alexametrics
20 C
Madura
Monday, August 8, 2022

Manusia Sejati Tak Menganggap Dirinya Selesai

PAMEKASAN – Literasi penting untuk menegaskan identitas kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Madura. Namun, manusia sebagai warga negara kerap terjebak ilusi tidak berwujud, immaterial.

Secara masif manusia mengamini modernisme gaya baru berikut fungsi dan manfaatnya yang luar biasa. Sastrawan nasional yang menjadi pembicara pada Seminar Literasi Tak Ada Buku Hari Ini Radhar Panca Dahana menyebut inilah malaikat pos-pos-modern dengan nama paling populer sepanjang riwayat manusia: internet.

Dalam kenyataannya, internet dan media sosial kini begitu konstitutif dalam memastikan berlangsungnya hidup di dunia fana ini. Keberadaan internet bukan ke arah positif. Misalnya, kemuliaan yang diajarkan ilmu atau agama dan kebudayaan. Tetapi sebaliknya, akan menuju kehancuran peradaban yang masif.

”Kita terpana dan terbius karenanya. Kita lupa bahwa kita manusia. Lupa bahwa manusia memiliki kekuatan yang kita sendiri tidak bisa menduga,” ucap Radhar.

Kritikus yang teaterawan itu menyampaikan, literasi bukan hanya seberapa banyak membaca buku. Tidak ada pagar pembatas dalam membaca. Membaca kehidupan, alam, masyarakat, juga kegiatan literasi. Termasuk, salah satunya membaca Alquran dan buku-buku.

Ada lagi literasi internet yang paling menentukan zaman sekarang ini. Menurut Radhar, kesenjangan manusia saat ini ditentukan oleh ekonomi, sosial, politik, dan akses pada internet. Untuk menggali literasi pada masa now, harus dimulai dengan memperbaiki sistem pendidikan.

”Terutama, anak muda yang harus meningkatkan potensi prosesornya. Software dan hardware-nya ditingkatkan,” ucap pria yang dikenal sebagai wartawan sejak SMP itu.

Hardware manusia yaitu makan yang bagus, konsumsi susu, buah-buahan, dan sayuran. Gizi merupakan hal yang harus dipenuhi untuk menciptakan hardware otak manusia bisa mumpuni mendekati kata cerdas.

”Lha, kalau itu tidak dimakan, belum apa-apa kita akan capek, baru baca buku sedikit capek, nonton TV capek, membaca literasi 5–10 menit sudah capek. Itu sedih sekali,” katanya.

Contoh yang disampaikan Radhar baru membaca secara visual atau dengan mata. Dia kemudian menjelaskan kenapa ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Iqro’. Itu mengisyaratkan bahwa manusia dalam membaca saja tidak bisa.

”Nabi buta huruf, sedangkan ayat pertamanya memerintahkan baca. Lalu, apa arti baca itu sendiri? Apa arti Iqro’? Dan apa arti literasi?” cerita Radhar.

Baca Juga :  Mimpi Masa Kecil Jadi Kenyataan

Itu semua bukan sekadar membaca kitab. Menurut dia, kitab hanya ringkasan dan petunjuk supaya manusia mengetahui dan mengerti. Menusia membaca kitab melalui perangkat-perangkatnya: telinga, mata, lidah, dan tangan, serta kaki.

Ketika manusia serius belajar literasi, mereka akan tahu bahwa sejatinya orang Madura adalah campuran dan sejatinya orang Bali juga campuran. Mereka membentuk dirinya sendiri, jati diri, dan eksistensi, berdasar masukan orang lain.

”Karena orang Bali basisnya adalah bandar. Kota besar di Indonesia itu dulunya adalah sebagai bandar. Dan bandar ini adalah tempat pertemuan seluruh etnik yang tersebar di seluruh penjuru negara, memberi isi kepada diri kita,” jelasnya.

Karena itu, orang Indonesia sejati tidak pernah menganggap jati dirinya selesai. Dan yang membentuk dirinya seperti itu adalah masukan-masukan yang baru. Seharusnya, siapa pun wajib dan harus terbuka dalam mengembangkan dirinya.

”Karena jati diri tidak akan pernah selesai. Selama masih bisa bernapas, saya akan terus memperbarui jati diri,” ucapnya.

Apakah dengan pergi ke mana-mana atau ke luar negeri bisa membuat jati diri berubah? Ya, kalau tidak berubah, itu akan menjadi sebuah monumen saja, menjadi patung, menjadi berhala. Percuma saja.

”Kita harus bisa membaca perubahan dunia ini dengan baik. Apalagi, jika perubahan itu datang melewati serat optik atau melewati gelombang dinamik. Yaitu, lewat kabel-kabel atau lewat hantaran satelit,” katanya.

Hal itu bisa diketahui dengan kebudayaan luar yang sudah dikenal di Indonesia. Misalnya, K-Pop, Harajuku, Lady Gaga, dan lain-lain. Hal-hal kecil tentang mereka selalu diperhatikan. Menyanyikan lagu-lagu Katty Parry, memikirkan baju gaya ala Katty Parry atau Lady Gaga, dan lain-lain.

”Di ruang kecil kita hanya fokus pada itu. Sedangkan diri Anda membentengi diri dengan menjadi purba dalam kehidupan yang sulit. Karena zaman selalu berubah, maka bacalah. Baca dengan hati. Dan itu adalah batin. Dan di situlah tingkat spiritual kita meningkat,” katanya.

Apabila tingkat spiritual manusia buta huruf, bisa dipastikan tidak mengenal yang lain, tidak bisa mengenal jati diri yang lain, dan tidak bisa mengenal kebenaran yang lain. Yang dikenal pada akhirnya hanya dirinya sendiri atau merasa benar atas dirinya sendiri.

Baca Juga :  Bujuk Penguasa, Pengusaha, dan Dermawan Gelar Anugerah Tabrani

Menurut Radhar, orang Madura pergi ke mana-mana sendirian. Contohnya, merantau ke kota-kota besar seperti Pontianak, Kalimantan, hingga Jakarta. Mereka tidak hanya menjual satai. Orang Madura mempunyai kapasitas ketika dia mau membuka dirinya. Tetapi jika dia menutup dirinya seperti sekarang ini, dia akan merasa sangat terbelakang dan takut.

”Jadi, saya kira sejarah Madura sudah membuktikan bahwa sejarah Erlangga gerbangnya ada di Madura, yaitu di Kangean untuk dunia luas. Itu gerbangnya ada di situ. Jadi, untuk negosiasi dan urusan lainnya, pintu gerbangnya berada di Madura. Semuanya bukan Surabaya. Karena zaman itu belum ada peninggalannya,” ucap Radhar.

Basis literasi yang disebut sebagai litural berbasis pada spiritual. Dia menjelaskan, Indonesia sebagai negeri bahari tidak melahirkan speech dalam arti tidak melahirkan alfabet. Kalau ada alfabet dari ujung timur-ujung barat itu alfabet palsu.

”Kita tidak punya. Alfabet muncul setelah melawan kolonialisme pertama di Indonesia lewat Aji Saka, beliau dinobatkan oleh Mangkunegoro IV sebagai asal-usul orang Jawa,” jelasnya.

Aji Saka hanya buangan dari Pangeran Dapuda Afrika Selatan. Tetapi, dia melahirkan honocoroko yang dipakai di Bali, Jawa, Madura, dan Sunda. Tahun 1976 merupakan tahun awal manusia mengenal dan menggunakan manuskrip honocoroko, sansekerta.

Karena itu, yang disebut sebagai bahasa lisan atau penuturannya ini yang rumit. Proses nilai-nilai kehidupann orang Indonesia secara lisan. Apa kelebihan dan kekurangannya? Kalau tulisan itu, dia akan mengabadikan sebuah momen, deskripsi. Sedangkan lisan itu mengabadikan proses. Sebab, dia berperan dan berubah.

Sebagai contoh, ketika Erlangga memperkenalkan kembali Mahabarata dan Ramayana yang secara kultural Jawa konon tidak berubah. Mengapa tidak berubah, kata Radhar, karena tidak diwariskan secara lisan.

”Jadi, tidak dimonumenkan sehingga yang tidak dimonumenkan lewat tulisan dia akan berhenti. Dan orang Madura adalah proses yang pewarisan nilainya melalui lisan dan perilaku. Jika lisan tidak baik dan perilaku tidak baik, jelas akan diberi hukuman,” tukasnya.

Sementara itu, Budayawan Madura D. Zawawi Imron berpesan agar literasi bisa meredam kebencian dan menanamkan semangat persatuan. Belajar literasi harus belajar langsung pada kehidupan. ”Karena ketika belajar dengan hati, akan muncul kreasi-kreasi baru untuk memperbarui diri,” ucapnya.

PAMEKASAN – Literasi penting untuk menegaskan identitas kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Madura. Namun, manusia sebagai warga negara kerap terjebak ilusi tidak berwujud, immaterial.

Secara masif manusia mengamini modernisme gaya baru berikut fungsi dan manfaatnya yang luar biasa. Sastrawan nasional yang menjadi pembicara pada Seminar Literasi Tak Ada Buku Hari Ini Radhar Panca Dahana menyebut inilah malaikat pos-pos-modern dengan nama paling populer sepanjang riwayat manusia: internet.

Dalam kenyataannya, internet dan media sosial kini begitu konstitutif dalam memastikan berlangsungnya hidup di dunia fana ini. Keberadaan internet bukan ke arah positif. Misalnya, kemuliaan yang diajarkan ilmu atau agama dan kebudayaan. Tetapi sebaliknya, akan menuju kehancuran peradaban yang masif.


”Kita terpana dan terbius karenanya. Kita lupa bahwa kita manusia. Lupa bahwa manusia memiliki kekuatan yang kita sendiri tidak bisa menduga,” ucap Radhar.

Kritikus yang teaterawan itu menyampaikan, literasi bukan hanya seberapa banyak membaca buku. Tidak ada pagar pembatas dalam membaca. Membaca kehidupan, alam, masyarakat, juga kegiatan literasi. Termasuk, salah satunya membaca Alquran dan buku-buku.

Ada lagi literasi internet yang paling menentukan zaman sekarang ini. Menurut Radhar, kesenjangan manusia saat ini ditentukan oleh ekonomi, sosial, politik, dan akses pada internet. Untuk menggali literasi pada masa now, harus dimulai dengan memperbaiki sistem pendidikan.

”Terutama, anak muda yang harus meningkatkan potensi prosesornya. Software dan hardware-nya ditingkatkan,” ucap pria yang dikenal sebagai wartawan sejak SMP itu.

Hardware manusia yaitu makan yang bagus, konsumsi susu, buah-buahan, dan sayuran. Gizi merupakan hal yang harus dipenuhi untuk menciptakan hardware otak manusia bisa mumpuni mendekati kata cerdas.

”Lha, kalau itu tidak dimakan, belum apa-apa kita akan capek, baru baca buku sedikit capek, nonton TV capek, membaca literasi 5–10 menit sudah capek. Itu sedih sekali,” katanya.

Contoh yang disampaikan Radhar baru membaca secara visual atau dengan mata. Dia kemudian menjelaskan kenapa ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Iqro’. Itu mengisyaratkan bahwa manusia dalam membaca saja tidak bisa.

”Nabi buta huruf, sedangkan ayat pertamanya memerintahkan baca. Lalu, apa arti baca itu sendiri? Apa arti Iqro’? Dan apa arti literasi?” cerita Radhar.

Baca Juga :  Alfa Firdausiyah, Hampir 10 Tahun Mengidap Kanker Kulit

Itu semua bukan sekadar membaca kitab. Menurut dia, kitab hanya ringkasan dan petunjuk supaya manusia mengetahui dan mengerti. Menusia membaca kitab melalui perangkat-perangkatnya: telinga, mata, lidah, dan tangan, serta kaki.

Ketika manusia serius belajar literasi, mereka akan tahu bahwa sejatinya orang Madura adalah campuran dan sejatinya orang Bali juga campuran. Mereka membentuk dirinya sendiri, jati diri, dan eksistensi, berdasar masukan orang lain.

”Karena orang Bali basisnya adalah bandar. Kota besar di Indonesia itu dulunya adalah sebagai bandar. Dan bandar ini adalah tempat pertemuan seluruh etnik yang tersebar di seluruh penjuru negara, memberi isi kepada diri kita,” jelasnya.

Karena itu, orang Indonesia sejati tidak pernah menganggap jati dirinya selesai. Dan yang membentuk dirinya seperti itu adalah masukan-masukan yang baru. Seharusnya, siapa pun wajib dan harus terbuka dalam mengembangkan dirinya.

”Karena jati diri tidak akan pernah selesai. Selama masih bisa bernapas, saya akan terus memperbarui jati diri,” ucapnya.

Apakah dengan pergi ke mana-mana atau ke luar negeri bisa membuat jati diri berubah? Ya, kalau tidak berubah, itu akan menjadi sebuah monumen saja, menjadi patung, menjadi berhala. Percuma saja.

”Kita harus bisa membaca perubahan dunia ini dengan baik. Apalagi, jika perubahan itu datang melewati serat optik atau melewati gelombang dinamik. Yaitu, lewat kabel-kabel atau lewat hantaran satelit,” katanya.

Hal itu bisa diketahui dengan kebudayaan luar yang sudah dikenal di Indonesia. Misalnya, K-Pop, Harajuku, Lady Gaga, dan lain-lain. Hal-hal kecil tentang mereka selalu diperhatikan. Menyanyikan lagu-lagu Katty Parry, memikirkan baju gaya ala Katty Parry atau Lady Gaga, dan lain-lain.

”Di ruang kecil kita hanya fokus pada itu. Sedangkan diri Anda membentengi diri dengan menjadi purba dalam kehidupan yang sulit. Karena zaman selalu berubah, maka bacalah. Baca dengan hati. Dan itu adalah batin. Dan di situlah tingkat spiritual kita meningkat,” katanya.

Apabila tingkat spiritual manusia buta huruf, bisa dipastikan tidak mengenal yang lain, tidak bisa mengenal jati diri yang lain, dan tidak bisa mengenal kebenaran yang lain. Yang dikenal pada akhirnya hanya dirinya sendiri atau merasa benar atas dirinya sendiri.

Baca Juga :  Anak Perajin Batik Dapat Beasiswa ke Tiongkok

Menurut Radhar, orang Madura pergi ke mana-mana sendirian. Contohnya, merantau ke kota-kota besar seperti Pontianak, Kalimantan, hingga Jakarta. Mereka tidak hanya menjual satai. Orang Madura mempunyai kapasitas ketika dia mau membuka dirinya. Tetapi jika dia menutup dirinya seperti sekarang ini, dia akan merasa sangat terbelakang dan takut.

”Jadi, saya kira sejarah Madura sudah membuktikan bahwa sejarah Erlangga gerbangnya ada di Madura, yaitu di Kangean untuk dunia luas. Itu gerbangnya ada di situ. Jadi, untuk negosiasi dan urusan lainnya, pintu gerbangnya berada di Madura. Semuanya bukan Surabaya. Karena zaman itu belum ada peninggalannya,” ucap Radhar.

Basis literasi yang disebut sebagai litural berbasis pada spiritual. Dia menjelaskan, Indonesia sebagai negeri bahari tidak melahirkan speech dalam arti tidak melahirkan alfabet. Kalau ada alfabet dari ujung timur-ujung barat itu alfabet palsu.

”Kita tidak punya. Alfabet muncul setelah melawan kolonialisme pertama di Indonesia lewat Aji Saka, beliau dinobatkan oleh Mangkunegoro IV sebagai asal-usul orang Jawa,” jelasnya.

Aji Saka hanya buangan dari Pangeran Dapuda Afrika Selatan. Tetapi, dia melahirkan honocoroko yang dipakai di Bali, Jawa, Madura, dan Sunda. Tahun 1976 merupakan tahun awal manusia mengenal dan menggunakan manuskrip honocoroko, sansekerta.

Karena itu, yang disebut sebagai bahasa lisan atau penuturannya ini yang rumit. Proses nilai-nilai kehidupann orang Indonesia secara lisan. Apa kelebihan dan kekurangannya? Kalau tulisan itu, dia akan mengabadikan sebuah momen, deskripsi. Sedangkan lisan itu mengabadikan proses. Sebab, dia berperan dan berubah.

Sebagai contoh, ketika Erlangga memperkenalkan kembali Mahabarata dan Ramayana yang secara kultural Jawa konon tidak berubah. Mengapa tidak berubah, kata Radhar, karena tidak diwariskan secara lisan.

”Jadi, tidak dimonumenkan sehingga yang tidak dimonumenkan lewat tulisan dia akan berhenti. Dan orang Madura adalah proses yang pewarisan nilainya melalui lisan dan perilaku. Jika lisan tidak baik dan perilaku tidak baik, jelas akan diberi hukuman,” tukasnya.

Sementara itu, Budayawan Madura D. Zawawi Imron berpesan agar literasi bisa meredam kebencian dan menanamkan semangat persatuan. Belajar literasi harus belajar langsung pada kehidupan. ”Karena ketika belajar dengan hati, akan muncul kreasi-kreasi baru untuk memperbarui diri,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/