alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, June 25, 2022

Santri Annuqayah Juara Festival Bahasa Arab Internasional

SUMENEP – Jarum  jam baru bergeser ke titik 11.15. Matahari cukup terik siang Sabtu (15/9). Puluhan mahasiswa sedang duduk santai di bawah pohon-pohon peneduh di depan kampus Institut Ilmu Keislaman Annuayah (Instika) puTri Guluk-Guluk, Sumenep. Jeda istirahat antara satu mata kuliah diisi dengan bincang-bincang santai.

Mahasiswa perguruan tinggi di pesantren tidak bisa dianaktirikan. Dalam hal prestasi, mereka bisa lebih tinggi dari kampus-kampus besar. Seperti mahasiswa Instika Guluk-Guluk yang menyabet juara umum nasional dan juara dua internasional Festival Bahasa Arab.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut Wakil Rektor Instika KH Mohammad Hosnan. Koran ini kemudian dipersilakan masuk ke ruang dosen. Hosnan lalu meminta Ira Nahdiyah, dosen pendamping lomba, memanggil para mahasiswa yang baru meraih prestasi di UIN Sunan Kalijaga.

Butuh waktu cukup lama untuk bisa wawancara dengan para santri. Sebab siang kemarin mereka sedang berada di pondok masing-masing. Apalagi mereka tidak hanya dari satu daerah di Pondok Pesantren Annuqayah. Ada yang dari Latee 2, ada pula dari Lubangsa Putri.

Setelah sempat menunggu cukup lama, tiga mahasiswa putri datang. Lengkap dengan jas almamater, piagam penghargaan, dan medali. Mereka adalah Fitriyah, Nur Diana, dan Aminatul Kamilah. Ketiganya merupakan tim debat dari Instika yang menjadi juara dua Festival Bahasa Arab internasional di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta pada 1912 September 2018.

”Di final kami kalah melawan tim A Universiti Sains Islam Malaysia (USIM),” kata Aminatul Kamilah. Juara kedua diraih tim B USIM. ”Setelah penobatan juara, kami merasa sedih karena ada di nomor dua. Tapi setelah kami renungkan kembali, kami tetap bahagia karena bisa mengalahkan kampus-kampus besar di Indonesia,” tegasnya.

Ketiga peserta debat bahasa Arab ini berasal dari daerah berbeda. Bahkan jurusan kuliah di Instika juga tidak sama. Fitriyah berasal dari Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng. Perempuan kelahiran 21 Mei 1998 itu saat ini duduk di semester V. Jurusan hukum ekonomi syariah.

Baca Juga :  Utamakan Keselamatan, Dua Kali Batalkan Pemberangkatan CJH

Sedang Nur Diana lahir di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, pada 25 Mei 1998. Penyuka bahasa Arab sejak madrasah ibtidaiyah (MI) ini sedang semester V jurusan pendidikan bahasa Arab (PBA). Sedangkan Aminatul Kamilia lahir di Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, 20 Januari 1998. Dia sedang semester V jurusan pendidikan agama Islam (PAI).

Beruntung ketiganya disatukan dalam satu kamar di Raudlah Al-Lughah Al-Arabiyah Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee 2. ”Kalau sedang di kamar kami wajib berbahasa Arab selama 24 jam,” tuturnya.

Sebelum mengikuti lomba di UIN Sunan Kalijaga, ketiganya memang sudah langganan juara. Karena itu, tak heran mereka bisa bersaing dengan peserta lain dari seluruh Indonesia. Apalagi sudah terbiasa dengan debat bahasa Arab tingkat nasional.

Hanya, mereka merasa sedikit ciut manakala harus bertanding di level internasional. Terlebih pada babak penyisihan langsung bertanding melawan Tim B dari USIM. Bahkan di babak penyisihan dirinya sempat gerogi. ”Sempat minder,” ucap Aminatul Kamilah.

Saat melawan Tim B USIM di babak penyisihan grup, tim Instika sempat kalah dengan skor 1-2. Mereka mengaku hampir putus asa. Dengan meminta sambungan doa dari teman-teman santri di pondok, masyaikh, dan dosen Instika, mereka kembali bangkit.

Dukungan doa itu berbuah manis. Mereka bisa menang dari seluruh fase tersisa. Mereka mampu menang melawan tim dari UIN Maulana Maliki Malang dan IDIA Prenduan di babak penyisihan grup.

Di babak delapan besar, mereka mengalahkan delegasi dari IDIA Putra. Kemudian di semifinal kembali mengalahkan delegasi PBA UIN Maulana Maliki Malang. Masuklah mereka pada babak final menghadapi tim A USIM.

Menghadapi tim dari negeri Upin-Upin membuat mereka kembali minder. Apalagi mereka mengetahui bahwa lawannya langganan juara debat bahasa Arab tingkat ASEAN. Mereka juga punya pengalaman kalah dengan tim B USIM di babak penyisihan grup.

Tema debat yang diangkat di final yakni terkait Asian Games. Secara materi, tim dari Instika jauh lebih menguasai. Tetapi dari segi mental dan kelancaran bahasa, mereka mengaku kalah. ”Mereka sangat lancar berbahasa Arab. Sedang kami kadang masih terbawa dengan lahjah (dialek, Red) Madura. Itu juga mungkin yang menjadi pertimbangan para juri,” tegasnya.

Baca Juga :  Puisi Anisa Aryan

Festival bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga ini terbagi dua kategori. Yakni, kategori antarkampus dan antarpondok pesantren. Dari kategori antarpondok pesantren, Annuqayah keluar sebagai juara umum.

Hal itu setelah santri Annuqayah yang juga sedang kuliah di Instika meraih juara 1 di tiga lomba. Pertama, juara I lomba Musabaqah Qira’atil Kitab Ibnu Aqil diraih Annatul Jamil. Saat ini semester semester V jurusan PAI.  Kedua, juara I lomba baca puisi bahasa Arab diraih Siti Zakiah Aji. Mahasiswa jurusan PBA semester VII. Ketiga, juara I lomba eksebisi nadzam alfiyah.

Lomba eksebisi nadzam alfiyah ini diikuti tim yang terdiri dari lima orang. Yakni, Uzlifatul Biladina, jurusan PBA semester IX; Zahratun, jurusan Ilmu Quran Tafsir semester V; Sohihah, jurusan PAI semester V; Nailatur Rafi’ah, jurusan Ahlaq Tasawuf semester VII; dan Atiqah El Shabah, semester III FEBI.

Rektor Instika KH Abbadi Ishomuddin mengaku bangga atas capaian yang diraih anak didiknya. Prestasi kali ini merupakan kali ke sekian di level nasional. Prestasi-prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa perguruan tinggi berbasis pesantren memiliki nilai lebih.

”Dengan demikian, kultur akademiknya itu sangat dipengaruhi oleh pesantren atau saling menunjang,” katanya. ”Di samping itu, ada kerja sama antara Instika dengan pesantren, khususnya dengan markaz bahasa Arab. Kemudian mereka yang punya potensi itu kita latih,” tegasnya.

Awalnya, Festival Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga berskala nasional. Namun khusus lomba debat bahasa Arab menjadi festival internasional. Sebab ada delegasi Malaysia yang turut serta menjadi peserta. ”Karena Malaysia ingin ikut serta, maka secara otomatis lomba ini berskala ASEAN,” jelas salah satu juri debat bahasa Arab Zainurridha. 

SUMENEP – Jarum  jam baru bergeser ke titik 11.15. Matahari cukup terik siang Sabtu (15/9). Puluhan mahasiswa sedang duduk santai di bawah pohon-pohon peneduh di depan kampus Institut Ilmu Keislaman Annuayah (Instika) puTri Guluk-Guluk, Sumenep. Jeda istirahat antara satu mata kuliah diisi dengan bincang-bincang santai.

Mahasiswa perguruan tinggi di pesantren tidak bisa dianaktirikan. Dalam hal prestasi, mereka bisa lebih tinggi dari kampus-kampus besar. Seperti mahasiswa Instika Guluk-Guluk yang menyabet juara umum nasional dan juara dua internasional Festival Bahasa Arab.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut Wakil Rektor Instika KH Mohammad Hosnan. Koran ini kemudian dipersilakan masuk ke ruang dosen. Hosnan lalu meminta Ira Nahdiyah, dosen pendamping lomba, memanggil para mahasiswa yang baru meraih prestasi di UIN Sunan Kalijaga.


Butuh waktu cukup lama untuk bisa wawancara dengan para santri. Sebab siang kemarin mereka sedang berada di pondok masing-masing. Apalagi mereka tidak hanya dari satu daerah di Pondok Pesantren Annuqayah. Ada yang dari Latee 2, ada pula dari Lubangsa Putri.

Setelah sempat menunggu cukup lama, tiga mahasiswa putri datang. Lengkap dengan jas almamater, piagam penghargaan, dan medali. Mereka adalah Fitriyah, Nur Diana, dan Aminatul Kamilah. Ketiganya merupakan tim debat dari Instika yang menjadi juara dua Festival Bahasa Arab internasional di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta pada 1912 September 2018.

”Di final kami kalah melawan tim A Universiti Sains Islam Malaysia (USIM),” kata Aminatul Kamilah. Juara kedua diraih tim B USIM. ”Setelah penobatan juara, kami merasa sedih karena ada di nomor dua. Tapi setelah kami renungkan kembali, kami tetap bahagia karena bisa mengalahkan kampus-kampus besar di Indonesia,” tegasnya.

Ketiga peserta debat bahasa Arab ini berasal dari daerah berbeda. Bahkan jurusan kuliah di Instika juga tidak sama. Fitriyah berasal dari Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng. Perempuan kelahiran 21 Mei 1998 itu saat ini duduk di semester V. Jurusan hukum ekonomi syariah.

Baca Juga :  Moh. Gunawan, Peraih Juara III Turnamen Tenis Internasional

Sedang Nur Diana lahir di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, pada 25 Mei 1998. Penyuka bahasa Arab sejak madrasah ibtidaiyah (MI) ini sedang semester V jurusan pendidikan bahasa Arab (PBA). Sedangkan Aminatul Kamilia lahir di Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, 20 Januari 1998. Dia sedang semester V jurusan pendidikan agama Islam (PAI).

Beruntung ketiganya disatukan dalam satu kamar di Raudlah Al-Lughah Al-Arabiyah Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee 2. ”Kalau sedang di kamar kami wajib berbahasa Arab selama 24 jam,” tuturnya.

Sebelum mengikuti lomba di UIN Sunan Kalijaga, ketiganya memang sudah langganan juara. Karena itu, tak heran mereka bisa bersaing dengan peserta lain dari seluruh Indonesia. Apalagi sudah terbiasa dengan debat bahasa Arab tingkat nasional.

Hanya, mereka merasa sedikit ciut manakala harus bertanding di level internasional. Terlebih pada babak penyisihan langsung bertanding melawan Tim B dari USIM. Bahkan di babak penyisihan dirinya sempat gerogi. ”Sempat minder,” ucap Aminatul Kamilah.

Saat melawan Tim B USIM di babak penyisihan grup, tim Instika sempat kalah dengan skor 1-2. Mereka mengaku hampir putus asa. Dengan meminta sambungan doa dari teman-teman santri di pondok, masyaikh, dan dosen Instika, mereka kembali bangkit.

Dukungan doa itu berbuah manis. Mereka bisa menang dari seluruh fase tersisa. Mereka mampu menang melawan tim dari UIN Maulana Maliki Malang dan IDIA Prenduan di babak penyisihan grup.

Di babak delapan besar, mereka mengalahkan delegasi dari IDIA Putra. Kemudian di semifinal kembali mengalahkan delegasi PBA UIN Maulana Maliki Malang. Masuklah mereka pada babak final menghadapi tim A USIM.

Menghadapi tim dari negeri Upin-Upin membuat mereka kembali minder. Apalagi mereka mengetahui bahwa lawannya langganan juara debat bahasa Arab tingkat ASEAN. Mereka juga punya pengalaman kalah dengan tim B USIM di babak penyisihan grup.

Tema debat yang diangkat di final yakni terkait Asian Games. Secara materi, tim dari Instika jauh lebih menguasai. Tetapi dari segi mental dan kelancaran bahasa, mereka mengaku kalah. ”Mereka sangat lancar berbahasa Arab. Sedang kami kadang masih terbawa dengan lahjah (dialek, Red) Madura. Itu juga mungkin yang menjadi pertimbangan para juri,” tegasnya.

Baca Juga :  Siswa Ini Bahas Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan Nasi Kuning Tingkat Dunia

Festival bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga ini terbagi dua kategori. Yakni, kategori antarkampus dan antarpondok pesantren. Dari kategori antarpondok pesantren, Annuqayah keluar sebagai juara umum.

Hal itu setelah santri Annuqayah yang juga sedang kuliah di Instika meraih juara 1 di tiga lomba. Pertama, juara I lomba Musabaqah Qira’atil Kitab Ibnu Aqil diraih Annatul Jamil. Saat ini semester semester V jurusan PAI.  Kedua, juara I lomba baca puisi bahasa Arab diraih Siti Zakiah Aji. Mahasiswa jurusan PBA semester VII. Ketiga, juara I lomba eksebisi nadzam alfiyah.

Lomba eksebisi nadzam alfiyah ini diikuti tim yang terdiri dari lima orang. Yakni, Uzlifatul Biladina, jurusan PBA semester IX; Zahratun, jurusan Ilmu Quran Tafsir semester V; Sohihah, jurusan PAI semester V; Nailatur Rafi’ah, jurusan Ahlaq Tasawuf semester VII; dan Atiqah El Shabah, semester III FEBI.

Rektor Instika KH Abbadi Ishomuddin mengaku bangga atas capaian yang diraih anak didiknya. Prestasi kali ini merupakan kali ke sekian di level nasional. Prestasi-prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa perguruan tinggi berbasis pesantren memiliki nilai lebih.

”Dengan demikian, kultur akademiknya itu sangat dipengaruhi oleh pesantren atau saling menunjang,” katanya. ”Di samping itu, ada kerja sama antara Instika dengan pesantren, khususnya dengan markaz bahasa Arab. Kemudian mereka yang punya potensi itu kita latih,” tegasnya.

Awalnya, Festival Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga berskala nasional. Namun khusus lomba debat bahasa Arab menjadi festival internasional. Sebab ada delegasi Malaysia yang turut serta menjadi peserta. ”Karena Malaysia ingin ikut serta, maka secara otomatis lomba ini berskala ASEAN,” jelas salah satu juri debat bahasa Arab Zainurridha. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/