alexametrics
19.5 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Saat Tertimpa Material Bangunan Sang Kakek Bilang ”Tolong Nuril dulu”

SUMENEP – Gempa yang melanda Jawa-Bali menimbulkan kerusakan besar. Korban jiwa dan trauma mendalam juga menghantui korban. Sumrani kehilangan anak dan ayah dalam bencana Kamis (11/10) dini hari itu.

 Matahari belum terlihat di Pulau Sapudi saat polisi, tentara, dan relawan mulai beraktivitas Jum’at (12/10). Kantor Kecamatan Gayam menjadi tempat menginap sebagian relawan dan awak media.

Radarmadura.id bersiap menemui Sumrani, ibu dari Nuril Camelia, 7, sekaligus anak H Nadar, 60. Dua korban meninggal akibat gempa bumi. Sebelumnya, JPRM bertemu Sumrani saat menunggu ibunya, Nasiyah, 48. Nasiyah sedang dirawat di Puskesmas Gayam karena luka patah tangan.

Sekitar pukul 07.00, JPRM berangkat ke puskesmas yang berjarak sekitar 70 meter dari kantor kecamatan. Sumrani tidak ada. Ibunya sedang tidur lelap. Informasi dari seorang perawat, Sumrani pulang ke rumahnya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam. Desa terdampak paling parah.

Pukul 7.30  berangkat dengan menggunakan motor milik anggota Polsek Gayam yang baik hati. Perjalanan ke Desa Prambanan butuh kesabaran. Jarak yang lumayan jauh, sekitar 13 km dari kantor kecamatan. Kondisi jalan berlobang dan bergelombang.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di lokasi tenda pengungsian di Desa Prambanan. Di sebelah barat lokasi tenda itu ada pertigaan. Ambil jalan ke barat sampai ujung rumah terakhir dekat pantai. Rumah tembok tanpa semen pelapis itu rumah Sumrani dan keluarga.

Rumah berukuran sekitar 5×8 meter itu sekitas terlihat masih berdiri kokoh. Meski ada beberapa retakan. Tapi tidak mengesankan bahwa rumah tersebut telah mengakibatkan dua nyawa melayang dan satu dirawat di puskesmas.

Pintu rumah tersebut tidak terkunci. Lebih tepatnya memang tidak bisa dikunci karena rusak dan miring akibat diguncang gempa 6,4 SR. Begitu masuk, baru terlihat kerusakan itu. Hampir seluruh dinding bagian dalam rusak. Sebagian ambruk total. Sebagian lagi retak dan nyaris roboh.

Baca Juga :  283 Rumah Rusak Akibat Gempa Tak Terdata di Pemprov

Rumah itu memiliki dua kamar, 1 ruang tamu, satu ruang keluarga, dan satu ruang belakang. Di kamar depan, terlihat tembok ambruk menimpa kasur. Bahkan kasur itu tidak terlihat, ditutupi sisa reruntuhan bangunan. Di situlah tempat Nuril Camelia dan kakek-neneknya, H Nadar serta Nasiyah tidur saat gempa terjadi.

Sisa darah masih terlihat. Sebagian sisa reruntuhan sudah berpindah dari lokasi asli. Sumrani dan Mujiono tidak ada di rumahnya saat itu. Saat JPRM keluar dari rumah itu ada seorang lelaki tua. Dia adalah Saad, 61, adik ipar Nasiyah. Pria berubah itu memakai baju batik dan celana pendek abu-abu. Dia menyodorkan tangan dan mulai berbincang.

Dari dialah koran tahu bahwa Sumrani berada di  rumah sepupunya. Tidak jauh dari rumahnya. Kemudian kami segara menemui Sumrani. Hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki untuk sampai.

Saat itu Sumrani mengenakan baju putih dan celana panjang hijau. Mata wanita itu masih terlihat sembab dan memerah. Meski begitu, dia menyambut kami dengan ramah. Dia mencoba terlihat tegar meski masih trauma akibat gempa yang merenggut nyawa ayah dan anaknya. Dengan mata berkaca-kaca, wanita itu menceritakan kronologi kejadian musibah yang menimpa keluarganya.

Saat itu listrik padam sejak pukul 22.00. Cahaya bulan pun tidak terlihat. Suasana gelap dan tenang. Dia terbangun karena merasakan getaran hebat. Getaran itu lalu diiringi suara perabot dapur yang berjatuhan. Lalu seperti suara tembok yang roboh.

Baca Juga :  Bayi Korban Gempa Jangan Sampai Stres

Suara yang muncul selanjutnya adalah teriakan ayah dan ibunya yang meminta pertolongan. Saat itu, ibu, ayah, dan anak Sumrani pertama, Nuril Camelia, tidur di kamar depan. Sedangkan dia bersama suami dan anak kedua, yang berusia 15 bulan, Naura, tidur di kamar tengah.

Mujiono yang mendengar mendengar teriakan itu langsung bangun dari tempat tidur. Sumrani langsung keluar rumah sambil menggendong Naura sembari meraba-raba karena gelap. Tak lama Mujiono keluar rumah dan berteriak minta tolong. Ternyata ayah, ibu, dan anak pertamanya terjebak di reruntuhan tembok.

Warga segera datang ke rumahnya untuk membantu. ”Waktu itu ibu masih sempat bilang ’tolong Nuril dulu’,” katanya. Mujiono bersama warga langsung mengangkat Nuril yang sudah tidak bersuara. Sedangkan ayah Sumrani, H Nadar saat itu masih sempat merintih kesakitan.

Ketiganya kemudian dibawa ke Puskesmas Gayam yang jaraknya cukup jauh dan medannya berat. Sayang, nyawa Nuril dan H. Nadar tidak tertolong. Jerit tangis histeris seketika pecah saat itu.

Nuril dikenal sebagai anak cerdas dan aktif. Dia sudah dua kali khatam Alquran. Dia juga rajinmengikuti lomba Agustusan di kecamatan. Terkenal sebagai anak baik dan ramah.

Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Sumrani dan Mujiono belum mau masuk ke rumah. Mereka masih trauma dengan kejadian yang menimpa keluarga. ”Kalau dekat dengan rumah saya rasanya sesak. Saya pengin nangis terus,” katanya sambil menahan air mata.

Saat Koran berbincang dengan Sumrani, suaminya Mujiono sedang menjaga Nasiyah yang dirawat di puskesmas. Sumrani hanya berdoa agar anak dan ayahnya tenang di alam sana. Juga kesembuhan untuk ibunya.

SUMENEP – Gempa yang melanda Jawa-Bali menimbulkan kerusakan besar. Korban jiwa dan trauma mendalam juga menghantui korban. Sumrani kehilangan anak dan ayah dalam bencana Kamis (11/10) dini hari itu.

 Matahari belum terlihat di Pulau Sapudi saat polisi, tentara, dan relawan mulai beraktivitas Jum’at (12/10). Kantor Kecamatan Gayam menjadi tempat menginap sebagian relawan dan awak media.

Radarmadura.id bersiap menemui Sumrani, ibu dari Nuril Camelia, 7, sekaligus anak H Nadar, 60. Dua korban meninggal akibat gempa bumi. Sebelumnya, JPRM bertemu Sumrani saat menunggu ibunya, Nasiyah, 48. Nasiyah sedang dirawat di Puskesmas Gayam karena luka patah tangan.


Sekitar pukul 07.00, JPRM berangkat ke puskesmas yang berjarak sekitar 70 meter dari kantor kecamatan. Sumrani tidak ada. Ibunya sedang tidur lelap. Informasi dari seorang perawat, Sumrani pulang ke rumahnya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam. Desa terdampak paling parah.

Pukul 7.30  berangkat dengan menggunakan motor milik anggota Polsek Gayam yang baik hati. Perjalanan ke Desa Prambanan butuh kesabaran. Jarak yang lumayan jauh, sekitar 13 km dari kantor kecamatan. Kondisi jalan berlobang dan bergelombang.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di lokasi tenda pengungsian di Desa Prambanan. Di sebelah barat lokasi tenda itu ada pertigaan. Ambil jalan ke barat sampai ujung rumah terakhir dekat pantai. Rumah tembok tanpa semen pelapis itu rumah Sumrani dan keluarga.

Rumah berukuran sekitar 5×8 meter itu sekitas terlihat masih berdiri kokoh. Meski ada beberapa retakan. Tapi tidak mengesankan bahwa rumah tersebut telah mengakibatkan dua nyawa melayang dan satu dirawat di puskesmas.

Pintu rumah tersebut tidak terkunci. Lebih tepatnya memang tidak bisa dikunci karena rusak dan miring akibat diguncang gempa 6,4 SR. Begitu masuk, baru terlihat kerusakan itu. Hampir seluruh dinding bagian dalam rusak. Sebagian ambruk total. Sebagian lagi retak dan nyaris roboh.

Baca Juga :  Gempa Sumenep Rusak Rumah Warga, Madrasah, dan Masjid

Rumah itu memiliki dua kamar, 1 ruang tamu, satu ruang keluarga, dan satu ruang belakang. Di kamar depan, terlihat tembok ambruk menimpa kasur. Bahkan kasur itu tidak terlihat, ditutupi sisa reruntuhan bangunan. Di situlah tempat Nuril Camelia dan kakek-neneknya, H Nadar serta Nasiyah tidur saat gempa terjadi.

Sisa darah masih terlihat. Sebagian sisa reruntuhan sudah berpindah dari lokasi asli. Sumrani dan Mujiono tidak ada di rumahnya saat itu. Saat JPRM keluar dari rumah itu ada seorang lelaki tua. Dia adalah Saad, 61, adik ipar Nasiyah. Pria berubah itu memakai baju batik dan celana pendek abu-abu. Dia menyodorkan tangan dan mulai berbincang.

Dari dialah koran tahu bahwa Sumrani berada di  rumah sepupunya. Tidak jauh dari rumahnya. Kemudian kami segara menemui Sumrani. Hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki untuk sampai.

Saat itu Sumrani mengenakan baju putih dan celana panjang hijau. Mata wanita itu masih terlihat sembab dan memerah. Meski begitu, dia menyambut kami dengan ramah. Dia mencoba terlihat tegar meski masih trauma akibat gempa yang merenggut nyawa ayah dan anaknya. Dengan mata berkaca-kaca, wanita itu menceritakan kronologi kejadian musibah yang menimpa keluarganya.

Saat itu listrik padam sejak pukul 22.00. Cahaya bulan pun tidak terlihat. Suasana gelap dan tenang. Dia terbangun karena merasakan getaran hebat. Getaran itu lalu diiringi suara perabot dapur yang berjatuhan. Lalu seperti suara tembok yang roboh.

Baca Juga :  Gempa, BPBD Imbau Masyarakat Tidak Panik

Suara yang muncul selanjutnya adalah teriakan ayah dan ibunya yang meminta pertolongan. Saat itu, ibu, ayah, dan anak Sumrani pertama, Nuril Camelia, tidur di kamar depan. Sedangkan dia bersama suami dan anak kedua, yang berusia 15 bulan, Naura, tidur di kamar tengah.

Mujiono yang mendengar mendengar teriakan itu langsung bangun dari tempat tidur. Sumrani langsung keluar rumah sambil menggendong Naura sembari meraba-raba karena gelap. Tak lama Mujiono keluar rumah dan berteriak minta tolong. Ternyata ayah, ibu, dan anak pertamanya terjebak di reruntuhan tembok.

Warga segera datang ke rumahnya untuk membantu. ”Waktu itu ibu masih sempat bilang ’tolong Nuril dulu’,” katanya. Mujiono bersama warga langsung mengangkat Nuril yang sudah tidak bersuara. Sedangkan ayah Sumrani, H Nadar saat itu masih sempat merintih kesakitan.

Ketiganya kemudian dibawa ke Puskesmas Gayam yang jaraknya cukup jauh dan medannya berat. Sayang, nyawa Nuril dan H. Nadar tidak tertolong. Jerit tangis histeris seketika pecah saat itu.

Nuril dikenal sebagai anak cerdas dan aktif. Dia sudah dua kali khatam Alquran. Dia juga rajinmengikuti lomba Agustusan di kecamatan. Terkenal sebagai anak baik dan ramah.

Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Sumrani dan Mujiono belum mau masuk ke rumah. Mereka masih trauma dengan kejadian yang menimpa keluarga. ”Kalau dekat dengan rumah saya rasanya sesak. Saya pengin nangis terus,” katanya sambil menahan air mata.

Saat Koran berbincang dengan Sumrani, suaminya Mujiono sedang menjaga Nasiyah yang dirawat di puskesmas. Sumrani hanya berdoa agar anak dan ayahnya tenang di alam sana. Juga kesembuhan untuk ibunya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Farid Sapa Sopir dan Pedagang

Polair Kembalikan Perahu Nelayan

Artikel Terbaru

/