alexametrics
28.1 C
Madura
Friday, September 30, 2022

Dibiasakan Menyimak Murottal sejak Dalam Kandungan

Affan Haidar Maulana, Anak Polisi Penghafal Qur’an

Affan Haidar Maulana cukup berbakat. Di usia sembilan tahun, dia sudah mampu menghafal lima juz Al-Qur’an. Saat dalam kandungan, Haidar sudah dibiasakan menyimak murottal Al-Qur’an oleh ayahnya yang seorang polisi.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

SOSOK Affan Haidar Maulana mencuri perhatian publik saat menghadiri penerimaan hadiah pemenang lomba semarak Muharam di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan kemarin (8/8). Seorang anggota polisi berpakaian lengkap terlihat akrab dan duduk di sampingnya.

Sesekali, anggota polisi itu melemparkan senyuman pada bocah berpakaian cream dan hijau itu. Saat nama Haidar dipanggil untuk melantunkan ayat Al-Qur’an, anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pamekasan itu sibuk mengabadikan setiap momen yang tersaji di depannya.

Usut punya usut, anggota polisi itu ternyata ayah kandung Haidar, bocah sembilan tahun yang saat ini sedang duduk di bangku kelas IV SDI Al-Munawwarah Pamekasan. Ayahnya itu hampir tidak pernah absen untuk menemani Haidar dalam setiap perlombaan yang diikuti.

Dukungan orang tuanya itu mempunyai arti tersendiri bagi Haidar. Jika sedang tak bertugas, Aipda Bambang Edy Surahman rutin memberikan support secara langsung pada anak bungsunya itu. Begitu juga dengan ibu Haidar, Linda Widiyanita, yang juga mendukungnya.

Baca Juga :  Bersepeda Bisa Membakar Lemak Perut?

Layaknya anak kecil di usianya, dunia bermain memang tak bisa dihindari. Namun, ketertarikan Haidar dalam menekuni ilmu agama cukup kuat. Dia mengaku senang bisa mempelajari Al-Qur’an. ”Alhamdulillah, saya juga bisa menjadi hafiz,” ujarnya.

Meski begitu, Haidar terbilang jarang main di luar rumah. Kegiatan sehari-hari dimulai sebelum salat subuh. Dia bangun bersama orang tuanya untuk melaksanakan salat Tahajud. Setelah itu, Haidar akan mengulang dan menambah hafalan Al-Qur’an dipandu oleh sang ibu.

Kata Bambang, Haidar mulai diajarkan untuk menjadi pencinta Al-Qur’an sejak empat bulan di kandungan. Anaknya itu terbiasa mendengarkan murottal dari beberapa qari. Dari kebiasaan itu, timbul keinginan Haidar untuk menjadi penghafal sekaligus qari profesional.

Selain mendapat bimbingan dari orang tua, Haidar didaftarkan untuk mengikuti les Al-Qur’an. Yaitu, tiga kali dalam sepekan. ”Kalau Senin, dia belajar hafalan. Setiap Selasa dan Sabtu belajar seni tilawah. Hari-hari lainnya belajar dengan ibunya,” kata Ayah Haidar.

Baca Juga :  Atlet Taekwondo Madura Peraih Medali Emas Porprov VI Jatim (3)

Bambang sengaja mengarahkan anaknya untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam. Terlepas dari kewajiban sebagai seorang muslim, Bambang juga alumnus pondok pesantren (ponpes). Jadi, sudah sepatutnya mengajarkan nilai-nilai keagamaan pada keluarganya.

Ketekunan Haidar dalam mempelajari ilmu Al-Qur’an berbuah prestasi. Beberapa gelar juara pernah diraihnya. ”Khusus kegiatan kali ini, juara satu tingkat kabupaten. Pernah juga juara I Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) tingkat nasional di Ponpes Banyuanyar,” tutur Bambang.

Di sisi lain, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Haidar kecil mengidolakan ayahnya sebagai sosok abdi negara. Kelak, dia ingin masuk Akademi Kepolisian (Akpol) untuk meneruskan jejak sang ayah. ”Saya ingin jadi polisi seperti ayah,” ucapnya sembari tersenyum.

Atas jawaban anaknya itu, Bambang mengaku terharu dan bangga. Dia bertekad mendukung penuh keinginan anaknya. Apalagi, menjadi hafiz juga menjadi keuntungan tersendiri bagi Haidar. Sebab, Akpol juga telah menyediakan jalur masuk dari siswa penghafal Al-Qur’an. (*/yan)

Affan Haidar Maulana cukup berbakat. Di usia sembilan tahun, dia sudah mampu menghafal lima juz Al-Qur’an. Saat dalam kandungan, Haidar sudah dibiasakan menyimak murottal Al-Qur’an oleh ayahnya yang seorang polisi.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

SOSOK Affan Haidar Maulana mencuri perhatian publik saat menghadiri penerimaan hadiah pemenang lomba semarak Muharam di Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan kemarin (8/8). Seorang anggota polisi berpakaian lengkap terlihat akrab dan duduk di sampingnya.


Sesekali, anggota polisi itu melemparkan senyuman pada bocah berpakaian cream dan hijau itu. Saat nama Haidar dipanggil untuk melantunkan ayat Al-Qur’an, anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pamekasan itu sibuk mengabadikan setiap momen yang tersaji di depannya.

Usut punya usut, anggota polisi itu ternyata ayah kandung Haidar, bocah sembilan tahun yang saat ini sedang duduk di bangku kelas IV SDI Al-Munawwarah Pamekasan. Ayahnya itu hampir tidak pernah absen untuk menemani Haidar dalam setiap perlombaan yang diikuti.

Dukungan orang tuanya itu mempunyai arti tersendiri bagi Haidar. Jika sedang tak bertugas, Aipda Bambang Edy Surahman rutin memberikan support secara langsung pada anak bungsunya itu. Begitu juga dengan ibu Haidar, Linda Widiyanita, yang juga mendukungnya.

Baca Juga :  Pesan Ahmad Taufiq Putra Raharja, Nakes yang Terbebas dari Covid-19

Layaknya anak kecil di usianya, dunia bermain memang tak bisa dihindari. Namun, ketertarikan Haidar dalam menekuni ilmu agama cukup kuat. Dia mengaku senang bisa mempelajari Al-Qur’an. ”Alhamdulillah, saya juga bisa menjadi hafiz,” ujarnya.

- Advertisement -

Meski begitu, Haidar terbilang jarang main di luar rumah. Kegiatan sehari-hari dimulai sebelum salat subuh. Dia bangun bersama orang tuanya untuk melaksanakan salat Tahajud. Setelah itu, Haidar akan mengulang dan menambah hafalan Al-Qur’an dipandu oleh sang ibu.

Kata Bambang, Haidar mulai diajarkan untuk menjadi pencinta Al-Qur’an sejak empat bulan di kandungan. Anaknya itu terbiasa mendengarkan murottal dari beberapa qari. Dari kebiasaan itu, timbul keinginan Haidar untuk menjadi penghafal sekaligus qari profesional.

Selain mendapat bimbingan dari orang tua, Haidar didaftarkan untuk mengikuti les Al-Qur’an. Yaitu, tiga kali dalam sepekan. ”Kalau Senin, dia belajar hafalan. Setiap Selasa dan Sabtu belajar seni tilawah. Hari-hari lainnya belajar dengan ibunya,” kata Ayah Haidar.

Baca Juga :  Seni sebagai Media Perlawanan dan Menggugat

Bambang sengaja mengarahkan anaknya untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam. Terlepas dari kewajiban sebagai seorang muslim, Bambang juga alumnus pondok pesantren (ponpes). Jadi, sudah sepatutnya mengajarkan nilai-nilai keagamaan pada keluarganya.

Ketekunan Haidar dalam mempelajari ilmu Al-Qur’an berbuah prestasi. Beberapa gelar juara pernah diraihnya. ”Khusus kegiatan kali ini, juara satu tingkat kabupaten. Pernah juga juara I Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) tingkat nasional di Ponpes Banyuanyar,” tutur Bambang.

Di sisi lain, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Haidar kecil mengidolakan ayahnya sebagai sosok abdi negara. Kelak, dia ingin masuk Akademi Kepolisian (Akpol) untuk meneruskan jejak sang ayah. ”Saya ingin jadi polisi seperti ayah,” ucapnya sembari tersenyum.

Atas jawaban anaknya itu, Bambang mengaku terharu dan bangga. Dia bertekad mendukung penuh keinginan anaknya. Apalagi, menjadi hafiz juga menjadi keuntungan tersendiri bagi Haidar. Sebab, Akpol juga telah menyediakan jalur masuk dari siswa penghafal Al-Qur’an. (*/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/