alexametrics
23.2 C
Madura
Thursday, January 20, 2022

Khilma Anis, Penulis Novel Hati Suhita yang Segera Difilmkan

Khilma Anis berhasil memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai media penyaluran bakatnya. Tulisannya mampu membius netizen sehingga melahirkan novel Hati Suhita.

ANIS BILLAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

KHILMA Anis terlihat akrab dengan santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan. Itu terlihat saat perempuan kelahiran Jember itu mengisi kegiatan Ngaji Membaca dalam rangkaian kegiatan Pekan Ngaji 7. Saat di ruang pemateri, dia tampak guyub berbincang dengan santri.

Di tengah perbincangan, seorang panitia menyela dan menyodorkan sebuah buku dan bolpen kepada perempuan yang memiliki trah darah biru itu. Ternyata, buku itu adalah karyanya. Panitia hendak meminta tanda tangan kepada Khilma Anis sebagai penulis novel berjudul Hati Suhita.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), perempuan yang biasa disapa Ning Khilma itu mengaku tidak pernah menyangka karyanya bisa membeludak seperti sekarang. Dia merasa, saat proses penulisan naskah tidak seriweh novel sebelumnya yang berjudul Wigati; Lintang Manik Woro. Dia butuh waktu hingga empat tahun untuk menuntaskan novel tersebut.

Proses penulisan novel Wigati disebut tidak mudah karena Ning Khilma menulis sambil melakukan riset. Di antaranya berkaitan dengan keris rajamala, sejarah Jawa, dan yang lainnya. Dia menjadikan bahan risetnya untuk dituangkan dalam novel Wigati.

”Bagi saya, produktif itu melakukan usaha paling maksimal. Tidak apa-apa tulisan karya sedikit asal itu dilakukan dengan maksimal,” ujarnya.

Berbeda dengan proses penulisan naskah Wigati, novel Hati Suhita penulisannya lebih singkat dan tidak membutuhkan riset panjang. Tak jarang terbitnya novel tersebut dianggap sebagai penanda lahirnya sastra digital. Sebab, awal mula penulisan Hati Suhita hanya iseng dan diunggah melalui Facebook.

Perempuan yang lahir pada 4 Oktober 1986 itu mengaku banyak keuntungan ketika menulis di media sosial. Saat tulisan diunggah, langsung mendapat komentar dari netizen. Baik berupa masukan dan kritik. Dia banyak mendiskusikan alur cerita dalam novel Hati Suhita di Facebook bersama netizen.

Baca Juga :  Bawaslu Intens Awasi Kampanye di Medsos

”Jadi, saya bisa tahu kekurangan dari tulisan saya,” tuturnya.

Selain itu, Ning Khilma mendapat banyak tambahan followers ketika menulis di medsos. Dia mem-posting cerita Hati Suhita per satu bab. Ternyata, respons netizen cukup baik. Bahkan, followers-nya meledak sampai 100 ribuan dari yang awalnya hanya 5 ribuan.

”Teman baru banyak yang muncul, mulai dari kalangan orang bercadar, nonmuslim juga banyak,” kata novelis asal pesantren itu.

Tidak hanya itu, Ning Khilma bisa mengetahui tulisannya diplagiat dari followers-nya. Hal itu terjadi saat penulisan bab ke-13. Dia menyebut ada 33 bab dalam novel Hati Suhita. Satu di antara tulisannya diplagiat oleh seseorang. Dia dengan sengaja meng-copy-paste (salin-tempel) naskah dengan mengganti nama penulis.

Kondisi tersebut membuat Ning Khilma dituding plagiator. Sebagian followers-nya mulai meragukan karya Ning Khilma. Hal itu membuat Ning Khilma putus asa dan menghentikan lanjutan cerita Hati Suhita. Namun, mayoritas followers dan kerabat mendukung untuk melanjutkan.

”Daripada dianggap sebagai plagiator, mending saya tidak menulis. Tapi, akhirnya saya menyadari ini bagian dari risiko,” paparnya.

Dari kejadian itu, mahasiswi lulusan Universitas Sunan Kalijaga Jogjakarta itu mulai paham risiko menulis di medsos. Dalam hitungan detik, tulisan bisa disalin-tempel oleh siapa pun.

Baca Juga :  Lapas Kelas II-A Pamekasan Ikut Waspadai Covid-19

Ning Khilma menyadari plagiarisme itu bukan alasan untuk berhenti menulis. Akhirnya, dia pamit kepada followers untuk melanjutkan cerita Hati Suhita dalam bentuk buku. Bab 20 dan bab 33 terakhir tidak dimunculkan di medsos. ”Proses penulisan dari awal sampai akhir selama tujuh bulan,” ungkapnya.

Ning Khilma menjelaskan, melalui novel Hati Suhita dia ingin menunjukkan sisi lain pesantren. Di antaranya berkaitan dengan perjodohan di lingkungan pesantren yang sering terjadi kepada putra-putri kiai. Melalui Hati Suhita, dia menunjukkan bahwa perjodohan bukan sesuatu yang salah.

”Jadi, yang membaca Hati Suhita bisa merasakan sendiri bahwa dia pernah mengalaminya,” jelasnya.

Selain menulis, Ning Khilma juga disibukkan dengan mengajar santri di Pondok Pesantren An-Nur. Aktivitas pagi biasanya diisi dengan menyimak kajian, sedangkan siang mengajar. Setelah duhur, dia kembali bercengkerama dengan santri untuk pendalaman materi.

Setelah itu, dia meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk membaca. Dia mengakui bahwa dirinya tidak mungkin bisa menulis tanpa membaca. ”Mungkin waktu nulisnya itu hanya sejam,” bebernya.

Istri dari Chazyal Mazda Choirozyad tidak pernah membayangkan bukunya bisa selaris sekarang. Sejak diterbitkan pada 2019 sudah terjual sebanyak 87 ribu eksemplar. Bahkan, saat ini novel Hati Suhita bakal segera difilmkan. Rencana itu sudah terjadwal sejak 2019, namun tertunda karena pandemi. Rencananya, proses syuting film akan dilaksanakan tahun ini.

”Ternyata tulisan itu seperti sayap. Kalau ditekuni, bisa diajak terbang ke mana-mana,” tandasnya. (*/rus)

Khilma Anis berhasil memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai media penyaluran bakatnya. Tulisannya mampu membius netizen sehingga melahirkan novel Hati Suhita.

ANIS BILLAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

KHILMA Anis terlihat akrab dengan santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan. Itu terlihat saat perempuan kelahiran Jember itu mengisi kegiatan Ngaji Membaca dalam rangkaian kegiatan Pekan Ngaji 7. Saat di ruang pemateri, dia tampak guyub berbincang dengan santri.

Di tengah perbincangan, seorang panitia menyela dan menyodorkan sebuah buku dan bolpen kepada perempuan yang memiliki trah darah biru itu. Ternyata, buku itu adalah karyanya. Panitia hendak meminta tanda tangan kepada Khilma Anis sebagai penulis novel berjudul Hati Suhita.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), perempuan yang biasa disapa Ning Khilma itu mengaku tidak pernah menyangka karyanya bisa membeludak seperti sekarang. Dia merasa, saat proses penulisan naskah tidak seriweh novel sebelumnya yang berjudul Wigati; Lintang Manik Woro. Dia butuh waktu hingga empat tahun untuk menuntaskan novel tersebut.

Proses penulisan novel Wigati disebut tidak mudah karena Ning Khilma menulis sambil melakukan riset. Di antaranya berkaitan dengan keris rajamala, sejarah Jawa, dan yang lainnya. Dia menjadikan bahan risetnya untuk dituangkan dalam novel Wigati.

”Bagi saya, produktif itu melakukan usaha paling maksimal. Tidak apa-apa tulisan karya sedikit asal itu dilakukan dengan maksimal,” ujarnya.

Berbeda dengan proses penulisan naskah Wigati, novel Hati Suhita penulisannya lebih singkat dan tidak membutuhkan riset panjang. Tak jarang terbitnya novel tersebut dianggap sebagai penanda lahirnya sastra digital. Sebab, awal mula penulisan Hati Suhita hanya iseng dan diunggah melalui Facebook.

Perempuan yang lahir pada 4 Oktober 1986 itu mengaku banyak keuntungan ketika menulis di media sosial. Saat tulisan diunggah, langsung mendapat komentar dari netizen. Baik berupa masukan dan kritik. Dia banyak mendiskusikan alur cerita dalam novel Hati Suhita di Facebook bersama netizen.

Baca Juga :  Kapolres Imbau Warga Bijak Bermedsos

”Jadi, saya bisa tahu kekurangan dari tulisan saya,” tuturnya.

Selain itu, Ning Khilma mendapat banyak tambahan followers ketika menulis di medsos. Dia mem-posting cerita Hati Suhita per satu bab. Ternyata, respons netizen cukup baik. Bahkan, followers-nya meledak sampai 100 ribuan dari yang awalnya hanya 5 ribuan.

”Teman baru banyak yang muncul, mulai dari kalangan orang bercadar, nonmuslim juga banyak,” kata novelis asal pesantren itu.

Tidak hanya itu, Ning Khilma bisa mengetahui tulisannya diplagiat dari followers-nya. Hal itu terjadi saat penulisan bab ke-13. Dia menyebut ada 33 bab dalam novel Hati Suhita. Satu di antara tulisannya diplagiat oleh seseorang. Dia dengan sengaja meng-copy-paste (salin-tempel) naskah dengan mengganti nama penulis.

Kondisi tersebut membuat Ning Khilma dituding plagiator. Sebagian followers-nya mulai meragukan karya Ning Khilma. Hal itu membuat Ning Khilma putus asa dan menghentikan lanjutan cerita Hati Suhita. Namun, mayoritas followers dan kerabat mendukung untuk melanjutkan.

”Daripada dianggap sebagai plagiator, mending saya tidak menulis. Tapi, akhirnya saya menyadari ini bagian dari risiko,” paparnya.

Dari kejadian itu, mahasiswi lulusan Universitas Sunan Kalijaga Jogjakarta itu mulai paham risiko menulis di medsos. Dalam hitungan detik, tulisan bisa disalin-tempel oleh siapa pun.

Baca Juga :  Manfaatkan Medsos Obral Motor Curian

Ning Khilma menyadari plagiarisme itu bukan alasan untuk berhenti menulis. Akhirnya, dia pamit kepada followers untuk melanjutkan cerita Hati Suhita dalam bentuk buku. Bab 20 dan bab 33 terakhir tidak dimunculkan di medsos. ”Proses penulisan dari awal sampai akhir selama tujuh bulan,” ungkapnya.

Ning Khilma menjelaskan, melalui novel Hati Suhita dia ingin menunjukkan sisi lain pesantren. Di antaranya berkaitan dengan perjodohan di lingkungan pesantren yang sering terjadi kepada putra-putri kiai. Melalui Hati Suhita, dia menunjukkan bahwa perjodohan bukan sesuatu yang salah.

”Jadi, yang membaca Hati Suhita bisa merasakan sendiri bahwa dia pernah mengalaminya,” jelasnya.

Selain menulis, Ning Khilma juga disibukkan dengan mengajar santri di Pondok Pesantren An-Nur. Aktivitas pagi biasanya diisi dengan menyimak kajian, sedangkan siang mengajar. Setelah duhur, dia kembali bercengkerama dengan santri untuk pendalaman materi.

Setelah itu, dia meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk membaca. Dia mengakui bahwa dirinya tidak mungkin bisa menulis tanpa membaca. ”Mungkin waktu nulisnya itu hanya sejam,” bebernya.

Istri dari Chazyal Mazda Choirozyad tidak pernah membayangkan bukunya bisa selaris sekarang. Sejak diterbitkan pada 2019 sudah terjual sebanyak 87 ribu eksemplar. Bahkan, saat ini novel Hati Suhita bakal segera difilmkan. Rencana itu sudah terjadwal sejak 2019, namun tertunda karena pandemi. Rencananya, proses syuting film akan dilaksanakan tahun ini.

”Ternyata tulisan itu seperti sayap. Kalau ditekuni, bisa diajak terbang ke mana-mana,” tandasnya. (*/rus)

Most Read

Artikel Terbaru