alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Catatan dari Talk Show Pemuda Zaman Now di Waroeng Kampoeng

PAMEKASAN – Keprihatinan bahaya narkoba dirasakan mayoritas masyarakat. Bukan hanya kalangan aparat penegak hukum atau pemerintah yang gelisah. Aktivis dan budayawan seperti Kiai M. Faizi ikut merasakan betapa membahayakannya barang haram tersebut. Ada yang berbeda di Waroeng Kampoeng, Kota Pamekasan, Senin malam (13/11). Warung yang berlokasi di Jalan Kemuning itu dipadati puluhan pemuda, kiai, dan aktivis. Sebab, di tempat tersebut sedang berlangsung talk show bertajuk Pemuda Zaman Now.

Talk Show dengan tema Mari Ngopi, Tinggalkan Narkoba itu dipandu wartawan Jawa Pos Radar Madura Imam S. Arizal. Hadir sebagai pemateri, Kiai M. Faizi, salah seorang budayawan dan sastrawan asal Sumenep. Seknas Baanar PP GP Ansor A. Ghufron Siradj juga didapuk menjadi pemantik.

Sebelum diskusi dimulai, pemilik warung menyediakan kopi hitam bagi pemuda-pemuda yang hadir. Tak lupa singkong dan ketela rebus dengan sambal khas menjadi pelengkap hidangan. Jika kopi habis, peserta bisa nambah sendiri, gratis.

”Ketika Ansor menyatakan perang terhadap radikalisme agama dan menyebut khilafah sebagai ancaman keutuhan NKRI, ada kelompok yang tidak sepakat,” kata A. Ghufron Siradj memulai diskusi.

”Akan tetapi, begitu Ansor melalui Baanar menyatakan tentang bahaya narkoba, seluruh kelompok di republik ini sepakat,” tambahnya. Hal itu menandakan banyak pihak yang resah dengan narkoba.

Pada saat bersamaan, pemuda menjadi target utama bisnis haram tersebut. Jika tidak dibendung sejak dini, satu generasi bisa rusak di masa-masa yang akan datang.

Baca Juga :  Komitmen AKBP Didit Bambang Wibowo Saputro Jaga Kondisivitas

Atas dasar itulah, ngopi bareng diharapkan menjadi alternatif untuk memerangi narkoba. Dengan ngopi bareng, para pemuda diharapkan bisa bahagia bersama. Sementara narkoba hanya menciptakan fantasi-fantasi semu.

”Siapa bilang narkoba membahagiakan. Banyak orang yang rusak mental dan masa depannya hancur gara-gara narkoba,” jelasnya. ”Karena itu,  daripada mengonsumsi narkoba lebih baik kita ngopi bersama-sama,” ajaknya.

Setelah Ghufron, giliran Kiai M. Faizi yang memaparkan makalah. Mula-mula dia membacakan sajak tentang kopi. Sajak itu mampu menyita perhatian puluhan pemuda, kiai-kiai muda, dan aktivis yang hadir.

Dengan gaya jenaka, Kiai Faizi menyodorkan fakta-fakta ancaman narkoba. Termasuk isu narkoba yang pernah disebut-sebut masuk pesantren. Hal itu juga pernah diutarakan langsung oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso.

Baginya, isu tersebut memiliki tiga kemungkinan. Pertama, kemungkinan narkoba memang telah masuk kalangan santri. Kedua, bisa saja ada oknum-oknum di dalam pesantren yang mengonsumsi narkoba. Atau kemungkinan ketiga, isu itu hanya sebagai peringatan agar masyarakat pesantren hati-hati.

”Bisa saja itu sebagai warning alias can-macanan. Agar masyarakat pesantren semakin waspada terhadap narkoba,” paparnya.

Atas ancaman narkoba itu, banyak cara dilakukan. Selain upaya-upaya hukum, pendekatan spiritual penting dilakukan. Misalnya, bagaimana spirit ”Ittaqillah haitsuma kunta atau bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada” penting digalakkan.

”Kalau sadar bahwa ada Allah yang mengawasi kita, maka ketika hendak bertransaksi narkoba akan bilang, ada CCTV di antara kita,” ujar Faizi sembari disambut gelak tawa peserta.

Baca Juga :  Menjadi Guru, Suci Elmawati Semakin Produktif Berkarya

Istilah CCTV ini dimaksudkan bahwa setiap gerak-gerik manusia di mana pun berada pasti dalam pengawasan Allah. Artinya, tidak ada tempat yang aman. Meskipun pelaku atau pengguna narkoba mau bertransaksi di tempat yang paling tersembunyi sekalipun.

”Sama seperti orang pacaran. Ketika hendak mau memegang pacarnya, lalu si pacar bilang, Mas, ada CCTV di antara kita. Pasti tidak jadi berpegangan tangan itu,” jelasnya yang membuat audiens semakin terbahak-bahak.

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah itu sepakat jika budaya ngopi dijadikan ruang perlawanan terhadap narkoba. Dia menyarankan para pemuda zaman now menciptakan stereotipe negatif terhadap narkoba. Narkoba harus dicitrakan negatif dan tidak berbudaya.

”Jangan sampai ada istilah mengonsumsi narkoba seperti makan permen. Tapi, bikinlah stereotipe negatif,” pintanya.

Selain mengulas tentang narkoba, Faizi menjelaskan sejarah kopi. Termasuk, aneka rasa kopi-kopi yang ada di belahan dunia. Maklum, kiai yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Jogjakarta itu, selain pengamat transportasi, memang pemburu kopi.

”Sekarang juga sudah ada kopi di Madura. Ada warga Prancak, Sumenep, yang menanam kopi. Rasanya khas dan memiliki aroma tembakau,” paparnya.

”Kalau kalian ingin mencoba merasakannya, bisa datang ke rumah. Atau mungkin di Kanca Kona Kopi Sumenep masih tersedia,” pungkas Faizi.

PAMEKASAN – Keprihatinan bahaya narkoba dirasakan mayoritas masyarakat. Bukan hanya kalangan aparat penegak hukum atau pemerintah yang gelisah. Aktivis dan budayawan seperti Kiai M. Faizi ikut merasakan betapa membahayakannya barang haram tersebut. Ada yang berbeda di Waroeng Kampoeng, Kota Pamekasan, Senin malam (13/11). Warung yang berlokasi di Jalan Kemuning itu dipadati puluhan pemuda, kiai, dan aktivis. Sebab, di tempat tersebut sedang berlangsung talk show bertajuk Pemuda Zaman Now.

Talk Show dengan tema Mari Ngopi, Tinggalkan Narkoba itu dipandu wartawan Jawa Pos Radar Madura Imam S. Arizal. Hadir sebagai pemateri, Kiai M. Faizi, salah seorang budayawan dan sastrawan asal Sumenep. Seknas Baanar PP GP Ansor A. Ghufron Siradj juga didapuk menjadi pemantik.

Sebelum diskusi dimulai, pemilik warung menyediakan kopi hitam bagi pemuda-pemuda yang hadir. Tak lupa singkong dan ketela rebus dengan sambal khas menjadi pelengkap hidangan. Jika kopi habis, peserta bisa nambah sendiri, gratis.


”Ketika Ansor menyatakan perang terhadap radikalisme agama dan menyebut khilafah sebagai ancaman keutuhan NKRI, ada kelompok yang tidak sepakat,” kata A. Ghufron Siradj memulai diskusi.

”Akan tetapi, begitu Ansor melalui Baanar menyatakan tentang bahaya narkoba, seluruh kelompok di republik ini sepakat,” tambahnya. Hal itu menandakan banyak pihak yang resah dengan narkoba.

Pada saat bersamaan, pemuda menjadi target utama bisnis haram tersebut. Jika tidak dibendung sejak dini, satu generasi bisa rusak di masa-masa yang akan datang.

Baca Juga :  Menjadi Guru, Suci Elmawati Semakin Produktif Berkarya

Atas dasar itulah, ngopi bareng diharapkan menjadi alternatif untuk memerangi narkoba. Dengan ngopi bareng, para pemuda diharapkan bisa bahagia bersama. Sementara narkoba hanya menciptakan fantasi-fantasi semu.

”Siapa bilang narkoba membahagiakan. Banyak orang yang rusak mental dan masa depannya hancur gara-gara narkoba,” jelasnya. ”Karena itu,  daripada mengonsumsi narkoba lebih baik kita ngopi bersama-sama,” ajaknya.

Setelah Ghufron, giliran Kiai M. Faizi yang memaparkan makalah. Mula-mula dia membacakan sajak tentang kopi. Sajak itu mampu menyita perhatian puluhan pemuda, kiai-kiai muda, dan aktivis yang hadir.

Dengan gaya jenaka, Kiai Faizi menyodorkan fakta-fakta ancaman narkoba. Termasuk isu narkoba yang pernah disebut-sebut masuk pesantren. Hal itu juga pernah diutarakan langsung oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso.

Baginya, isu tersebut memiliki tiga kemungkinan. Pertama, kemungkinan narkoba memang telah masuk kalangan santri. Kedua, bisa saja ada oknum-oknum di dalam pesantren yang mengonsumsi narkoba. Atau kemungkinan ketiga, isu itu hanya sebagai peringatan agar masyarakat pesantren hati-hati.

”Bisa saja itu sebagai warning alias can-macanan. Agar masyarakat pesantren semakin waspada terhadap narkoba,” paparnya.

Atas ancaman narkoba itu, banyak cara dilakukan. Selain upaya-upaya hukum, pendekatan spiritual penting dilakukan. Misalnya, bagaimana spirit ”Ittaqillah haitsuma kunta atau bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada” penting digalakkan.

”Kalau sadar bahwa ada Allah yang mengawasi kita, maka ketika hendak bertransaksi narkoba akan bilang, ada CCTV di antara kita,” ujar Faizi sembari disambut gelak tawa peserta.

Baca Juga :  Imbau Ciptakan Pilkades Damai

Istilah CCTV ini dimaksudkan bahwa setiap gerak-gerik manusia di mana pun berada pasti dalam pengawasan Allah. Artinya, tidak ada tempat yang aman. Meskipun pelaku atau pengguna narkoba mau bertransaksi di tempat yang paling tersembunyi sekalipun.

”Sama seperti orang pacaran. Ketika hendak mau memegang pacarnya, lalu si pacar bilang, Mas, ada CCTV di antara kita. Pasti tidak jadi berpegangan tangan itu,” jelasnya yang membuat audiens semakin terbahak-bahak.

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah itu sepakat jika budaya ngopi dijadikan ruang perlawanan terhadap narkoba. Dia menyarankan para pemuda zaman now menciptakan stereotipe negatif terhadap narkoba. Narkoba harus dicitrakan negatif dan tidak berbudaya.

”Jangan sampai ada istilah mengonsumsi narkoba seperti makan permen. Tapi, bikinlah stereotipe negatif,” pintanya.

Selain mengulas tentang narkoba, Faizi menjelaskan sejarah kopi. Termasuk, aneka rasa kopi-kopi yang ada di belahan dunia. Maklum, kiai yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Jogjakarta itu, selain pengamat transportasi, memang pemburu kopi.

”Sekarang juga sudah ada kopi di Madura. Ada warga Prancak, Sumenep, yang menanam kopi. Rasanya khas dan memiliki aroma tembakau,” paparnya.

”Kalau kalian ingin mencoba merasakannya, bisa datang ke rumah. Atau mungkin di Kanca Kona Kopi Sumenep masih tersedia,” pungkas Faizi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/