20.5 C
Madura
Monday, May 29, 2023

Tekad IAIN Madura Ciptakan Lingkungan Kampus yang Agamais

IAIN Madura tidak hanya mengajarkan nilai akademis di lingkungan kampus. Mahasiswa juga diajarkan untuk mengamalkan nilai-nilai agamais.

ANIS BILLAH, Pamekasan

ADA nuansa berbeda di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, Kamis malam (4/4). Rombongan kendaraan roda empat yang ditumpangi ibu-ibu dan bapak-bapak memasuki area kampus di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu. Sepeda motor juga memadati area parkir kampus. Mereka berbusana layaknya menghadiri kegiatan ceramah agama atau pengajian umum.

Dari area parkir terdengar dentuman sistem suara dari pojok selatan timur kampus. Pengendara yang sudah memarkir kendaraannya berbondong-bondong menuju sumber bunyi-bunyian itu. Sementara kaum Adam dan Hawa berjalan terpisah setelah mendapat arahan dari mahasiswa yang berseragam pramuka lengkap.

Tak lama kemudian, rombongan pemuda berjubah putih lengkap dengan serban keluar dari ruang Rektorat IAIN Madura menuju tempat keramaian di halaman gedung pascasarjana. Disitulah titik kumpul mahasiswa, generasi milenial, dan masyarakat umum. Sementara rombongan yang berpakaian serbaputih itu merupakan Rektor IAIN Madura bersama Pemuda Bersalawat At-Taufiq.

”Kami akan mengupayakan untuk menggelar salawatan setiap tahun. Sekarang sudah yang kedua kalinya. Sebelum kampus ini menjadi institut, kita salawatan di depan kantor rektorat. Sekarang tempatnya pindah agar lingkungan kampus ini mendapatkan syafaat dari salawat,” kata Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag.

Baca Juga :  Suami¬†Wasir Stadium Akhir, Istri¬†Kanker Kulit

Kosim menjelaskan, setiap tahun pihaknya mengadakan salawat bersama. Hal itu karena dinilai sangat penting untuk mentradisikan salawat di kampus. Apalagi, salawat dipercaya memiliki faedah yang cukup besar selain sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah.

Menurutnya, salawat merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Di samping itu, memperbanyak membaca salawat akan menjadi sumber segala kebaikan. Pihaknya akan membumikan salawat di kampus Islam negeri tersebut. Dengan begitu, diharapkan masyarakat kampus dapat termotivasi agar terus melantunkan salawat kepada Rasulullahh SAW.

”Kami mencoba untuk memotivasi mahasiswa agar selalu bersalawat. Kami akan mengupayakan untuk mengembangkan dalam bentuk UKM salawat. Kami sudah memiliki UKM musik dan ikatan qari dan dai. Kami akan menginisiasi agar terbentuk UKM salawat sehingga mahasiswa lebih semarak,” ungkapnya.

Potenis mahasiswa dalam bersalawat mulai tertanam. Namun, belum ada yang mewadahi untuk dikembangkan. Setiap malam Jumat mahasiswa berkumpul di masjid kampus untuk salawatan. Kosim juga berharap setiap kampus menggelar kegiatan diawali dengan salawat.

Di samping itu, sebagai perguruan tinggi berbasis Islam pihaknya dituntut untuk mentradisikan nilai-nilai religius. Yakni, dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan keagamaan. Dengan begitu, diharapkan dapat memperkuat spiritual masyarakat kampus.

Sebelumnya, IAIN Madura mendatangkan tokoh dari Saudi Arabia Dr. Syeikh Nuruddin ibn Sya’duddin Al-Murad dan Habib Ubaidillah Al-Habsyi. Kedua tokoh tersebut memberi kuliah umum dengan tema aktualisasi niali-nilai religius di era milenial.

Baca Juga :  Pendidikan Mampu Mengubah Keadaan

Mereka dihadirkan untuk memberikan motivasi keagamaan kepada civitas academica, baik dosen maupun mahasiswa tentang pentingnya akhlakul karimah. Yakni dengan mendahulukan ilmu dan pengetahuan dalam perilaku sehari-hari.

”Syeikh Murad menjelaskan bahwa inti ajaran agama adalah akhlak. Jadi, kalau diperas dari semua ilmu intinya adalah akhlak. Akhlak adalah tindakan spontan dalam berbuat baik tanpa dipikirkan dan tanpa direnungkan atau spontan,” terang Kosim.

Menurutnya, untuk memiliki akhlakul karimah perlu dilakukan upaya sejak dini. Yakni, dengan pelatihan-pelatihan serta pengawasan. Dengan begitu, masyarakat kampus terbiasa menerapkan akhlakul karimah.

”Untuk itu kami menghadirkan beliau untuk memberikan pemahaman bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Kebiasaan ini yang harus kita terapkan di lingkungan kampus,” ucap Kosim.

Saat ini pihaknya sudah menerapkan melalui kegiatan pembelajaran. Dosen-dosen dibekali agar lebih mengedepankan akhlak dalam menyampaikan materi kuliah. Suasana keseharian lebih ditekankan kepada kegiatan-kegiatan keagamaan.

”Kami sudah mulai membudidayakan dengan salat berjamaah kepada semua pegawai dan mahasiswa. setiap Duhur dan Asar mahasiswa dan dosen salat berjamaah di masjid. Ini semua sebagai tekad kami mewujudkan lingkungan kampus yang agamais,” tandasnya.

IAIN Madura tidak hanya mengajarkan nilai akademis di lingkungan kampus. Mahasiswa juga diajarkan untuk mengamalkan nilai-nilai agamais.

ANIS BILLAH, Pamekasan

ADA nuansa berbeda di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, Kamis malam (4/4). Rombongan kendaraan roda empat yang ditumpangi ibu-ibu dan bapak-bapak memasuki area kampus di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, itu. Sepeda motor juga memadati area parkir kampus. Mereka berbusana layaknya menghadiri kegiatan ceramah agama atau pengajian umum.


Dari area parkir terdengar dentuman sistem suara dari pojok selatan timur kampus. Pengendara yang sudah memarkir kendaraannya berbondong-bondong menuju sumber bunyi-bunyian itu. Sementara kaum Adam dan Hawa berjalan terpisah setelah mendapat arahan dari mahasiswa yang berseragam pramuka lengkap.

Tak lama kemudian, rombongan pemuda berjubah putih lengkap dengan serban keluar dari ruang Rektorat IAIN Madura menuju tempat keramaian di halaman gedung pascasarjana. Disitulah titik kumpul mahasiswa, generasi milenial, dan masyarakat umum. Sementara rombongan yang berpakaian serbaputih itu merupakan Rektor IAIN Madura bersama Pemuda Bersalawat At-Taufiq.

”Kami akan mengupayakan untuk menggelar salawatan setiap tahun. Sekarang sudah yang kedua kalinya. Sebelum kampus ini menjadi institut, kita salawatan di depan kantor rektorat. Sekarang tempatnya pindah agar lingkungan kampus ini mendapatkan syafaat dari salawat,” kata Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag.

Baca Juga :  Menikmati Sensasi Ketinggian di Tempat Wisata Bukit Puncak Ratu

Kosim menjelaskan, setiap tahun pihaknya mengadakan salawat bersama. Hal itu karena dinilai sangat penting untuk mentradisikan salawat di kampus. Apalagi, salawat dipercaya memiliki faedah yang cukup besar selain sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah.

- Advertisement -

Menurutnya, salawat merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Di samping itu, memperbanyak membaca salawat akan menjadi sumber segala kebaikan. Pihaknya akan membumikan salawat di kampus Islam negeri tersebut. Dengan begitu, diharapkan masyarakat kampus dapat termotivasi agar terus melantunkan salawat kepada Rasulullahh SAW.

”Kami mencoba untuk memotivasi mahasiswa agar selalu bersalawat. Kami akan mengupayakan untuk mengembangkan dalam bentuk UKM salawat. Kami sudah memiliki UKM musik dan ikatan qari dan dai. Kami akan menginisiasi agar terbentuk UKM salawat sehingga mahasiswa lebih semarak,” ungkapnya.

Potenis mahasiswa dalam bersalawat mulai tertanam. Namun, belum ada yang mewadahi untuk dikembangkan. Setiap malam Jumat mahasiswa berkumpul di masjid kampus untuk salawatan. Kosim juga berharap setiap kampus menggelar kegiatan diawali dengan salawat.

Di samping itu, sebagai perguruan tinggi berbasis Islam pihaknya dituntut untuk mentradisikan nilai-nilai religius. Yakni, dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan keagamaan. Dengan begitu, diharapkan dapat memperkuat spiritual masyarakat kampus.

Sebelumnya, IAIN Madura mendatangkan tokoh dari Saudi Arabia Dr. Syeikh Nuruddin ibn Sya’duddin Al-Murad dan Habib Ubaidillah Al-Habsyi. Kedua tokoh tersebut memberi kuliah umum dengan tema aktualisasi niali-nilai religius di era milenial.

Baca Juga :  Santri Ponpes Al-Amien Prenduan Juara Debat Bahasa Arab di Malaysia

Mereka dihadirkan untuk memberikan motivasi keagamaan kepada civitas academica, baik dosen maupun mahasiswa tentang pentingnya akhlakul karimah. Yakni dengan mendahulukan ilmu dan pengetahuan dalam perilaku sehari-hari.

”Syeikh Murad menjelaskan bahwa inti ajaran agama adalah akhlak. Jadi, kalau diperas dari semua ilmu intinya adalah akhlak. Akhlak adalah tindakan spontan dalam berbuat baik tanpa dipikirkan dan tanpa direnungkan atau spontan,” terang Kosim.

Menurutnya, untuk memiliki akhlakul karimah perlu dilakukan upaya sejak dini. Yakni, dengan pelatihan-pelatihan serta pengawasan. Dengan begitu, masyarakat kampus terbiasa menerapkan akhlakul karimah.

”Untuk itu kami menghadirkan beliau untuk memberikan pemahaman bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Kebiasaan ini yang harus kita terapkan di lingkungan kampus,” ucap Kosim.

Saat ini pihaknya sudah menerapkan melalui kegiatan pembelajaran. Dosen-dosen dibekali agar lebih mengedepankan akhlak dalam menyampaikan materi kuliah. Suasana keseharian lebih ditekankan kepada kegiatan-kegiatan keagamaan.

”Kami sudah mulai membudidayakan dengan salat berjamaah kepada semua pegawai dan mahasiswa. setiap Duhur dan Asar mahasiswa dan dosen salat berjamaah di masjid. Ini semua sebagai tekad kami mewujudkan lingkungan kampus yang agamais,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/