alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Zuhairiyah, Mahasiswi UTM Raih Soetandyo Scholarship Unair 2017

BANGKALAN – Zuhairiyah merupakan sosok mandiri. Sejak sebelum dia lahir ke muka bumi, kedua orang tuanya sudah jadi perantau. Jarang bertemu sosok pasangan suami istri (pasutri) Mustawa dan Fumarah itu. Kini dia hanya tinggal bersama saudara sepupu perempuannya di Desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan.

”Orang tua saya kerja di Malaysia. Ibu jadi penjaga toko buah dan bapak di bangunan. Sejak saya belum lahir sudah di sana,” ungkapnya Jumat (8/12).

Hanya momen Lebaran dia bisa melepas rindu dengan kedua orang tua. Namun semangat untuk berpendidikan tidak pernah surut. Bagi dia, kepulangan kedua orang tua adalah kebanggaan anak. Sedangkan kebanggaan orang tua jika anaknya patuh, rajin, berprestasi, dan membanggakan.

Dia merasakan persembahan prestasi yang diberikan masih kurang maksimal. ”Pulang kalau Lebaran. Gak ada yang spesial. Saya hanya pernah mendapatkan beasiswa PPA Dikti dan semifinalis di beberapa lomba karya tulis nasional,” terangnya.

Dia kerap mengambil kesempatan beasiswa untuk meringankan beban keluarga. Semangat untuk terus melanjutkan pendidikan masih tertanam. ”Harapannya bisa membanggakan orang tua,” tukasnya.

Perempuan asli Bangkalan itu asyik diajak berbincang. Putri tunggal Mustawa dan Fumarah itu kini mengenyam pendidikan di jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Baca Juga :  Upaya Bupati Bangkalan Dapatkan Dana PI 10 Persen

Perempuan kelahiran 06 Juli 1996 itu bercerita tentang pengalamannya bersaing dengan peserta dari kampus ternama di Indonesia dalam Soetandyo Scholarship FISIP Unair Surabaya. Berawal dari pesan yang disebarkan petugas administrasi di grup media sosial (medsos) prodi Sosiologi UTM. ”Admin prodi yang membagikan pamflet beasiswa Soetandyo di grup FB Agustus lalu,” ungkap perempuan 21 tahun ini.

Saat itu kampus baru kembali ramai usai libur panjang. Kebetulan, dia sedang memprogram skripsi. Soetandyo Scholarship FISIP Unair juga menyediakan beasiswa untuk mahasiswa yang memprogram tugas akhir. Tema penelitian yang diangkat untuk skripsi ternyata sesuai dengan persyaratan dari Soetandyo Scholarship FISIP Unair.

”Baru ngambil skripsi di semester 7. Momennya pas. Dikumpulkan ke Unair Oktober. Harus melalui proses bimbingan dan syarat administrasi juga,” terang Zuhairiyah.

Kesempatan mengikuti beasiswa ini atas inisiatif sendiri. Setelah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing mendapat dukungan. Dia bertekad maju tanpa mempedulikan lawan dari kampus lain.

Ajang ini tidak memperebutkan juara 1, 2, dan 3. Ajang ini mengapresiasi mahasiswa berprestasi yang akan menempuh tugas akhir. Beasiswa yang diberikan berupa uang santunan Rp 5 juta. Tantangan terberat kompetisi ini masing-masing peserta harus membuat proposal penelitian semenarik mungkin.

”Tidak ada tahapan tertentu. Cuma ngumpulin proposal terus nunggu pengumuman 15 terpilih,” ujarnya. Senang dan bahagia jelas dirasakan. Tidak menyangka dirinya bisa bersanding dengan mahasiswa dari kampus ternama.

Baca Juga :  Panitia Pemilihan Kalebun Sentol Laok Gelar Debat Kandidat

 Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) UTM Surokim Abdussalam mengatakan, dalam lampiran daftar 15 nama pemenang terlihat nama-nama kampus terkenal. Seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia (UI), Universitas Riau, Universitas Padjadjaran, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Unair Surabaya. ”Syukurlah mahasiswa FISIB UTM bisa eksis dapat juara,” ungkap dekan FISIB UTM itu.

Kompetisi ini berbentuk pengajuan proposal. Setelah melalui proses seleksi, hanya 15 proposal terbaik dari 68 proposal yang masuk final. Total pendaftar 170 proposal dari seluruh Indonesia. ”Soetandyo Scholarship diberikan sebagai upaya untuk membangun peradaban, pluralisme, HAM, dan inklusivitas dalam pengetahuan yang saling menyapa,” jelasnya.

Soetandyo Scholarship FISIP Unair merupakan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa jenjang sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2) berupa bantuan biaya penulisan skripsi/tesis. Beasiswa diberikan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan aktivitas sosial kemasyarakatan serta menulis proposal skripsi/tesis dengan tema yang ditentukan. Topik proposal skripsi/tesis menyangkut hak asasi manusia (HAM), pluralisme, sosiologi hukum, keadilan, kebangsaan, dan masyarakat sipil.

BANGKALAN – Zuhairiyah merupakan sosok mandiri. Sejak sebelum dia lahir ke muka bumi, kedua orang tuanya sudah jadi perantau. Jarang bertemu sosok pasangan suami istri (pasutri) Mustawa dan Fumarah itu. Kini dia hanya tinggal bersama saudara sepupu perempuannya di Desa Klapayan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan.

”Orang tua saya kerja di Malaysia. Ibu jadi penjaga toko buah dan bapak di bangunan. Sejak saya belum lahir sudah di sana,” ungkapnya Jumat (8/12).

Hanya momen Lebaran dia bisa melepas rindu dengan kedua orang tua. Namun semangat untuk berpendidikan tidak pernah surut. Bagi dia, kepulangan kedua orang tua adalah kebanggaan anak. Sedangkan kebanggaan orang tua jika anaknya patuh, rajin, berprestasi, dan membanggakan.

Dia merasakan persembahan prestasi yang diberikan masih kurang maksimal. ”Pulang kalau Lebaran. Gak ada yang spesial. Saya hanya pernah mendapatkan beasiswa PPA Dikti dan semifinalis di beberapa lomba karya tulis nasional,” terangnya.

Dia kerap mengambil kesempatan beasiswa untuk meringankan beban keluarga. Semangat untuk terus melanjutkan pendidikan masih tertanam. ”Harapannya bisa membanggakan orang tua,” tukasnya.

Perempuan asli Bangkalan itu asyik diajak berbincang. Putri tunggal Mustawa dan Fumarah itu kini mengenyam pendidikan di jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Baca Juga :  Kreativitas Siswa Ciptakan Robot Pintar Bermain Sepak Bola

Perempuan kelahiran 06 Juli 1996 itu bercerita tentang pengalamannya bersaing dengan peserta dari kampus ternama di Indonesia dalam Soetandyo Scholarship FISIP Unair Surabaya. Berawal dari pesan yang disebarkan petugas administrasi di grup media sosial (medsos) prodi Sosiologi UTM. ”Admin prodi yang membagikan pamflet beasiswa Soetandyo di grup FB Agustus lalu,” ungkap perempuan 21 tahun ini.

Saat itu kampus baru kembali ramai usai libur panjang. Kebetulan, dia sedang memprogram skripsi. Soetandyo Scholarship FISIP Unair juga menyediakan beasiswa untuk mahasiswa yang memprogram tugas akhir. Tema penelitian yang diangkat untuk skripsi ternyata sesuai dengan persyaratan dari Soetandyo Scholarship FISIP Unair.

”Baru ngambil skripsi di semester 7. Momennya pas. Dikumpulkan ke Unair Oktober. Harus melalui proses bimbingan dan syarat administrasi juga,” terang Zuhairiyah.

Kesempatan mengikuti beasiswa ini atas inisiatif sendiri. Setelah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing mendapat dukungan. Dia bertekad maju tanpa mempedulikan lawan dari kampus lain.

Ajang ini tidak memperebutkan juara 1, 2, dan 3. Ajang ini mengapresiasi mahasiswa berprestasi yang akan menempuh tugas akhir. Beasiswa yang diberikan berupa uang santunan Rp 5 juta. Tantangan terberat kompetisi ini masing-masing peserta harus membuat proposal penelitian semenarik mungkin.

”Tidak ada tahapan tertentu. Cuma ngumpulin proposal terus nunggu pengumuman 15 terpilih,” ujarnya. Senang dan bahagia jelas dirasakan. Tidak menyangka dirinya bisa bersanding dengan mahasiswa dari kampus ternama.

Baca Juga :  Penghargaan Pelayanan Publik II Madura Awards 2017

 Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) UTM Surokim Abdussalam mengatakan, dalam lampiran daftar 15 nama pemenang terlihat nama-nama kampus terkenal. Seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia (UI), Universitas Riau, Universitas Padjadjaran, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Unair Surabaya. ”Syukurlah mahasiswa FISIB UTM bisa eksis dapat juara,” ungkap dekan FISIB UTM itu.

Kompetisi ini berbentuk pengajuan proposal. Setelah melalui proses seleksi, hanya 15 proposal terbaik dari 68 proposal yang masuk final. Total pendaftar 170 proposal dari seluruh Indonesia. ”Soetandyo Scholarship diberikan sebagai upaya untuk membangun peradaban, pluralisme, HAM, dan inklusivitas dalam pengetahuan yang saling menyapa,” jelasnya.

Soetandyo Scholarship FISIP Unair merupakan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa jenjang sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2) berupa bantuan biaya penulisan skripsi/tesis. Beasiswa diberikan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan aktivitas sosial kemasyarakatan serta menulis proposal skripsi/tesis dengan tema yang ditentukan. Topik proposal skripsi/tesis menyangkut hak asasi manusia (HAM), pluralisme, sosiologi hukum, keadilan, kebangsaan, dan masyarakat sipil.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/