alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Ken Miichi Teliti Relasi Kiai, Blater, dan Politik Madura

PAMEKASAN – Masyarakat Madura dikenal religius. Porpolitikan di Pulau Garam ini menarik ditelaah. Berikut obrolan wartawan JPRM IMAM S. ARIZAL dengan peneliti Waseda University, Jepang, Ken Miichi di kantor biro Pamekasan.

Sabtu (10/2) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan kedatangan tamu. Ken Miichi, associate professor Waseda University Jepang datang saat siang sedang cerah. Dia ditemani Yuka Kayane, affiliated researcher Center for Southeast Asian Studies Kyoto University Jepang.

Pertemuan itu memang direncanakan jauh hari sebelumnya. Ken berbicara melalui saluran telepon untuk menentukan jadwal yang tepat. Ketertarikan terhadap perpolitikan Madura membuatnya bertandang secara khusus ke Kota Gerbang Salam. ”Saya mengenal Anda dari Romel Masykuri (Unair, Surabaya),” kata Ken memulai pembicaraan.

Ken Miichi bukan nama baru dalam jagat penelitian tanah air. Dia sudah banyak melakukan kajian tentang gerakan politik Islam dan fenomena sosial di Indonesia. Pada 2012, dia meneliti peran agama dan etnisitas dalam pilkada DKI Jakarta.

Baca Juga :  Tiga Hari Berpakaian ala Santri dan Tanamkan Kesederhanaan

”Saya sudah lama meneliti Indonesia. Tepatnya sejak 1995, pertama kali datang ke Indonesia,” tuturnya. ”Disertasi saya itu tentang gerakan anak muda NU,” tambahnya.

Disertasi tersebut ditulis pada 2002. Saat itu aroma Reformasi yang bergulir 1999 masih kental terasa. Sejak saat itu, dia tertarik meneliti perpolitikan tanah air. Dia pun mengikuti terus perkembangan politik Indonesia.

Dia melakukan penelitian sesuai dengan isu-isu teraktual. Termasuk, mengkaji isu-isu terorisme. Beberapa tahun terakhir, dia fokus meneliti politik di Jawa Timur.

”Jawa Timur faktor agamanya begitu kental. Saya ingin tahu lebih dalam. Jadi, bukan hanya Madura. Tapi, saya melakukan kajian Jawa Timur secara umum,” tegasnya.

Meski demikian, dia memiliki fokus tersendiri untuk Madura. Sebab, menurut dia, politik di bumi karapan sapi ini cukup unik. Masyarakat NU tidak selamanya berpatronase ke PKB ataupun ke PPP. Ada pula orang NU yang justru memilih PKS sebagai kendaraan politik.

”Masyarakat NU Jawa Timur seperti di tapal kuda, secara umum ikut PKB. Tapi kalau di Madura tidak,” tegas pria berkacamata tersebut.

Baca Juga :  Dr. KH. Safradji Menjawab Problem Modern dalam Perspektif Hukum Islam

Dia melihat politik di Madura juga hampir mirip dengan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peran tokoh masyarakat, khususnya kiai, sangat kuat menentukan calon kepala daerah. Peran kiai begitu dominan saat negosiasi dengan elite partai.

Keunikan lain, lanjut Ken, atmosfer politik antara Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep relatif berbeda. Di Bangkalan dia melihat hanya ada satu keluarga kiai yang memiliki pengaruh kuat. Sedangkan di Sampang, tidak ada pesantren yang dominan dan membuat pilihan para kiai mengalami banyak perbedaan.

Di Pamekasan polarisasinya juga berbeda. Ada pesantren-pesantren besar yang turut serta dalam percaturan politik praktis. Berbeda dengan Sumenep yang gesekan politik antarpesantren tidak sekeras di Kota Gerbang Salam.

”Saya juga melihat antara pengaruh kiai dan blater sama-sama kuat. Saya kira ini unik dan saya tertarik untuk menelitinya,” tukasnya.

PAMEKASAN – Masyarakat Madura dikenal religius. Porpolitikan di Pulau Garam ini menarik ditelaah. Berikut obrolan wartawan JPRM IMAM S. ARIZAL dengan peneliti Waseda University, Jepang, Ken Miichi di kantor biro Pamekasan.

Sabtu (10/2) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan kedatangan tamu. Ken Miichi, associate professor Waseda University Jepang datang saat siang sedang cerah. Dia ditemani Yuka Kayane, affiliated researcher Center for Southeast Asian Studies Kyoto University Jepang.

Pertemuan itu memang direncanakan jauh hari sebelumnya. Ken berbicara melalui saluran telepon untuk menentukan jadwal yang tepat. Ketertarikan terhadap perpolitikan Madura membuatnya bertandang secara khusus ke Kota Gerbang Salam. ”Saya mengenal Anda dari Romel Masykuri (Unair, Surabaya),” kata Ken memulai pembicaraan.


Ken Miichi bukan nama baru dalam jagat penelitian tanah air. Dia sudah banyak melakukan kajian tentang gerakan politik Islam dan fenomena sosial di Indonesia. Pada 2012, dia meneliti peran agama dan etnisitas dalam pilkada DKI Jakarta.

Baca Juga :  Dr. KH. Safradji Menjawab Problem Modern dalam Perspektif Hukum Islam

”Saya sudah lama meneliti Indonesia. Tepatnya sejak 1995, pertama kali datang ke Indonesia,” tuturnya. ”Disertasi saya itu tentang gerakan anak muda NU,” tambahnya.

Disertasi tersebut ditulis pada 2002. Saat itu aroma Reformasi yang bergulir 1999 masih kental terasa. Sejak saat itu, dia tertarik meneliti perpolitikan tanah air. Dia pun mengikuti terus perkembangan politik Indonesia.

Dia melakukan penelitian sesuai dengan isu-isu teraktual. Termasuk, mengkaji isu-isu terorisme. Beberapa tahun terakhir, dia fokus meneliti politik di Jawa Timur.

”Jawa Timur faktor agamanya begitu kental. Saya ingin tahu lebih dalam. Jadi, bukan hanya Madura. Tapi, saya melakukan kajian Jawa Timur secara umum,” tegasnya.

Meski demikian, dia memiliki fokus tersendiri untuk Madura. Sebab, menurut dia, politik di bumi karapan sapi ini cukup unik. Masyarakat NU tidak selamanya berpatronase ke PKB ataupun ke PPP. Ada pula orang NU yang justru memilih PKS sebagai kendaraan politik.

”Masyarakat NU Jawa Timur seperti di tapal kuda, secara umum ikut PKB. Tapi kalau di Madura tidak,” tegas pria berkacamata tersebut.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru

Dia melihat politik di Madura juga hampir mirip dengan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peran tokoh masyarakat, khususnya kiai, sangat kuat menentukan calon kepala daerah. Peran kiai begitu dominan saat negosiasi dengan elite partai.

Keunikan lain, lanjut Ken, atmosfer politik antara Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep relatif berbeda. Di Bangkalan dia melihat hanya ada satu keluarga kiai yang memiliki pengaruh kuat. Sedangkan di Sampang, tidak ada pesantren yang dominan dan membuat pilihan para kiai mengalami banyak perbedaan.

Di Pamekasan polarisasinya juga berbeda. Ada pesantren-pesantren besar yang turut serta dalam percaturan politik praktis. Berbeda dengan Sumenep yang gesekan politik antarpesantren tidak sekeras di Kota Gerbang Salam.

”Saya juga melihat antara pengaruh kiai dan blater sama-sama kuat. Saya kira ini unik dan saya tertarik untuk menelitinya,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/