alexametrics
29.1 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Penampakan Kitab Qishatul Mi’raj dan Bacaan Tahlil Berusia 128 Tahun

Padepokan Raden Umro memiliki berbagai macam koleksi kitab kuno. Dalam momentum Isra Mikraj tahun ini, ada dua koleksi baru. Umurnya lebih seratus tahun.

ANIS BILLAH, Pamekasan

RUANG Perpustakaan Padepokan Raden Umro masih tertutup rapat. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung Rabu (3/4). Sementara di teras perpustakaan yang menyatu dengan kediaman Ketua Padepokan Raden Umro Moh. Habibullah terlihat tiga orang sedang berbincang. Sesekali terdengar gelak tawa yang cukup nyaring.

Tak lama kemudian, Habibullah membawa JPRM masuk ke ruang perpustakaan. Di dalam perpustakaan yang mengoleksi kitab-kitab kuno itu. Kepala Perpustakaan Padepokan Raden Umro Abd. Rasyid juga mengikuti kami dari belakang.

Ruangan tampak gelap. Terlihat dua rak buku ditempatkan terpisah. Rak yang menghadap ke timur penuh diisi buku-buku umum. Sementara rak yang menyender menghadap selatan khusus untuk koleksi kitab kuno, sudah berusia ratusan tahun.

Kemudian, Ra Habib membuka dua jendela agar ruangan terlihat lebih terang. Di dalam lemari berukuran 1,5 meter terusun rapi kitab kuno. Kitab-kitab tersebut terawat dengan baik setelah dilakukan laminasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Kali ini Perpustakaan Padepokan Raden Umro memiliki koleksi tambahan. Perpustakaan di Dusun Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu menemukan dua kitab kuno baru. Kitab tersebut ditemukan dalam momentum Isra Mikraj.

Baca Juga :  Saat Harga Rumput Laut Lesu Minta Pemkab Bangun Pabrik

”Saya tidak sengaja menemukan kitab ini. Selasa sore (2/4) saya mencari KTP yang hilang. Saya coba mancari di tumpukan buku-buku lama di ruangan saya. Di sela-sela buku itu ternyata ada kitab itu,” katanya.

Waktu itu, Ra Habib menemukan empat kitab. Satu di antaranya sudah berbentuk cetakan. Sedangkan tiga kitab lainnya masih tulisan tangan. Tulisan tangan dari tiap kitab tidak sama.

Meski begitu, pihaknya belum bisa mengetahui identitas setiap kitab. Sebab, di dalam tidak ada tanda-tanda atau penjelasan yang menunjukkan identitas kitab tersebut. Hanya ada dua kita yang bisa dideteksi. Yakni, kitab yang menerangkan bacaan tahlil dan Qishatul Mi’raj.

”Ada empat kitab yang saya temukan secara bersamaan. Satu kitab sudah berbentuk cetakan, sementara yang lain masih ditulis tangan. Akhirnya, saya coba menyatukannya agar tidak berantakan,” tutur Ra Habib.

Awalnya, bapak dua anak itu kesulitan untuk mengetahui isi kitab-kitab itu. Sebab, kitab tersebut ditemukan dalam keadaan tidak menyatu. Kemudian, dia bercerita kepada salah seorang saudaranya.

”Pada saat ditemukan, kitabnya berdebu dan tidak beraturan karena kitab itu tidak ada keterangan halaman. Saya coba beri tahu Kak Nur (Nurul Laili, saudara Ra Habib) kalau saya menemukan kitab baru. Setelah dibaca, ternyata salah satu kitab berisi bacaan tahlil lengkap dengan bacaan tawasulnya,” ungkap pria kelahiran 14 Agustus 1977 itu.

Baca Juga :  Kitab Kertas Eropa Sempat Diklaim Milik Malaysia

Pihaknya terus berupaya mencari tahu isi kitab yang baru ditemukan itu. Setelah satu per satu lembaran disusun, satu kitab diketahui berjudul Qishatul Mi’raj. Judul kitab tersebut sesuai dengan yang tertulis di sampul. Di bawahnya terdapat tulisan ”Panji Jalatama”.

Di samping itu, di akhir halaman terdapat keterangan bahwa kitab tersebut ditulis pada bulan Ramadan. Tepatnya pada malam Minggu tahun 1312 Hijriah. Jika dihitung hingga sekarang, usia kitab tersebut 128 tahun.

”Kebetulan kitab Qishatul Mikraj ini ditemukan bersamaan dengan malam perayaan Isra Mikraj. Saya memang belum membaca isi semua kitab. Tapi, sepertinya menceritakan tentang Isra Mikraj. Kitab yang lain juga masih dicari identitasnya,” jelas Ra Habib.

Kepala Perpustakaan Raden Umro Abd. Rasyid menambahkan, kitab tersebut akan dijadikan koleksi tambahan di perpustakaan. Pihaknya bakal menyusun terlebih dahulu agar isi kitab bisa diketahui. Dengan begitu, pihaknya lebih mudah mengkajinya.

Kitab tersebut merupakan peninggalan sejarah yang harus dirawat agar tidak punah. Dengan peninggalan tersebut, bisa diketahui kehidupan masyarakat orang-orang dahulu. ”Semoga saja nanti ada program laminasi dari Perpusnas agar perawatan kitab kuno lebih awet dan terjamin,” harapnya.

Padepokan Raden Umro memiliki berbagai macam koleksi kitab kuno. Dalam momentum Isra Mikraj tahun ini, ada dua koleksi baru. Umurnya lebih seratus tahun.

ANIS BILLAH, Pamekasan

RUANG Perpustakaan Padepokan Raden Umro masih tertutup rapat. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung Rabu (3/4). Sementara di teras perpustakaan yang menyatu dengan kediaman Ketua Padepokan Raden Umro Moh. Habibullah terlihat tiga orang sedang berbincang. Sesekali terdengar gelak tawa yang cukup nyaring.

Tak lama kemudian, Habibullah membawa JPRM masuk ke ruang perpustakaan. Di dalam perpustakaan yang mengoleksi kitab-kitab kuno itu. Kepala Perpustakaan Padepokan Raden Umro Abd. Rasyid juga mengikuti kami dari belakang.

Ruangan tampak gelap. Terlihat dua rak buku ditempatkan terpisah. Rak yang menghadap ke timur penuh diisi buku-buku umum. Sementara rak yang menyender menghadap selatan khusus untuk koleksi kitab kuno, sudah berusia ratusan tahun.

Kemudian, Ra Habib membuka dua jendela agar ruangan terlihat lebih terang. Di dalam lemari berukuran 1,5 meter terusun rapi kitab kuno. Kitab-kitab tersebut terawat dengan baik setelah dilakukan laminasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Kali ini Perpustakaan Padepokan Raden Umro memiliki koleksi tambahan. Perpustakaan di Dusun Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu menemukan dua kitab kuno baru. Kitab tersebut ditemukan dalam momentum Isra Mikraj.

Baca Juga :  Menu Spesial Buka Puasa Ketua DPRD Sampang Fadol

”Saya tidak sengaja menemukan kitab ini. Selasa sore (2/4) saya mencari KTP yang hilang. Saya coba mancari di tumpukan buku-buku lama di ruangan saya. Di sela-sela buku itu ternyata ada kitab itu,” katanya.

Waktu itu, Ra Habib menemukan empat kitab. Satu di antaranya sudah berbentuk cetakan. Sedangkan tiga kitab lainnya masih tulisan tangan. Tulisan tangan dari tiap kitab tidak sama.

Meski begitu, pihaknya belum bisa mengetahui identitas setiap kitab. Sebab, di dalam tidak ada tanda-tanda atau penjelasan yang menunjukkan identitas kitab tersebut. Hanya ada dua kita yang bisa dideteksi. Yakni, kitab yang menerangkan bacaan tahlil dan Qishatul Mi’raj.

”Ada empat kitab yang saya temukan secara bersamaan. Satu kitab sudah berbentuk cetakan, sementara yang lain masih ditulis tangan. Akhirnya, saya coba menyatukannya agar tidak berantakan,” tutur Ra Habib.

Awalnya, bapak dua anak itu kesulitan untuk mengetahui isi kitab-kitab itu. Sebab, kitab tersebut ditemukan dalam keadaan tidak menyatu. Kemudian, dia bercerita kepada salah seorang saudaranya.

”Pada saat ditemukan, kitabnya berdebu dan tidak beraturan karena kitab itu tidak ada keterangan halaman. Saya coba beri tahu Kak Nur (Nurul Laili, saudara Ra Habib) kalau saya menemukan kitab baru. Setelah dibaca, ternyata salah satu kitab berisi bacaan tahlil lengkap dengan bacaan tawasulnya,” ungkap pria kelahiran 14 Agustus 1977 itu.

Baca Juga :  Pasutri Ini Membagikan Ratusan Galon saat Mauludan

Pihaknya terus berupaya mencari tahu isi kitab yang baru ditemukan itu. Setelah satu per satu lembaran disusun, satu kitab diketahui berjudul Qishatul Mi’raj. Judul kitab tersebut sesuai dengan yang tertulis di sampul. Di bawahnya terdapat tulisan ”Panji Jalatama”.

Di samping itu, di akhir halaman terdapat keterangan bahwa kitab tersebut ditulis pada bulan Ramadan. Tepatnya pada malam Minggu tahun 1312 Hijriah. Jika dihitung hingga sekarang, usia kitab tersebut 128 tahun.

”Kebetulan kitab Qishatul Mikraj ini ditemukan bersamaan dengan malam perayaan Isra Mikraj. Saya memang belum membaca isi semua kitab. Tapi, sepertinya menceritakan tentang Isra Mikraj. Kitab yang lain juga masih dicari identitasnya,” jelas Ra Habib.

Kepala Perpustakaan Raden Umro Abd. Rasyid menambahkan, kitab tersebut akan dijadikan koleksi tambahan di perpustakaan. Pihaknya bakal menyusun terlebih dahulu agar isi kitab bisa diketahui. Dengan begitu, pihaknya lebih mudah mengkajinya.

Kitab tersebut merupakan peninggalan sejarah yang harus dirawat agar tidak punah. Dengan peninggalan tersebut, bisa diketahui kehidupan masyarakat orang-orang dahulu. ”Semoga saja nanti ada program laminasi dari Perpusnas agar perawatan kitab kuno lebih awet dan terjamin,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/