alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Peran Alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Tarate

Status santri tetap melekat meski sudah menjadi alumni. Hubungan dengan pesantren juga tetap terjaga. Mereka mengabdikan diri di masyarakat melalui lembaga pendidikan.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

LEMBAGA pondok pesantren (ponpes) di Sumenep sangat banyak. Salah satunya, Ponpes Aqidah Usymuni. Pondok ini berada di Kampung Tarate, Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep. Pesantren ini didirikan Nyai Hj Aqidah Usymuni bersama suaminya, KH Abu Sofyan pada 1985.

Ponpes Aqidah Usymuni mengelola sejumlah pendidikan formal. Mulai pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah diniyah takmiliyah, madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA).

Para alumni pondok ini membentuk perkumpulan yang diberi nama Ikatan Santri dan Alumni Aqidah Usymuni (IKSAAU). Latar belakang pembentukan IKSAAU didasari keinginan alumni untuk mewadahi dan memperat silaturahmi dengan pengasuh atau kiai. Alumni Ponpes Aqidah Usymuni hampir tersebar di seluruh kecamatan di Kota Keris, baik di daratan maupun kepulauan.

Wakil Sekretaris IKSAAU Pusat Ustad Herman menyampaikan, IKSAAU sudah terbentuk lama. Namun, struktur kepengurusan baru dibentuk pada 2014. Struktur pengurus IKSAAU terdiri atas pengurus cabang (PC), pengurus daerah, dan pengurus pusat.

Setiap bulan, IKSAAU mengadakan pertemuan rutin di tiap kecamatan. Kegiatan itu diisi dengan pengajian umum dan pembacaan surah Taisir yang sudah diijazahkan KH A. Syafradji selaku pengasuh.

”Kegiatan pertemuan alumni selalu dihadiri Kiai Ach. Syafradji dan Nyai Hj Dewi Kholifah. Kami juga mengundang wali santri dan masyarakat setempat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (11/5).

Pria kelahiran 1990 itu mengatakan, IKSAAU menjadi wadah bagi para alumni. Juga sebagai sebagai bentuk pengabdian kepada pesantren. Semua alumni berharap bisa mendapat barokah dari pondok dan kiai. Visi misi IKSAAU ialah terciptanya ukhuwah islamiah yang berpedoman kepada ahlus sunnah wal jamaah.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan

Lalu, membangun sinergitas antar alumni dan turut serta mendukung kemajuan pesantren. Menurut warga Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan itu, alumni mempunyai andil dalam rangka kemajuan pesantren. Alumni hendaknya tetap konsisten menjaga nama baik almamater dan mendukung keberlangsungan pesantren.

”Alumni yang peduli terhadap pesantren adalah alumni yang mempunyai pemikiran untuk kemajuan pondok,” ucap pria 29 tahun itu.

Lulusan MA Aqidah Usymuni 2008 itu mengungkapkan, banyak alumni Aqidah Usymuni yang berasal dari kepualuan. Misalnya, Raas, Kangean, dan Sapudi. Selama ini, ikatan silaturahmi alumni dan pengasuh ponpes tetap terjaga dengan baik. Setiap bulan selalu mengadakan kegiatan pertemuan yang diisi dengan pengajian umum.

Lokasi kegiatan berpindah-pindah. Sesuai dengan jadwal. Pertemuan di kepulauan itu biasanya dilaksanakan satu tahun dua kali. Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga hubungan silaturahmi dengan kiai atau pengasuh.

Menurut dia, santri yang pintar dan alim tetapi tidak pernah sowan ke kiai itu kurang mendapatkan barokah. Padahal, selain menimba ilmu, barokah kiai merupakan suatu hal yang diharapkan santri. Baik saat masih di pondok maupun sudah keluar dari pondok.

Yang diharapkan santri ketika sudah keluar dari pondok ialah barokah. Banyak cara yang dilakukan santri untuk mengharap barokah kiai. Misalnya, selama masih nyantri menjadi pesuruh atau kabula di pondok, mencuci pakaian kiai, dan berbuat banyak untuk pondok.

Baca Juga :  Vaksinasi: Keluarga Sehat, Produktivitas Meningkat

”Santri yang mendapatkan barokah itu akan menjadi orang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Makanya, bagi santri, barokah itu menjadi hal yang paling utama,” tutur alumnus STITA 2012 itu.

Herman menyampaikan, banyak alumni Ponpes Aqidah Usymuni mengelola lembaga pendidikan MI dan MTs. Siswa yang lulus kemudian diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren. Harapannya, agar mereka menjadi generasi muda pintar dan cerdas. Tapi, yang tidak kalah penting, harus berakhlakul karimah.

”Kiai memang mengarahkan kepada para alumni untuk mendirikan lembaga pendidikan di wilayah masing-masing sebagai pengabdian kepada masyarakat dan kepada pesantren,” ungkap dosen STITA itu.

Untuk mendakwahkan pentingnya pendidikan pesantren kepada masyarakat, pihaknya menjalankan kegiatan siar pesantren menggandeng organisasi kemasyarakatan. IKSAAU memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pesantren menjadi acuan pendidikan utama di Indonesia. Saat ini, lembaga pesantren sudah banyak yang maju dan menerapkan sistem modern.

”Selama ini banyak santri pintar cerdas dan bisa menguasai semua bidang dan menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan,” ujarnya.

Pihaknya berencana akan mengadakan pertemuan untuk memperbarui struktur kepengurusan dan program kerja IKSAAU ke depan. Juga akan membuka dan mengelola wirausaha koperasi, pertokoan, travel umrah, dan IKM batik.

Herman berpesan kepada para santri agar bisa menjaga nama baik pesantren, menjaga etika atau akhlak saat berada di tengah masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tertarik untuk masuk ke pesantren. ”Alumni harus bisa berkontribusi terhadap kemajuan pesantren dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” tandasnya.

Status santri tetap melekat meski sudah menjadi alumni. Hubungan dengan pesantren juga tetap terjaga. Mereka mengabdikan diri di masyarakat melalui lembaga pendidikan.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

LEMBAGA pondok pesantren (ponpes) di Sumenep sangat banyak. Salah satunya, Ponpes Aqidah Usymuni. Pondok ini berada di Kampung Tarate, Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep. Pesantren ini didirikan Nyai Hj Aqidah Usymuni bersama suaminya, KH Abu Sofyan pada 1985.


Ponpes Aqidah Usymuni mengelola sejumlah pendidikan formal. Mulai pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah diniyah takmiliyah, madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA).

Para alumni pondok ini membentuk perkumpulan yang diberi nama Ikatan Santri dan Alumni Aqidah Usymuni (IKSAAU). Latar belakang pembentukan IKSAAU didasari keinginan alumni untuk mewadahi dan memperat silaturahmi dengan pengasuh atau kiai. Alumni Ponpes Aqidah Usymuni hampir tersebar di seluruh kecamatan di Kota Keris, baik di daratan maupun kepulauan.

Wakil Sekretaris IKSAAU Pusat Ustad Herman menyampaikan, IKSAAU sudah terbentuk lama. Namun, struktur kepengurusan baru dibentuk pada 2014. Struktur pengurus IKSAAU terdiri atas pengurus cabang (PC), pengurus daerah, dan pengurus pusat.

Setiap bulan, IKSAAU mengadakan pertemuan rutin di tiap kecamatan. Kegiatan itu diisi dengan pengajian umum dan pembacaan surah Taisir yang sudah diijazahkan KH A. Syafradji selaku pengasuh.

”Kegiatan pertemuan alumni selalu dihadiri Kiai Ach. Syafradji dan Nyai Hj Dewi Kholifah. Kami juga mengundang wali santri dan masyarakat setempat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Sabtu (11/5).

Pria kelahiran 1990 itu mengatakan, IKSAAU menjadi wadah bagi para alumni. Juga sebagai sebagai bentuk pengabdian kepada pesantren. Semua alumni berharap bisa mendapat barokah dari pondok dan kiai. Visi misi IKSAAU ialah terciptanya ukhuwah islamiah yang berpedoman kepada ahlus sunnah wal jamaah.

Baca Juga :  Dari Diskusi Urgensi Pembangunan Tol Trans Madura

Lalu, membangun sinergitas antar alumni dan turut serta mendukung kemajuan pesantren. Menurut warga Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan itu, alumni mempunyai andil dalam rangka kemajuan pesantren. Alumni hendaknya tetap konsisten menjaga nama baik almamater dan mendukung keberlangsungan pesantren.

”Alumni yang peduli terhadap pesantren adalah alumni yang mempunyai pemikiran untuk kemajuan pondok,” ucap pria 29 tahun itu.

Lulusan MA Aqidah Usymuni 2008 itu mengungkapkan, banyak alumni Aqidah Usymuni yang berasal dari kepualuan. Misalnya, Raas, Kangean, dan Sapudi. Selama ini, ikatan silaturahmi alumni dan pengasuh ponpes tetap terjaga dengan baik. Setiap bulan selalu mengadakan kegiatan pertemuan yang diisi dengan pengajian umum.

Lokasi kegiatan berpindah-pindah. Sesuai dengan jadwal. Pertemuan di kepulauan itu biasanya dilaksanakan satu tahun dua kali. Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga hubungan silaturahmi dengan kiai atau pengasuh.

Menurut dia, santri yang pintar dan alim tetapi tidak pernah sowan ke kiai itu kurang mendapatkan barokah. Padahal, selain menimba ilmu, barokah kiai merupakan suatu hal yang diharapkan santri. Baik saat masih di pondok maupun sudah keluar dari pondok.

Yang diharapkan santri ketika sudah keluar dari pondok ialah barokah. Banyak cara yang dilakukan santri untuk mengharap barokah kiai. Misalnya, selama masih nyantri menjadi pesuruh atau kabula di pondok, mencuci pakaian kiai, dan berbuat banyak untuk pondok.

Baca Juga :  Mengikuti Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-55

”Santri yang mendapatkan barokah itu akan menjadi orang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Makanya, bagi santri, barokah itu menjadi hal yang paling utama,” tutur alumnus STITA 2012 itu.

Herman menyampaikan, banyak alumni Ponpes Aqidah Usymuni mengelola lembaga pendidikan MI dan MTs. Siswa yang lulus kemudian diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren. Harapannya, agar mereka menjadi generasi muda pintar dan cerdas. Tapi, yang tidak kalah penting, harus berakhlakul karimah.

”Kiai memang mengarahkan kepada para alumni untuk mendirikan lembaga pendidikan di wilayah masing-masing sebagai pengabdian kepada masyarakat dan kepada pesantren,” ungkap dosen STITA itu.

Untuk mendakwahkan pentingnya pendidikan pesantren kepada masyarakat, pihaknya menjalankan kegiatan siar pesantren menggandeng organisasi kemasyarakatan. IKSAAU memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pesantren menjadi acuan pendidikan utama di Indonesia. Saat ini, lembaga pesantren sudah banyak yang maju dan menerapkan sistem modern.

”Selama ini banyak santri pintar cerdas dan bisa menguasai semua bidang dan menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan,” ujarnya.

Pihaknya berencana akan mengadakan pertemuan untuk memperbarui struktur kepengurusan dan program kerja IKSAAU ke depan. Juga akan membuka dan mengelola wirausaha koperasi, pertokoan, travel umrah, dan IKM batik.

Herman berpesan kepada para santri agar bisa menjaga nama baik pesantren, menjaga etika atau akhlak saat berada di tengah masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tertarik untuk masuk ke pesantren. ”Alumni harus bisa berkontribusi terhadap kemajuan pesantren dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/