alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Pilihan Pertama Adalah Eropa

”Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.” (Paulo Coelho dalam Sang Alkemis)

 

PEKAN lalu, secara tidak sengaja saya membaca postingan Mas Lukman di Facebook. Ia membagikan cerita putra Madura yang berkuliah di Jerman. Dari situlah saya mencoba membagikan cerita serupa.

Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi kisah bagaimana di tengah masa-masa sulit seperti pandemi hari ini, Allah SWT mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Nama saya Badrul Arifin. Saya baru tiba di tanah air setelah menyelesaikan studi master saya di Korea Development Institute School of Public Policy and Management dengan predikat cum laude.

Usia saya 26 tahun. Saya dilahirkan di Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Sumenep. Meskipun saya dilahirkan di tradisi pesantren yang kuat, dan semua saudara saya mengecap pendidikan di pesantren, saya justru dikirim ke kota untuk mengecap pendidikan umum. Selama bersekolah di Kota Sumenep, saya menghabiskan studi saya di sekolah yang terbilang favorit di Kota Keris.

Saya adalah alumnus SMPN 1 dan SMAN 1 Sumenep. Selama bersekolah, saya adalah tipe siswa yang malas, tidak spesial-spesial amat, dan cenderung nakal.

Baca Juga :  Peran Organisasi Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (1)

Meskipun begitu, nasib baik selalu mengelilingi saya. Setelah lulus dari SMAN 1 Sumenep, saya diterima di salah satu kampus terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Di kampus Pak Jokowi ini saya mengambil jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di sana saya aktif di Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama, PMII, dan pernah menjabat sebagai Pimpinan Dewan Mahasiswa Fisipol. Pada 2018, saya diwisuda dengan predikat cum laude.

Di kampus biru inilah saya terinsipirasi untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Mengingat banyak senior saya yang dengan mudahnya diterima di kampus luar negeri.

Awalnya, Korea bukan pilihan saya. Pilihan pertama saya adalah Eropa, dan yang kedua adalah Australia. Sayangnya rencana saya tidak berjalan mulus. Selain karena minimnya persiapan dan minimnya pengalaman kerja, saya pun tidak diterima di sana.

Salah satu dosen saya merekomendasikan saya untuk berkuliah di Korea. Saya pun mengiyakan saran itu. Akan tetapi, nasib baik belum berpihak, saya ditolak. Alasannya sama, saya belum punya pengalaman kerja yang cukup, utamanya di sektor publik. Saya pun sempat merasa frustasi karena merasa tidak punya kapabilitas yang cukup untuk melanjutkan studi S-2 ke luar negeri.

Baca Juga :  Ketika Guru Harus Bersiasat Ditengah Pandemi

Sambil menunggu pembukaan batch selanjutnya, saya diterima untuk menjadi pegawai non-PNS di Bappenas. Di sana saya mendapat banyak ilmu dan relasi yang mendorong saya untuk tidak menyerah mengejar impian saya berkuliah S-2 di luar negeri.

Berbekal surat rekomendasi dari direktur dan dosen pembimbing selama berkuliah di UGM, saya memberanikan diri untuk kali kedua mendaftar ke universitas yang sama. Tiga bulan sebelum pembukaan untuk batch baru, tepatnya akhir 2019, saya memutuskan resign dari Bappenas, dan memilih pergi ke kampung inggris di Pare untuk memantapkan kemampuan bahasa Inggris saya.

Selain berikhtiar, saya tak lupa meminta restu kedua orang tua agar senantiasa mendoakan agar impian bisa terwujud. Saya bersyukur punya orang tua yang cukup suportif. Beberapa minggu sebelum pengumuman, mereka tak henti-hentinya berpuasa dan beribadah demi kesuksesan saya.

Kesungguhan dan doa dari keluarga saya pun terbayar lunas. Pada Juni 2020 saya mendapat kabar baik, saya diterima di Korea Development Institute dengan full beasiswa dari Hyundai Fondation. Saya terdaftar sebagai mahasiswa di jurusan Master of Public Management. 

- Advertisement -

”Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.” (Paulo Coelho dalam Sang Alkemis)

 

PEKAN lalu, secara tidak sengaja saya membaca postingan Mas Lukman di Facebook. Ia membagikan cerita putra Madura yang berkuliah di Jerman. Dari situlah saya mencoba membagikan cerita serupa.


Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi kisah bagaimana di tengah masa-masa sulit seperti pandemi hari ini, Allah SWT mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Nama saya Badrul Arifin. Saya baru tiba di tanah air setelah menyelesaikan studi master saya di Korea Development Institute School of Public Policy and Management dengan predikat cum laude.

Usia saya 26 tahun. Saya dilahirkan di Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Sumenep. Meskipun saya dilahirkan di tradisi pesantren yang kuat, dan semua saudara saya mengecap pendidikan di pesantren, saya justru dikirim ke kota untuk mengecap pendidikan umum. Selama bersekolah di Kota Sumenep, saya menghabiskan studi saya di sekolah yang terbilang favorit di Kota Keris.

Saya adalah alumnus SMPN 1 dan SMAN 1 Sumenep. Selama bersekolah, saya adalah tipe siswa yang malas, tidak spesial-spesial amat, dan cenderung nakal.

Baca Juga :  Jamaah Haji Madura Bertolak ke Makkah

Meskipun begitu, nasib baik selalu mengelilingi saya. Setelah lulus dari SMAN 1 Sumenep, saya diterima di salah satu kampus terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Di kampus Pak Jokowi ini saya mengambil jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di sana saya aktif di Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama, PMII, dan pernah menjabat sebagai Pimpinan Dewan Mahasiswa Fisipol. Pada 2018, saya diwisuda dengan predikat cum laude.

Di kampus biru inilah saya terinsipirasi untuk melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Mengingat banyak senior saya yang dengan mudahnya diterima di kampus luar negeri.

Awalnya, Korea bukan pilihan saya. Pilihan pertama saya adalah Eropa, dan yang kedua adalah Australia. Sayangnya rencana saya tidak berjalan mulus. Selain karena minimnya persiapan dan minimnya pengalaman kerja, saya pun tidak diterima di sana.

Salah satu dosen saya merekomendasikan saya untuk berkuliah di Korea. Saya pun mengiyakan saran itu. Akan tetapi, nasib baik belum berpihak, saya ditolak. Alasannya sama, saya belum punya pengalaman kerja yang cukup, utamanya di sektor publik. Saya pun sempat merasa frustasi karena merasa tidak punya kapabilitas yang cukup untuk melanjutkan studi S-2 ke luar negeri.

Baca Juga :  SMAN 3 Bangkalan Raih Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri

Sambil menunggu pembukaan batch selanjutnya, saya diterima untuk menjadi pegawai non-PNS di Bappenas. Di sana saya mendapat banyak ilmu dan relasi yang mendorong saya untuk tidak menyerah mengejar impian saya berkuliah S-2 di luar negeri.

Berbekal surat rekomendasi dari direktur dan dosen pembimbing selama berkuliah di UGM, saya memberanikan diri untuk kali kedua mendaftar ke universitas yang sama. Tiga bulan sebelum pembukaan untuk batch baru, tepatnya akhir 2019, saya memutuskan resign dari Bappenas, dan memilih pergi ke kampung inggris di Pare untuk memantapkan kemampuan bahasa Inggris saya.

Selain berikhtiar, saya tak lupa meminta restu kedua orang tua agar senantiasa mendoakan agar impian bisa terwujud. Saya bersyukur punya orang tua yang cukup suportif. Beberapa minggu sebelum pengumuman, mereka tak henti-hentinya berpuasa dan beribadah demi kesuksesan saya.

Kesungguhan dan doa dari keluarga saya pun terbayar lunas. Pada Juni 2020 saya mendapat kabar baik, saya diterima di Korea Development Institute dengan full beasiswa dari Hyundai Fondation. Saya terdaftar sebagai mahasiswa di jurusan Master of Public Management. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/