20.9 C
Madura
Monday, May 29, 2023

Ripa’a, Janda Tua Hidup Sebatang Kara tanpa Bantuan Pemerintah

Hidup hingga usia senja. Suami sudah tiada. Anak juga tidak punya. Namun, Ripa’a masih semangat hidup di tengah keterbatasan.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, RadarMadura.id

KEBAHAGIAAN seseorang pada usia senja disempurnakan oleh canda tawa cucu-cucunya. Namun, berbeda dengan yang dirasakan Ripa’a. Warga Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Sumenep, itu hidup seorang diri. Dia sudah bahagia jika setiap hari bisa makan dan kondisi tubuhnya sehat.

Hidup sebatang kara sudah dijalaninya selama puluhan tahun. Sejak suaminya, Asmaya, meninggal dunia pada 1995. Sejak menikah, pasangan suami-istri (pasutri) ini memang tidak dikaruniai anak.

Usia Ripa’a tidak lagi muda. Bahkan, dia lupa tanggal lahir dan usianya sendiri. Namun, diperkirakan sudah lebih satu abad.

Ripa’a tampak sangat sehat dan masih nyambung ketika diajak ngobrol. Kini dia tinggal di dapur yang terbuat dari bidik. Di tempat itulah dia berlindung dari sinar matahari dan hujan.

Dengan tenang dia menceritakan masa lalunya ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjunginya Rabu (13/5). Tahun kelahirannya sudah tidak lagi dia ingat. Namun yang pasti, dia masih ingat sudah lahir sejak zaman penjajahan. Saat itu, kata dia, manusia masih lumrah makan dedaunan.

Baca Juga :  Dana BOS Tertahan Gara-Gara Ini

Bahkan, warga lain yang notabene seumuran dengan Ripa’a mayoritas sudah meninggal. Kendati hidup sebatang kara, dirinya tidak hidup dari bantuan pemerintah. Namanya tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial. ”Terkadang ada dari tetangga yang memberi beras maupun makanan,” tuturnya.

Ripa’a menempati bangunan yang terbuat dari tabing dan papan di tengah kebun jagung. Bangunan itu hanya dihuni janda tua tersebut. Dinding tabing itu bolong-bolong. Perabotan dapur berada di lencak, tempat dia istirahat.

Dulu Ripa’a biasa berjualan ikan laut. Tapi, aktivitas itu tidak bisa dilakoni karena kondisi tubuh yang tidak lagi muda. Meski begitu, dia mengaku beruntung memiliki tetangga yang baik. Meski tidak terikat hubungan darah.

Sering kali dirinya dibantu mencarikan kayu bakar untuk keperluan memasak. Termasuk membantu mencukupi kebutuhan lain yang tidak bisa dilakukan sendiri. Seperti Ismail, warga setempat yang rumahnya tepat berseberangan dengan rumah Ripa’a.

Ismail mengaku sangat menaruh simpati kepada Ripa’a. Apalagi, tidak ada keluarga inti yang menemani melalui masa senjanya. Walaupun masih ada kerabat, tapi hanya berkunjung saat hari raya.

Baca Juga :  Peziarah Ikuti Ketentuan Pemerintah

Pria 45 tahuh itu ikhlas membantu Ripa’a. Bahkan, memperlakukan seperti orang tua sendiri. Tak heran jika banyak hal yang Ismail ketahui dari hidup nenek itu. Termasuk tidak adanya bantuan rutin dari pemerintah.

Baru-baru ini Ripa’a mendapat bantuan sosial dari relawan Covid-19 berupa sembako. Tidak hanya Ismail seorang diri. Keluarga besarnya, seperti anak dan istri Ismail juga sudah familier dengan Ripa’a.

Tidak hanya membantu mencarikan kayu bakar, mengantar makanan jadi juga sering dihantarkan. Dirinya berharap ada perhatian pemerintah dengan kondisi Ripa’a sekarang. Hal itu sangat membantu kehidupan nenek Ripa’a di masa tuanya.

”Memang tidak ada bantuan. Kalau ada, saya pasti tahu, karena nenek pasti menceritakan kepada saya,” tuturnya.

Koordinator Gusdurian Peduli Sumenep Faiqul Khair mengungkapkan, sebenarnya ada rumah peninggalan almarhum suami. Namun, Ripa’a memilih tinggal di dapur. Lebih dekat dengan tempat makan. Ripa’a sangat senang ketika tim memberikan bantuan sembako.

”Di lain kesempatan kami berjanji untuk datang dan makan bersama ibu yang sangat baik hati ini,” kata Faiq.

Hidup hingga usia senja. Suami sudah tiada. Anak juga tidak punya. Namun, Ripa’a masih semangat hidup di tengah keterbatasan.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, RadarMadura.id

KEBAHAGIAAN seseorang pada usia senja disempurnakan oleh canda tawa cucu-cucunya. Namun, berbeda dengan yang dirasakan Ripa’a. Warga Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Sumenep, itu hidup seorang diri. Dia sudah bahagia jika setiap hari bisa makan dan kondisi tubuhnya sehat.


Hidup sebatang kara sudah dijalaninya selama puluhan tahun. Sejak suaminya, Asmaya, meninggal dunia pada 1995. Sejak menikah, pasangan suami-istri (pasutri) ini memang tidak dikaruniai anak.

Usia Ripa’a tidak lagi muda. Bahkan, dia lupa tanggal lahir dan usianya sendiri. Namun, diperkirakan sudah lebih satu abad.

Ripa’a tampak sangat sehat dan masih nyambung ketika diajak ngobrol. Kini dia tinggal di dapur yang terbuat dari bidik. Di tempat itulah dia berlindung dari sinar matahari dan hujan.

Dengan tenang dia menceritakan masa lalunya ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjunginya Rabu (13/5). Tahun kelahirannya sudah tidak lagi dia ingat. Namun yang pasti, dia masih ingat sudah lahir sejak zaman penjajahan. Saat itu, kata dia, manusia masih lumrah makan dedaunan.

- Advertisement -
Baca Juga :  Terdaftar PBI JKN-KIS, Anisa Senang Dapat Perhatian Pemerintah

Bahkan, warga lain yang notabene seumuran dengan Ripa’a mayoritas sudah meninggal. Kendati hidup sebatang kara, dirinya tidak hidup dari bantuan pemerintah. Namanya tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial. ”Terkadang ada dari tetangga yang memberi beras maupun makanan,” tuturnya.

Ripa’a menempati bangunan yang terbuat dari tabing dan papan di tengah kebun jagung. Bangunan itu hanya dihuni janda tua tersebut. Dinding tabing itu bolong-bolong. Perabotan dapur berada di lencak, tempat dia istirahat.

Dulu Ripa’a biasa berjualan ikan laut. Tapi, aktivitas itu tidak bisa dilakoni karena kondisi tubuh yang tidak lagi muda. Meski begitu, dia mengaku beruntung memiliki tetangga yang baik. Meski tidak terikat hubungan darah.

Sering kali dirinya dibantu mencarikan kayu bakar untuk keperluan memasak. Termasuk membantu mencukupi kebutuhan lain yang tidak bisa dilakukan sendiri. Seperti Ismail, warga setempat yang rumahnya tepat berseberangan dengan rumah Ripa’a.

Ismail mengaku sangat menaruh simpati kepada Ripa’a. Apalagi, tidak ada keluarga inti yang menemani melalui masa senjanya. Walaupun masih ada kerabat, tapi hanya berkunjung saat hari raya.

Baca Juga :  Program Kewirausahaan untuk Eks TKI

Pria 45 tahuh itu ikhlas membantu Ripa’a. Bahkan, memperlakukan seperti orang tua sendiri. Tak heran jika banyak hal yang Ismail ketahui dari hidup nenek itu. Termasuk tidak adanya bantuan rutin dari pemerintah.

Baru-baru ini Ripa’a mendapat bantuan sosial dari relawan Covid-19 berupa sembako. Tidak hanya Ismail seorang diri. Keluarga besarnya, seperti anak dan istri Ismail juga sudah familier dengan Ripa’a.

Tidak hanya membantu mencarikan kayu bakar, mengantar makanan jadi juga sering dihantarkan. Dirinya berharap ada perhatian pemerintah dengan kondisi Ripa’a sekarang. Hal itu sangat membantu kehidupan nenek Ripa’a di masa tuanya.

”Memang tidak ada bantuan. Kalau ada, saya pasti tahu, karena nenek pasti menceritakan kepada saya,” tuturnya.

Koordinator Gusdurian Peduli Sumenep Faiqul Khair mengungkapkan, sebenarnya ada rumah peninggalan almarhum suami. Namun, Ripa’a memilih tinggal di dapur. Lebih dekat dengan tempat makan. Ripa’a sangat senang ketika tim memberikan bantuan sembako.

”Di lain kesempatan kami berjanji untuk datang dan makan bersama ibu yang sangat baik hati ini,” kata Faiq.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/