alexametrics
19 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Pababaran, Tempat Lahir Raden Trunojoyo

SAMPANG – Trunojoyo yang bergelar Panembahan Maduratna merupakan tokoh berjasa. Namun, pelestarian terhadap jejak sejarah perlu menjadi perhatian. Salah satunya pada tempat dia dilahirkan.

Tempat kelahiran Raden Trunojoyo sangat mudah dijangkau. Dari Masjid Jamik Sampang hanya sekitar 200 meter ke timur. Tempat itu dikenal dengan nama Pababaran yang sekaligus dijadikan nama kampung. Berada di Jalan Pahlawan, Kelurahan Rongtengah.

Pababaran berasal dari kata babar atau babbar yang berarti lahir. Kemudian mendapat ter-ater pa- dan panoteng -an, sehingga menjadi pababaran yang berarti tempat kelahiran.

Terdapat dua bangunan di tempat itu. Bangunan yang lebih besar merupakan tempat peristirahatan Trunojoyo. Sedangkan bangunan kedua yang lebih kecil merupakan lokasi penguburan ari-ari.

Mirisnya, bangunan itu kurang terawat. Tembok berwarna kuning kombinasi hijau itu banyak mengelupas. Kondisi bangunan sudah lapuk. Banyak rumput liar tumbuh di halaman.

Di belakang ada belasan makam. Dari segi ukuran mungkin kuburan anak-anak. Tapi, ada juga kuburan orang dewasa.

Pintu masuk Pababaran dari arah selatan. Bangunan tempat peristirahatan seluas 9 meter x 9 meter itu tampak ada perubahan. Semula tingginya sedada orang dewasa. Karena itu, dulu untuk bisa masuk harus menunduk. Saat ini tidak lagi karena sudah ada bangunan baru dari disporabudpar.

Baca Juga :  Cara FGNK Sumenep Gratiskan Biaya Tes Swab

Juwairiyah, warga sekitar mengaku tidak tahu cerita kelahiran Trunojoyo. Perempuan 47  tahun itu hanya tahu Pababaran merupakan tempat kelahiran Trunojoyo. ”Warga sekitar yang sudah sepuh banyak pendatang. Bukan asli Sampang. Jadi banyak yang tidak tahu,” katanya.

Perempuan yang Kamis (9/11) mengenakan pakaian serbahitam itu menambahkan, masyarakat tidak ada yang peduli keberadaan Pababaran. Apalagi pemerintah terkait. Indikasinya, tidak ada kegiatan untuk memperingati hari kelahiran dan semacamnya. ”Bangunannya saja seperti tidak terawat,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Prasetyo. Pemuda 23 tahun itu mengatakan, Pababaran memang tidak terawat dan kurang perhatian pemerintah. Terkadang ada kerja bakti warga untuk membersihkan tempat itu.

”Meskipun ada perhatian dari warga, tapi pemerintah tidak peduli, itu sama halnya kosong. Padahal itu situs kebangsaan kita,” ucapnya.

Pria berkulit sawo matang itu menambahkan, ketidakterawatan Pababaran menandakan pemerintah tidak peduli. Banyak tempat bersejarah terabaikan. ”Seakan-akan lokasinya tertutup,” pungkasnya.

Juru Kunci Pababaran Slamet Riyadi mengatakan, Trunojoyo lahir di tempat itu pada 1649 Masehi. Dia gugur di Surakarta pada usia 1680 Masehi. Dia meninggal dunia pada usia 31 tahun. Dalam banyak catatan, termasuk Wikipedia menyebut Trunojoyo meninggal pada 2 Januari 1680 di Bantul, Jogjakarta. ”Kalau makamnya tidak tahu di mana lokasinya. Kalau kelahirannya di sini,” katanya.

Baca Juga :  Wabup dan Ketua DPRD Dukung Trunojoyo Jadi Pahlawan

Slamet menambahkan, dari pemerintah hanya membangun tempat peristirahatan serta membangun pagar dan dicat. Pababaran yang dibangun sejak 2013. ”Ketika hari jadi Sampang berziarah dengan mengundang masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Juru kunci turun-temurun keluarga Slamet. Mulai embahnya bernama Suid Salha. Karena wafat, kemudian diganti ayahnya, Sanwani. ”Bapak meninggal, lalu saya yang menggantikan. Saya sudah tiga tahun menjadi juru kunci,” ujarnya.

Menurut Slamet, sejarah lahirnya Raden Trunojoyo tidak ada. Disporabudpar ketika ditanya juga tidak mengetahui sejak lahir sampai tumbuh dewasa. ”Yang saya tahu hanya cerita bangunannya. Yakni, empat tiang di dalam sisa bangunan dulu. Kalau yang lain tidak tahu karena pembukuan tidak ada,” jelasnya.

Kabid Pariwisata Disporabudpar Sampang AG. Wadud mengakui, secara khusus perawatan tidak ada. Pihaknya hanya menganggarkan untuk juru pelihara (jupel). ”Pembukuan cerita secara detail tidak ada. Yang menempati selain keluarga Pak Slamet Riyadi tidak ada,” terangnya. 

SAMPANG – Trunojoyo yang bergelar Panembahan Maduratna merupakan tokoh berjasa. Namun, pelestarian terhadap jejak sejarah perlu menjadi perhatian. Salah satunya pada tempat dia dilahirkan.

Tempat kelahiran Raden Trunojoyo sangat mudah dijangkau. Dari Masjid Jamik Sampang hanya sekitar 200 meter ke timur. Tempat itu dikenal dengan nama Pababaran yang sekaligus dijadikan nama kampung. Berada di Jalan Pahlawan, Kelurahan Rongtengah.

Pababaran berasal dari kata babar atau babbar yang berarti lahir. Kemudian mendapat ter-ater pa- dan panoteng -an, sehingga menjadi pababaran yang berarti tempat kelahiran.


Terdapat dua bangunan di tempat itu. Bangunan yang lebih besar merupakan tempat peristirahatan Trunojoyo. Sedangkan bangunan kedua yang lebih kecil merupakan lokasi penguburan ari-ari.

Mirisnya, bangunan itu kurang terawat. Tembok berwarna kuning kombinasi hijau itu banyak mengelupas. Kondisi bangunan sudah lapuk. Banyak rumput liar tumbuh di halaman.

Di belakang ada belasan makam. Dari segi ukuran mungkin kuburan anak-anak. Tapi, ada juga kuburan orang dewasa.

Pintu masuk Pababaran dari arah selatan. Bangunan tempat peristirahatan seluas 9 meter x 9 meter itu tampak ada perubahan. Semula tingginya sedada orang dewasa. Karena itu, dulu untuk bisa masuk harus menunduk. Saat ini tidak lagi karena sudah ada bangunan baru dari disporabudpar.

Baca Juga :  Lagi, Ajukan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional

Juwairiyah, warga sekitar mengaku tidak tahu cerita kelahiran Trunojoyo. Perempuan 47  tahun itu hanya tahu Pababaran merupakan tempat kelahiran Trunojoyo. ”Warga sekitar yang sudah sepuh banyak pendatang. Bukan asli Sampang. Jadi banyak yang tidak tahu,” katanya.

Perempuan yang Kamis (9/11) mengenakan pakaian serbahitam itu menambahkan, masyarakat tidak ada yang peduli keberadaan Pababaran. Apalagi pemerintah terkait. Indikasinya, tidak ada kegiatan untuk memperingati hari kelahiran dan semacamnya. ”Bangunannya saja seperti tidak terawat,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Prasetyo. Pemuda 23 tahun itu mengatakan, Pababaran memang tidak terawat dan kurang perhatian pemerintah. Terkadang ada kerja bakti warga untuk membersihkan tempat itu.

”Meskipun ada perhatian dari warga, tapi pemerintah tidak peduli, itu sama halnya kosong. Padahal itu situs kebangsaan kita,” ucapnya.

Pria berkulit sawo matang itu menambahkan, ketidakterawatan Pababaran menandakan pemerintah tidak peduli. Banyak tempat bersejarah terabaikan. ”Seakan-akan lokasinya tertutup,” pungkasnya.

Juru Kunci Pababaran Slamet Riyadi mengatakan, Trunojoyo lahir di tempat itu pada 1649 Masehi. Dia gugur di Surakarta pada usia 1680 Masehi. Dia meninggal dunia pada usia 31 tahun. Dalam banyak catatan, termasuk Wikipedia menyebut Trunojoyo meninggal pada 2 Januari 1680 di Bantul, Jogjakarta. ”Kalau makamnya tidak tahu di mana lokasinya. Kalau kelahirannya di sini,” katanya.

Baca Juga :  Gotong Royong Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Slamet menambahkan, dari pemerintah hanya membangun tempat peristirahatan serta membangun pagar dan dicat. Pababaran yang dibangun sejak 2013. ”Ketika hari jadi Sampang berziarah dengan mengundang masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Juru kunci turun-temurun keluarga Slamet. Mulai embahnya bernama Suid Salha. Karena wafat, kemudian diganti ayahnya, Sanwani. ”Bapak meninggal, lalu saya yang menggantikan. Saya sudah tiga tahun menjadi juru kunci,” ujarnya.

Menurut Slamet, sejarah lahirnya Raden Trunojoyo tidak ada. Disporabudpar ketika ditanya juga tidak mengetahui sejak lahir sampai tumbuh dewasa. ”Yang saya tahu hanya cerita bangunannya. Yakni, empat tiang di dalam sisa bangunan dulu. Kalau yang lain tidak tahu karena pembukuan tidak ada,” jelasnya.

Kabid Pariwisata Disporabudpar Sampang AG. Wadud mengakui, secara khusus perawatan tidak ada. Pihaknya hanya menganggarkan untuk juru pelihara (jupel). ”Pembukuan cerita secara detail tidak ada. Yang menempati selain keluarga Pak Slamet Riyadi tidak ada,” terangnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/