alexametrics
29.5 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Cerita Tragis Delapan Perantau Asal Sumenep di Kalimantan Timur

Hosni Tamrin memantapkan niat merantau ke Kalimantan Timur bersama tujuh orang lainnya pada Maret lalu. Mereka tergiur dengan gaji Rp 5 juta per bulan. Namun, para pekerja itu harus menelan pil pahit. Di tempat kerjanya, mereka tak diperlakukan secara manusiawi.

AMINATUS SUHRA, Sumenep, RadarMadura.id

KEDATANGAN empat perantau itu disambut haru. Mereka tiba di rumah nomor 6 di Jalan Bapertarum Selatan, Gang II, Blok BB, Desa Kolor, Kecamatan Sumenep, sekitar pukul 22.00 Sabtu (5/6).

Salah seorang di antara mereka, Hosni Tamrin, pulang dalam keadaan sakit. Penyakit diabetes melitus yang dialaminya kambuh saat di Kalimantan Timur. Kakinya bengkak dan luka. Berjalan saja tidak mampu. Harus ada yang menopangnya.

Kepulangannya membuat sang istri terharu walaupun tak membawa hasil apa-apa. Perjuangan di tempat rantau sia-sia.

Hosni Tamrin menuturkan, dirinya merantau ke Kalimantan Timur untuk mencari nafkah keluarganya. Namun, setiba di tempat tujuan tak seperti yang diharapkan.

Dia berangkat ke Kalimantan Timur karena tergiur dengan tawaran manis pihak kontraktor dari Kalimantan Timur dan seorang staf Disnaker Sumenep.

”Janjinya, gaji per bulan Rp 5 juta, sembako per minggu, tidur di spring bed, air minum tinggal ambil karena ada air bor, lampu tenaga surya 24 jam,” cerita Hosni.

Tertarik dengan tarawan itu, ada delapan orang yang berangkat ke Kalimantan Timur. Mereka tiba di lokasi kerja pada 19 Maret lalu. Namun, semua fasilitas yang dijanjikan tidak tersedia. Mereka kecewa.

Tempat untuk tinggal hanya berupa tenda dan tripleks bekas. Tenda itu digarap malam-malam agar bisa ditempati beristirahat. Keesokan harinya, mandor tidak datang dengan alasan hujan. Mereka baru bekerja pada 22 Maret.

Mereka berangkat bekerja sekitar pukul 07.30. Butuh waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai di lokasi kerja. Mereka bekerja hingga pukul 16.00. Bekerjanya tidak setiap hari. ”Karena menunggu kiriman bibit, tetapi tidak ada istirahatnya,” lanjut Hosni.

Baca Juga :  Cara Politeknik Negeri Madura (Poltera) Kurangi Sampah Plastik

Mandor datang sekitar pukul 14.00. Pertama diperintah menanam bibit kayu di lahan 8,7 hektare. Per hektare ditanami 1.333 bibit kayu. ”Terselesaikan selama 4 hari. Setelah itu, sekitar 3 hari lagi bibit datang. Tapi kalau tidak ada bibit, kami mancang,” ujarnya.

Selama bekerja, mereka sudah menanami 21,7 hektare lahan dan memancang 48 hektare. ”Janjinya 1 bibit seharga Rp 1 ribu, setelah di sana tidak sampai Rp 400,” ungkap Hosni.

Hosni mengakui, sebelum berangkat memang tidak ada perjanjian tertulis. Hanya ada surat rekomendasi dari Disnaker Sumenep.

Surat fasilitas kerja didapat ketika sudah 20 hari kerja dan diberikan saat di Kalimantan Timur. Sembako pun tidak diberikan seminggu sekali. ”Hanya diberi empat kali selama bekerja,” bebernya.

Yakni, pada 20 Maret, 27 Maret, 1 April, dan 18 April. Setiap pengiriman sembako hanya 10 kg beras, 2 vetsin, 2 kecap, rempah-rempah, 2 papan telur, mi tanpa bumbu, air 2 jeriken berisi 20 liter, dan setengah kg ikan teri. ”Jika sudah ada mi, maka tidak ada telur,” ulasnya.

Untuk membersihkan badan, para perantau itu mandi di selokan sekitar tendanya. Akhirnya pada 12 Mei, lima pekerja tersebut memilih pergi dari tempat kerjanya. Sementara tiga orang lainnya meninggalkan tempat kerja lebih awal lantaran upah tidak diberikan.

Kelima pekerja tersebut sudah pamit pada mandor jika akan berhenti bekerja. ”Mandornya malah menjawab kalau kalian tetap kerja seperti ini tidak akan punya uang,” tuturnya.

Selama tiga hari, kelima pekerja tersebut berjalan tanpa arah. Tidur di jalanan. Mencari tumpangan, tetapi tidak ada yang berhenti. Tidak ada makanan dan minuman.

Mereka mencari sisa-sisa makanan di jalanan dan di tong sampah. Untuk minum pun sulit. ”Kami juga minum genangan air di cekungan jalan raya untuk mengobati dahaga,” kata Hosni melanjutkan ceritanya.

Baca Juga :  Hina Presiden, Perantau Ditangkap Polisi

Semenatara itu, anak Hosni Tamrin meminta memisahkan diri karena kelaparan. Anak Hosni ditolong oleh orang asal Pasuruan yang bekerja di Kalimantan. Sedangkan empat orang lainnya dibantu oleh orang Kutai, salah seorang pemilik kelapa sawit.

”Dikasih makan, diberi pekerjaan memotong kelapa sawit. Satu hari dapat Rp 10 ribu. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya mencari kantor polisi.

Ada pengendara pikap yang membantu mengantarkan mereka menuju pos polisi. Sesampainya di kantor polisi, para pekerja itu tidak dihiraukan. ”Kami malah dibentak, kalau ada perlunya ke sini,” ungkap Hosni.

Mereka pun diarahkan menemui lurah di lokasi itu. Kepala desa sempat mengusir. Tapi, ada seorang perempuan yang menegur kepala desa. Akhirnya, kepala desa tersebut memberikan uang Rp 300 ribu untuk beli nasi.

Para pekerja itu diantar ke dinas sosial sebagai orang telantar. Di sana mereka diberi tempat tinggal dan makan. Namun, saat makan dijadikan satu dengan orang gangguan jiwa.

Dinas sosial lalu membawanya ke disnaker. Berkas mereka diperiksa. Ternyata, perusahaan tempat mereka bekerja tidak terdaftar. Akhirnya, para pekerja itu meminta beristirahat di dinas sosial.

Karena tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab dan membantu ongkos kepulangannya, para keluarga mengirimkan uang ke Kalimantan. Tiap keluarga mengirimkan Rp 1,5 juta. ”Keluarga saya hanya mengirim Rp 1 juta 400 ribu,” ucapnya.

Uang itu untuk biaya pesawat. Sedangkan dari Surabaya ke Sumenep tidak ada ongkos untuk menumpangi bus. Akhirnya, para pekerja itu dijemput anak pertama Hosni Tamrin yang bekerja taksi online. Keempat pekerja tersebut tiba di Sumenep sekitar pukul 22.00 dan bermalan di kediaman Hosni Tamrin. 

- Advertisement -

Hosni Tamrin memantapkan niat merantau ke Kalimantan Timur bersama tujuh orang lainnya pada Maret lalu. Mereka tergiur dengan gaji Rp 5 juta per bulan. Namun, para pekerja itu harus menelan pil pahit. Di tempat kerjanya, mereka tak diperlakukan secara manusiawi.

AMINATUS SUHRA, Sumenep, RadarMadura.id

KEDATANGAN empat perantau itu disambut haru. Mereka tiba di rumah nomor 6 di Jalan Bapertarum Selatan, Gang II, Blok BB, Desa Kolor, Kecamatan Sumenep, sekitar pukul 22.00 Sabtu (5/6).


Salah seorang di antara mereka, Hosni Tamrin, pulang dalam keadaan sakit. Penyakit diabetes melitus yang dialaminya kambuh saat di Kalimantan Timur. Kakinya bengkak dan luka. Berjalan saja tidak mampu. Harus ada yang menopangnya.

Kepulangannya membuat sang istri terharu walaupun tak membawa hasil apa-apa. Perjuangan di tempat rantau sia-sia.

Hosni Tamrin menuturkan, dirinya merantau ke Kalimantan Timur untuk mencari nafkah keluarganya. Namun, setiba di tempat tujuan tak seperti yang diharapkan.

Dia berangkat ke Kalimantan Timur karena tergiur dengan tawaran manis pihak kontraktor dari Kalimantan Timur dan seorang staf Disnaker Sumenep.

”Janjinya, gaji per bulan Rp 5 juta, sembako per minggu, tidur di spring bed, air minum tinggal ambil karena ada air bor, lampu tenaga surya 24 jam,” cerita Hosni.

Tertarik dengan tarawan itu, ada delapan orang yang berangkat ke Kalimantan Timur. Mereka tiba di lokasi kerja pada 19 Maret lalu. Namun, semua fasilitas yang dijanjikan tidak tersedia. Mereka kecewa.

Tempat untuk tinggal hanya berupa tenda dan tripleks bekas. Tenda itu digarap malam-malam agar bisa ditempati beristirahat. Keesokan harinya, mandor tidak datang dengan alasan hujan. Mereka baru bekerja pada 22 Maret.

Mereka berangkat bekerja sekitar pukul 07.30. Butuh waktu satu setengah jam perjalanan untuk sampai di lokasi kerja. Mereka bekerja hingga pukul 16.00. Bekerjanya tidak setiap hari. ”Karena menunggu kiriman bibit, tetapi tidak ada istirahatnya,” lanjut Hosni.

Baca Juga :  Perusahaan Siap Pulangkan Delapan Pekerja

Mandor datang sekitar pukul 14.00. Pertama diperintah menanam bibit kayu di lahan 8,7 hektare. Per hektare ditanami 1.333 bibit kayu. ”Terselesaikan selama 4 hari. Setelah itu, sekitar 3 hari lagi bibit datang. Tapi kalau tidak ada bibit, kami mancang,” ujarnya.

Selama bekerja, mereka sudah menanami 21,7 hektare lahan dan memancang 48 hektare. ”Janjinya 1 bibit seharga Rp 1 ribu, setelah di sana tidak sampai Rp 400,” ungkap Hosni.

Hosni mengakui, sebelum berangkat memang tidak ada perjanjian tertulis. Hanya ada surat rekomendasi dari Disnaker Sumenep.

Surat fasilitas kerja didapat ketika sudah 20 hari kerja dan diberikan saat di Kalimantan Timur. Sembako pun tidak diberikan seminggu sekali. ”Hanya diberi empat kali selama bekerja,” bebernya.

Yakni, pada 20 Maret, 27 Maret, 1 April, dan 18 April. Setiap pengiriman sembako hanya 10 kg beras, 2 vetsin, 2 kecap, rempah-rempah, 2 papan telur, mi tanpa bumbu, air 2 jeriken berisi 20 liter, dan setengah kg ikan teri. ”Jika sudah ada mi, maka tidak ada telur,” ulasnya.

Untuk membersihkan badan, para perantau itu mandi di selokan sekitar tendanya. Akhirnya pada 12 Mei, lima pekerja tersebut memilih pergi dari tempat kerjanya. Sementara tiga orang lainnya meninggalkan tempat kerja lebih awal lantaran upah tidak diberikan.

Kelima pekerja tersebut sudah pamit pada mandor jika akan berhenti bekerja. ”Mandornya malah menjawab kalau kalian tetap kerja seperti ini tidak akan punya uang,” tuturnya.

Selama tiga hari, kelima pekerja tersebut berjalan tanpa arah. Tidur di jalanan. Mencari tumpangan, tetapi tidak ada yang berhenti. Tidak ada makanan dan minuman.

Mereka mencari sisa-sisa makanan di jalanan dan di tong sampah. Untuk minum pun sulit. ”Kami juga minum genangan air di cekungan jalan raya untuk mengobati dahaga,” kata Hosni melanjutkan ceritanya.

Baca Juga :  Hina Presiden, Perantau Ditangkap Polisi

Semenatara itu, anak Hosni Tamrin meminta memisahkan diri karena kelaparan. Anak Hosni ditolong oleh orang asal Pasuruan yang bekerja di Kalimantan. Sedangkan empat orang lainnya dibantu oleh orang Kutai, salah seorang pemilik kelapa sawit.

”Dikasih makan, diberi pekerjaan memotong kelapa sawit. Satu hari dapat Rp 10 ribu. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya mencari kantor polisi.

Ada pengendara pikap yang membantu mengantarkan mereka menuju pos polisi. Sesampainya di kantor polisi, para pekerja itu tidak dihiraukan. ”Kami malah dibentak, kalau ada perlunya ke sini,” ungkap Hosni.

Mereka pun diarahkan menemui lurah di lokasi itu. Kepala desa sempat mengusir. Tapi, ada seorang perempuan yang menegur kepala desa. Akhirnya, kepala desa tersebut memberikan uang Rp 300 ribu untuk beli nasi.

Para pekerja itu diantar ke dinas sosial sebagai orang telantar. Di sana mereka diberi tempat tinggal dan makan. Namun, saat makan dijadikan satu dengan orang gangguan jiwa.

Dinas sosial lalu membawanya ke disnaker. Berkas mereka diperiksa. Ternyata, perusahaan tempat mereka bekerja tidak terdaftar. Akhirnya, para pekerja itu meminta beristirahat di dinas sosial.

Karena tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab dan membantu ongkos kepulangannya, para keluarga mengirimkan uang ke Kalimantan. Tiap keluarga mengirimkan Rp 1,5 juta. ”Keluarga saya hanya mengirim Rp 1 juta 400 ribu,” ucapnya.

Uang itu untuk biaya pesawat. Sedangkan dari Surabaya ke Sumenep tidak ada ongkos untuk menumpangi bus. Akhirnya, para pekerja itu dijemput anak pertama Hosni Tamrin yang bekerja taksi online. Keempat pekerja tersebut tiba di Sumenep sekitar pukul 22.00 dan bermalan di kediaman Hosni Tamrin. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/