alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Teater Fataria Kutuk Krisis Kemanusiaan Etnis Rohingya

PAMEKASAN – ”Jangan siksa kami. Jangan bunuh anak-anak kami. Tolong.. tolong.. tolong,” teriak histeris seorang perempuan mengenakan kebaya. Lengkap dengan sarung kotak-kotak. Senjata laras panjang yang ditodongkan oleh tentara membuat tangis semakin memuncak.

Kepulan asap menghitam keluar dari ban bekas yang dibakar para tentara itu. Penyiksaan bertubi-tubi. Etnis Rohingya dicambuk. Ditendang. Bahkan, muka mereka diludahi. Bagi yang melawan, langsung didor. Mati!

Para lelaki Rohingya tak kuasa melawan. Agresi membabi buta membuat etnis yang dinyatakan paling menderita oleh PBB itu terus tertekan. Para kaum ibu hanya bisa menangis. Berteriak meminta pertolongan.

Itulah gambaran aksi teatrikal yang diperankan anggota Teater Fataria STAIN Pamekasan Kamis (14/9). Pencinta seni teater itu menggelar pementasan bertajuk #SaveRohingya di halaman kampus.

Baca Juga :  STAIN Pamekasan Terus Matangkan Persiapan Menjadi IAIN

Mahasiswa mengerumuni aksi kutukan itu. Tidak sedikit mahasiswi ikut berteriak histeris saat pemeran tentara Myanmar menyiksa perempuan-perempuan yang berperan sebagai etnis Rohingya.

Terik matahari membuat suasana pementasan semakin menusuk ulu hati penonton. Imajinasi dituntun terbang ke Rakhine State, tempat muslim Rohingya dibantai habis-habisan oleh tentara dan kaum Buddha radikal.

Ketua Umum Teater Fataria STAIN Pamekasan Zaifur Rofiq mengatakan, pembantaian dan penyiksaan yang dilakukan militer Myanmar di luar perikemanusiaan. Anak-anak tidak berdosa ikut menjadi sasaran tembak. Perempuan polos nan suci dikabarkan menjadi objek penyaluran hasrat libido sesat para militer.

Sejumlah negara mulai sesak dengan pengungsi etnis yang populasinya tinggal 1,3 juta jiwa itu. Sebagai bentuk kepedulian dan rasa prihatin, Teater Fataria menggelar pementasan. Tujuannya, agar mahasiswa juga merasakan penderitaan etnis Rohingya dari gambaran aksi tersebut. ”Aksi ini adalah bentuk kepedulian kami kepada Rohingya,” katanya.

Baca Juga :  Purna Tugas Bupati Bangkalan, Ra Momon Fokus Bersama Keluarga

Zaifur mengatakan, melalui aksi tersebut, mahasiswa juga mendesak pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah diplomatik untuk menjadi pelopor perdamaian. Kunjungan Menlu Retno Marsudi ke Myanmar beberapa waktu lalu harus ditindaklanjuti.

Langkah Presiden Jokowi memberi bantuan pangan diapresiasi. Tapi, Indonesia harus melangkah lebih dari sekadar memberi bantuan makanan. Perdamaian dan pengembalian kondusivitas harus diupayakan. ”Upaya perdamaian itu lebih penting untuk mengembalikan kondusivitas seperti semula,” katanya.

Zaifur berharap, dukungan dari masyarakat Indonesia untuk perdamaian di Rakhine State berbuah baik. Pemerintah Myanmar segera mengakhiri agresi yang terjadi sejak 25 Agustus lalu itu.

PAMEKASAN – ”Jangan siksa kami. Jangan bunuh anak-anak kami. Tolong.. tolong.. tolong,” teriak histeris seorang perempuan mengenakan kebaya. Lengkap dengan sarung kotak-kotak. Senjata laras panjang yang ditodongkan oleh tentara membuat tangis semakin memuncak.

Kepulan asap menghitam keluar dari ban bekas yang dibakar para tentara itu. Penyiksaan bertubi-tubi. Etnis Rohingya dicambuk. Ditendang. Bahkan, muka mereka diludahi. Bagi yang melawan, langsung didor. Mati!

Para lelaki Rohingya tak kuasa melawan. Agresi membabi buta membuat etnis yang dinyatakan paling menderita oleh PBB itu terus tertekan. Para kaum ibu hanya bisa menangis. Berteriak meminta pertolongan.


Itulah gambaran aksi teatrikal yang diperankan anggota Teater Fataria STAIN Pamekasan Kamis (14/9). Pencinta seni teater itu menggelar pementasan bertajuk #SaveRohingya di halaman kampus.

Baca Juga :  Integrasi Digitalisasi Informasi Satu Data Vaksinasi, Gandeng Dua BUMN

Mahasiswa mengerumuni aksi kutukan itu. Tidak sedikit mahasiswi ikut berteriak histeris saat pemeran tentara Myanmar menyiksa perempuan-perempuan yang berperan sebagai etnis Rohingya.

Terik matahari membuat suasana pementasan semakin menusuk ulu hati penonton. Imajinasi dituntun terbang ke Rakhine State, tempat muslim Rohingya dibantai habis-habisan oleh tentara dan kaum Buddha radikal.

Ketua Umum Teater Fataria STAIN Pamekasan Zaifur Rofiq mengatakan, pembantaian dan penyiksaan yang dilakukan militer Myanmar di luar perikemanusiaan. Anak-anak tidak berdosa ikut menjadi sasaran tembak. Perempuan polos nan suci dikabarkan menjadi objek penyaluran hasrat libido sesat para militer.

Sejumlah negara mulai sesak dengan pengungsi etnis yang populasinya tinggal 1,3 juta jiwa itu. Sebagai bentuk kepedulian dan rasa prihatin, Teater Fataria menggelar pementasan. Tujuannya, agar mahasiswa juga merasakan penderitaan etnis Rohingya dari gambaran aksi tersebut. ”Aksi ini adalah bentuk kepedulian kami kepada Rohingya,” katanya.

Baca Juga :  STAIN Pamekasan Terus Matangkan Persiapan Menjadi IAIN

Zaifur mengatakan, melalui aksi tersebut, mahasiswa juga mendesak pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah diplomatik untuk menjadi pelopor perdamaian. Kunjungan Menlu Retno Marsudi ke Myanmar beberapa waktu lalu harus ditindaklanjuti.

Langkah Presiden Jokowi memberi bantuan pangan diapresiasi. Tapi, Indonesia harus melangkah lebih dari sekadar memberi bantuan makanan. Perdamaian dan pengembalian kondusivitas harus diupayakan. ”Upaya perdamaian itu lebih penting untuk mengembalikan kondusivitas seperti semula,” katanya.

Zaifur berharap, dukungan dari masyarakat Indonesia untuk perdamaian di Rakhine State berbuah baik. Pemerintah Myanmar segera mengakhiri agresi yang terjadi sejak 25 Agustus lalu itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/