Selasa, 26 Oct 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features

Nurul Alfiah K, Mahasiswa University of Edinburgh Asal Sumenep

Anak Petani yang Bisa Kuliah di Luar Negeri

12 Oktober 2021, 05: 00: 51 WIB | editor : Abdul Basri

Nurul Alfiah K, Mahasiswa University of Edinburgh Asal Sumenep

MUSIM GUGUR: Nurul Alfiah Kurniawati saat berada di halaman kampus University of Edinburgh, Skotlandia, United Kingdom (UK). (NURUL ALFIAH KURNIAWATI for RadarMadura.id)

Share this      

Salah satu warisan berharga yang diberikan orang tua kepada anak kadang kala tidak berbentuk materi atau benda. Itulah yang dirasakan Nurul Alfiah Kurniawati, mahasiswa University of Edinburgh, Skotlandia, United Kingdom (UK).

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

BERSYUKUR dan bahagia. Itulah kalimat yang diungkapkan Nurul Alfiah Kurniawati saat ditanya perasaannya usai diterima kuliah di University of Edinburgh di Skotlandia. Maklum saja, kampusnya merupakan salah satu kampus prestisius di dunia. Terbaik ke-6 di Eropa dan terbaik ke-17 di dunia.

Baca juga: Batu Kombung Menginspirasi Sugat Ibnu Ali Produksi Batik Kontemporer

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), warga Desa Batuputih Kenek, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep itu menceritakan perjuangannya hingga bisa diterima di University of Edinburgh. ”Saya kuliah di luar negeri melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI,” ucapnya.

Menurut dia, tidak semua orang bisa mewujudkan impiannya. Termasuk, bisa menempuh studi di luar negeri. Apalagi, dia lahir dari rahim seorang petani. ”Hal itu tidak membuat saya berhenti berjuang mewujudkan mimpi. Apalagi, saya di-support orang tua. Salah satu berkah terbaik yang Tuhan beri adalah keluarga dan lingkungan yang suportif,” katanya.

Dijelaskan, awalnya sempat ragu, cemas dan khawatir. Sebab, jarak Indonesia dengan UK teramat jauh. Tapi, cita-cita dan doa mengalahkan segalanya. ”Orang tua tentu saja khawatir karena negara tujuan tempat studi sangat jauh dan asing,” imbuh gadis kelahiran tahun 1995 itu.

Namun, berkat dukungan orang tuanya, alumnus MA 1 Annuqayah Putri itu akhirnya bisa kuliah di luar negeri. ”Saya sangat bersyukur. Saya termasuk orang yang beruntung. Sebab, didukung orang tua, ketiga saudara, dan keluarga besar. Bapak dan ibu saya tidak punya banyak harta, tapi mereka kaya hati,” tuturnya.

Perempuan yang biasa disapa Nurul itu mengaku mendapatkan beasiswa LPDP Kemenkeu RI tahun 2019. Karena Covid-19 melanda ratusan negara di dunia, dia belum bisa berangkat ke Skotlandia. ”Baru pada 2021, Nurul akhirnya terbang menuju Skotlandia,” ungkapnya.

Anak kedua dari empat bersaudara ini memiliki beberapa alasan kenapa memilih Skotlandia. Salah satunya, ingin belajar dan berkumpul dengan orang-orang dari berbagai latar belakang sosial dan kultur. Termasuk, memperluas jaringan.

 ”Saya ngelis universitas yang bagus di bidang social science. Cuma ada di UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Indonesia. Akhirnya, saya memilih luar negeri. Saya ingin membuktikan mimpi bisa terwujud. Sebab, saya berhak punya akses pendidikan di salah satu kampus terbaik di dunia,” paparnya.

Setiba di Skotlandia, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini kaget. Sebab, langsung berhadapan dengan sistem pendidikan yang sama sekali berbeda. Jika di Indonesia lebih mengedepankan nilai-nilai etis dan hafalan. Sementara di Skotlandia, lebih mengutamakan riset, cara berpikir mandiri, dan kritis. ”Sistem pendidikan di sini (Skotlandia) menuntut kami mandiri, berpikir, dan bersikap kritis,” ulasnya.

Nurul mengaku harus melakukan banyak penyesuaian. Tapi, yang paling sulit ketika dihadapkan dengan cuaca. Sebab, Edinburgh merupakan salah satu kota terdingin di Britania Raya. ”Apalagi, sekarang lagi musim gugur (jelang musim dingin). Kalau mau ke luar flat (apartemen) harus pakai baju tebal, berlapis, dan siap bawa mantel. Termasuk, jas hujan atau payung. Cuacanya nggak bisa ditebak. Cuaca di sini dingin, nggak ada yang jual gorengan dan pentol,” kelakarnya.

Sebagai perempuan, Nurul merasa telah mematahkan pola pikir diskriminatif yang kadang merugikan kaum perempuan. Apa yang didapatkan Nurul saat ini, membuktikan bahwa siapa pun dan apa pun latar belakangnya, berhak memiliki dan mewujudkan impian. ”Saya berharap pendidikan yang baik bisa diakses semua orang. Apa pun latar belakangnya. Tetap semangat belajar dan mengembangkan kemampuan diri,” pungkasnya.

(mr/jun/yan/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia