alexametrics
23 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Upaya Lapas Kelas II-A Pamekasan Memasyarakatkan Narapidana

Lapas Kelas II-A Pamekasan menyiapkan mental dan skill napi sebelum kembali ke tengah masyarakat. Pelatihan kerja serta kemampuan seni pun dibekalkan.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

MEREKA bukan penjahat yang harus dihakimi semau kita. Mereka bukan penjahat yang harus kita jauhi. Mereka hanya manusia biasa yang tersesat di jalan yang salah, sehingga harus kita dekati dan diberi pembinaan,” kata Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan M. Hanafi.

Perbincangan hangat RadarMadura.id dengan M. Hanafi mengawali Senin pagi (11/3) yang dingin dibalut awan. Langit Pamekasan mendung. Tetapi, suasana di hotel prodeo itu hangat penuh semangat.

Sebanyak 50 narapidana (napi) dari berbagai kasus hukum berkumpul di aula. Penampilan mereka layaknya kontraktor. Tidak ada rompi oranye bertulis tahanan. Mereka mengenakan kaus dongker yang diberikan panitia pelatihan konstruksi bangunan.

Lengkap dengan sepatu bot dan helm kuning, napi duduk rapi mendengarkan materi pelatihan. Sesekali terlihat tangan mereka mencatat materi yang disampaikan narasumber.

Dari raut wajah, mereka sangat antusias. Mereka merelakan waktu untuk tidak menerima kunjungan demi mengikuti pelatihan itu. Peserta pelatihan itu seperti sangat siap kembali bersosialisasi dengan masyarakat.

Baca Juga :  Menu Ramadan Dandim 0829/Bangkalan Letkol Kav Ari Setyawan Wibowo

M. Hanafi mengatakan, napi bukanlah orang jahat yang harus dijauhi dan ditakuti. Justru, mereka harus didekati dan diberi pembinaan agar siap kembali ke tengah masyarakat.

Pihak lapas tidak ingin menjadi bagian yang menghakimi kehidupan napi. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyiapkan mental dan perlahan mengubah sudut pandang masyarakat terhadap napi.

Upaya yang dilakukan di antaranya, memberikan pelatihan kerja kepada napi. Mereka dilatih membuat produk kreatif yang siap dipasarkan. Seperti batik, las, dan pembuatan kanopi rumah.

Harapannya, setelah keluar dari penjara, mereka membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Napi juga dibekali kemampuan di bidang konstruksi agar bisa bergabung dengan pengusaha jasa konstruksi.

Sesekali, lapas mengeluarkan napi dari penjara walau hanya sekadar bersih-bersih lingkungan. Harapannya, mereka membiasakan diri bersosialisasi dengan masyarakat setelah sekian lama dikurung. ”Saya tidak khawatir napi kabur, karena mereka sudah berubah menjadi lebih baik,” katanya.

Selain keahlian di bidang pekerjaan, Lapas Kelas II-A Pamekasan membekali dan mengasah kemampuan seni para napi. Dua grup musik terbentuk. Yakni bergenre gambus dan rock. Keduanya bernama Nato Band. Nama tersebut merupakan akronim dari narapidana tobat.

Baca Juga :  Ribuan Jiwa Penduduk Sampang Menganggur

Grup musik itu biasa tampil ketika lapas mengadakan kegiatan seremonial. Misalnya menyambut tamu dari luar daerah sampai tampil di tengah masyarakat umum. ”Jika ada yang mau mengundang, silakan hubungi kami,” katanya.

Lapas memberi kebebasan kepada masyarakat yang ingin mengundang grup musik itu. Dengan harapan, masyarakat tidak memandang sebelah mata para napi. Mereka terbiasa bersosialisasi dengan napi sehingga ketika tahanan itu bebas, siap menerima.

Pria kelahiran Pamekasan itu menyampaikan, napi memang pernah membuat salah. Tetapi, mereka juga ingin berubah menjadi lebih baik. Masyarakat patut memberi kesempatan agar napi bisa lebih baik dari sebelumnya.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Abdul Haq mengatakan, pembinaan terhadap napi harus optimal. Itu supaya mereka memiliki mental dan kesiapan yang kuat ketika kembali ke tengah masyarakat.

”Pembinaan rohani juga harus diberikan agar ketika bebas tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum. Pembinaan keterampilan kerja juga sangat penting agar mereka siap memenuhi kebutuhan keluarga,” ucap Abdul Haq.

Lapas Kelas II-A Pamekasan menyiapkan mental dan skill napi sebelum kembali ke tengah masyarakat. Pelatihan kerja serta kemampuan seni pun dibekalkan.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

MEREKA bukan penjahat yang harus dihakimi semau kita. Mereka bukan penjahat yang harus kita jauhi. Mereka hanya manusia biasa yang tersesat di jalan yang salah, sehingga harus kita dekati dan diberi pembinaan,” kata Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan M. Hanafi.


Perbincangan hangat RadarMadura.id dengan M. Hanafi mengawali Senin pagi (11/3) yang dingin dibalut awan. Langit Pamekasan mendung. Tetapi, suasana di hotel prodeo itu hangat penuh semangat.

Sebanyak 50 narapidana (napi) dari berbagai kasus hukum berkumpul di aula. Penampilan mereka layaknya kontraktor. Tidak ada rompi oranye bertulis tahanan. Mereka mengenakan kaus dongker yang diberikan panitia pelatihan konstruksi bangunan.

Lengkap dengan sepatu bot dan helm kuning, napi duduk rapi mendengarkan materi pelatihan. Sesekali terlihat tangan mereka mencatat materi yang disampaikan narasumber.

Dari raut wajah, mereka sangat antusias. Mereka merelakan waktu untuk tidak menerima kunjungan demi mengikuti pelatihan itu. Peserta pelatihan itu seperti sangat siap kembali bersosialisasi dengan masyarakat.

Baca Juga :  Upaya Bupati Bangkalan Dapatkan Dana PI 10 Persen

M. Hanafi mengatakan, napi bukanlah orang jahat yang harus dijauhi dan ditakuti. Justru, mereka harus didekati dan diberi pembinaan agar siap kembali ke tengah masyarakat.

Pihak lapas tidak ingin menjadi bagian yang menghakimi kehidupan napi. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyiapkan mental dan perlahan mengubah sudut pandang masyarakat terhadap napi.

Upaya yang dilakukan di antaranya, memberikan pelatihan kerja kepada napi. Mereka dilatih membuat produk kreatif yang siap dipasarkan. Seperti batik, las, dan pembuatan kanopi rumah.

Harapannya, setelah keluar dari penjara, mereka membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Napi juga dibekali kemampuan di bidang konstruksi agar bisa bergabung dengan pengusaha jasa konstruksi.

Sesekali, lapas mengeluarkan napi dari penjara walau hanya sekadar bersih-bersih lingkungan. Harapannya, mereka membiasakan diri bersosialisasi dengan masyarakat setelah sekian lama dikurung. ”Saya tidak khawatir napi kabur, karena mereka sudah berubah menjadi lebih baik,” katanya.

Selain keahlian di bidang pekerjaan, Lapas Kelas II-A Pamekasan membekali dan mengasah kemampuan seni para napi. Dua grup musik terbentuk. Yakni bergenre gambus dan rock. Keduanya bernama Nato Band. Nama tersebut merupakan akronim dari narapidana tobat.

Baca Juga :  Menyongsong Era Kenormalan Baru, Boekit Tinggi Mulai Diserbu

Grup musik itu biasa tampil ketika lapas mengadakan kegiatan seremonial. Misalnya menyambut tamu dari luar daerah sampai tampil di tengah masyarakat umum. ”Jika ada yang mau mengundang, silakan hubungi kami,” katanya.

Lapas memberi kebebasan kepada masyarakat yang ingin mengundang grup musik itu. Dengan harapan, masyarakat tidak memandang sebelah mata para napi. Mereka terbiasa bersosialisasi dengan napi sehingga ketika tahanan itu bebas, siap menerima.

Pria kelahiran Pamekasan itu menyampaikan, napi memang pernah membuat salah. Tetapi, mereka juga ingin berubah menjadi lebih baik. Masyarakat patut memberi kesempatan agar napi bisa lebih baik dari sebelumnya.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Abdul Haq mengatakan, pembinaan terhadap napi harus optimal. Itu supaya mereka memiliki mental dan kesiapan yang kuat ketika kembali ke tengah masyarakat.

”Pembinaan rohani juga harus diberikan agar ketika bebas tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum. Pembinaan keterampilan kerja juga sangat penting agar mereka siap memenuhi kebutuhan keluarga,” ucap Abdul Haq.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/