alexametrics
28.6 C
Madura
Friday, May 20, 2022

Dua Kali Tenggelam Dihantam Ombak saat Kegiatan Imunisasi

Dua puluh enam tahun mengabdi sebagai tenaga medis di kepulauan bukan perkara mudah. Nyawa jadi taruhan. Terutama ketika ombak besar disertai angin kencang. Salim menjalani itu sebagai bentuk pengabdian.

DAFIR FALAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BERTUGAS di daerah yang serba terbatas dituntut harus memutar otak. Bahkan, harus mengambil tindakan di luar prosedur. Seperti dilakukan Moh. Salim saat menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan di Pulau Sapeken.

Dia rela menguburkan impiannya untuk nyantri karena ingin mengabdi sebagai tenaga medis. Sejak kecil dia punya keinginan untuk mondok di Gontor. Namun, dia justru menempuh pendidikan sekolah perawat kesehatan (SPK) di Pamekasan pada 1993.

Dua tahun mengenyam pendidikan di Kota Gerbang Salam, dia memutuskan kembali ke Sapeken. Tepat pada 1995, dia memilih sebagai tenaga sukarelawan (sukwan) dengan honor sangat kecil. Hanya Rp 200 ribu per bulan. Namun, bagi pria kelahiran 30 Januari 1976 itu tidak jadi soal. Yang terpenting, bisa membantu banyak orang.

Kala itu tenaga medis di Sapeken benar-benar terbatas. Begitu pun dengan fasilitas kesehatan (faskes). Bahkan, terkadang Salim merangkap banyak profesi. Sesekali mengambil tindakan pekerjaan dokter umum, bidan, dan dokter spesialis. Semua itu dia lakukan karena terbatasnya tenaga medis saat itu.

Baca Juga :  Mereka yang Sempat Menulis di Tengah Kesibukan Mendidik Siswa (2)

Kondisi tersebut yang menuntut Moh. Salim menuruti keinginan ayahnya untuk sekolah keperawatan. Keinginan untuk mondok di Gontor dia urungkan. Lantaran keberadaan tenaga medis di Pulau Sapeken benar-benar dibutuhkan.

Sejak lulus dari SPK (sejajar SMA) pada 1995, dia memutuskan mengabdi di Puskesmas Sapeken. Selama kurun waktu 5 tahun, tugas utama Salim tidak hanya sebagai perawat. Tetapi, dia sering menangani persalinan dari pulau ke pulau. ”Kondisinya memang begitu. Saya tidak punya pilihan lagi, kecuali harus hadir melayani mereka. Meskipun, di luar prosedur,” kata dia.

Salim mengatakan, di Sapeken itu hanya ada satu puskesmas dan lima pustu. Sementara, Kecamatan Sapeken terdiri atas dari banyak pulau. Yang berpenghuni 25 pulau. ”Semua pernah saya datangi. Terutama, tahun 2000 ke belakang,” ujarnya.

Saat itu, setiap bulan rutin ada kegiatan posyandu, penyuluhan, dan pengobatan dasar. Itu dilakukan ke 20 pulau. Sebab, 20 pulau itu belum tersentuh pelayanan kesehatan.

Menurut Salim, menjadi tenaga medis di kepulauan tidak semudah dibayangkan. Berbeda jauh dengan di darat. Dia mencontohkan kegiatan posyandu di pulau-pulau. Dia berangkat pagi, lalu pulang malam. Bahkan, bisa menginap di satu pulau. ”Itu manakala perahu yang saya tumpangi kandas karena ait laut surut,” katanya.

Baca Juga :  Dokter, Bidan, Perawat, hingga Sopir Ambulans Terpapar Covid-19

Pulau-pulau yang rutin didatangi untuk memberikan imunisasi, pengobatan, dan posyandu karena tidak ada pustunya. Dari puluhan pulau di Kecamatan Sapeken, yang ada pustu hanya lima. Yaitu Pulau Sepanjang, Pulau Saseel, Pulau Pagerungan Besar, Pulau Pagerungan Kecil, dan Pulau Sakala. ”Itu sekitar tahun 2000. Kalau sekarang, alhamdulillah sudah ada,” sebutnya.

Untuk sampai ke pulau-pulau itu dibutuhkan waktu dan nyali. Penyeberangan butuh 2 hingga 3 jam dari Pulau Sapeken. Tapi, untuk pulau terdekat dari Sapeken, paling butuh perjalanan laut 30 menit. Kalau pulau terjauh seperti ke Sakala bisa ditempuh 5 jam.

Alumnus sarjana keperawatan Universitas Wiraraja itu menjelaskan, tenaga medis di kepulauan mempertaruhkan nyawa. Sebab, cuaca tidak selamanya bagus. Terkadang tiba-tiba ombak menghantam. Itu hal biasa yang sering dialami. ”Kalau bukan untuk mengabdi, pasti jenuh dan bosan,” jelasnya.

Selama bertugas di Sapeken, pihaknya sudah dua kali tenggelam. Itu terjadi pada saat mau melakukan imunisasi ke Pulau Sadulang Besar. ”Saya bersama tim hampir mau sampai darat. Tiba-tiba, perahu saya guling karena ombak besar. Obat-obatan habis terhanyut ombak. Untungnya kami selamat,” kata Salim.

- Advertisement -

Dua puluh enam tahun mengabdi sebagai tenaga medis di kepulauan bukan perkara mudah. Nyawa jadi taruhan. Terutama ketika ombak besar disertai angin kencang. Salim menjalani itu sebagai bentuk pengabdian.

DAFIR FALAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BERTUGAS di daerah yang serba terbatas dituntut harus memutar otak. Bahkan, harus mengambil tindakan di luar prosedur. Seperti dilakukan Moh. Salim saat menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan di Pulau Sapeken.


Dia rela menguburkan impiannya untuk nyantri karena ingin mengabdi sebagai tenaga medis. Sejak kecil dia punya keinginan untuk mondok di Gontor. Namun, dia justru menempuh pendidikan sekolah perawat kesehatan (SPK) di Pamekasan pada 1993.

Dua tahun mengenyam pendidikan di Kota Gerbang Salam, dia memutuskan kembali ke Sapeken. Tepat pada 1995, dia memilih sebagai tenaga sukarelawan (sukwan) dengan honor sangat kecil. Hanya Rp 200 ribu per bulan. Namun, bagi pria kelahiran 30 Januari 1976 itu tidak jadi soal. Yang terpenting, bisa membantu banyak orang.

Kala itu tenaga medis di Sapeken benar-benar terbatas. Begitu pun dengan fasilitas kesehatan (faskes). Bahkan, terkadang Salim merangkap banyak profesi. Sesekali mengambil tindakan pekerjaan dokter umum, bidan, dan dokter spesialis. Semua itu dia lakukan karena terbatasnya tenaga medis saat itu.

Baca Juga :  SMAN 4 Sampang Tiap Tahun Kekurangan Peserta Didik

Kondisi tersebut yang menuntut Moh. Salim menuruti keinginan ayahnya untuk sekolah keperawatan. Keinginan untuk mondok di Gontor dia urungkan. Lantaran keberadaan tenaga medis di Pulau Sapeken benar-benar dibutuhkan.

Sejak lulus dari SPK (sejajar SMA) pada 1995, dia memutuskan mengabdi di Puskesmas Sapeken. Selama kurun waktu 5 tahun, tugas utama Salim tidak hanya sebagai perawat. Tetapi, dia sering menangani persalinan dari pulau ke pulau. ”Kondisinya memang begitu. Saya tidak punya pilihan lagi, kecuali harus hadir melayani mereka. Meskipun, di luar prosedur,” kata dia.

Salim mengatakan, di Sapeken itu hanya ada satu puskesmas dan lima pustu. Sementara, Kecamatan Sapeken terdiri atas dari banyak pulau. Yang berpenghuni 25 pulau. ”Semua pernah saya datangi. Terutama, tahun 2000 ke belakang,” ujarnya.

Saat itu, setiap bulan rutin ada kegiatan posyandu, penyuluhan, dan pengobatan dasar. Itu dilakukan ke 20 pulau. Sebab, 20 pulau itu belum tersentuh pelayanan kesehatan.

Menurut Salim, menjadi tenaga medis di kepulauan tidak semudah dibayangkan. Berbeda jauh dengan di darat. Dia mencontohkan kegiatan posyandu di pulau-pulau. Dia berangkat pagi, lalu pulang malam. Bahkan, bisa menginap di satu pulau. ”Itu manakala perahu yang saya tumpangi kandas karena ait laut surut,” katanya.

Baca Juga :  Miris! Dinkes Akui Puskesmas di Sampang Kekurangan Perawat dan Dokter

Pulau-pulau yang rutin didatangi untuk memberikan imunisasi, pengobatan, dan posyandu karena tidak ada pustunya. Dari puluhan pulau di Kecamatan Sapeken, yang ada pustu hanya lima. Yaitu Pulau Sepanjang, Pulau Saseel, Pulau Pagerungan Besar, Pulau Pagerungan Kecil, dan Pulau Sakala. ”Itu sekitar tahun 2000. Kalau sekarang, alhamdulillah sudah ada,” sebutnya.

Untuk sampai ke pulau-pulau itu dibutuhkan waktu dan nyali. Penyeberangan butuh 2 hingga 3 jam dari Pulau Sapeken. Tapi, untuk pulau terdekat dari Sapeken, paling butuh perjalanan laut 30 menit. Kalau pulau terjauh seperti ke Sakala bisa ditempuh 5 jam.

Alumnus sarjana keperawatan Universitas Wiraraja itu menjelaskan, tenaga medis di kepulauan mempertaruhkan nyawa. Sebab, cuaca tidak selamanya bagus. Terkadang tiba-tiba ombak menghantam. Itu hal biasa yang sering dialami. ”Kalau bukan untuk mengabdi, pasti jenuh dan bosan,” jelasnya.

Selama bertugas di Sapeken, pihaknya sudah dua kali tenggelam. Itu terjadi pada saat mau melakukan imunisasi ke Pulau Sadulang Besar. ”Saya bersama tim hampir mau sampai darat. Tiba-tiba, perahu saya guling karena ombak besar. Obat-obatan habis terhanyut ombak. Untungnya kami selamat,” kata Salim.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/