alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Relawan Kemanusiaan Bantu Operasi Balita Penderita Bibir Sumbing

Tidak ada satu orang tua yang tidak bahagia melihat anaknya sembuh. Setiap doa yang dipanjatkan hanya untuk buah hati. Doa itu terkabul melalui tangan relawan.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

FAJAR telat terbit. Azan sudah berkumandang. Sesaat lagi matahari akan menampakkan wajahnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.00 saat ambulans Cahaya Ummat menuju Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, kemarin (15/9). Kendaraan ini menuju rumah Jamaluddin dan Sulaiha. Kendaraan ini akan menjemput buah hati mereka, Moch. Zainol Arifin, 2, untuk dioperasi.

Perjalanan dari Kota Pamekasan menuju rumah Zainol membutuhkan waktu 30 menit dengan kecepatan sedang. Setibanya di rumah, Jamaluddin dan istri sudah siap untuk berangkat. Sementara anggota keluarga dan kerabat yang lain mengiringi mereka dengan doa atas kesembuhan Zainol.

Dari Desa Akkor, tim Cahaya Ummat berbalik ke arah kota. Lalu, bergerak menuju kediaman Aisyah, 1, buah hati pasangan Abdurrahman dan Asma Leni. Rumahnya memang sejalur dengan arah pemberangkatan menuju RS Eka Husada, Gresik, tepatnya di Desa/Kecamatan Tlanakan.

Perjalanan dari Pamekasan menuju rumah sakit membutuhkan waktu kurang lebih tiga hingga empat jam menggunakan ambulans. Setibanya di rumah sakit, kedua bayi di bawah lima tahun (balita) itu langsung menuju ruang operasi didampingi para relawan. Sesaat kemudian, selang infus dipasangkan kepada Zainol dan Aisyah.

Baca Juga :  Menikmati Sensasi Ketinggian di Tempat Wisata Bukit Puncak Ratu

Feri Perdana Putra, relawan kemanusiaan yang menemani keluarga pasien bibir sumbing mengatakan, kegiatan ini bertujuan memberikan sedikit kebahagiaan kepada mereka. ”Senyuman mereka adalah hadiah manis bagi orang tua, sanak saudara, dan kita yang bergerak dalam kegiatan sosial,” terangnya.

Dia sadar betul bahwa penderita bibir sumbing akan mengalami kesulitan dalam kemampuan berbicara, bernapas, dan mengonsumsi makanan. Dengan kegiatan amal ini diharapkan bisa mengurangi penderitaan masing-masing balita.

Mereka yang dilakukan operasi bibir sumbing telah diperiksa terlebih dahulu. Syaratnya, penderita bibir sumbing sudah memasuki usia sepuluh bulan atau lebih dengan berat badan minimal 10 kilogram. Selain itu, tidak ada satu pun penyakit penyerta.

Bibir sumbing termasuk salah satu dari beberapa jenis gangguan fisik bayi sejak lahir. Umumnya, kondisi seperti ini bisa disembuhkan dengan cara operasi di antara celah bibir dan hidung.

Baca Juga :  Jamaah Haji Asal Sumenep Dibekali APD

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Asma Leni bersyukur atas bantuan dari semua pihak yang telah ikut andil dalam operasi anaknya. Tidak ada kalimat lain yang dia sampaikan selain ucapan terima kasih.

Hal senada juga disampaikan ayah Zainol, Jamaluddin. Dia bersyukur tidak ada biaya satu rupiah pun yang dia keluarkan. Dia tidak mengeluarkan biaya operasi anaknya, transportasi maupun kebutuhan lain selama berada di rumah sakit.

”Saya bisa merasakan sendiri, anak saya Moch. Zainol Arifin mulai dari operasi bibir, langit-langit, dan hidung semuanya gratis. Hanya dengan membawa KTP dan KK untuk administrasinya,” ulasnya.

Jamal menambahkan, tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang tidak bahagia melihat anaknya sembuh. Setiap doa yang dipanjatkan hanya untuk buah hati agar suatu hari bisa hidup normal sebagaimana teman sebayanya.

”Saya merasa bahagia anak saya bisa kembali tersenyum seperti anak-anak pada umumnya, meski belum sepenuhnya sembuh,” ungkapnya dengan suara lirih melalui sambungan telepon.

Tidak ada satu orang tua yang tidak bahagia melihat anaknya sembuh. Setiap doa yang dipanjatkan hanya untuk buah hati. Doa itu terkabul melalui tangan relawan.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

FAJAR telat terbit. Azan sudah berkumandang. Sesaat lagi matahari akan menampakkan wajahnya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.00 saat ambulans Cahaya Ummat menuju Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, kemarin (15/9). Kendaraan ini menuju rumah Jamaluddin dan Sulaiha. Kendaraan ini akan menjemput buah hati mereka, Moch. Zainol Arifin, 2, untuk dioperasi.

Perjalanan dari Kota Pamekasan menuju rumah Zainol membutuhkan waktu 30 menit dengan kecepatan sedang. Setibanya di rumah, Jamaluddin dan istri sudah siap untuk berangkat. Sementara anggota keluarga dan kerabat yang lain mengiringi mereka dengan doa atas kesembuhan Zainol.

Dari Desa Akkor, tim Cahaya Ummat berbalik ke arah kota. Lalu, bergerak menuju kediaman Aisyah, 1, buah hati pasangan Abdurrahman dan Asma Leni. Rumahnya memang sejalur dengan arah pemberangkatan menuju RS Eka Husada, Gresik, tepatnya di Desa/Kecamatan Tlanakan.

Perjalanan dari Pamekasan menuju rumah sakit membutuhkan waktu kurang lebih tiga hingga empat jam menggunakan ambulans. Setibanya di rumah sakit, kedua bayi di bawah lima tahun (balita) itu langsung menuju ruang operasi didampingi para relawan. Sesaat kemudian, selang infus dipasangkan kepada Zainol dan Aisyah.

Baca Juga :  Syarat Kelulusan Siswa Harus Hafal Juz Amma

Feri Perdana Putra, relawan kemanusiaan yang menemani keluarga pasien bibir sumbing mengatakan, kegiatan ini bertujuan memberikan sedikit kebahagiaan kepada mereka. ”Senyuman mereka adalah hadiah manis bagi orang tua, sanak saudara, dan kita yang bergerak dalam kegiatan sosial,” terangnya.

Dia sadar betul bahwa penderita bibir sumbing akan mengalami kesulitan dalam kemampuan berbicara, bernapas, dan mengonsumsi makanan. Dengan kegiatan amal ini diharapkan bisa mengurangi penderitaan masing-masing balita.

Mereka yang dilakukan operasi bibir sumbing telah diperiksa terlebih dahulu. Syaratnya, penderita bibir sumbing sudah memasuki usia sepuluh bulan atau lebih dengan berat badan minimal 10 kilogram. Selain itu, tidak ada satu pun penyakit penyerta.

Bibir sumbing termasuk salah satu dari beberapa jenis gangguan fisik bayi sejak lahir. Umumnya, kondisi seperti ini bisa disembuhkan dengan cara operasi di antara celah bibir dan hidung.

Baca Juga :  Sri Rahayu Ningsih, Penderita Kelainan Jantung

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Asma Leni bersyukur atas bantuan dari semua pihak yang telah ikut andil dalam operasi anaknya. Tidak ada kalimat lain yang dia sampaikan selain ucapan terima kasih.

Hal senada juga disampaikan ayah Zainol, Jamaluddin. Dia bersyukur tidak ada biaya satu rupiah pun yang dia keluarkan. Dia tidak mengeluarkan biaya operasi anaknya, transportasi maupun kebutuhan lain selama berada di rumah sakit.

”Saya bisa merasakan sendiri, anak saya Moch. Zainol Arifin mulai dari operasi bibir, langit-langit, dan hidung semuanya gratis. Hanya dengan membawa KTP dan KK untuk administrasinya,” ulasnya.

Jamal menambahkan, tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang tidak bahagia melihat anaknya sembuh. Setiap doa yang dipanjatkan hanya untuk buah hati agar suatu hari bisa hidup normal sebagaimana teman sebayanya.

”Saya merasa bahagia anak saya bisa kembali tersenyum seperti anak-anak pada umumnya, meski belum sepenuhnya sembuh,” ungkapnya dengan suara lirih melalui sambungan telepon.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/