alexametrics
22.2 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Siswa Ini Bahas Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan Nasi Kuning Tingkat Dunia

Siswa SMA 1 Sumenep bicara tingkat dunia. Yang dibicarakan tentang nasi. Menu yang biasa disantap orang Indonesia.

HERIVIA YUVI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

TIM Olimpiade Penelitian Smansa (TOPS) melaju ke ajang bergengsi tingkat internasional. Mulai hari ini (15/12) Nasywa Azmi Chandrakanti dan Agist Royyan Rohmannov tengah berjuang dalam final Mostra de Ciencias e Tecnologia da Escola Acai (MCTEA) 2020. Ajang bergengsi di bidang penelitian internasional yang berpusat di Brasil.

Untuk bisa bersaing ke event tersebut tidak mudah. Mereka harus melakukan penelitian. Yang mereka teliti sebenarnya mudah dijumpai. Bahkan, biasa dikonsumsi. Yakni, nasi goreng, nasi uduk, dan nasi kuning.

Penelitian mereka yang berjudul Comparison of Resistant Starch Content and Physicochemical Condition in Fried Rice, Uduk Rice, and Yellow Rice (Perbandingan Kadar Pati Tahan dan Kondisi Fisikokimia pada Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan Nasi Kuning). Karya mereka diadu dengan penelitian siswa lain dari berbagai negara di dunia melalui aplikasi Meeting Zoom.

Nasywa yang sedang duduk di kelas XI MIPA 7 dan Agist tidak sendirian mewakili Indonesia. Mereka juga berjuang bersama sekolah lain. Meliputi MAN 2 Kota Malang; SMA Negeri 1 Rangkasbitung, Jawa Barat; Narada School Lebak, Banten; SMA IT Cendekia, Sumbawa; dan SMA Al Muttaqin Tasikmalaya.

Baca Juga :  Idul Adha 1440 Hijriyah, Global Kurban-ACT Sebar 35.290 Hewan Kurban

”Insyaallah kalau tidak ada rintangan tanggal 15–17 Desember dimulai finalnya,” cerita Nasya dan Agist Jumat (11/12). Nasya dan Agist beserta guru pembimbing dan kepala sekolah meminta doa restu untuk kelancaran dan kesuksesan dalam mengikuti perlombaan.

Nasywa menceritakan riset penelitian mereka yang membahas nutrisi pada makanan. Kebiasaan warga Negara Indonesia memakan nasi membuat tingkat obesitas meningkat. Bahkan cenderung tinggi di Indonesia.

Penelitian tersebut membahas kandungan pati rasisten dalam nasi uduk, nasi kuning, dan nasi goreng. Ternyata, kata mereka, pati rasistan pada nasi itu bisa dikecilkan. Bahkan bisa mengatasi obesitas.

”Apabila pati rasistennya dikurangi, bisa mengatasi obesitas,” jelas mereka didampingi Koordinator Pembina M. Hari Mufti, Tim Literasi dan Riset Smansa.

Kepala Smansa Sukarman bangga siswanya bisa menembus final MCTEA 2020 di Brasil. Sebuah kebanggaan siswa asal Sumenep bisa  mewakili Indonesia dalam ajang internasional. ”Alhamdulillah dan ucapan terima kasih atas keberhasilan peserta didik kami yang berhasil menembus final MCTEA 2020 Brasil,” ucapnya.

Baca Juga :  LPA Minta Ruang Berdigital Anak Dibatasi

”Lomba ini merupakan lomba bergengsi dan mungkin baru pertama kali SMAN 1 Sumenep masuk final tingkat internasional,” imbuhnya penuh syukur.

Sebagai kepala sekolah, Sukarman sangat mengapresiasi keberhasilan sisawa-siswinya tersebut.  Hal itu tidak lepas dari bimbingan dan pembinaan guru dan dukungan orang tua serta pihak terkait. Pihaknya berharap peserta didiknya bisa menembus tiga besar dalam lomba internasional itu.

”Semangat belajar, berdoa, dan senantiasa menjaga kesehatan. Semoga Allah mengabulkan segala keinginan dan hajat kita bersama,” harap Sukarman

Sebagai sekolah literasi dan riset, SMAN 1 Sumenep berkomitmen menjadi rujukan sekolah lain di ujung timur Pulau Madura. Tim TOPS terdiri atas delapan orang. Selain Nasywa dan Agist, ada Mayvita Nur Faizah (Meiza), Amel, Fifin, Reza, Rizky, dan Faris.

Sepanjang 2019–2020, nama mereka berkibar di Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI) Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), MCTEA, PIN, SIRIUS, serta lomba penelitian tingkat nasional dan internasional lainnya.

- Advertisement -

Siswa SMA 1 Sumenep bicara tingkat dunia. Yang dibicarakan tentang nasi. Menu yang biasa disantap orang Indonesia.

HERIVIA YUVI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

TIM Olimpiade Penelitian Smansa (TOPS) melaju ke ajang bergengsi tingkat internasional. Mulai hari ini (15/12) Nasywa Azmi Chandrakanti dan Agist Royyan Rohmannov tengah berjuang dalam final Mostra de Ciencias e Tecnologia da Escola Acai (MCTEA) 2020. Ajang bergengsi di bidang penelitian internasional yang berpusat di Brasil.


Untuk bisa bersaing ke event tersebut tidak mudah. Mereka harus melakukan penelitian. Yang mereka teliti sebenarnya mudah dijumpai. Bahkan, biasa dikonsumsi. Yakni, nasi goreng, nasi uduk, dan nasi kuning.

Penelitian mereka yang berjudul Comparison of Resistant Starch Content and Physicochemical Condition in Fried Rice, Uduk Rice, and Yellow Rice (Perbandingan Kadar Pati Tahan dan Kondisi Fisikokimia pada Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan Nasi Kuning). Karya mereka diadu dengan penelitian siswa lain dari berbagai negara di dunia melalui aplikasi Meeting Zoom.

Nasywa yang sedang duduk di kelas XI MIPA 7 dan Agist tidak sendirian mewakili Indonesia. Mereka juga berjuang bersama sekolah lain. Meliputi MAN 2 Kota Malang; SMA Negeri 1 Rangkasbitung, Jawa Barat; Narada School Lebak, Banten; SMA IT Cendekia, Sumbawa; dan SMA Al Muttaqin Tasikmalaya.

Baca Juga :  LPA Minta Ruang Berdigital Anak Dibatasi

”Insyaallah kalau tidak ada rintangan tanggal 15–17 Desember dimulai finalnya,” cerita Nasya dan Agist Jumat (11/12). Nasya dan Agist beserta guru pembimbing dan kepala sekolah meminta doa restu untuk kelancaran dan kesuksesan dalam mengikuti perlombaan.

Nasywa menceritakan riset penelitian mereka yang membahas nutrisi pada makanan. Kebiasaan warga Negara Indonesia memakan nasi membuat tingkat obesitas meningkat. Bahkan cenderung tinggi di Indonesia.

Penelitian tersebut membahas kandungan pati rasisten dalam nasi uduk, nasi kuning, dan nasi goreng. Ternyata, kata mereka, pati rasistan pada nasi itu bisa dikecilkan. Bahkan bisa mengatasi obesitas.

”Apabila pati rasistennya dikurangi, bisa mengatasi obesitas,” jelas mereka didampingi Koordinator Pembina M. Hari Mufti, Tim Literasi dan Riset Smansa.

Kepala Smansa Sukarman bangga siswanya bisa menembus final MCTEA 2020 di Brasil. Sebuah kebanggaan siswa asal Sumenep bisa  mewakili Indonesia dalam ajang internasional. ”Alhamdulillah dan ucapan terima kasih atas keberhasilan peserta didik kami yang berhasil menembus final MCTEA 2020 Brasil,” ucapnya.

Baca Juga :  Sosok Muda yang Dikagumi, Berani Berkontestasi untuk Prestasi

”Lomba ini merupakan lomba bergengsi dan mungkin baru pertama kali SMAN 1 Sumenep masuk final tingkat internasional,” imbuhnya penuh syukur.

Sebagai kepala sekolah, Sukarman sangat mengapresiasi keberhasilan sisawa-siswinya tersebut.  Hal itu tidak lepas dari bimbingan dan pembinaan guru dan dukungan orang tua serta pihak terkait. Pihaknya berharap peserta didiknya bisa menembus tiga besar dalam lomba internasional itu.

”Semangat belajar, berdoa, dan senantiasa menjaga kesehatan. Semoga Allah mengabulkan segala keinginan dan hajat kita bersama,” harap Sukarman

Sebagai sekolah literasi dan riset, SMAN 1 Sumenep berkomitmen menjadi rujukan sekolah lain di ujung timur Pulau Madura. Tim TOPS terdiri atas delapan orang. Selain Nasywa dan Agist, ada Mayvita Nur Faizah (Meiza), Amel, Fifin, Reza, Rizky, dan Faris.

Sepanjang 2019–2020, nama mereka berkibar di Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI) Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), MCTEA, PIN, SIRIUS, serta lomba penelitian tingkat nasional dan internasional lainnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/