alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Novi Puspita Sari, Pengerap Sapi Asal Sampang

Bagi sebagian orang, hobi Novi Puspita Sari mungkin tidak lazim. Sebab, warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang, Sampang, itu gemar menonton karapan sapi.

MOH. IQBAL, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

JIKA dilihat sekilas, sosok Novi Puspita Sari seperti perempuan sebayanya. Penampilannya tidak ada yang aneh dan malah sangat feminin. Tapi ketika berbincang dengan durasi yang cukup lama, perlahan tapi pasti akan terbongkar hobi yang sesungguhnya. Ya, dia perempuan yang hobi menonton sapi karapan atau karapan sapi.

Putri pasangan suami istri (alm) H. Matsahid dan Hj. Sahrimah tersebut mengaku menyukai karapan sapi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kecintaannya pada karapan sapi tumbuh karena almarhum ayahandanya memelihara karapan sapi. ”Waktu SD, saya sering ikut aba (ayah, Red) ngerap ke lapangan,” katanya.

Novi Puspita Sari menyampaikan, sejak lulus SMP, dirinya sudah jarang beraktivitas dengan sapi milik ayahnya karena mondok di salah satu pondok pesantren (ponpes) Probolinggo. Akan tetapi, dia mengaku sering izin pulang apabila ada event-event karapan sapi di Madura.

”Hal itu dilakukan karena ingin melihat secara langsung sapi kerap milik keluarga berpacu di arena. Ketika turun dan menyaksikan langsung ke lapangan, saya bangga dan senang. Apalagi kalau event memperebutkan Piala Presiden,” ucap Novi.

Baca Juga :  Waspada Penipuan Berkedok Polisi

Staf kantor Puskesmas Ketapang tersebut menyatakan, hobinya didukung penuh oleh almarhum ayahandanya. Bahkan, awal 2019, dia minta dibelikan sepasang sapi kerap kecil. Sebab, sapi kerap milik almarhum ayahandanya berukuran besar.

”Saya beli pakai uang sendiri, tapi aba yang mencarikan sapinya. Harganya saat itu sekitar Rp 100 juta,” terang Novi.

Dia menjelaskan, sapi kerap miliknya diberi nama Tom and Jerry. Semenjak punya sapi kerap sendiri, dia tambah menggandrungi karapan sapi. ”Memang kebanyakan cowok yang hobi menonton karapan sapi. Jarang banget kan cewek suka karapan sapi. Apalagi di zaman sekarang, hampir tidak ada cewek yang mau berpanas-panasan,” pungkas Novi.

Novi sempat down saat ayahandanya wafat pada akhir Maret 2019. Sebab, tidak ada lagi yang mendukung dan merawat sapinya. Sempat ada keinginan menjual Tom and Jerry. ”Tapi akhirnya mendapat dukungan dari ibu, minta agar tetap dirawat,” ucapnya.

Baca Juga :  Komitmen AKBP Didit Bambang Wibowo Saputro Jaga Kondisivitas

Semenjak ditinggal ayahandanya, Novi meng-handle semua perawatan sapi karapannya. Agar stamina sapinya tetap fit, dilakukan perawatan ekstra. ”Setiap hari sapi kerap itu dimandikan dua kali sehari. Kadang saya ikut memandikan,” terangnya.

Novi menuturkan, sapi juga membutuhkan asupan jamu. Selama ini, keluarganya meracik sendiri jamu tersebut. Sapinya juga rutin diberi telur ayam. Seminggu bisa mencapai 500 butir. Ketika ada event, telur yang dihabiskan bisa mencapai ribuan. ”Kalau tanya biaya perawatan pastinya jutaan,” tuturnya.

Perempuan kelahiran 28 September itu menyatakan rutin membawa sapinya berlatih ke lapangan untuk mengecek kecepatan lari. Biasanya hal itu dilakukan dua pekan sekali. ”Alhamdulillah, sapi kerap saya pernah mendapat juara saat berlaga di Pamekasan. Bahkan, pernah dipinjam teman dan tembus juara 1 di kejuaraan yang memerebutkan Piala Presiden,” terang Novi.

Dia menambahkan, selama pandemi Covid-19, memang jarang diselenggarakan event karapan sapi. Meski demikian, dia tetap merawat sapinya dengan baik. ”Harapannya, ketika ada event bisa langsung diikutkan dan siap bertanding,” pungkas perempuan kelahiran 1995 itu. 

- Advertisement -

Bagi sebagian orang, hobi Novi Puspita Sari mungkin tidak lazim. Sebab, warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang, Sampang, itu gemar menonton karapan sapi.

MOH. IQBAL, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

JIKA dilihat sekilas, sosok Novi Puspita Sari seperti perempuan sebayanya. Penampilannya tidak ada yang aneh dan malah sangat feminin. Tapi ketika berbincang dengan durasi yang cukup lama, perlahan tapi pasti akan terbongkar hobi yang sesungguhnya. Ya, dia perempuan yang hobi menonton sapi karapan atau karapan sapi.


Putri pasangan suami istri (alm) H. Matsahid dan Hj. Sahrimah tersebut mengaku menyukai karapan sapi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kecintaannya pada karapan sapi tumbuh karena almarhum ayahandanya memelihara karapan sapi. ”Waktu SD, saya sering ikut aba (ayah, Red) ngerap ke lapangan,” katanya.

Novi Puspita Sari menyampaikan, sejak lulus SMP, dirinya sudah jarang beraktivitas dengan sapi milik ayahnya karena mondok di salah satu pondok pesantren (ponpes) Probolinggo. Akan tetapi, dia mengaku sering izin pulang apabila ada event-event karapan sapi di Madura.

”Hal itu dilakukan karena ingin melihat secara langsung sapi kerap milik keluarga berpacu di arena. Ketika turun dan menyaksikan langsung ke lapangan, saya bangga dan senang. Apalagi kalau event memperebutkan Piala Presiden,” ucap Novi.

Baca Juga :  Korban Puting Beliung Pulau Mamburit Baru Dapat Mi Instan

Staf kantor Puskesmas Ketapang tersebut menyatakan, hobinya didukung penuh oleh almarhum ayahandanya. Bahkan, awal 2019, dia minta dibelikan sepasang sapi kerap kecil. Sebab, sapi kerap milik almarhum ayahandanya berukuran besar.

”Saya beli pakai uang sendiri, tapi aba yang mencarikan sapinya. Harganya saat itu sekitar Rp 100 juta,” terang Novi.

Dia menjelaskan, sapi kerap miliknya diberi nama Tom and Jerry. Semenjak punya sapi kerap sendiri, dia tambah menggandrungi karapan sapi. ”Memang kebanyakan cowok yang hobi menonton karapan sapi. Jarang banget kan cewek suka karapan sapi. Apalagi di zaman sekarang, hampir tidak ada cewek yang mau berpanas-panasan,” pungkas Novi.

Novi sempat down saat ayahandanya wafat pada akhir Maret 2019. Sebab, tidak ada lagi yang mendukung dan merawat sapinya. Sempat ada keinginan menjual Tom and Jerry. ”Tapi akhirnya mendapat dukungan dari ibu, minta agar tetap dirawat,” ucapnya.

Baca Juga :  Warga Plampaan Amankan Maling Motor Asal Rabasan

Semenjak ditinggal ayahandanya, Novi meng-handle semua perawatan sapi karapannya. Agar stamina sapinya tetap fit, dilakukan perawatan ekstra. ”Setiap hari sapi kerap itu dimandikan dua kali sehari. Kadang saya ikut memandikan,” terangnya.

Novi menuturkan, sapi juga membutuhkan asupan jamu. Selama ini, keluarganya meracik sendiri jamu tersebut. Sapinya juga rutin diberi telur ayam. Seminggu bisa mencapai 500 butir. Ketika ada event, telur yang dihabiskan bisa mencapai ribuan. ”Kalau tanya biaya perawatan pastinya jutaan,” tuturnya.

Perempuan kelahiran 28 September itu menyatakan rutin membawa sapinya berlatih ke lapangan untuk mengecek kecepatan lari. Biasanya hal itu dilakukan dua pekan sekali. ”Alhamdulillah, sapi kerap saya pernah mendapat juara saat berlaga di Pamekasan. Bahkan, pernah dipinjam teman dan tembus juara 1 di kejuaraan yang memerebutkan Piala Presiden,” terang Novi.

Dia menambahkan, selama pandemi Covid-19, memang jarang diselenggarakan event karapan sapi. Meski demikian, dia tetap merawat sapinya dengan baik. ”Harapannya, ketika ada event bisa langsung diikutkan dan siap bertanding,” pungkas perempuan kelahiran 1995 itu. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Kampus Merdeka, Merdeka Belajar

Minta Maksimalkan Pengamanan Lokasi Wisata

Artikel Terbaru

/