alexametrics
19.5 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Miris, Warga Miskin Ini Tempati Gubuk Bersama Empat Anaknya

PAMEKASAN – Rumah itu sudah tidak layak huni. Tapi, Ahmad Mudarris tidak punya pilihan lain. Jangankan membeli atau membangun rumah, untuk makan sehari-hari saja masih kesulitan.

 Rumah Mudarris berada di bibir sungai Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan. Rumah yang terbuat dari bambu itu lebih layak disebut gubuk. Ukurannya 4×4 meter. Tapi, dibagi menjadi dua kamar sehingga sangat sempit.

Kondisinya terlihat kurang terawat. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah banyak bolong. Saat musim hujan kondisinya semakin parah. Rumah ini sering kali terendam banjir. Sehingga, harus mengungsi ke rumah tetangga.

Kondisi rumah Mudarris sangat kontras dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Rumah tetangganya megah. Meski sangat sempit, rumah Mudarris dihuni lima orang. Selain Mudarris, empat anaknya juga tinggal di sana.

Baca Juga :  Kasihan, Nenek Peya Tinggal di Gubuk Tua Bersama Keponakan Disabilitas

Pria yang akrab disapa Darwis ini sempat menduda. Istri pertamanya, Misriyah, meninggal lantaran sakit. Namun, dia sudah menikah. Kendati demikian, dia tidak lupa mengurus keempat anaknya yang tinggal di gubuk itu.

Anak pertamanya Bobi Wahyudi. Dia tidak tamat SMA. Anak kedua Romadana dan ketiga Nabila Febriyanti. Keduanya putus sekolah saat duduk di bangku SMP. Sementara anak terakhir bernama Moh. Refi Mudarris. Dia saat ini masih bersekolah SD.

Beberapa hari lalu dia diberi bantuan sepeda ontel dan peralatan sekolah oleh Kepala Disdik Pamekasan Moch. Tarsun. ”Semua anak-anak saya kalau malam ngumpul di sini,” kata Darwis sembari ditemani Refi.

Darwis saat ini mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menghidupi anak-anaknya, dia bekerja serabutan. Tapi, kalau malam, dia bekerja sebagai abang becak. ”Yang penting halal dan bisa memberi makan untuk anak-anak tiap hari,” terangnya.

Baca Juga :  Penerima Bantuan Banyak Tidak Sesuai

            Darwis memasak sendiri. Kadang dibantu anak-anaknya. Dia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan. Utamanya, rumah layak huni. ”Tanah yang saya tempati ini sebenarnya juga masih pinjam,” tukasnya. 

PAMEKASAN – Rumah itu sudah tidak layak huni. Tapi, Ahmad Mudarris tidak punya pilihan lain. Jangankan membeli atau membangun rumah, untuk makan sehari-hari saja masih kesulitan.

 Rumah Mudarris berada di bibir sungai Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan. Rumah yang terbuat dari bambu itu lebih layak disebut gubuk. Ukurannya 4×4 meter. Tapi, dibagi menjadi dua kamar sehingga sangat sempit.

Kondisinya terlihat kurang terawat. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah banyak bolong. Saat musim hujan kondisinya semakin parah. Rumah ini sering kali terendam banjir. Sehingga, harus mengungsi ke rumah tetangga.


Kondisi rumah Mudarris sangat kontras dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Rumah tetangganya megah. Meski sangat sempit, rumah Mudarris dihuni lima orang. Selain Mudarris, empat anaknya juga tinggal di sana.

Baca Juga :  Jaga Kedaulatan dengan Pertahankan Tanah Sangkol

Pria yang akrab disapa Darwis ini sempat menduda. Istri pertamanya, Misriyah, meninggal lantaran sakit. Namun, dia sudah menikah. Kendati demikian, dia tidak lupa mengurus keempat anaknya yang tinggal di gubuk itu.

Anak pertamanya Bobi Wahyudi. Dia tidak tamat SMA. Anak kedua Romadana dan ketiga Nabila Febriyanti. Keduanya putus sekolah saat duduk di bangku SMP. Sementara anak terakhir bernama Moh. Refi Mudarris. Dia saat ini masih bersekolah SD.

Beberapa hari lalu dia diberi bantuan sepeda ontel dan peralatan sekolah oleh Kepala Disdik Pamekasan Moch. Tarsun. ”Semua anak-anak saya kalau malam ngumpul di sini,” kata Darwis sembari ditemani Refi.

Darwis saat ini mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menghidupi anak-anaknya, dia bekerja serabutan. Tapi, kalau malam, dia bekerja sebagai abang becak. ”Yang penting halal dan bisa memberi makan untuk anak-anak tiap hari,” terangnya.

Baca Juga :  Kuota Bantuan Rumah Layak Huni Belum Jelas

            Darwis memasak sendiri. Kadang dibantu anak-anaknya. Dia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan. Utamanya, rumah layak huni. ”Tanah yang saya tempati ini sebenarnya juga masih pinjam,” tukasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/