alexametrics
20 C
Madura
Monday, August 8, 2022

Pelajar Sumenep Menolak Perayaan Valentine’s Day

SUMENEP – Valentine’s day (valday) atau hari kasih sayang biasa dirayakan tiap 14 Februari. Di Sumenep ada penolakan dari pelajar. Ratusan siswa turun jalan dan menggalang tanda tangan.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.30 ketika ratusan pelajar SMA Muhammadiyah 1 keluar Rabu (14/2). Satu per satu siswa sekolah beralamat di Jalan Urip Sumoharjo itu menuju jalanan. Ratusan pelajar itu didampingi para guru.

Mereka membawa kain putih sepanjang 100 meter. Pelajar yang memakai pakaian batik itu segera membagi tugas. Ada yang memegang kain. Ada juga yang membubuhkan tanda tangan. Ada juga yang berorasi melalui megafon.

Langit cerah. Semangat generasi bangsa itu juga tak kalah cerah. Mereka mengajak pengendara yang melintas untuk membubuhkan tanda tangan. Sebagai tanda bahwa mereka menolak perayaan valday.

Bagi mereka, perayaan valday merupakan budaya Barat dan sudah keluar dari ajaran Islam. Tidak sesuai dengan budaya timur. Terutama di Indonesia. Mereka kurang dari sejam menggalang tanda tangan untuk menolak perayaan valday.

Baca Juga :  SMA Muhammadiyah Jadi Peserta Jambore Pelajar Teladan Nasional

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 1 Sumenep Damayanti mengaku bangga atas aksi penolakan perayaan valday oleh anak didiknya.  Sebab, aksi itu digelar tanpa diinstruksikan pihak sekolah. Mereka sudah menyadari bahwa valday bukan budaya Islam.

”Kami harus menolak hal tersebut (valday, Red). Kami sangat berbangga terhadap mereka,” ucapnya sambil memperhatikan anak didiknya.

Perempuan yang memakai baju batik hijau motif bunga-bunga itu menjelaskan, pihak sekolah tidak memberi materi khusus seputar valday kepada anak didik. Namun, mereka dibekali bahwa budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak perlu diikuti.

”Jadi, apa yang kami ikuti sesuai dengan apa yang kita pelajari. Tentang Islam sesuai dengan tata cara Islam dan sunah,” ujarnya.

Damayanti mengakui, kegiatan menolak valday memang dilakukan setiap tahun. Bentuk kegiatannya berbeda-beda. Tahun ini penggalangan tanda tangan. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya mereka berdiri di pinggir jalan dan berorasi.

Baca Juga :  Belajar dari Pengalaman Langsung Kesembuhan Penyintas COVID-19

”Pernah juga mengadakan seminar tentang perayaan valday itu seperti apa,” jelasnya. ”Kain panjang yang sudah ada tanda tangan akan dipasang di depan pagar sekolah. Bahwa kita berkomitmen menolak kegiatan valday,” tegasnya.

Siswa kelas XI Ahmad Fauzan Siswanto mengatakan, dirinya bersama ratusan pelajar yang lain menolak perayaan valday karena sudah keluar dari koridor Islam. Maka dari itu, pihaknya menggelar aksi menolak perayaan valday. ”Jangan kau tukar agamamu dengan setangkai bunga dan cokelat,” ingatnya.

Menurut dia, valday tidak untuk dirayakan. Sebab, kasih sayang sudah diberikan setiap hari kepada orang tersayang. ”Menurut kami tidak perlu (merayakan valday, Red),” tegasnya.

Jumlah pelajar yang turun sekitar 500 orang. Plus 46 guru. Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep juga mengeluarkan surat edaran tentang perayaan valday ke SD dan SMP baik negeri maupun swasta.

 

SUMENEP – Valentine’s day (valday) atau hari kasih sayang biasa dirayakan tiap 14 Februari. Di Sumenep ada penolakan dari pelajar. Ratusan siswa turun jalan dan menggalang tanda tangan.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.30 ketika ratusan pelajar SMA Muhammadiyah 1 keluar Rabu (14/2). Satu per satu siswa sekolah beralamat di Jalan Urip Sumoharjo itu menuju jalanan. Ratusan pelajar itu didampingi para guru.

Mereka membawa kain putih sepanjang 100 meter. Pelajar yang memakai pakaian batik itu segera membagi tugas. Ada yang memegang kain. Ada juga yang membubuhkan tanda tangan. Ada juga yang berorasi melalui megafon.


Langit cerah. Semangat generasi bangsa itu juga tak kalah cerah. Mereka mengajak pengendara yang melintas untuk membubuhkan tanda tangan. Sebagai tanda bahwa mereka menolak perayaan valday.

Bagi mereka, perayaan valday merupakan budaya Barat dan sudah keluar dari ajaran Islam. Tidak sesuai dengan budaya timur. Terutama di Indonesia. Mereka kurang dari sejam menggalang tanda tangan untuk menolak perayaan valday.

Baca Juga :  Budi Dayakan Rumput Laut, Sekali Panen Omzet Capai Rp 36 Juta

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 1 Sumenep Damayanti mengaku bangga atas aksi penolakan perayaan valday oleh anak didiknya.  Sebab, aksi itu digelar tanpa diinstruksikan pihak sekolah. Mereka sudah menyadari bahwa valday bukan budaya Islam.

”Kami harus menolak hal tersebut (valday, Red). Kami sangat berbangga terhadap mereka,” ucapnya sambil memperhatikan anak didiknya.

Perempuan yang memakai baju batik hijau motif bunga-bunga itu menjelaskan, pihak sekolah tidak memberi materi khusus seputar valday kepada anak didik. Namun, mereka dibekali bahwa budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak perlu diikuti.

”Jadi, apa yang kami ikuti sesuai dengan apa yang kita pelajari. Tentang Islam sesuai dengan tata cara Islam dan sunah,” ujarnya.

Damayanti mengakui, kegiatan menolak valday memang dilakukan setiap tahun. Bentuk kegiatannya berbeda-beda. Tahun ini penggalangan tanda tangan. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya mereka berdiri di pinggir jalan dan berorasi.

Baca Juga :  Belajar dari Pengalaman Langsung Kesembuhan Penyintas COVID-19

”Pernah juga mengadakan seminar tentang perayaan valday itu seperti apa,” jelasnya. ”Kain panjang yang sudah ada tanda tangan akan dipasang di depan pagar sekolah. Bahwa kita berkomitmen menolak kegiatan valday,” tegasnya.

Siswa kelas XI Ahmad Fauzan Siswanto mengatakan, dirinya bersama ratusan pelajar yang lain menolak perayaan valday karena sudah keluar dari koridor Islam. Maka dari itu, pihaknya menggelar aksi menolak perayaan valday. ”Jangan kau tukar agamamu dengan setangkai bunga dan cokelat,” ingatnya.

Menurut dia, valday tidak untuk dirayakan. Sebab, kasih sayang sudah diberikan setiap hari kepada orang tersayang. ”Menurut kami tidak perlu (merayakan valday, Red),” tegasnya.

Jumlah pelajar yang turun sekitar 500 orang. Plus 46 guru. Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep juga mengeluarkan surat edaran tentang perayaan valday ke SD dan SMP baik negeri maupun swasta.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/