21 C
Madura
Saturday, December 10, 2022

Daniel Mclnytre, Wisatawan Selandia Baru Sambangi Enam Wisata di Sampang

Di New Zealand Makan Satu Porsi Sederhana Itu 150 Dolar

Jauh di Selandia Baru sana, Daniel memelihara ratusan ekor sapi. Namun, tidak ada yang menjadikannya terhibur seperti sapi karapan di Madura. Sapi karapan berpacu bersama joki kecil di lapangan berdebu.

MA’RUF, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

SERU dan asyik. Itulah yang dirasakan Daniel Mclnytre, wisatawan asal Selandia Baru ketika berkunjung ke Sampang, Minggu (4/9). Madura membuat Daniel kagum. Hal itu dirasakan sejak tiba Sampang sekitar pukul 10.00. Keramahan orang Madura dia rasakan saat penyambutan dan hidangan yang disajikan.

Pemuda yang masih berusia 26 tahun itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sekarang sedang menjalankan pekerjaannya sebagai insinyur mesin di pabrik susu negaranya. Meskipun memelihara 200 sapi, akan tetapi tidak bisa dijadikan sebagai bahan hiburan atau sebuah perlombaan.

Karena itu, ketika melihat latihan karapan sapi, dia terkagum-kagum. Sapi berpasang-pasang yang melesat di atas lintasan berdebu itu membuatnya tertawa dan terhibur. Sebab, tokang tongko’ alias jokinya masih anak-anak.

Dia tidak bisa menyembunyikan giginya ketika melihat sapi berpacu di Lapangan Karapan Sapi, Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Sampang. Di lapangan itu dia juga menyempatkan untuk foto-foto. Termasuk mengabadikan momen bersama pasangan sapi kerap milik Wakil Bupati Sampang Abdullah Hidayat.

Baca Juga :  Penuhi Aspek Guidelines, BPJS Ketenagakerjaan Sabet Dua Penghargaan

Dari lapangan kerap itu, Daniel bergeser ke Kampoeng Lele Mambo di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang. Di sana dia merasakan kenikmatan masakan orang Madura hingga jari-jemarinya pun dijilat. Waktu itu pemilik warung menyajikan tahu, tempe, dan telur dadar dengan sambal tomat.

”Kalau di New Zealand, makan satu porsi sederhana itu harganya 150 dolar, tapi Madura harganya sangat murah,” ujarnya. Selain itu, dia berkunjung ke Sumur Daksan, Gua Lebar, Sampang Water Park (SWP), dan Pasar Dek-Gedek. Di pasar itu dia membeli bebek songkem.

Kunjungannya ke Sampang juga bertemu dengan Baidi, seorang tokoh masyarakat. Darinya, Daniel mendapat kenang-kenangan berupa akik. Dia juga mengunjungi ruang penyimpanan pusaka kuno milik Baidi.

Daniel juga terkesan ketika makan lesehan bersama-sama. Seperti satu keluarga, tidak ada yangg berbeda. ”Saya juga suka cara masyarakat memperlakukan saya dengan ramah dan memberi saya hadiah seperti cincin akik ini,” katanya.

Baca Juga :  Gegara Karhutla, Level ISPU Berada di Level Bahaya. ACT Gandeng BMKG

Daniel merupakan satu dari 13 wisatawan asing yang berkunjung ke Sampang sejak Januari 2022. Belasan turis itu terdiri dari Belanda empat orang, Pakistan dua orang, dan Jerman satu orang. Kemudian, dari Ukraina satu, Spanyol dua, Swiss satu, Selandia Baru satu, dan dari Maroko satu orang. Kedatangan turis untuk mengetahui wisata di Sampang.

”Yang dari Belanda pengin tahu tentang sejarah,” jelas Koordinator Pendamping Wisata Disporabudpar Sampang Deasy Yumnasari.

Wisatawan dari Jerman dan Maroko ingin melihat wisata alam. Sedangkan yang lain ingin mengetahui budaya orang Madura, mengenal musik tradisional, dan kegiatan di sekolah.

Kepala Disporabudpar Sampang Marnilem mengapresiasi upaya pendamping wisata. Menurut dia, kedatangan wisatawan bisa mengenal kekayaan Sampang. ”Kami memang sedang berusaha meningkatkan kunjungan wisatawan dari mancanegara, dan salah satu bentuk keberhasilan yakni sudah ada turis berasal dari beberapa negara yang datang ke Sampang,” jelasnya. (*/luq)

Jauh di Selandia Baru sana, Daniel memelihara ratusan ekor sapi. Namun, tidak ada yang menjadikannya terhibur seperti sapi karapan di Madura. Sapi karapan berpacu bersama joki kecil di lapangan berdebu.

MA’RUF, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

SERU dan asyik. Itulah yang dirasakan Daniel Mclnytre, wisatawan asal Selandia Baru ketika berkunjung ke Sampang, Minggu (4/9). Madura membuat Daniel kagum. Hal itu dirasakan sejak tiba Sampang sekitar pukul 10.00. Keramahan orang Madura dia rasakan saat penyambutan dan hidangan yang disajikan.


Pemuda yang masih berusia 26 tahun itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sekarang sedang menjalankan pekerjaannya sebagai insinyur mesin di pabrik susu negaranya. Meskipun memelihara 200 sapi, akan tetapi tidak bisa dijadikan sebagai bahan hiburan atau sebuah perlombaan.

Karena itu, ketika melihat latihan karapan sapi, dia terkagum-kagum. Sapi berpasang-pasang yang melesat di atas lintasan berdebu itu membuatnya tertawa dan terhibur. Sebab, tokang tongko’ alias jokinya masih anak-anak.

Dia tidak bisa menyembunyikan giginya ketika melihat sapi berpacu di Lapangan Karapan Sapi, Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Sampang. Di lapangan itu dia juga menyempatkan untuk foto-foto. Termasuk mengabadikan momen bersama pasangan sapi kerap milik Wakil Bupati Sampang Abdullah Hidayat.

Baca Juga :  Pengunjung Pantai Jumiang Keluhkan Sarana dan Prasarana

Dari lapangan kerap itu, Daniel bergeser ke Kampoeng Lele Mambo di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang. Di sana dia merasakan kenikmatan masakan orang Madura hingga jari-jemarinya pun dijilat. Waktu itu pemilik warung menyajikan tahu, tempe, dan telur dadar dengan sambal tomat.

- Advertisement -

”Kalau di New Zealand, makan satu porsi sederhana itu harganya 150 dolar, tapi Madura harganya sangat murah,” ujarnya. Selain itu, dia berkunjung ke Sumur Daksan, Gua Lebar, Sampang Water Park (SWP), dan Pasar Dek-Gedek. Di pasar itu dia membeli bebek songkem.

Kunjungannya ke Sampang juga bertemu dengan Baidi, seorang tokoh masyarakat. Darinya, Daniel mendapat kenang-kenangan berupa akik. Dia juga mengunjungi ruang penyimpanan pusaka kuno milik Baidi.

Daniel juga terkesan ketika makan lesehan bersama-sama. Seperti satu keluarga, tidak ada yangg berbeda. ”Saya juga suka cara masyarakat memperlakukan saya dengan ramah dan memberi saya hadiah seperti cincin akik ini,” katanya.

Baca Juga :  23 Keris Aengtongtong Kian Mendunia

Daniel merupakan satu dari 13 wisatawan asing yang berkunjung ke Sampang sejak Januari 2022. Belasan turis itu terdiri dari Belanda empat orang, Pakistan dua orang, dan Jerman satu orang. Kemudian, dari Ukraina satu, Spanyol dua, Swiss satu, Selandia Baru satu, dan dari Maroko satu orang. Kedatangan turis untuk mengetahui wisata di Sampang.

”Yang dari Belanda pengin tahu tentang sejarah,” jelas Koordinator Pendamping Wisata Disporabudpar Sampang Deasy Yumnasari.

Wisatawan dari Jerman dan Maroko ingin melihat wisata alam. Sedangkan yang lain ingin mengetahui budaya orang Madura, mengenal musik tradisional, dan kegiatan di sekolah.

Kepala Disporabudpar Sampang Marnilem mengapresiasi upaya pendamping wisata. Menurut dia, kedatangan wisatawan bisa mengenal kekayaan Sampang. ”Kami memang sedang berusaha meningkatkan kunjungan wisatawan dari mancanegara, dan salah satu bentuk keberhasilan yakni sudah ada turis berasal dari beberapa negara yang datang ke Sampang,” jelasnya. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/