masyarakat perlu sadar bahwa substansi budaya karja ini adalah menanamkan nilai gotong royong. Itu yang perlu dijaga. Sementara untuk sumbangan, silakan cukup berikan ala kadarnya sesuai kemampuan. Dengan begitu, pergeseran ini tidak menggiring kita pada nilai-nilai sosial yang kurang baik,” tandasnya.

 

Kekayaan tradisi dan budaya di Pulau Madura sangat beragam. Bukan hanya karapan sapi, melainkan budaya karja juga cukup kesohor di Pulau Garam. Karja merupakan budaya yang erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Madura dalam merayakan acara resepsi pernikahan. Salah satu budayawan Madura menilai ada pergeseran nilai pada budaya karja.

 

MOH. BUSRI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura


 

FALSAFAH song-osong lombung (mengusung lumbung) mengandung nilai gotong royong khas masyarakat Madura. Termasuk dalam karja. Budaya tersebut, selain sebagai tasyakuran pernikahan, juga mengusung semangat untuk mempererat kekeluargaan.

Budaya karja punya nilai filosofis tersendiri bagi masyarakat Madura. Tuan rumah alias pemilik hajatan akan berkunjung dan silaturahmi ke setiap rumah kerabatnya untuk pamit dan meminta dukungan. Hal itu dilakukan jauh-jauh hari, yakni sekitar satu bulan sebelum acara.

Betapa kuatnya emosional masyarakat Madura dalam menjaga ikatan kekeluargaan. Biasanya, satu minggu menjelang perayaan, kerabat dekat akan berkumpul di rumah pemilik hajatan untuk mengaji dan doa bersama.

Seluruh persiapan dilakukan secara gotong royong, tanpa mengharap imbalan apa pun. Tetangga berikut dengan sanak saudara akan guyub memberikan bantuan. Mulai dari pendirian terop (tenda besar untuk tamu), dapur acara, sampai pengolahan rempah makanan yang akan dihidangkan.

Baca Juga :  Fotografer Andal, Sejarawan dan Budayawan Madura

Akhir-akhir ini, budaya itu mulai mengalami pergeseran nilai. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu budayawan Madura, Moh. Fauzi, 43, asal Desa Kacongan, Kecamatan/Kota Sumenep. Menurut dia, gotong royong dalam perayaan karja sudah mulai terkikis akibat pesatnya teknologi.

Budaya memang bersifat dinamis. Perubahan pasti terjadi di dalamnya. Hanya, nilai positif yang terkandung tetap wajib dipertahankan. ”Artinya, kita tidak bisa bertahan dengan yang lama,” ungkapnya, Rabu (15/12).

Kata Fauzi, pakaian adat Madura selalu dikenakan dalam perayaan karja. Terlebih bagi pengantin yang memang sengaja berhias diri layaknya seorang raja dan ratu. Saat ini, semua itu sudah sangat jarang ditemukan. Namun, hal itu tidak terlalu fatal. Karena inovasi yang dilakukan bisa membawa pada arah yang lebih baik. ”Motifnya masih sama, hanya model yang mengalami pergeseran,” imbuhnya.

Pada perayaan karja, kerabat dan tetangga akan memberi berbagai bentuk sumbangan. Bisa berupa beras, gula, uang, bahkan juga kebutuhan nonmateriel. Hal inilah yang perlu dijaga sebagai penguat ikatan tali persaudaraan.

Perlahan, hal itu seakan berubah jadi bisnis. Masyarakat mulai berlomba-lomba untuk memberikan sumbangan dengan nominal yang besar. Menurut dia, ada salah satu pihak yang berpotensi akan dirugikan. ”Kalau hari ini menyumbang beras satu karung seharga Rp 100 ribu, maka 10 tahun kemudian harga tersebut bisa sebanding dengan 3 karung beras saat ini. Jadi itu akan memberatkan anak-anak kita nanti,” jelas Fauzi.

Baca Juga :  Angkat Ekonomi Umat, ACT-Global Wakaf dan PMI Dea Malela Dirikan Ritel

Selain itu, akibat perkembangan teknologi, kebutuhan menjadi serbainstan. Sehingga, segala yang diinginkan sudah dapat diatasi dengan mudah. Seperti penyewaan tenda, dapur, hingga yang lain.  Asalkan, memiliki biaya yang cukup. Namun, semua itu akan mengikis nilai-nilai gotong royong. ”Boleh menyewa namun penerapan gotong royong tetap dipertahankan,” tuturnya.

Pergeseran budaya tersebut, menurut Fauzi perlu disikapi secara arif. Bukan lantas harus ditiadakan. Namun, aktualisasi nilai yang terkandung perlu dipilah sebaik mungkin agar tidak merugikan sebelah pihak.

”Masyarakat perlu sadar bahwa substansi budaya karja ini adalah menanamkan nilai gotong royong. Itu yang perlu dijaga. Sementara untuk sumbangan, silakan cukup berikan ala kadarnya sesuai kemampuan. Dengan begitu, pergeseran ini tidak menggiring kita pada nilai-nilai sosial yang kurang baik,” tandasnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/